AMALIA ISKANDAR

AMALIA ISKANDAR
11. MENGHANGAT KEMBALI



๐ŸSEPENGGAL KISAH NYATA DARI REKAN SEPERJUANGAN, DENGAN SEDIKIT BUMBU DARI OTHOR๐Ÿ


Bismillahirrahmanirrahim....


Happy reading semoga ada hikmah yang tersurat maupun tersirat yang bisa dijadikan pelajaran, dan jika masih banyak kekurangan mohon dimaafkan๐Ÿ™


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Amalia masuk kekamar Via, tatapan teduh ia layangkan pada si anak sambung yang tertidur pulas dengan mulut sedikit menganga. Amalia mendekat ke arah Via, membenarkan selimut yang ada diujung kakinya. Setelahnya Amalia beranjak ke kamar mandi, untuk giliran dirinya melakukan ritual bersih-bersih dan berwudhu sebelum tidur.


Selesai dengan ritual itu, Amalia menarik koper yang tersembunyi dibawah tempat tidur Via yang ia bawa pagi tadi kekediaman Abian. Membukanya dan mengambil baju daster model sayap kelelawar panjang semata kaki yang berwarna abu-abu dengan motif kupu-kupu.


Merasa aman, Amalia membuka jelbab yang sedari tadi masih bertengger di kepalanya dan meletakkannya dalam keranjang kotor dan hal yang sama ia lakukan pada pakaian yang melekat di badan dengan hanya menyisakan pakaian dalam. Barulah setelahnya memakai daster yang telah ia siapkan.


Amalia membaringkan tubuh rampingnya disamping Via yang sudah tertidur lelap. Posisi tidur miring kekanan adalah kebiasaannya. Sambil menunggu mata meredup Amalia menyalakan hape yang sengaja ia matikan sejak pagi tadi.


Ting...ting...ting...ting....


Beberapa pesan yang masuk di aplikasi wa. Mata Amalia menyipit membaca salah satu nama pengirim "Bunda Via".


Tanpa menunggu lama, Amalia membuka pesan yang dikirim.


Assalamualaikum...


Maaf buk guru mengganggu waktunya


Via gimana kabarnya?


apa dia masih menanyakan tentang saya?


Titip Via ya buk guru.


Amalia tersenyum miris membaca wa yang dikirimkan Bunda Via, pasalnya sudah tiga hari berlalu semenjak kepergiannya, baru hari ini ia menanyakan kabar Via. Apalagi dipesan itu sama sekali tak ada menanyakan kabar Abian.


"Dasar ibu tak berperasaan" gumam Amalia dengan suara pelan.


Berkali-kali Amalia mengetik pesan, berkali-kali juga ia hapus. Jujur ia malas untuk berhubungan dengan orang yang mementingkan diri sendiri. Tapi setelah berpikir ulang, Putri Aura adalah majikan baginya, jadi tak ada salahnya membalas wa itu walau sekedarnya.


Walaikumsalam....


Alhamdulillah Via sehat,


untuk hari ini belum ada Via menanyakan ibuk.


Amalia menekan tombol sent, pesan pun terkirim.


Ting....


Satu balasan dari bunda Via.


Makasih buk ๐Ÿ™


Amalia tak lagi menghiraukan pesan dari bunda Via, sekarang ia beralih untuk membaca wa yang dikirim oleh teman sekaligus senior ditempat ia mengajar dulu, "Buk Nur".


Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh....


Pa kabar sayang?


Lama nggak wa, udah lupa ya sama saya ๐Ÿ˜Š


Oya gimana kerjaan kamu, betah nggak?


Kalau nggak betah, nanti saya coba tanya keponakan.


Kemaren dia nyari orang yang bisa bantu-bantu untuk jadi guru les anaknya.


Dia duda lho ๐Ÿคญ


Siapa tau .....


"Astagfirullah....buk Nur, bisa aja ibuk yang satu ini"


Amalia tersenyum simpul membaca setiap kata yang dikirim buk Nurlaila yang memang terkenal suka bercanda dengan rekan sesama guru di saat Amalia masih bekerja.


Amalia mengetikkan balasan untuk buk Nurlaila.


"Walaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh...


Alhamdulillah...kabar saya baik


Maaf buk, baru sempat balas, tadi ada sedikit kerjaan jadi hape sengaja nggak diktifkan.


Mana bisa saya lupa sama ibuk ๐Ÿค—


Alhamdulillah...untuk sementara kerjaan lancar


Ibuk sendiri apa kabar?


Salam aja sama dudanya ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Amalia menekan tombol sent, pesan pun terkirim.


Amalia sengaja mengirimkan salam untuk pak duda itu, baginya palingan buk Nur hanya bercanda seperti biasanya.


Karena udah hampir jam sebelas malam, tidak ada tanda-tanda buk Nur untuk membaca Wa darinya. Amalia menekan tombol kunci, setelahnya ia letakkan benda persegi panjang itu di atas nakas samping tempat tidur.


Membenarkan posisi dengan memeluk Via, Amalia mencoba untuk masuk ke alam mimpi.


***


Sambil meletakkan tangan di dada kirinya, Amalia membaca surah Al-fatihah yang ia tujukan untuk dirinya sendiri.


Mendudukkan diri terlebih dahulu sebelum beranjak bangkit agar aliran darah menjadi normal. Rambut yang terurai ia cepol asal, tanpa bersisir terlebih dahulu.


