AMALIA ISKANDAR

AMALIA ISKANDAR
6.PISAH



🍁SEPENGGAL KISAH NYATA DARI REKAN SEPERJUANGAN, DENGAN SEDIKIT BUMBU DARI OTHOR🍁


Bismillahirrahmanirrahim....


Happy reading semoga ada hikmah yang tersurat maupun tersirat yang bisa dijadikan pelajaran, dan jika masih banyak kekurangan mohon dimaafkan🙏


🌹🌹🌹


"Braakkkk....." bunyi pintu dibanting sedikit kuat. Membuat siapapun yang melihat pasti tau, emosi pelaku pasti tidak baik-baik saja.


Itulah yang dirasakan Putri Aura. Hawa panas yang membakar seluruh raga seharusnya ia tuntaskan di atas ranjang, bergumul dengan penuh gairah, berkeringat bersama untuk mencapai puncak *******, harus ia kubur dengan tarikan nafas panjang penuh kecewa. Karena untuk kesekian kalinya ia mencoba berhubungan badan bersama Abian, namun lagi-lagi Abian tak mampu menuntaskan hasrat yang sudah di ubun-ubun.


Putri Aura memilih keluar kamar meninggalkan Abian yang tak ia tau bagaimana kondisinya, setelah sesi percintaan mereka gagal.


Saat ini tujuan utamanya adalah lemari pendingin. Setelah mengambil minuman dingin, Putri Aura beralih pada lemari kaca untuk mengambil gelas, setelah itu ia mendudukkan diri di meja makan.


Menuangkan air ke dalam gelas dan meminumnya hingga tandas. Sedetik kemudian ia meletakkan gelas kosong di atas meja, dengan tatapan kosong dipandanginya gelas kosong itu, ada senyum kecut di bibirnya. Ia mengingat kembali perkataan teman kantornya.


Flash back


" Kenape lho?" Sapa teman kantor Putri pada dirinya.


Putri Aura tak menjawab, hanya melirik sekilas pada sahabatnya yang bernama Tio, yang sudah mendudukkan diri di depannya. Putri Aura tetap berpura-pura sibuk dengan komputernya.


"Kalau ada masalah cerita sama gue! gue liat kebelakangan ini lho banyak diam, banyak ngelamun juga". Pancing Tio pada Putri Aura.


Putri Aura menghentikan gerakan jarinya, menatap lekat pada laki-laki berkumis tipis yang duduk di sebrangnya.


"Gue capek aja Yo" Jawab Putri Aura dan kembali melanjutkan ketikannya.


"Put....! gue tau lho ada masalah, jangan ditanggung sendiri, ceritain sama gue!"


"Gue capek Yo....hik....hik....." tiba-tiba tangisan Putri Aura pecah.


"Udah beberapa bulan suami gue sakit, jangankan untuk jalan, duduk aja mesti dibantu, belum lagi gue harus ngurus Via, semua gue yang urusin sendiri, lho tau sendiri kan disini kita hanya bertiga tanpa sanak saudara, hikkk....hik....." Air mata Putri Aura semakin tak terbendung, Ia menumpahkan semua kesedihan yang ia tahan selama ini.


Tio menatap iba pada Putri Aura, "Emang belum ada kemajuan pada Abian?"


"Kata dokter, untuk tingkat cedera seperti yang Abian alami, harapan sembuh ada, hanya untuk sembuh total itu sulit, kemaren kita disarankan untuk berobat keluar, tapi duit dari mana? belum untuk biaya cicilan mobil, biaya makan kita sehari-hari. Ditambah sekarang gaji Abian hanya ada gaji pokok, semua tunjangan dihapuskan".


"Gila....salut gue sama lho, kalau gue diposisi lho mungkin udah nyerah"


"Maksud lho?"


"Ya ...., nyerah..., kabur mungkin, atau cerai" Jawab Tio ringan tanpa beban.


Putri Aura terdiam mendengar ucapan Tio, ia tak menyangka sahabatnya sebar-bar itu kalau bicara.


"Kalau ngomong disaring Yo...., jangan asal nyebut!"


"Tadi lho sendiri yang bilang kan kalau apa-apa lho sendiri yang lakuin, nyari duit, ngurus anak, belum lagi ngurus Abian, nah....gue aja yang ngebayangin capek, apa lagi lho yang jalanin. Jadi apa yang lho harapin dari Abian. Gue juga nggak yakin Abian masih bisa ngasih lho nafkah lahir batin".


