
🍁SEPENGGAL KISAH NYATA DARI REKAN SEPERJUANGAN, DENGAN SEDIKIT BUMBU DARI OTHOR🍁
Bismillahirrahmanirrahim....
Happy reading semoga ada hikmah yang tersurat maupun tersirat yang bisa dijadikan pelajaran, dan jika masih banyak kekurangan mohon dimaafkan🙏
🌹🌹🌹
"Ibuk? ibuk yang mana?" tanya Abian bingung.
"Kreeeek" bunyi pintu ruangaan Abian yang kembali di buka.
Abian dan via melerai pelukan, melihat ke arah pintu yang terbuka dengan menampilkan seorang wanita yang tak asing bagi Abian.
"Buk Amalia?" seketika lidah Abian berucap.
"Ia saya Pak, maaf..., saya lancang masuk ke ruangan bapak, soalnya tadi sepulang sekolah, Via katanya pengen ngejenguk bapak, jadi saya temenin ke sini" jelas Amalia kepada Abian yang terlihat kaget dengan kehadirannya.
Amalia sengaja membiarkan pintu ruangan Abian terbuka. Karena bagaimana pun juga ia tidak ingin ada fitnah, meski Bunda Via lah yang mengijinkannya untuk menjenguk Abian, lebih tepatnya mengantar Via.
Ia pun memposisikan diri agak berjarak dari bed tempat Abian berbaring. Satu ruangan dengan laki-laki yang tidak ada ikatan apapun, membuat Amalia merasakan suhu yang berbeda.
"Bu...bukan..., begitu maksudnya, hanya saya kaget kok tiba-tiba ibu bisa sama Via? bukan katanya ibu sudah tidak mengajar lagi di SD Via? Abian memastikan dengan memandang lawan bicaranya.
" Ohhh .... masalah itu, emang Bunda Via nggak cerita sama bapak?"
"Cerita...?Maksudnya, cerita apa ya?" Abian semakin bingung.
"Ihhhhh...Abi...nggak tau ya? Buk Amalia, sekarang udah jadi gurunya Via lagi. Malah udah jadi kayak mamanya Via" Via menimpali pembicaraan Amalia dan Abian.
Mendengar Via menyebutkan kata "mama" membuat Abian mengerutkan keningnya, yang menandakan ia semakin bingung dengan apa yang diucapkan Via. Abian melirik Amalia dengan ujung matanya isyarat meminta penjelasan dari Amalia.
"Haduh....sepertinya ayah yang satu ini mengalami kesalahan makna lagi" Suara hati Amalia.
"Begini pak...., Bundanya Via, lebih tepatnya istri bapak, meminta saya untuk menjadi guru lesnya Via, nah...karena selama beberapa hari ini Via nggak ada yang ngantar jemput di sekolah, jadi saya juga diminta untuk mengantar jemput Via. Oya....ini ada titipan dari bundanya Via" Amalia mengakhiri penjelasannya dan menyodorkan kantong kresek berwarna putih pada Abian.
"Oh...ia makasih...."Abian menerima kresek dari Amalia dan meletakkannya diatas lemari yang ada disamping bednya.
Amalia tersenyum sembari mengangguk membalas ucapan terima kasih Abian.
"Silakan duduk buk...! Maaf buk...., saya sekeluarga jadi merepotkan" Abian
"Sama sekali nggak merepotkan pak, malah...saya yang merasa terbantu" Amalia menarik kursi yang ada di samping bed, sedikit menjauh dari bed Abian.
"Emang benar ya ..., buk Amalia sudah tidak mengajar lagi?
"Benar pak"
"Kok bisa?" tanya Abian antusias.
Jika belum mengenal Abian, orang mengira dia sosok yang irit bicara, termasuk Amalia, itulah yang dipikirkannya tentang Abinya Via.
"Saya yakin rezki, jodoh, maut, semua udah diatur pak". Amalia mencoba ikhlas dengan takdirnya, meski terdengar ada rasa sedikit berat dalam mengucapkannya.
"Ia, kamu benar, termasuk apa yang menimpa saya" jawab Abian kecut, sambil mengelus kepala sang anak.
"Bi....! Via pengen makan sate?" Tiba-tiba Via menahan elusan tangan Abian, karena dari tadi seolah hanya menjadi pendengar setia dari pembicaraan Abi dan buk gurunya.