Amalia menjuntaikan kaki, dengan tangan meraih ponsel yang ada di atas nakas. Ternyata ada notifikasi pesan masuk dari buk Nur.


"Alhamdulillah...ibu juga baik,


semalam ibu sudah tidur.


Syukurlah jika kamu betah dengan pekerjaanmu.


Oya....untuk salam mu beneran ya....๐Ÿคญ


Amalia tersenyum membaca balasan buk Nur, dengan mata yang masih menyipit untuk menyesuaikan cahaya hape ia kembali mengetikkan balasan.


"Jangan dong buk....


Saya hanya bercanda ๐Ÿคญ


Nanti baru kita lanjut lagi buk, mau siap-siap shalat subuh.


Kembali tombol sent yang ia tekan dan kembali meletakkan hape diatas nakas.


Amalia akan beranjak kekamar mandi, baru beberapa langkah, ayunan kaki terhenti, ia teringat akan Abian. Memutar badan dan membuka kamar Via menuju kekamar Abian.


Tanpa mengetuk pintu, Amalia masuk setengah berlari ke arah Abian yang menarik badan menuju kamar mandi. Wajah Amalia seketika berubah tegang.


"Astagfirullah...., bapak kenapa nggak manggil saya?"


Abian hanya terdiam, bingung ia lupa jika sekarang Amalia adalah istri yang baru semalam ia nikahi.


Tak ada kata terpana, meski pertama kali melihat Amalia tanpa jelbab, karena istri yang lama berlipat kali lebih cantiknya.


"Bapak tunggu sebentar, biar saya ambil kursi roda dulu!"


Berjalan kesisi tempat tidur, Amalia meraih kursi roda dan mendorongnya ke arah Abian.


Mengapit kedua ketiak Abian, Amilia membantu Abian untuk mengangkat badan menduduki kursi roda. Tubuh Abian yang lumayan besar dan tinggi, membuat Amalia mengerahkan semua tenaganya. Setelah Abian duduk sempurna dikursi roda, barulah Amalia mendorongnya menuju kamar mandi.


"Sekalian mandi aja pak, saya siapkan air hangatnya. Mandi pagi bagus untuk memperlancar sirkulasi darah dan jantung"


Amalia berucap sambil tangannya sibuk mengatur suhu air untuk Abian mandi. Amalia menadah air dari shower ke dalam bak berukuran sedang yang nantinya ia pergunakan untuk memandikan Abian.


Biar mudah ia akan memandikan Abian dengan tetap duduk dikursi roda.


Abian seperti anak kecil yang patuh dengan perintah ibunya, tak menjawab namun juga tak menolak.


Didahului membuka seluruh pakaian dan hanya menyisakan ****** *****. Untung si orok Abian sepertinya tertidur nyenyak, jika tidak, dapat dipastikan Amalia akan semakin kesusahan.


Menyiramkan air yang sudah di sesuaikan suhunya, menyabunkan seluruh badan Abian, tak lupa ia menuangkan sampo dikepala Abian. Menggosok rambut yang sudah lumayan panjang, Amalia yakin dari peristiwa kecelakaan itu, Abian belum pernah memotong rambutnya.


"Dasar istri tak berperasaan" suara hati Amalia saat meremas sampo dikepala Abian.


"Nanti setelah kita mengantar Via sekolah kita singgah ke salon!"


"Untuk apa?" Abian penasaran, mana mungkin ia ikut mengantar Via kesekolah apalagi pergi ke salon, "dasar wanita aneh" suara hati Abian.


"Kenapa? Nggak bisa jalan? tenang aja, serahkan semuanya sama saya"


Amalia kembali menyiramkan air keseluruh tubuh Abian, dan kini Abian sudah tampak segar, handuk juga sudah melilit sempurna dipinggangnya.


"Alhamdulillah"


Ucapan syukur Amalia setelah bersusah payah, akhirnya ia menyelesaikan tugas memandikan bayi besarnya.


***


"Makasih...."


Abian yang sedari tadi tak bersuara akhirnya mengucapkan kata sakti yang bisa membuat hati seorang Amalia merasa dihargai.


"Sama-sama, sudah menjadi kewajiban saya. Saya tinggal dulu ya, nanti kalau ada perlu panggil saja saya" ucap Amalia yang akan beranjak dari kamar Abian.


Abian yang sudah terduduk di sajadah untuk shalat subuh menatap ke arah Amalia dan tersenyum lembut sambil mengangguk.


Secepatnya Amalia masuk ke dalam kamar Via, menutup pintu dan bersandar dibaliknya. Mata terpejam mengingat kilasan kejadian saat kontak fisik di kala memandikan Abian.


Meresapi perasaan, tangan kanan menyentuh dada merasakan debaran jantung yang tak menentu dan pastinya hanya dirinya yang tau.


"Mama!"


Panggilan itu menyadarkan Amalia, ia membuka mata, ternyata Via yang memanggilnya.


Bergerak menuju anak sambung yang sudah terduduk manis menatap dirinya.


"Udah bangun? Kita wudhu yok....! sekalian kita shalat subuh jamah!"


Tanpa ada bantahan anak manis itu mengulurkan tangan pada Amalia, mereka beriringan masuk kekamar mandi.


Baru sehari kehadiran Amalia sebagai istri sekaligus ibu, suasana hati penghuni rumah sederhana itu menghangat kembali.


Bersambung....