
🍁SEPENGGAL KISAH NYATA DARI REKAN SEPERJUANGAN, DENGAN SEDIKIT BUMBU DARI OTHOR🍁
Bismillahirrahmanirrahim....
Happy reading semoga ada hikmah yang tersurat maupun tersirat yang bisa dijadikan pelajaran, dan jika masih banyak kekurangan mohon dimaafkan🙏
🌹🌹🌹
Sarapan pagi ini sedikit berbeda, biasanya Via terlihat cemberut dan tidak bersemangat, tidak untuk hari ini.
Pagi-pagi setelah shalat subuh ia langsung mandi, dan mengenakan seragam sendiri. Sedang Amalia menyiapkan sarapan yang mereka nikmati saat ini.
"Masakan mama enak"
Deg....
Panggilan "mama" membuat Abian melihat kearah Amalia yang tersenyum ke arah Via.
"Alhamdulillah, nanti sekolah yang rajin ya! mama udah nyiapin bekal roti, tapi ingat sebelum makan...."
"Cuci tangan dan berdoa" sambung Via dengan senyum terkembang dibibirnya.
Hati Abian kembali menghangat, melihat kecerian di wajah Via. Ia berharap semoga keputusannya menikahi Amalia adalah keputusan yang tepat.
"Bapak ..., kenapa berhenti makannya?"
Abian tersentak kaget mendapat pertanyaan dari Amalia, pasalnya dia baru saja menikmati kecerian diwajah putrinya.
"Nggak" Abian
"Nggak enak?"
"Enak"
Abian kembali menyendoki makanannya. Dalam hati tak henti ia ucap syukur, meski pernikahan ini suatu yang tidak di dasari cinta, setidaknya Via dan dia ada yang mengurus.
"Via, cepat selesaikan makannya sayang, sebentar lagi kita berangkat sekolah bareng Abi"
"Bareng Abi? beneran ma?"
Mata Via membulat sempurna, tak percaya rasanya karena selama tiga bulan ini ia tak pernah lagi diantar Abinya.
"Ia bener, masak mama bohong"
"Emang Abi udah bisa nyetir mobilnya?"
Amalia menatap putri sambungnya dengan senyuman, setelahnya beralih pada Abian yang ada di samping Via.
Saat tatapan mereka bertemu, Abian seolah protes dengan ucapan Amalia. Bisa-bisanya ia mengatakan pada Via, bahwa dirinya juga ikut mengantar Via. Mana mungkin untuk dirinya menyetir mobil, duduk saja dikursi roda.
Amalia yang selalu cepat sadar dengan kesalah pahaman Abian kembali meluruskan.
"Ia kita diantar Abi, tapi dengan mobil pak Maxim"
"Pak Maxim? siapa tu ma?
Via kembali bingung mendengar nama "Pak Maxim" setaunya Abinya tak punya teman atau saudara yang bernama Maxim.
"Ha....ha....ha...." untuk pertama kalinya Abian tertawa lepas mendengar celotehan Amalia tentang Maxim.
Amalia dan Via saling pandang merasa heran karena tawa itu sudah lama tak mereka dengar dari bibir Abian.
"Ternyata kamu juga jago ngelawak" ucap Abian yang masih tertawa.
Amalia membalas dengan senyuman kecil, merasa bersyukur dengan kehadirannya bisa mengembalikan senyum Abian yang lama hilang.
Tak berapa lama setelah selesai sarapan, pak Maxim pun datang menjemput. Mereka bertiga dengan Amalia yang setia mendorong kursi roda Abian keluar ke halaman menuju mobil jemputan yang sudah Amalia pesan melalui aplikasi online.
Hati Abian kembali merasa sesak, sudah sebulan ia tak keluar rumah, terahir saat ia diantar Putri Aura untuk kontrol, itu pun dengan Abian yang memaksa, karena Putri Aura selalu beralasan sibuk bekerja.
Hari ini, dengan sukarela Amalia yang hanya bergelar istri siri dengan sukarela mengajak dirinya mengantar Via kesekolah.
"Benar atas nama Amalia?" tanya sopir Maxim ke pada Amalia yang sudah sampai dipinggir jalan bersama Abian dan Via.
"Saya bantu ya?"
Pak Ahmad yang diketahui namanya lewat aplikasi taxi online oleh Amalia menawarkan bantuan setelah membuka pintu penumpang bagian depan. Ia membantu Abian untuk berpindah ke jok penumpang bagian depan mobil, sedang Amalia melipat kursi roda yang di pakai Abian.
