AMALIA ISKANDAR

AMALIA ISKANDAR
2. TAKDIR



🍁SEPENGGAL KISAH NYATA DARI REKAN SEPERJUANGAN, DENGAN SEDIKIT BUMBU DARI OTHOR🍁


Bismillahirrahmanirrahim....


Happy reading semoga ada hikmah yang tersurat maupun tersirat yang bisa dijadikan pelajaran, dan jika masih banyak kekurangan mohon dimaafkan🙏


🌹🌹🌹


Pagi ini, tiga hari sudah Amalia tidak datang kesekolah tempat dimana selama enam tahun ia mengabdi untuk mengais rezki. Bukan tanpa alasan,itu semua terjadi setelah kepala sekolah memanggil dirinya.


Flash back on


"Tok...tok....tok...." Amalia mengetuk pintu ruangan kepala sekolah.


"Masuk....!" terdengar suara kepala sekolah mempersilakan Amalia untuk masuk.


"Bapak memanggil saya" tunjuk Amalia pada dirinya sendiri.


"Ia . . ., silakan duduk Amalia!".


Amalia menjatuhkan dirinya pada kursi yang ada di depan meja kepala sekolah. Sekarang posisinya duduk berhadapan dengan kepsek yang hanya dibatasi meja di tengah mereka. Amalia menangkap ada sinyal kurang baik dari wajah kepala sekolah yang bernama pak Imran.


"Amalia...!"


"Ia pak?"


"Sebenarnya ini berat untuk saya...," Kepala sekolah menggantung ucapannya, ada kekeluan untuk meneruskan ucapannya yang mungkin atau bahkan pasti akan membuat Amalia kecewa. Kembali ia menyelami sorot mata Amalia yang tampak resah menunggu kelanjutan ucapan pak Imran.


Amalia menggosok kedua telapak tangan untuk mengurangi rasa dingin yang tiba-tiba saja menyerang, efek rasa cemas akan mendapatkan berita yang mungkin kurang mengenakkan. Ditambah dinginnya AC diruangan menambah rasa dingin yang ia rasakan.


"Begini..., Amalia tau kan kalau hari ini tanggal berapa?"


"Ia pak, tanggal 31 Desember" jawab Amalia.


"Nah...berdasarkan SK wali kota, bahwasanya pada hari ini kontrak kerja buk Amalia berakhir, jadi dengan berat hati saya mengatakan ini, bahwa pada hari ini berakhirlah kontrak kerja buk Amalia dengan sekolah ini". Jelas pak Imran dengan berat hati.


Deg...


Seketika seluruh otot Amalia terasa lemas tak bertenaga.


"Apa tidak bisa dipertimbangkan lagi pak? mungkin saya bisa bekerja sebagai honor biasa?" pinta Amalia dengan mata berkaca-kaca. Sesak yang ia rasakan, memikirkan nasib kedepannya.


"Sebenarnya kalau saya pribadi maunya begitu, apalagi saya sudah sangat tau dengan kredibelitas buk Amalia, namun saya juga ada pertimbangan yang lain, seperti buk Amalia tau, mulai Senin depan kita kedatangan tiga orang PNS yang baru, sedangkan untuk tenaga tendik semua sudah terisi. Harapan saya mudah-mudahan Amalia bisa bekerja ditempat yang lebih baik dari sekarang". Sebenarnya ada rasa tidak tega melihat kondisi Amalia, namun Pak Imran juga tidak bisa membantu, selain hanya mendoakan semoga Amalia menemukan pekerjaan yang baru.


"Baiklah pak...jika memang ini keputusan dari pihak sekolah saya tidak bisa berbuat banyak, selain mencoba ikhlas. Saya juga mengucapkan terima kasih sudah diberi kesempatan selama enam tahun untuk mengabdi di sekolah ini". Ucap Amalia dengan mata yang semakin berkaca-kaca berusaha kuat agar ia tidak menjatuhkan air mata. Mungkin memang ini sudah takdir dari yang kuasa, ia harus berlapang dada.


"Yang sabar ya...." pak Imran kembali menguatkan Amalia.


"Insyaallah pak, kalau tidak ada lagi saya ijin pamit kekelas pak". Amalia berusaha tetap tersenyum dan bangkit dari duduknya".


"Ia...silakan!" Pak Imran mempersilakan Amalia untuk kembali melanjutkan tugasnya.


Flash back off


Dertt....dert....derttt.....


