AMALIA ISKANDAR

AMALIA ISKANDAR
20.KEHANGATAN PELUKAN



"Masih ingat pulang? jam berapa sekarang? kamu kira rumah ini penampungan untuk wanita ******? Baru sehari jadi istri, belangmu sudah kelihatan. Istri macam apa kamu? Pergi tanpa pamit, demi menjajakan diri dengan laki-laki yang lebih berduit"


Deg.....


Baru saja menginjakkan kaki ke dalam rumah, Amalia disambut serbuan pertanyaan bernada hinaan dan kemarahan dari Abian.


Sesak....., itu yang dirasakan Amalia saat ini.


Jangankan untuk menjelaskan, menjawab saja, Amalia tak bisa. Hati Amalia serasa ditusuk ribuan pedang, menggores luka tak berdarah.


Abian melampiaskan semua kemarahannya pada Amalia, sejak pergi tadi siang, Amalia baru pulang saat jam sudah diangka sepuluh malam.


Abian menatap nyalang ke arah Amalia, kekesalan luar biasa, yang sebenarnya tak membuatnya puas hanya dilampiaskan dengan kata-kata.


Amalia mematung, menatap Abian dengan hati terluka. Tak menyangka jika Abian tega merendahkan dirinya, serendah-rendahnya. Kata "******" membuat harga diri Amalia terasa di injak-injak.


Amalia memutar badan, rasanya menjawab juga percuma, ia memilih untuk pergi.


Baru selangkah, Abian kembali berkata " belum puas seharian ini kau jajakan tubuhmu pada laki-laki itu?"


"Laki-laki itu? apa maksudnya?" Amalia bertanya pada diri sendiri. Merasa tak terima dengan fitnah yang dilayangkan Abian.


"Sudah cukup bapak merendahkan saya, asal bapak tau saya bukan wanita seperti itu" Amalia mulai menyuarakan isi hatinya, ia tak habis pikir kenapa Abian bersikap semaunya.


"Kalau bukan wanita seperti itu, wanita seperti apa namanya keluar bersenang-senang dengan laki-laki lain, sementara suami dirumah kau telantarkan?"


Deg.....


Amalia tersentak mendengar ucapan Abian, karena pada kenyataannya bukan seperti itu adanya.


Kalaupun ia keluar dengan dr Zain bukan atas kemauannya, apalagi seperti yang dituduhkan Abian.


Tapi, dari mana Abian tau jika tadi siang ia pergi bersama dr Zain?


"Kenapa diam? Nggak bisa ngeles lagi kan?"


"Itu semua tak seperti yang bapak ucapkan" jawab Amalia dengan suara bergetar, menahan kecewa yang teramat dalam.


"Oh....begitu, yang benar yang mana? jadi apa yang ada difoto ini salah? Abian tertawa sinis, sambil mengarahkan layar hape pada Amalia.


Amalia mendekat kearah Abian yang duduk dikursi roda tak jauh dari pintu. Perlahan diraihnya hape Abian yang menampilkan foto dirinya bersama dr Zain sedang menikmati eskrim. Jelas sekali Amalia tertawa bahagia difoto itu, begitu juga dr Zain. Malah disalah satu foto menampilkan dr Zain menyentuh sudut bibir Amalia.


Amalia diam, menjelaskan juga rasanya percuma, semua bukti menyudutkan dirinya. Amalia tak habis pikir, siapa yang mengirim foto itu ada Abian? Apa motifnya?


"Kenapa? Apa foto itu yang salah, editan? Sekarang bisa kamu jelaskan?"


Suara Abian mulai merendah, nada kekecewaan sangat jelas tergambar. Baru kemaren ia merasakan sakit hati karna perempuan, ternyata hari ini ia mendapatkan rasa yang sama, malah lebih menyakitkan.


Amalia masih terdiam, sorot mata ia jatuhkan kelantai, cairan bening sudah menganak sungai dipipinya, tak ada suara, lagi-lagi Amalia menangis dalam diam.


"Baru kemaren kita menikah, jujur aku mulai berharap semoga kamu tak sama dengan wanita sebelummu. Menerima Via dan aku yang cacat ini, tapi pada kenyataannya siapalah aku dibanding laki-laki dokter itu kan? Abian menertawakan dirinya sendiri, merasa bodoh, bisa-bisanya ia berharap lebih pada Amalia. Bukankah pernikahan terjadi hanya sebatas untuk memudahkan pekerjaan Amalia dalam mengurus dirinya? Sudut mata Abian juga sudah keluar cairan, ia menangis merasa kesakitan.


Abian terdiam, ditatapnya dalam mata istri sirinya, entah kenapa ada rasa perih saat melihat Amalia berurai air mata.


Amalia membuang pandangan, mulai mengurai pertanyaan serta tuduhan Abian.