"Sate...?" Tanya Abian memastikan, karena mana mungkin dalam kondisi saat ini ia membelikan via sate. Dirinya dan Via sama-sama pecinta sate, makanya tadi pagi ia meminta pada Putri Aura untuk membelikannya.
"Ia....Abi, via udah seminggu nggak makan sate" Mata menjadi sayu, mengharap Abi nya mengabulkan.
"Jangan sekarang ya sayang!"
"Abi belum bisa jalan, gimana caranya Abi belinya"
"Kenapa harus beli sih Bi...., itu kan udah ada satenya" Tunjuk Via ada kantong kresek yang tadi di berikan Amalia.
Seketika Abian menyentuh kresek putih yang ada diatas lemari. "Jadi, bunda beliin Abi sate? tanya Abian antusias dan memastikan keabsahan. Ia merasa sangat bersyukur memiliki istri seperti Putri Aura, meski tadi istrinya sempat menolak permintaannya namun pada akhirnya ia tetap memikirkan tentang dirinya. Alangkah beruntungnya Abian.
"Kok bunda sih? Yang beli sate itu bukan bunda, tapi Buk Amalia bi" jawab Via.
Amalia yang menyimak pembicaraan ayah dan anak itu akhirnya kembali buka suara, ia takut ada kesalahan makna dari ucapan via "waduh....bakalan terjadi kesalahan makna lagi deh..." suara hati Via.
"Begini, yang beli emang saya, tapi atas perintah bundanya Via pak" ucap via seraya berdiri mengambil kantong kresek dari tangan Abian.
Deg.....
Abian sedikit kecewa mendengar ucapan Amalia, Senyum yang tadi terkembang perlahan meredup dari bibirnya. Ia mengira istrinya sendiri yang membeli, namun ternyata hanya untuk membeli sate Putri Aura menyuruh orang lain, yang nota benenya bukan siapa-siapa mereka.
Abian secepatnya menepis kekecewaannya pada sang istri.
"Makasih buk, lagi dan lagi saya merepotkan" Abian semakin merasa tidak enak pada Amalia.
"Nggak masalah pak" Amalia sibuk memasukkan sate kedalam piring yang ia ambil dari dalam lemari.
"Nih...satenya!" Amalia menyerahkan sate pada Abian.
Abian tak langsung menerima piring yang disodorkan Amalia, sekilas ia menatap Amalia.
"Maaf buk, saya nggak bisa megang piringnya, berikan saja pada Via, soalnya saya nggak bisa duduk" Abian merasa miris dengan dirinya, sudah seminggu menjalani perawatan tidak ada kemajuan yang berarti pada dirinya.
"Maaf pak saya nggak tau" Amalia tertawa kecut menyadari kecerobohannya yang mungkin menyinggung Abian.
"Biar Via makan sendiri aja buk guru!" pinta Via pada Amalia.
"Anak pintar" Amalia menyerahkan piring yang berisi sate pada Via.
Amalia menarik kursi yang tadi ia pakai mendekat kearah bed Abian untuk digunakan Via.
"Abi mau?" tanya Via dengan mulut menggembul dipenuhi sate, sangat lucu.
"Boleh, tapi Via suapin Abi ya" Pinta Abian pada sang putri.
"Kata buk guru, kalau makan nggak boleh baring Bi" Itulah kata-kata yang pernah Amalia sampaikan pada murid-muridnya, dan ternyata anak pintar itu masih mengingatnya dan malah sedang menjadikannya sebagai kebiasaan.
Mendengar apa yang diucapkan Via, Amalia dan Abian saling tatap.
Dalam waktu bersamaan mereka menyuarakan pikiran masing-masing.
"Gimana caranya mau duduk? biasanya aku dibantu perawat" suara hati Abian.
"Apa aku bantu saja, tapi......" Suara hati Amalia yang terpotong oleh suara di depan pintu.
"Permisi...., selamat siang.....! Bapak Abian gimana kabarnya? Ada keluhan?" Perawat yang besok memberikan Abian beberapa pertanyaan.
Amalia melihat kedatangan perawat yang akan memeriksa kondisi Abian merasa sangat bersyukur, setidaknya biarlah perawat nanti yang akan membantu Abian untuk duduk.
"Alhamdulillah...seperti ini lah sus..., belum ada kemajuan yang berarti, jawab Abian sambil berusaha untuk duduk, tapi terlihat sangat kesakitan.
"Bapak mau duduk? biar saya bantu pak" Ucap perawat yang bernama Nuri terlihat dari name tag yang ia kenakan.
Bersambung.....