
"Tunggu Mas!" Panggil putri Aura pada Abian.
Suara itu mengagetkan Amalia, dan membuat ia memutar badan, ternyata di sana ada Abian dan Putri Aura.
"Mau apa lagi kesini?" tanya Abian ketus masih dengan posisi membelakangi putri Aura.
"Mas!" perlahan Putri mendekat ke arah Abian.
"Urusan kita sudah selesai, sekarang kita jalani hidup masing-masing!" Ucap Abian dengan suara bergetar menahan sesak yang tiba-tiba datang menghantam.
"Mama!" Panggil Zaki saat melihat wajah Amalia menghilang dilayar hape.
"Ia sayang, nanti baru kita lanjutin video call ya, mama ada kerjaan dikit!" Amalia ingin segera mengakhiri panggilan, karena Abian dan Putri Aura saat ini mulai memanas. Amalia tak ingin orang lain mendengar perdebatan yang akan terjadi dirumah itu.
"Tapi mama anji, beliin Aki es cim?"
"Ia mama janji, tapi tidak sekarang ya?"
"Oc"
"Pintar anak shaleh, Assalamualaikum...."
"Calam" suara cadel Zaki sebagai penutup panggilan telpon. Amalia menutup panggilan video call. Perasaannya semakin tak tenang, ingin rasanya ia menghilang dari tempat itu.
Amalia bangkit ingin pergi, bagaimana pun juga ia tak berhak untuk mendengar pembicaraan sepasang mantan. Baru memutar badan tak sempat melangkahkan kaki, Amalia tersentak mendengar ucapan Putri Aura.
"Mas Bian!" Tak disangka tiba-tiba Putri Aura memeluk erat Abian dari belakang. Air matanya sudah menetes tak tertahankan. Abian kaget bukan kepalang, tak menyangka mantan istrinya bertindak demikian. Tatapan Abian hampa penuh kecewa, wanita yang hampir sepuluh tahun bersamanya, tega membuangnya. Tanpa Abian sadari, air matanya juga sudah jatuh dipipi.
"Abi!" Panggilan kesayangan untuk Abian meluncur lagi dari bibir Putri Aura. Abian membuang pandangan.
Amalia kembali terduduk, otot kaki seakan tak mampu menahan berat badannya.
"Kenapa kamu tega, disaat aku lemah tak berdaya kau buang begitu saja. Tak adakah walau sedikit rasa cintamu untukku dan Via?"
Semakin bergetar bahu Putri Aura, menangis sejadinya.
"Maafkan bunda bi! Bunda salah, tak seharusnya bunda melakukan semua ini, bunda yang salah, masih bisakan kita kembali rujuk?" Putri Aura memutari kursi roda Abian, dan duduk dihadapan Abian sambil memandang wajah Abian penuh permohonan.
Abian tersentak mendengar ucapan Putri Aura, begitupun Amalia, tiba-tiba air matanya meluncur bebas tanpa bisa dibendung.
"Rujuk???" gumam Amalia pelan. Belum genap sehari menjadi istri Abian, ia harus mendapatkan kenyataan sepahit ini. Jantungnya kembali berdenyut hebat. Otak Amalia mendadak kosong, tatapannya hampa. Entah apa mau hatinya? Rasanya ia tak tahan lagi menyaksikan drama itu, secepatnya ia bangkit dan berlalu kekamar Via untuk mengambil kunci motor. Tak lupa ia membawa tas selempang yang didalamnya terdapat dompet dan kunci rumah lamanya.
Amalia keluar kamar, masih dengan mode silent, bergegas menghidupkan motor dan pergi dari sana.
Abian sempat memperhatikan gerak-gerik Amalia, namun perhatiannya secepatnya teralihkan oleh Putri Aura.
"Bunda janji, tidak akan meninggalkan Abi, kita akan mulai semunya dengan lembaran baru" Putri Aura sangat mengharapkan Abian mau kembali rujuk.
Abian mengangkat dagu Putri Aura, menatap lekat bola mata coklat untuk melihat kesungguhannya. Sesaat kemudian ia berkata " Beri aku sedikit waktu untuk berpikir, karena untuk menata hati yang telah retak, tak semudah membalik telapak tangan" Abian memutar kursi roda, memilih masuk kamar. Saat ini, ia tak ingin membuat keputusan, bagaimana pun juga ada hati yang perlu ia jaga, Amalia.
