
"Jadi Amalia yang ingin dikenalkan tante adalah Amalia yang sama dengan yang ....." Ucapan Zain menggantung, ada senyum terkembang diwajah tampannya.
"Wait....., laki-laki itu..???"
Banyak teka-teki yang belum terjawab dikepala Zain, satu-satunya orang yang bisa menyelesaikan jawabannya adalah Tante Nur.
Satu yang pasti, Tante Nur tidak mungkin menjodohkan dia dengan wanita bersuami.
Disaat jemari Zain hampir menyentuh tombol panggilan, seorang perawat mengetuk pintu ruangannya.
Tok....tok....
"Masuk!"
"Apa sudah boleh mulai dok, prakteknya?" tanya perawat yang menyembulkan kepalanya kedalam ruangan Zain.
"Udah ramai ya?" tanya dr Zain sambil melirik arah jarum jam dinding.
"Udah ada sepuluh orang"
"Baiklah, kita mulai sekarang" dr Zain bangkit dari kursi kebesarannya, memakai jubah putih dan menyangkutkan stetoskop dilehernya.
Sejak praktek berlangsung, senyum ramah dr Zain tak lepas dari wajah tampannya. Sehingga membuat pasien betah berlama-lama untuk melakukan pemeriksaan. Hania perawat yang membantu dr Zain juga merasakan ada hal aneh yang membuat laki-laki tiga puluh enam tahun itu tak henti-hentinya tersenyum.
"Sepertinya dr lagi bahagia deh?"
Ucap Hania disela-sela pergantian pasien.
"Kamu bisa aja, kelihatan ya?"
Tanya balik dr Zain pada Hania yang tengah menginput data pasien pada komputernya.
"Banget, he....e...., tapi benaran dok, saya perhatiin dari tadi dr bersemangat, banyak senyum, terus...."
"Terus apa...?"
Potong dr Zain, membuat Hania tersenyum malu, pasalnya ia ketahuan memperhatikan dr Zain.
"Gantengnya pakek bangeeetttttt...."
Ucap Hania bersemangat, dan bersamaan dengan itu masuk seorang pasien keruangan, yang mau tak mau menghentikan obrolan asyik antara dr Zain dan Hania.
***
Amalia baru saja memarkirkan motor di halaman sekolah untuk menunggu Via keluar dari kelasnya.
Belum sempat turun dari motor,Via sudah datang menghampiri.
"Mama!"
Panggil Via pada Amalia sambil berlari mendekat kearah Via. Untung saat itu tak ada dewan guru di sana, jika ada bisa berat urusannya.
Anak-anak yang lain juga sudah ramai dihalaman sekolah, masing-masing mereka menuju orang tua yang sudah datang untuk menjemputnya.
"Via, udah pulang sayang?" Amalia turun dari motor dan menyambut kedatangan Via.
"Kening mama kenapa?"
Bukannya menjawab, Via malah balik bertanya, tampak kekhawatiran diwajahnya melihat luka dikening Amalia yang sudah berbalut plester.
"oh...ini tadi saat diapotik ngindarin motor, jadi mama terjatuh" jawab Amalia sambil memegang luka didahinya.
"Tapi mama nggak kenapa-kenapa kan?"
"Alhamdulillah, mama udah nggak kenapa-napa, pulang yuk!?"
Ajak Amalia sambil memasangkan helm dikepala Via, setelah itu dikepalanya.
Via naik dan mendudukkan diri dibelakang Amalia sambil memeluk erat tubuh langsing Amalia yang memang agak sedikit kurus.
Banyak cerita yang Via bagikan selama perjalanan pulang, terutama tentang dirinya disekolah. Ia juga sangat antusias menceritakan nilai seratus yang ia dapat hari ini. Amalia sangat serius menyimak setiap kalimat yang Via ucapkan. Tak ada istilah ibu tiri, mereka terlihat seperti ibu dan anak sungguhan. Amalia memang tulus menyayangi Via dan telah menganggap Via sebagai anak kandung sendiri.
Sepuluh menit perjalanan akhirnya mereka sampai, dihalaman rumah sudah terparkir sebuah mobil yang tidak diketahui siapa pemiliknya.
"Sepertinya ada tamu, tapi siapa ya?" gumam Amalia pelan. Ia melihat pintu depan terbuka, tapi belum jelas siapa orang yang ada di sana. Hanya Amalia mendengar suara laki-laki selain Abian.
Amalia memarkirkan motor di bawah pohon mangga yang ada dihalaman rumah itu. Sedang Via langsung memberi salam dan masuk kedalam rumah.
Amalia memilih masuk melalui pintu garasi yang ada disamping rumah. Setelah menyimpan tas Via kedalam kamar, ia mengintip siapa orang yang ada diruang tamu.
