
🍁SEPENGGAL KISAH NYATA DARI REKAN SEPERJUANGAN, DENGAN SEDIKIT BUMBU DARI OTHOR🍁
Bismillahirrahmanirrahim....
Happy reading semoga ada hikmah yang tersurat maupun tersirat yang bisa dijadikan pelajaran, dan jika masih banyak kekurangan mohon dimaafkan🙏
🌹🌹🌹
Amalia Vov
"Bunda.....!"
Teriakan itu sangat menyayat hati, aku yang duduk diteras reflek melihat ke arah pintu garasi. Kulihat bunda Via sedang buru-buru memasukkan koper ke dalam bagasi mobil, tanpa menghiraukan teriakan Via yang meraung mengiba memanggil kata "bunda" di sampingnya. Ya Allah tak sanggup rasanya aku menyaksikan ini semua, tapi siapalah aku.
Selesai memasukkan koper, bunda Via menutup bagasi mobil. Sejenak dipandanginya Via dalam, " Via jaga Abi ya, belajar yang rajin!"
"Via maunya sama bunda dan Abi, bunda jangan pergi!"
"Buk, titip Via ya, nanti setiap bulan saya akan kirim uang" ucap bunda Via dengan tatapan yang sulit diartikan padaku, aku hanya mengangguk.
Setelah itu ia langsung masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin, sedang via masih setia berdiri di samping mobil.
Ternyata Abinya Via juga mengintip di balik kaca jendela, wajahnya tampak sangat kacau, hidung memerah dan rambut berantakan, belum lagi mata yang sembab, sungguh tak ada lagi wajah tampan yang kukenal beberapa bulan yang lalu.
Tanpa menoleh, pandangan lurus kedepan bunda Via perlahan memajukan mobil dan meninggalkan rumah ini.
Aku sedikit berlari ke arah Via yang sudah terduduk di lantai, Abian juga demikian dengan mengandalkan kekuatan tangan ia menarik seluruh badan menuju ke arah Via. Namun gerakannya terhenti tepat didepan pintu, saat aku terlebih dahulu memeluk Via.
Kupeluk dan kuciumi wajah anak tak berdosa ini, memberikan kekuatan, karena kondisinya pasti sangat kacau.
"Bunda....." ucapnya lirih dipelukanku.
"Bunda hanya pergi kerja sayang"
"Bunda nggak sayang Via sama Abi"
"Bunda sayang, hanya sekarang bunda ingin kerja dulu, cari uang untuk Via" aku berusaha menenangkan Via, sesaat kulirik Abinya Via yang juga sedang menatap penuh kesedihan pada Via.
"Kita masuk ya, kita sarapan" bujukku pada Via, aku tau ia mengabaikan rasa lapar karena kekacaun ini. Perlahan Via menggerakkan kakinya, kami berjalan beriringan, di depan pintu kami melewati Abian yang duduk bersandarkan pintu.
"Pak, saya masuk...." ijinku pada Abian.
Abian hanya mengangguk, tatapannya terlihat masih kosong ke arah jalan.
Sebelum aku mengajak Via duduk dimeja makan, kuajak ia kekamar mandi untuk mencuci muka, dan tangan. Setelah itu barulah aku mengajaknya duduk di meja makan.
Kusiapkan nasi goreng kedalam piringnya, dan meletakkan di hadapan Via. Tapi sepertinya ia enggan untuk menyentuhnya. Wajahnya tertunduk lesu, air mata masih setia menetas. Aku paham apa yang sedang dirasakan anak ini. Jadi kuputuskan hari ini untuk tidak mengntar Via kesekolah, biarlah ia beristirahat dirumah.
"Via kenapa nggak makan? Ok Via tunggu sebentar, biar kita ajak Abi juga ya?" Aku bangkit dari kursi berjalan ke dalam kamar Abian untuk mengambil kursi roda. Setelahnya langsung menghampiri Abian.
"Pak, kita sarapan!"
"Kamu saja, sama Via, saya tidak selera"
"Bapak jangan egois, gimana mau sehat kalau makan aja nggak mau" entah kenapa tiba-tiba aku diserbu emosi, yang jelas aku paling tidak tega melihat Abian sekacau itu.
"Tau apa kamu"
"Hanya laki-laki lemah yang hoby meratap" sindirku tanpa memandang Abian.
Abian seperti tak terima dengan ucapanku, ditatapnya aku dengan tajam.