"Sini buk, biar saya simpan di bagasi!"
"Silakan pak!"
Amalia memberikan kursi roda pada pak Ahmad dan membuka pintu mobil bagian tengah untuk dirinya dan Via.
"Ayo sayang!"
Via masuk dan duduk ke dalam mobil, ia duduk dibelakang kursi sopir, sedang Amalia duduk dibelakang Abian suami sirinya.
Abian sudah terduduk tenang dikursinya, sedang Amalia menutup pintu mobil, diikuti pak Ahmad yang juga sudah duduk dikursi kemudi siap untuk menghidupkan mesin mobil.
"Udah semua? kita jalan ya!"
"Siap pak, silakan!" Amalia mempersilakan dengan nada yang sopan.
"Rute sesuai aplikasikan?" tanya pak Ahmad kembali meyakinkan.
"Ia pak, tapi nanti singgah di SD *******, setelahnya baru lanjut ke tempat tujuan"
Jelas Amalia pada pak Ahmad yang dibalas dengan anggukan oleh pak Ahmad.
"Udah lama pak, jadi taxi online?" Abian membuka percakapan setelah mobil mulai jalan.
"Lumayan pak, jalan dua tahun semenjak awal Corona, dulunya saya bekerja di perusahaan xxx, setelah terjadi PHK besar-besaran, saya turut dirumahkan. Anak istri butuh makan, akhirnya saya menjual satu kontrakan dan membeli mobil ini untuk dijadikan taxi online. Ujian saya terbilang berat Pak, seperti kita tau, diawal Corona terjadi PPKM, selain itu orang juga takut untuk bepergian dengan taxi online, dan itu membuat kami para taxi online kesulitan mencari pemasukan. Ujian saya tidak sampai di situ, disaat kondisi ekonomi saya terpuruk, istri yang saya cintai memilih pergi dengan alasan tak lagi mampu bertahan dengan kesusahan yang sedang kami hadapi"
Deg.....
Cerita Pak Ahmad membuat nyeri di hati Abian, dan Amalia yang sedari tadi juga ikut menyimak cerita pak Ahmad. Ternyata kehidupan tiga manusia itu memiliki ke samaan, hanya beda beda alur cerita, namun pada akhirnya sama-sama ditinggalkan.
Wajah Abian berubah mendung, rekaman tentang Putri Aura kembali melintas, yang dengan tega membuang dirinya dan Via.
"Bapak sangat beruntung, mohon maaf, dalam kondisi bapak seperti sekarang buk Amalia masih setia menemani bapak, dan terlihat sangat perhatian"
Pak Ahmad bisa melihat ketulusan Amalia dalam merawat Abian. Abian menatap Amalia dari spion yang ada di depan, terlihat wajah mendung Amalia.
"Bapak bisa aja, saya tidak sesempurna itu pak"
Amalia merendah, karena pada kenyataannya biar ia iklas membantu Abian, tapi ujung-ujungnya ia mendapatkan imbalan untuk semua itu. Hati Amalia kembali terasa dicabik, pantaskah ia di sebut sebagai istri yang berbakti....
"Sudah sampai, inikan SD nya? Pak Ahmad kembali memastikan.
"Ia pak"
Suara pak Ahmad dan Abian menyadarkan Amalia dari lamunan singkatnya.
"Ayo sayang kita turun,salam dulu sama Abinya!"
Sebelum turun Amalia menjinjing Tas sekolah Via beserta bekalnya.
"Bi....Salim....!"
"Belajar yang rajin, jangan nakal dan ingat pesan mama!" nasehat Abian pada putrinya sambil mengelus sayang pucuk kepala Via.
"Ia Bi, Via turun dulu ya?"
"Ia hati-hati!"
Amalia yang sudah terlebih dahulu turun menunggu Via di depan pintu mobil.
Baru Via akan turun dari dalam mobil, terlihat buk Nur datang tergopoh-gopoh mendekat ke arah Amalia dengan air muka yang penuh semangat.
Semua itu bisa Abian saksikan dari dalam mobil, yang memang kacanya sudah terpasang pelindung, sehingga hanya orang di dalam mobil yang bisa melihat orang yang berada di luar mobil.
"Amalia, ya ampun sayang.....Pak dokter titip salam buat kamu"
Deggggg.........