"Mama!" Suara yang tak asing bagi Amalia. Amalia menoleh kesamping kanan, ada sebuah mobil sedan dengan bocah laki-laki yang sedang melambaikan tangan lewat kaca mobil ke arahnya.
"Zaki?" Senyum terkembang diwajah Amalia, dan balas melambaikan tangan. Disebelah Zaki, ada dr Zain yang duduk dibangku kemudi. Senyum manis senantiasa terkembang dibibir sambil memandang kearah Amalia.
"Au cama mama!" Zaki menjulurkan tangan lewat kaca mobil yang sudah diturunkan. Ia berharap Amalia menuruti kemauannya.
"Zaki tangannya jangan keluar, bahaya sayang!" Si ayah merasa khawatir akan keselamatan Zaki.
"Aki au cama mama!" rengeknya lagi, hampir menangis.
"Amalia bingung, disatu sisi ia tak ingin Zaki menangis, tapi disisi lain siapalah dia, hanya orang asing. Sekarang ia berusaha untuk tidak buru-buru dalam melakukan sesuatu. Cukuplah selama ini akibat sikapnya yang tak berpikir panjang membawa ia pada kesengsaraan, dibuang dari keluarga, diponis tak bisa hamil, ditinggal suami dan sekarang statusnya sebagai istri siri.
Lampu kuning menyala, beberapa detik kemudian berubah hijau, para pengendara sudah ada yang membunyikan klakson, perintah untuk segera jalan bagi pengendara dibaris depan.
Amalia buru-buru melajukan motornya, ia tak ingin terlibat masalah lagi. Sedang Zaki meraung memanggil kata "mama".
Dokter Zain yang tak tega, segera melajukan mobil mengejar Amalia.
"Zaki sabar ya, kita kejar mama" Ucapnya lembut sambil mengelus pucuk kepala Zaki.
Zaki hanya membalas dengan anggukan. Takut kehilangan sosok Amalia, membuat pandangan Zaki tanpa henti menyorot Amalia yang berada di depan.
Sebenarnya dokter Zain akan pulang kerumah untuk mengantar Zaki. Sebelumnya Ia menjemput Zaki dari tempat penitipan, tak disangka setengah jam setelah video call dengan Amalia, mereka bertemu lagi dilampu merah. Sungguh tak habis pikir, dalam satu hari ini, sudah tiga kali mereka bertemu dan anehnya lagi Zaki seperti memiliki ikatan batin pada Amalia.
Sepanjang jalan, Zaki senyum-senyum sendiri, dibayangannya boleh jadi Amalia adalah jodoh yang Allah kirimkan untuk dirinya.
Amalia tak menyadari jika mobil Zain mengikuti dirinya hingga kedalam kompleks perumahan.
Baru saja menghentikan motor di pekarangan rumah minimalis bercat putih, ada mobil yang berhenti dipinggir jalan. Amalia menoleh, ia tau siapa pemilik mobil itu. Tak lama Zain keluar dan membukakan pintu untuk Zaki. Bocah itu tampak kegirangan, begitu pintu terbuka ia langsung turun dan berlari ke arah Amalia.
"Mama!" panggilnya kegirangan seperti mendapat hadiah kesukaannya.
Amalia masih mematung di samping motor matiknya, pandangannya terarah pada bocah yang berlari kearahnya. Ia masih tak yakin, dengan apa yang dilihatnya saat ini.
Zaki menubruk kedua kaki Amalia, saat ini tatapan penuh tanya terarah pada Zain, ayah sibocah yang sedang memeluk erat kaki Amalia.
Zain tersenyum simpul, ia juga tak tau kenapa bisa senekat ini? Apakah alasan hanya untuk Zaki, atau malah dirinya yang mengharapkan pertemuan untuk kesekian kalinya ini.
Adahal ia belum mengenal siapa Amalia, bersuamikan ? Gadiskah? atau janda?
"Zaki kenapa bisa ada disini?" Amalia mensejajarkan dirinya dengan Zaki, tatapan teduh ia berikan untuk bocah berpipi cabi yang sekarang berdiri didepannya.
"Aki au cama mama" jawaban polos Zaki membuat Amalia langsung memeluk erat bocah itu. Entah kenapa dengan memeluk Zaki, sedikit mengobati kegundahan hatinya.
Menyaksikan semua itu, ada rasa yang menghangat dihati Zain. Tapi jauh didasar hatinya ia takut suatu saat semua tak seindah yang ia bayangkan.
Bersambung....