Deringan hp menyadarkan Amalia dari lamunannya. Ia menoleh kearah hp yang ada di atas meja rias. Lalu bangkit dari tempat tidur, untuk mendekat ke arah hp yang ada di atas meja rias. Setelah sholat subuh Amalia memang sengaja belum keluar kamar.


"Bunda via?" Itulah nama yang tertera dilayar ponselnya. Segera Amalia menggeser tombol hijau.


"Walaikumsalam....., Alhamdulillah baik Bun" Amalia membalas salam yang diucapkan bunda via.


Amalia mendudukkan diri dikursi meja riasnya "Kira-kira ada apa ya Bun?" tanya Amalia yang sedikit penasaran, karena tak biasanya bunda via mengajak ia bertemu.


"Nanti saja kita bicarakan ya...., rasanya kurang leluasa aja kalau lewat telpon" jelas bunda Via.


"Oh...ia boleh buk" Dengan wajah tersenyum Amalia menyanggupi. Tak ada salahnya untuk menyetujui pertemuan ini, ia juga sudah rindu untuk bertemu dengan Via.


"Ok kalau gitu, nanti saya shareloc aja ya, makasih buk.... Assalamualaikum...." Bunda Via mengakhiri panggilannya.


"Ia Bun, walaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh...." Amalia kembali meletakkan HP diatas meja riasnya. Dipandanginya sebentar wajah kusutnya pada kaca rias usangnya, terlihat rambut sebahu yang sedikit berantakan. Disisirnya dengan perlahan, sambil merenung nasib dirinya, " Ya Allah beri aku kekuatan". Dengan harapan terdalam diselipkannya doa agar diberi kekuatan untuk menghadapi semua ujian yang seakan tak ada habisnya.


Di rumah Olivia.


Dimeja makan


"Ayo... sayang cepetan dihabisin sarapannya!" perintah bunda via yang melihat sang anak hanya membolak balik roti yang ada dipiringnya.


"Dedek nggak mau sekolah" jawabnya dengan wajah ditekuk dan tangan disilang di dada. Hari ini sama seperti hari kemaren, selalu ada drama untuk kesekolah.


"Kenapa nggak mau sekolah?" tanya Abi sambil mengelus pucuk kepala sang anak.


Sedangkan bundanya hanya menarik nafas panjang untuk mendinginkan hati yang sempat kembali terpancing emosi dengan tingkah sang anak. Bagaimana tidak sedari pagi sebelum mandi Via berdrama tak mau pergi kesekolah.


"Via dak suka sama gurunya"


"Lho....bukannya adek suka sama buk gurunya" tanya Abi bingung, karena setau dirinya si anak sangat menyayangi wali kelas yang selalu jadi bahan ceritanya.


"Emang Abi nggak tau, buk Amalia sudah nggak ngajar lagi?"


"Emang....gurunya itu kemana?" tanya Abi lagi.


"Katanya buk Amalia habis kontrak, makanya udah nggak ngajar lagi". terang bunda pada Abi


Abi hanya mengangguk-angguk mengerti dengan penjelasan sang istri.


"Via maunya sama buk Amalia, Via nggak mau guru sekarang, hu....hu.....hu....". Via menangis sesegukan.


Bunda dan Abi saling pandang dan menghela nafas.


"Sayang mau ketemu sama buk Amalia?" tanya bunda.


"Mau" jawab via dengan berbinar, ada senyum diwajahnya. Bagaimana tidak, sudah tiga hari ini via tidak bertemu dengan guru istimewanya.


"Tapi dengan syarat, sekarang Via sarapan, terus kita berangkat sekolah, nah...pulang dari sekolah baru kita ketemuan sama buk Amalia".


Via dengan semangat memakan roti dan meminum susunya hingga tandas.


Bunda dan Abi hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum melihat tingkah anak semata wayang mereka.


"Bi...sepulang kerja nanti bunda ada yang mau diomongin".


"Emang nggak bisa sekarang ngomongnya?" tanya Abi sambil menatap wajah istri tercintanya.


"Nanti aja bi, sekarang Bunda buru-buru mau kesekolah Via". Sahut bunda pada Abi.


Bunda Via adalah seorang HRD disalah satu perusahaan bauksit yang terkenal di Kalimantan, yang berpusat di kota P. Tak jarang ia dituntut untuk meninjau lokasi yang berjarak lumayan jauh dari kota P, yang mengharuskan ia untuk menginap beberapa hari sebelum kembali ke kota P.


Bersambung.....