
🍁SEPENGGAL KISAH NYATA DARI REKAN SEPERJUANGAN, DENGAN SEDIKIT BUMBU DARI OTHOR🍁
Bismillahirrahmanirrahim....
Happy reading semoga ada hikmah yang tersurat maupun tersirat yang bisa dijadikan pelajaran, dan jika masih banyak kekurangan mohon dimaafkan🙏
🌹🌹🌹
"Bi.....bunda mau kita pisah!" ucap Putri Aura tegas tak ada keraguan dari setiap kata yang ia ucapkan. Entah setan apa yang sedang merasuk dirinya, sehingga dengan mudahnya mengucap kata cerai.
"Ce....cerai...???" tanya Abian terbata.
"Ia ....cerai, Bunda capek ngejalanin ini semua, capek...hik....hik...." tangis putri Aura dengan suara yang mulai serak. Rasa lelah itu tak mampu lagi ia tahan, padahal Allah sudah mengatakan tidak akan menguji makhluknya sesuai batas kemampuannya.
Dunia Abian serasa runtuh, dalam kondisi dirinya tak berdaya ia dicampakkan. Dadanya tiba-tiba serasa sesak, serasa ada ribuan duri yang menusuk. Sambil memegang dada air mata Abian terjun bebas tanpa bendungan. Masih bisa kah ia mengiba pada istrinya agar tak dibuang seperti bangkai. Jika memang ada, Abian rela bersujud di kaki istrinya. Jika memang itu bisa melembutkan hati Putri Aura akan ia lakukan, bagaimana pun caranya.
"Bun ..., tolong Bun jangan lakukan ini sama Abi!" Abian menjatuhkan diri dari tempat tidur berguling untuk bersujud di kaki istrinya. Dengan menggunakan kekuatan kedua tangannya ia menarik seluruh badannya mendekat kearah Putri Aura yang terdiam bagai patung.
"Bi....lepas bi..., tolong jangan buat bunda merasa bersalah, Buda tau bunda bukan istri yang baik untuk Abi, semua orang akan bilang bunda adalah istri yang kejam. Tapi satu yang bunda ingin Abi tau, jika kita terus bertahan maka akan semakin banyak dosa yang bunda lakukan sama Abi. Bunda ingin bahagia Bi, tolong lepasin bunda!" Setan semakin lihai memperdaya manusia, menjadikan sesuatu yang salah seolah benar.
"Tolong jangan tinggalin Abi, tolong....Bun!" pintanya sambil mempererat pelukan di kaki istrinya.
"Lepas Bi....!"
"Nggak!"
"Abiannnn....!!!"
Abian mendongakkan kepalanya menatap wajah istrinya yang berubah penuh emosi. Tak pernah ia mendengar putri Aura memanggil namanya, baru kali ini. Mungkin Putri Aura memang sudah tidak mencintainya lagi, perlahan Abian melepaskan pelukan di kaki istrinya.
"Ternyata kau benar-benar telah berubah, di saat aku terjatuh seperti ini, kau malah ingin membuangku, ok....fine......." Perlahan Abian menggeser tubuhnya dari kaki istrinya.
"Mungkin bukan hanya aku....,semua wanita juga pasti melakukan hal yang sama" bela Putri Aura dengan sombongnya.
"Ternyata selama ini aku salah menilaimu, tapi setidaknya pikirkan Via, apa kau tega melihat ia kecewa mengetahui bunda dan Abinya pisah" ucap Abian lagi.
"Malah Via akan sangat malu jika teman-temannya tau ia memiliki Abi yang cacat, begitu juga dengan aku, ada suami tapi tidak ada fungsinya"
Tak ada lagi Putri Aura yang santun, penyayang dan penuh kelembutan. Hanya dalam sekejab Putri Aura berubah menjadi sosok angkuh yang tak lagi Abian kenal.
"Ok....jika itu maumu, hari ini aku ceraikan kau Putri Aura Binti Ismail dengan talak satu!"
Jedar.....
Ternyata ada sosok lain yang sejak tadi menyaksikan pertengkaran mereka dari celah pintu yang tidak tertutup rapat, dia adalah Amalia dan putri Abian, Via. Mereka tidak sengaja melihat pertengkaran itu.
