AMALIA ISKANDAR

AMALIA ISKANDAR
13.ZAKI



Semua itu bisa Abian saksikan dari dalam mobil, yang memang kacanya sudah terpasang pelindung, sehingga hanya orang di dalam mobil yang bisa melihat orang yang berada di luar mobil.


"Amalia, ya ampun sayang.....Pak dokter titip salam buat kamu"


Deggggg.........


Amalia melirik kearah penumpang yang duduk dibangku depan, meski ia tak bisa melihat Abian, ia yakin Abian bisa mendengar apa yang diucapkan buk Nur.


"Dokter???"


Amalia bingung rasanya ia tak punya kenalan seorang dokter.


"Ia, yang semalam kita bahas"


Buk Nurlaila mengerlingkan matanya pada Amalia yang kebingungan.


"Buk, saya antar Via kedepan dulu ya!"


Mencoba mengalihkan topik pembicaraan, Amalia takut akan memunculkan kesalah pahaman antara dia dan Abian. Walau bagaimana pun Abian adalah suaminya saat ini, jadi sudah menjadi kewajibannya untuk menjaga perasaannya.


Amalia buru-buru menutup pintu mobil, dengan perasaan tak enak ia menggandeng tangan Via, sementara tangan yang satunya lagi menjinjing tas Via.


"Amalia saya kekelas dulu ya, jangan lupa salam pak dokternya"


Bur Nur berjalan meninggalkan Amalia yang masih berdiri di depan gerbang sekolah. Hanya senyuman yang terkembang diwajah ayunya.


"Belajar yang rajin, nanti mama jemput ya!


Ingat, jangan pulang sebelum mama yang jemput.


Salim dulu!"


"Ia ma"


Semangat yang memang sudah tumbuh sejak pagi tadi, membuat mood Via secerah mentari di pagi ini.


Via memasuki gerbang sekolah dan bersalaman dengan guru yang menyambut kedatangan para siswa.


"Nggak mampir?"


"Nggak pak, lagi ditungguin tu sama taxi"


Amalia menunjuk ke arah mobil hitam yang ada dipinggir jalan.


"Oh....ya, hati-hati" ucap pak Nanda pada Amalia. Ia baru saja memarkirkan motor digarasi khusus guru.


Pak Nanda adalah guru olah raga yang ada disekolah Via. Tatapannya tak lepas pada Amalia, sampailah Amalia beranjak pergi.


Amalia membalas dengan anggukan dan segera beranjak menghampiri mobil hitam yang sedang menunggu dirinya.


Amalia membuka pintu mobil dan mendudukkan diri dibangku baris tengah.


"Udah buk?"


"Udah pak"


"Langsung ketempat selanjutnya kan?"


"Ia pak"


Mobil mulai beranjak, meninggalkan sekolah Via untuk menuju ke salon yang telah ditentukan. Selama perjalanan hanya obrolan biasa yang mereka lontarkan, tanpa terasa sekarang mereka sudah sampai disalon tujuan.


Amalia membuka pintu mobil, setelah turun ia membukakan pintu untuk Abian. Sedang pak Ahmad membuka bagasi mobil untuk mengeluarkan kursi roda Abian.


"Biar saya aja buk!"


Amalia menyingkir, memberikan jalan untuk pak Ahmad. Perlahan Abian memutar posisi duduk menghadap ke arah pintu mobil yang terbuka, dengan menjuntaikan kedua kakinya.


"Bismillah....."


Dengan sedikit hati-hati Pak Ahmad membantu Abian mendudukkan diri dikursi roda, sedikit lebih mudah dibanding Amalia yang melakukannya, mungkin karna Amalia kalah tenaga.


Setelah menyelesaikan pembayaran, mobil pak Ahmad beranjak pergi. Amalia mendorong kursi roda masuk ke dalam salon khusus pria.


Disana mereka disambut dengan ramah oleh pemilik salon, mungkin itu salah satu h cara mereka untuk menarik hati pelanggan.


Setelah menentukan model yang diinginkan, tukang salon bertindak cepat memulai pekerjaan, memotong rambut Abian dengan sangat profesional. Abian tetap duduk dikursi roda, agar lebih praktis. Sedang Amalia menunggu dikursi panjang yang berada sekitar dua meteran di belakang kursi tempat memotong rambut.


Dalam diam Abian melihat pantulan Amalia dari kaca besar yang ditempel didinding depan Abian. Wajah ayu itu senyum-senyum simpul menghadap kearah layar hape yang ada ditangannya. Entah apa yang sedang dilihatnya, yang jelas, jemari Amalia tak henti menari di layar hapenya.


Krekkkkk....


Pintu salon kembali terbuka, spontan mata Amalia menoleh ke arah pintu yang mana di sana Amalia melihat anak laki-laki sekitar umur tiga tahunan menangis digendongan sang Ayah.


"Dak.....dak ....au.....


Yah.....dak au...


mau ....es....tim.....dak...au cini...."


Sang Ayah tampak kewalahan dengan anak yang terus memberontak digendongannya. Tukang cukur rambut sejenak ikut menghentikan kegiatannya menoleh ke arah datangnya suara. Hal yang sama pun dilakukan Abian.


Pujuk si Ayah, namun tak dihiraukan, ia tetap berontak ingin turun.