Abian sudah duduk dikursi roda, dengan Via yang berdiri dibelakangnya. Entah bagaimana caranya Abian bisa naik sendiri. Dikursi tamu duduk dua laki-laki, satu seumuran Abian dan yang satunya lagi diperkirakan berumur empat puluh lebih.
Amalia buru-buru kedapur untuk membuatkan tamu minum. Amalia sengaja membuat teh es, dikarenakan cuaca siang ini lumayan panas. Setelah teh siap, ia menghidangkannya bersama kue bolu kering yang ia beli di pasar tadi.
Amalia meletakkan gelas berisi es teh dihadaan dua tamu Abian, untuk Abian Amalia sengaja membuatkan air madu hangat.
"Makasih"
Jawab kedua laki-laki itu bersamaan. Setelahnya Amalia memilih masuk kedalamuntuk menyiapkan makan siang. Via juga ikut masuk kedalam kamar untuk berganti pakaian. Belum sampai menuju dapur terdengar kembali obrolan orang yang ada diruang tamu menanyakan dirinya pada Abian.
"Siapa?"
"Pembantu disini"
Jawab Abian pada tamunya.
Deg.....
Entah kenapa tiba-tiba ada rasanya nyeri diulu hatinya mendengar kata "pembantu". Sehina itukah ia di depan Abian, yang dengan santainya menyebut ia sebagai pembantu. Tak bisakah kata pembantu itu diganti dengan kata "keluarga" misalnya.
Tanpa Amalia sadari ada sebulir air mata yang menetes dipipinya. Secepatnya ia hapus, dan langsung masuk kedapur. Kembali ia mengingat niat awal ia minta dinikahi oleh Abian adalah untuk mempermudah pekerjaannya saja titik.
Amalia memilih menyibukkan diri dengan masakannya. Untuk siang ini ia hanya memasak bening mentimun dan menggoreng ikan nila, tak lupa ia juga membuat sambal terasi kesukaannya.
Asyik berkutat di dapur, ia tak menyadari tamu Abian ternyata sudah pulang.
"Keningmu kenapa?"
Suara bas itu mengagetkan Amalia yang sedang memindahkan sayur kedalam mangkok.
"Astagfirullah bapak, ngagetin aja"
Amalia memutar badan dan melihat kearah Abian yang tiba-tiba sudah ada didekat meja makan.
Abian masih memperhtikan Amalia, terutama luka dikeningnya.
"Jatuh saat ngindarin motor"
Jawab Amalia sambil kembali menuangkan sayur ke dalam mangkok.
"Kok bisa?" tanya Abian lagi.
"Ya bisalah pak" Jawab Amalia dengan nada sedikit ditekan. Entah kenapa ia merasa sedikit kesal dengan pertanyaan Abian. Mungkin lebih tepatnya masih kesal saat tadi dianggap pembantu.
Amalia menyiapkan piring di meja makan. Via juga sudah duduk di sana.
"Kok cuma dua?"
Abian kembali bertanya dengan wajah sedikit heran. Karena Amalia hanya menyiapkan dua buah piring yang ia letakkan dihadapan Abian dan satunya lagi di depan Via.
Amalia hanya diam, sambil mengisi nasi ke dalam piring.
"Kamu nggak makan?" Abian kembali bertanya, tataannya masih tidak lepas dari wajah Amalia yang sedikit cemberut. Dan terlihat lebih pendiam dibanding biasanya yang terkesan sedikit agresif.
"Pembantu biasnya makannya belakangan" Jawab Amalia dengan nada sedikit ketus. Ia sudah menyiapkan semuanya di atas meja, termasuk sudah menuangkan air putih kedalam gelas Abian dan Via.
Deg....
Kini Abian yang merasakan nyeri di hatinya, ada yang tidak beres dengan jawaban Amalia.
"Mama kenapa nggak makan?"
Akhirnya Via ikut bersuara.
"Mama masih kenyang sayang, Via makan sama Abi ya, mama mau kekamar sebentar!"
Amalia memilih kamar Via untuk ia menenangkan hatinya yang kembali kacau saat menyebut kata "pembantu".
"Aku ini aneh, padahal jelas-jelas memang aku pembantu yang dibayar dirumah ini, jadi kenapa harus sedih sih...???" suara hati Amalia.
Ting ....
Ada pesan masuk di wa Amalia.
"Assalamualaikum....
makasih untuk hari ini🙏"
"Nomor baru" gumam Amalia sambil membuka isi pesan. Kening Amalia berkerut membaca isi wa yang terkesan aneh dan mungkin lebih tepatnya pesan itu bukan untuk dirinya, melainkan pesan nyasar.
"Maaf, sepertinya salah kirim"
Pesan balasan Amalia kirimkan.
Bersambung ....