Tadinya dengan sudah berseragam sekolah Via ingin mengajak Abi dan bundanya sarapan bersama namun baru diambang pintu, ia disuguhkan dengan tontonan menakutkan. Sedang Amalia yang sudah menunggu lama dimeja makan, tak mendapati Via kembali dari memanggil orang tuanya, akhirnya ia menyusul ke depan, melihat Via yang ketakutan serta suara pertengkaran dari kamar Abian, membuat Amalia mendekat pada Via.
Via tak henti-hentinya meneteskan air mata sambil memeluk Amalia erat, ingin mencari kekuatan. Meski umurnya baru jutuh tahunan, tapi ia sudah mengerti bahwa Abi dan Bundanya sedang bertengkar. Via semakin shock saat Bundanya menghina Abinya, dan meminta untuk mereka bercerai.
"Buk....Via, nggak mau sekolah, Via mau nemenin Abi aja, kesian Abi, hik...hik...., ", tangisnya dalam pelukan Amalia.
Ia tak tega melihat Abinya yang terlihat sangat rapuh duduk bersimpuh dilantai. Via berlari kedalam kamar Abian, dan memeluk erat Abinya.
"Bunda jahat! Bunda tega sama Abi. Abi lagi sakit bunda, kenapa bunda tega? hik....hik...."
Abian memeluk Via dengan erat, dadanya kembali sesak mendengar ucapan putri semata wayang yang membela dirinya.
"Sayang, dengerin bunda sayang"
Putri Aura mendudukkan diri di belakang Via, ia ingin menjelaskan pada Via bahwa apa yang dilihat via tidak sejahat yang dipikirkan gadis kecil itu.
"Nggak...bunda jahat"
"Via! Bunda sayang sama Via, bunda juga sayang sama Abi, tapi ...."
"Tapi apa Bun....? bunda malu punya suami cacat seperti Abi?" potong Via. Sindiran itu benar-benar membuat Putri Aura tak mampu melanjutkan kata-katanya, ia memalingkan wajahnya kesamping dengan air mata yang juga bercucuran. Sebenarnya Putri Aura tidak pernah membayangkan semua ini terjadi dalam rumah tangganya. Tapi ia juga tidak sanggup untuk memikul tanggung jawab yang sedemikian berat, makanya ia memilih mundur dan di cap sebagai wanita jahat.
Sedang Abian semakin sesegukan dipelukan Via. Ia benar-benar rapuh, sukurnya ada Via penyemangat hidupnya.
Di balik pintu, Amalia mengusap air mata yang sejak tadi mengalir di pipinya, apa yang Abian rasakan juga dapat ia rasakan. Rasa sakit dicampakkan saat tidak berdaya, kembali ia rasakan.
Hilang sudah rasa kagum Amalia pada Putri Aura, baginya sosok anggun ke ibuan yang penuh kasih sayang sama tak ubahnya seperti sikap laki-laki jahanam yang pernah mencampakkan dirinya.
Amalia memalingkan wajahnya, dan memilih pergi ke luar rumah, tujuannya satu, teras rumah itu. Ia tak ingin mendengar pertengkaran yang bisa membuat lukanya kembali berdarah.
Amalia mendudukkan dirinya pada kursi santai yang ada di teras itu, tatapannya kosong pada langit yang mulai berubah kebiruan.
Sekilas ia mengingat cerita dirinya setahun yang lalu, saat ia berjuang melawan kista yang tumbuh dirahim, suaminya memilih untuk menceraikan dirinya. Dengan alasan Amalia tak mungkin bisa punya keturunan, sedang suaminya satu-satu anak laki-laki dalam keluarganya, sudah barang tentu mertuanya tidak ingin garis keturunan mereka putus hanya karena Amalia yang tak bisa memberikan mereka cucu.
Sebagai manusia biasa, sudah barang tentu Amalia sangat terpuruk, karena laki-laki yang ia cintai dan mencintai dirinya bisa berubah dalam sekejab.
Tapi Allah tidak pernah tidur, tiga bulan setelah mereka berpisah ia mendapat kabar bahwa mantan suaminya telah meninggal dunia karena kecelakaan.