AMALIA ISKANDAR

AMALIA ISKANDAR
18. TO THE POINT



Kembali memasuki kamar Via, Amalia membaringkan diri disamping Via yang sedang menikmati tidur siangnya. Rasa berdenyut dipelipis baru ia rasakan. Mungkin salah satu pengaruh perdebatan dengan Abian beberapa menit yang lalu, yang membuat kepalanya sedikit pusing.


Belum lagi Abian yang bertanya hal aneh-aneh, serta berbagai alasan untuk ia menolak beralih menggunakan perobatan non medis, yaitu terapi dan herbal.


Syukurlah, dengan penjelasan yang masuk akal serta penyampaian yang lembut akhirnya Abian mengikuti saran Amalia.


Untuk memulai misi itu Amalia butuh banyak referensi dari internet, yaitu YouTube dan google.


Barulah Amalia tengingat akan hape yang entah dimana ia menyimpannya.


Amalia kembali bangkit dari pembaringan, melihat-lihat diatas nakas, meja belajar Via, tapi ia belum menemukannya. Padahal seingatnya terahir kali ia menyentuh hape adalah dikamar itu, dan saat itu, Via memintanya untuk makan bersama.


Jari telunjuk mengetuk-ngetuk dagu, sedang tangan yang satunya berada di pinggang, Amalia berusaha mengingat-ingat kembali, dimana kira-kira ia menyimpan hapenya. "Apa dikamar sebelah? tapi rasanya saat masuk aku hanya membawa nampan. Nampan......,makanan...., ya....ampun, meja makan, ia hape itu ada dimeja makan"


Barulah ia berhasil mengingat dimana keberadaan hape yang ternyata ada dimeja makan. Amalia memutar badan mengarah kepintu, lalu menuju meja makan. Dari arah ruang tamu ia bisa melihat bahwa hape itu memang ada disana, tergeletak manis di atas meja makan.


Belum sempat meraih benda persegi panjang itu, ada yang mengalihkan perhatian Amalia yaitu suara orang memberi salam.


"Assalamualaikum..... assalamualaikum...."


"Walaikumsalam......., sebentar!" sahut Amalia dan langsung menuju kearah pintu depan.


Ceklekk....


Pintu dibuka, dengan menampakkan seorang yang tak asing bagi Amalia. Wanita itu tersenyum ramah kearah Amalia, kaca mata hitam bertengger cantik di hidung mancungnya. Tangan kiri menjinjing hand bag berwarna hitam, warna senada dengan blezer yang ia kenakan. Sedang bawahannya ia mengenakan celana kain berwarna hitam.


"Buk guru apa kabar?" Sapanya lembut sambil cupika cupiki, pada Amalia yang sempat mematung di depan pintu. Seandainya wanita itu tau jika sekarang Amalia adalah istri dari mantan suaminya, apakah ia akan seramah sekarang?


Amalia membalas pelukan Putri Aura, tampak jelas kebimbangan di wajahnya, ucapannya juga terdengar gugup.


"Sa...ya, ka...bar baik"


"Via dimana?"


"Ada dikamar, sedang tidur siang"


"Bapak?"


"Dikamar bun, mungkin sedang istirahat"


"Kalau begitu, saya kekamar Via dulu ya?"


Putri Aura melerai pelukannya, dan melangkah masuk kedalam rumah, Amalia menggeser tubuhnya yang sempat berdiri didepan pintu.


Mendengar ada suara ribut dipintu depan, Abian berusaha menggeser diri kebibir ranjang, dan menarik kursi roda yang ada disamping tempat tidur. Perlahan Abian menjatuhkan kaki kelantai, dengan tangan berpegangan pada kursi roda. Dengan sedikit perjuangan, akhirnya Abian bisa mendudukkan diri, bukankah ini sedikit kemajuan?.


Amalia meremas kedua tangannya, sambil menatap punggung Putri Aura yang sedang menuju kamar Via.


"Ya...Allah.. rasanya aku belum sanggup kalau sampai bunda Via mengetahui semua ini. Semoga Via dan bapak tidak membahas pernikahan ini pada bunda Via" suara hati Amalia.


Sementara Putri Aura sudah masuk kekamar Via, Amalia memilih menuju meja makan, ia mendudukkan diri di sana dengan menopang kepala menggunakan satu tangannya.


Kepala yang memang asalnya agak berdenyut, sekarang benar-benar menyentak sampai ke dalam otak.