Flasback off.


Putri Aura bangkit dari duduknya dan masuk kekamar Via, ia memutuskan untuk tidur bersama putrinya, itu dirasa lebih baik dari pada harus berhadapan kembali bersama Abian yang mungkin akan membuat tak nyaman.


Pagi menjelang ...


Pagi-pagi sekali Amalia sudah menyambangi kediaman Abian. Semalam saat terbangun dari tidur ia membaca wa yang dikirim oleh Putri Aura yang meminta dirinya untuk datang lebih awal, alasannya satu, ia merasa kurang enak badan dan meminta tolong pada Amalia untuk membuat sarapan sebelum mengantar Via ke sekolah.


"Walaikumsalam.....sebentar....!" sahut seorang wanita dari dalam rumah, bisa dipastikan itu adalah suara Putri Aura.


"Ceklekk..." pintu dibuka.


"Bun....!" Amalia


"Masuk...., maaf udah ngerepotin buk guru"


"Nggak masalah Bun, kan sekalian mau ngantar Via" ucap Amalia sambil melangkahkan kaki masuk ke dalam menuju area dapur. Amalia sudah sangat hafal dengan ruangan yang ada dirumah itu. Karena kurang lebih selama dua bulan ini, ia sering dimintai tolong oleh bunda Via. Terkadang dengan terpaksa ia juga harus masuk kekamar Abian untuk membantu Abian sekedar ke WC atau berpindah dari tempat tidur ke kursi roda, karena dirumah itu memang tidak ada yang bisa Abian pintai tolong disaat istrinya sibuk bekerja.


Awalnya ia merasa sangat tidak enak, tapi melihat kondisi Abian yang memprihatinkan membuat ia merasa tak tega, walau terkadang rasa canggung itu ada.


"Via nya masih tidur ya?"


"Anak itu kalau nggak dibangunin mana bisa bangun dia"


"Namanya juga masih anak-anak Bun" Amalia menganggap itu hal yang wajar, karena menurutnya Via masihlah kecil.


Putri Aura membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa bahan yang akan dimasak Amalia untuk sarapan mereka pagi ini.


"Ini bahan-bahannya, terserah mau dimasak apa" Amalia meletakkan beberapa jenis sayuran ke atas meja.


"Iya Bun, biar saya aja, bunda istirahat dulu sementara sarapan mateng, soalnya pucat banget"


"Makasih ya, oh...ya....ni...gaji buk Amalia untuk bulan ini" Putri Aura menyerahkan amplop berwarna coklat pada Amalia.


Amalia menerima amplop itu " Makasih Bun, semoga rezkinya bunda sekeluarga makin lancar, berkah diberi kesehatan juga untuk bapak" doa Amalia tulus.


"Aminnnn....., saya tinggal ya..." pamit Putri Aura.


Amalia membalas dengan anggukan diiringi senyuman.


"Alhamdulillah....akhirnya gajian" gumamnya pelan.


Putri Aura membuka pintu kamarnya pelan, dari semalam ia belum kembali kekamar itu.


Saat pintu terbuka, pandangannya menyapu ke atas tempat tidur, ada Abian disana yang sedang bersandar di kepala ranjang juga sedang menatap dirinya. Pandangan mereka terkunci, namun beberapa saat kemudian putri Aura memutus kontak mata mereka.


Tanpa bicara sepatah kata, Putri Aura menerobos masuk ke kamar dan langsung membuka lemari pakaian.


Abian melihat Putri Aura mengeluarkan beberapa pakaian, setelah itu ia menarik kursi meja rias untuk menjadi pijakan dan mengambil koper diatas lemari.


"Bun...!" panggil Abian.


Putri Aura tak menghiraukan, ia tetap melanjutkan mengemas bajunya ke dalam koper.


"Bunda....!" ulang Abian dengan suara naik satu oktap.


Putri Aura menoleh pada Abian, dan menghentikan gerakan tangannya yang sedang memegang gantungan baju.


"Bunda marah sama Abi?" tanya Abian dengan suara kembali merendah dan mulai parau. Jangan ditanya ekspresi wajahnya, sangat menyedihkan. Dua bulan tak memperhatikan penampilannya membuat kumis dan jenggot mulai menghiasi wajah Abian yang tampak kurusan. Begitu juga dengan rambutnya sudah semakin memanjang.


"Bi....bunda mau kita pisah..."


Bersmbung......