"Jujur, awalnya saya tak ingin menggunakan perasaan dalam hubungan ini, cukup menjalankan peran sebagai pembantu dan guru privat untuk Via. Tapi tak tau kenapa, saat bunda Via datang, ada ketakutan yang saya rasakan. Karena saya tau tak mudah bagi bapak dan dia untuk menghapus kenangan dalam sekelip mata. Ternyata yang saya takutkan terjadi juga, bunda Via mengajak bapak untuk rujuk" Amalia menjeda ucapannya, menghapus air matanya yang semakin tak terbendung, sama halnya dengan lelehan yang keluar dari hidungnya. Suaranya mulai tersendat-sendat.


Benarkah apa yang baru saja Abian dengar? Tak salahkah dia?


Ada rasa menghangat setelah hampa yang Abian rasakan. Bolehkah ia memeluk Amalia yang terlihat sangat menggemaskan dengan hidung merah, mata berurai, persis anak kecil yang sedang dimarah ibunya.


Perlahan Abian memutar ban kursi roda, mendekat kearah Amalia yang menangis sesegukan dan menutup muka dengan kedua tangannya.


Abian mengunci kursi roda, agar tak bergerak saat ia berpindah tempat. Dengan hati-hati Abian menjatuhkan diri duduk disamping Amalia.


Ada keraguan, tapi gejolak hati yang membuncah membuat Abian memberanikan diri meraih Amalia dan menariknya kedalam pelukan.


Amalia terkejut bukan main, sekarang posisi wajahnya sudah bersandar di dada bidang Abian.


"Maaf" satu kata ampuh dari Abian yang membuat tangis Amalia semakin pecah. Kedua tangannya memeluk erat badan Abian. Meluahkan kesakitan yang ia rasakan sejak tadi. Sementara tangan Abian tak henti mengelus pucuk kepala Amalia yang berbalut jelbab.


Hening.....


Tak ada lagi kata dari keduanya, kini cukup hanya raga yang berbicara, lewat gelombang getaran yang dirasakan keduanya.


Detak jantung Abian yang tadinya tak beraturan, perlahan-lahan berdetak santai menghangatkan jiwa Amalia yang bersandar disana.


Tangisan Amalia mulai mereda yang terdengar sekarang hanya suara cegukan.


"Maaf, untuk semua kesakitan yang kau rasakan hari ini, jujur entah kenapa aku juga merasakan hal yang sama, "sakit" saat ada laki-laki yang jauh lebih sempurna mencoba dekat dengan dirimu, walau sebenarnya aku belum tau siapa dia dalam hidupmu" Suara hati Abian, saat bibirnya masih betah dikening Amalia.


Pertengkaran antara suami istri adalah hal yang wajar, rumah tangga tidak akan dikatakan sehat, apabila di dalamnya tak ada lagi pertengkaran. Karena boleh jadi diantara keduanya sudah tidak ada kepedulian.


Ada satu hikmah yang bisa kita dapatkan setelah badai pertengkaran berlalu, yaitu kehangatan pelukan dalam hubungan yang baru.


Pelukan hangat Abian, adalah tempat ternyaman untuk bersandar seorang Amalia. Semua amarah luntur seketika terlebih kata maaf yang Abian biuskan. Membuat rasa sakit seketika menghilang dari jiwa Amalia. Beberapa menit kemudian suara cegukan itu menghilang, menghadirkan dengkuran halus menandakan si empunya sudah tertidur dengan damai. Rasa capek seharian ini membuat Amalia mudah memejamkan mata.


Abian melerai pelukannya, Perlahan ia baringkan kepala Amalia di bantal sofa. Lama menahan kepala Amalia yang tertidur didadanya, membuat tangan kesemutan, dan pinggangnya terasa berdenyut. Abian mengibas-ngibaskan tangan, sekarang pikirannya merasa lega. Ditatapnya lekat wajah Amalia yang baru genap sehari menjadi istrinya, ternyata memang wajah itu sedikit kurus dengan guratan kesedihan dibawah kelopak mata. Abian tak tau sebenarnya apa yang terjadi dikehidupan masa lalu Amalia.


Sebenarnya Abian masih bingung dengan perasaannya untuk Amalia, karna yang ia tau, wanita satu-satunya yang ia cinta adalah Putri Aura. Tapi, entah kenapa melihat Amalia bersama laki-laki lain, ia merasakan sakit yang luar biasa.


Banyaknya masalah hari ini, perlahan membuat Abian memejamkankan mata, tanpa terasa ia telah berbaring memeluk erat Amalia dari belakang, berbagi tempat tidur sempit untuk mengharungi alam mimpi.


Bersambung.....


Makasih bagi yang sudah Sudi mampir🙏


Jika menemukan banyak kekurangan dari cerita ini, mohon komentar yang membangun agar dapat saya jadikan bahan masukan untuk pembelajaran dalam menulis yang baik ♥️♥️♥️