Meski Abian dan Putri Aura sudah berpisah secara agama, tidak menutup kemungkinan keduanya untuk kembali rujuk, Amalia baru terpikir, kenapa ia sebodoh ini dalam mengambil keputusan yang besar. Tanpa memikirkan dampak kedepan yang bisa merugikan dirinya sendiri.


Ia kembali mengulang kesalahan dimasa lalu, dengan mengikuti ego tanpa berpikir dampak kedepan. Dahulu ia bertindak semaunya karena memperjuangkan cinta, kalau sekarang?


Sambil melafalkan doa didalam hati, Amalia menarik nafas dalam dengan kedua mata yang terpejam. Rasanya oksigen diruangan itu tak cukup untuk memenuhi saluran pernafasannya.


Dretttt.......


Suara getaran hp menyadarkan Amalia, kelopak mata reflek membuka menirau kearah nomor yang melakukan panggilan video call. Perlahan Amalia meraih benda itu, sambil berpikir ulang, apakah perlu dirinya menggeser lencana hijau, tapi ia masih ragu. Akhirnya panggilan itu berlalu.


Ting....


Kening Amalia berkerut, sehingga kedua alisnya hampir bertemu, saat membaca kalimat demi kalimat.


"Ternyata pesan yang tadi dari dr Zain, ayahnya Zaki. Jadi namanya dr Zain" Amalia bergumam pelan.


"Tapi...., dari mana ia bisa tau nomorku?" Lagi dan lagi hari ini kepala Amalia dibuat berdenyut.


Belum sempat membalas, pesan dari dr Zain kembali masuk ke hape Amalia.


Bisa saya video call?


dari tadi Zaki ngambek mencari kamu.


Sudah berbagai cara saya coba, namun tak ada satupun yang berhasil menghentikan tangisannya.


Dert........


Kembali dr Zain melakukan panggilan Video.


Amalia sebenarnya tak ingin berhubungan dengan orang yang tak ia kenal, namun mendengar nama Zaki disebut, hati Amalia jadi tersentuh.


Amalia menggeser lencana hijau, tampaklah disana bocah lucu dengan mata yang masih berair, hidungnya juga terlihat kembang kempis. Ia masih berada di mobil, duduk dipangkuan seorang laki-laki yang tak terlihat wajahnya. Amalia yakin itu adalah ayah Zaki, yang menyebut dirinya dengan nama dr Zain.


"Mama!" Panggil Zaki penuh semangat, seakan melupakan tangisan yang baru saja terjadi.


"Ia sayang"


"Mama, Aki au cama mama"


Amalia terdiam, ia tak mungkin memberi harapan palsu pada anak kecil, karena itu tidak baik untuk tumbuh kembangnya.


"Mama lagi kerja sayang"


"Aki au cama mama!" Air mata Zaki kembali berurai.


Tanpa Amalia sadari ada dua pasang mata yang sama-sama berada dibelakang Amalia dengan pikiran yang berbeda, sedang menatap kearah Amalia.


Amalia masih terdiam, bingung harus berkata apa, sementara otaknya juga sedang dipenuhi beban.


Entah kapan panggilan layar camera itu sudah berpindah posisi, sekarang bukan lagi wajah Zaki, melainkan Zain.


"Jam berapa pulang kerja?" tanyanya to the point dengan suara bas has laki-laki.


Amalia terkesiap, " apa-apan, kenapa laki-laki ini menanyakan kapan pulang? emang dia tau aku kerja dimana? Dasar laki-laki aneh, kalau bukan karena anakmu sudah kumatikan hape ini" kata-kata itu hanya bersarang dihati Amalia.


"Sayang jangan nangis lagi, kesian ayah!


Mama kerja dulu, biar uang mama banyak, jadi kita bisa beli es krim"


Akhirnya kata-kata yang tak seharusnya terucap, lolos tanpa hambatan dari bibir Amalia.


"Janji, nanti kita beli es cim?" Bocah lucu itu menyodorkan kelingkingnya dilayar hape, seolah mengajak Amalia untuk membuat perjanjian.


Akhirnya Amalia hanya bisa menganggukkan kepala tanda setuju.


Laki-laki yang duduk dikursi roda, dengan sangat jelas bisa mendengar pembicaraan Amalia dan dr Zain beserta anaknya. Dengan wajah memerah menahan amarah ia memutar kursi roda, berniat pergi dari sana.


"Tunggu Mas!" Panggil putri Aura pada Abian.


Suara itu mengagetkan Amalia, dan membuat ia memutar badan, ternyata di sana ada Abian dan Putri Aura.


Bersambung....