Amalia melihat ke arah luar kaca mencari satu sosok, ibu si anak, tapi tak ada tanda-tanda orang lain di sana selain dua manusia beda generasi itu.


Tut....tut....


Bunyi getar dihape Amalia yang mengharuskan ia untuk keluar dari ruangan itu, agar bisa berbicara dengan si penelpon. Berdiri dan melangkah ingin keluar, tanpa di duga, saat melewati dua manusia yang sedang bernegosiasi dengan tangisan yang sangat memekakkan telinga.


"Mama!"


Hening, tangisan itu tiba-tiba sirna digantikan dengan kata "mama". Membuat penasaran semua yang ada di sana, termasuk Amalia spontan menghentikan langkah dengan tangan yang sudah berada di handel pintu.


"Mama" suara itu kembali terdengar, Amalia memutar badan dan menoleh ke arah bocah laki-laki yang berada digendongan si ayah yang mengulurkan ke dua tangannya pada Amalia.


Merasa kebingungan, alis berkerut, Amalia menunjuk ke arah dirinya sendiri, dibalas anggukan oleh anak kecil yang belum diketahui namanya.


"Mama???" mengulang kembali ucapan si anak dan kembali menunjuk dirinya, memastikan apakah benar orang yang dipanggil anak itu dirinya.


Bocah kecil itu mengangguk dan tersenyum senang, perubahan seratus delapan puluh derajat. Bukankah barusan bocah itu menangis dan berontak sejadi-jadinya?.


Amalia tak langsung menerima uluran tangan bocah kecil yang masih setia menunggu Amalia menerima uluran tangannya. Sekilas Amalia melirik pada suaminya, namun wajah Abian datar-datar saja.


Sorot mata Amalia kini ia layangkan pada laki-laki yang menggendong bocah itu, belum sempat untuk Amalia pindai wajahnya, yang menurut perkiraannya adalah ayah si bocah. Saat mata mereka bertemu, ada permohonan di sana. Memohon untuk meminta pada Amalia mengikuti kemauan anaknya.


Akhirnya dengan sedikit ragu, Amalia membalas uluran tangan dan memindahkan bocah itu kedalam gendongannya.


Entah kapan suara hape berhenti, fokus Amalia telah teralihkan, ia pun kembali duduk dikursi tunggu dengan bocah itu di gendongannya.Sedang ayah si bocah juga ikut duduk disamping Amalia, dengan jarak sekitar lima puluh senti.


Tatapan bocah itu tak teralihkan dari wajah Amalia, sedang kedua tangannya memeluk erat di perut Amalia, seolah takut untuk ditinggal.


"Sayang namanya siapa?"


"Zaki"


"Zaki, mau potong rambut ya?"


Mendengar obrolan yang sempat didengar Amalia tadi, ia yakin si bocah pasti ingin dipotong rambutnya.


"Ia, tapi au nya cama mama"


Zaki semakin mempererat pelukannya.


"Maaf mbak, atas ketidak nyamanannya saya juga bingung, kok bisa-bisanya Zaki memanggil mbak dengan sebutan mama. Oya...siapa nama mbaknya?"


Ayah Zaki merasa tak enak hati, takut menyinggung dan merepotkan Amalia.


"Nggak papa pak, saya...."


Belum sempat Amalia melanjutkan ucapannya, Abian sudah memanggil namanya. Rupanya kegiatan potong rambut sudah selesai.


"Amalia....!"


"Udah selesai ya pak?"


Amalia melihat wajah Abian, lelaki yang sudah tiga bulan ini kehilangan jati diri, kini kembali menjelma dengan ketampanannya. Amalia terpesona, untuk sesaat lidahnya kelu, tatapannya penuh pemujaan.


"Oh...tenyata namanya Amalia" suara hati Ayah Zaki.


"Ia, jangan lupa dibayar!" Nada datar kembali Amalia dapatkan.


Kesadaran Amalia kembali, kini tatapannya pada bocah yang masih setia di dalam dekapannya.


"Sekarang, Zaki potong rambut, biar semakin ganteng"


Kata-kata lembut dan elusan dikepala Zaki, bagai sebuah hipnotis, perlahan Zaki turun dari gendongan Amalia dan berpindah ke bangku tempat potong rambut.


Rasa tak percaya tampak diwajah ayah si bocah, pasalnya sudah berbagai cara ia lakukan untuk membujuk namun satu pun tak ada yang mempan.


Amalia bangkit dan mengeluarkan selembar uang dua puluh ribu dari dalam dompet untuk membayar biaya potong rambut Abian. Namun, belum sempat uang itu diulurkan.


"Biar saya aja mbak!"


Ucap ayah Zaki melarang Amalia untuk membayar biaya potong rambut.


"Jangan pak, ini uangnya"


"Jangan diterima pak, anggap saja sebagai ucapan terima kasih saya, karena berhasil membujuk Zaki"


Ayah Zaki, langsung menahan sipemotong rambut untuk menerima uang dari Amalia.


"Kalau begitu, makasih untuk kebaikan bapak" ucap Amalia tulus. Amalia mengambil Alih kursi roda Abian dan mendorongnya pelan.


"Makasih" terdengar ucapan Abian dengan nada yang entah, namun wajahnya tetap datar.


"Sama-sama"


Bersambung....