"Bapak tau, sikap pengemis itu dibenci Allah"
"Memang siapa yang ngemis?"
"Ya...bapaklah, buktinya tadi saya liat sendiri lho bapak memohon pada perempuan itu"
Abian sangat tidak terima dengan ucapanku, ah...aku tak peduli buktinya memang itu adanya.
"Saya memang tidak berhak, tapi bapak lihat sendirikan, istri macam apa itu, suami sakit bukan dirawat, malah minta cerai, anak ditinggal begitu saja, pakek acara nitip lagi ke saya, jadi disini sebenarnya saya siapa? Tapi nggak masalah, lagian saya juga digaji" Ucapku semakin memanasi Abian.
Abian terdiam, tapi tangannya mengepalkan tinjuan, entah untuk siapa tinjuan itu, tapi aku suka, setidaknya biar dia sadar laki-laki itu nggak boleh lemah. Entah kenapa jiwa komporku semakin menjadi-jadi, entah karena merasa senasib sama Abian atau sekedar kasihan, yang jelas aku ingin Abian bangkit dari keterpurukannya.
"Mau mu apa sih?" Sorot matanya semakin menajam menatapku.
"Mau saya, bapak nikahi saya!"
Jedarrrrr.....
Seperti disambar petir disiang bolong, Abian terkejut bukan main.
"Kamu becanda"
"Nggak"
"Kamu gila ya"
"Seratus persen saya waras"
"Kalau waras nggak mungkin kamu ngomongnya kayak gitu, ngelantur nggak jelas"
Abian berusaha meraih kursi roda, berpegangan pada dua sisi kursi, berusaha untuk naik namun selalu gagal. Sepertinya ia belum mampu mengimbangi bobot tubuhnya. Sengaja kubiarkan tanpa niat untuk membantu. Ingin melihat sejauh mana ia bisa. Dalam hati sebenarnya aku tak tega.
Bug.....
Abian terjatuh begitu juga kursi roda turut terjungkal kesamping.
"Nggak bisa kan? gimana mau hidup sendiri? kalau nggak nikah siapa yang ...."
"Diammmmm....."
Aku kaget....tiba-tiba Abian membentakku. Aku sempat mengerjakan mata mendengar bentakannya, sedikit terkejut.
Abian berping, ia menyerah dengan kursi rodanya, ia lebih memilih merayap di lantai dengan mengandalkan kedua tangan sebagai tumpuan.
Aku menatap kepergiannya, kasihan....
"Nikahi saya pak!, ijinkan saya merawat bapak dan Via!"
Abian berhenti, tapi tak memutar badan. "Apa yang kau harapkan dari laki-laki cacat seperti saya? Istri yang mencintai saya saja tidak mampu, apalagi kamu " suaranya terdengar putus asa.
"Nikahi saja saya, biar tanpa cinta, biar saya leluasa merawat bapak"
"Sudahlah....jangan kau sia-siakan hidupmu untuk laki-laki cacat seperti saya, kau tak akan pernah tau bagaimana sakitnya merawat laki-laki cacat"
"Saya memang tidak ada pengalaman merawat orang sakit seperti bapak, tapi setidaknya nasib kita sama" Aku menjeda ceritaku, rasanya tak sanggup untuk meneruskan, karena hal itu sama saja membuka luka lama yang sedang kututupi.
"Suami yang saya cintai juga pergi disaat saya berjuang melawan kista" Air mataku tak bisa kukondisikan lagi, mengalir dengan sendirinya.
Abian memutar badan, menatap dengan tatapan tak percaya. Mungkin ia mengira aku hanya mengarang cerita.
"Ya....Dia menceraikanku, sehari menjelang pelaksanaan operasi"......
Abian menggeleng-gelengkan kepala, terkejut mendengar ceritaku.
Aku membenarkan kursi roda yang terjatuh dan mendorongnya ke arah Abian. Kudekatkkan kursi roda padanya dan membantu ia berdiri dengan membelitkan kedua tangan di bawah ketiaknya, dan akhirnya ia bisa mendudukkan diri di kursi roda.
Kudorong ke arah meja makan, di sana sudah ada Via yang menunggu sejak tadi. Aku yakin ia mendengar semua pembicaraanku dan Abinya, karena antara ruang tamu dan dapur hanya dipisahkan satu sekat dinding.
Biarlah......
Bersambung ....