AMALIA ISKANDAR

AMALIA ISKANDAR
10. KEDAMAIAN



🍁SEPENGGAL KISAH NYATA DARI REKAN SEPERJUANGAN, DENGAN SEDIKIT BUMBU DARI OTHOR🍁


Bismillahirrahmanirrahim....


Happy reading semoga ada hikmah yang tersurat maupun tersirat yang bisa dijadikan pelajaran, dan jika masih banyak kekurangan mohon dimaafkan🙏


🌹🌹🌹


Rangkaian ijab kabul berjalan lancar sesuai rencana Abian dan Amalia. Ada getaran yang Abian rasakan disaat ijab kabul di kumandangkan. Ia menganggap itu wajar, semua orang pasti merasakan hal yang sama jika berada dalam situasi itu.


Sebenarnya itu juga yang dirasakan Amalia, jauh dilubuk hatinya, ia merasakan kesedihan yang entah untuk apa sedihnya itu. Yang jelas, ini kedua kalinya ia menikah tanpa dihadiri kedua orang tuanya. Karena disaat pernikahan yang pertama memang ia tak mendapatkan restu. Orang tua Amalia bersikukuh untuk tidak mengijinkan Amalia menikah dengan laki-laki kota yang dinilai tak punya akhlak oleh orang tuanya. Ternyata benar, pirasat orang tua itu selalu nyata, disaat Amalia tak bisa memberikan keturunan, dengan mudahnya ia dicampakkan bak seonggok sampah.


Amalia menitikkan air mata, saat Abian menyelesaikan ikrarnya.


Sekitar tiga puluh menit berlalu, semua tamu yang mengikuti prosesi ijab kabul telah meninggalkan kediaman mereka, termasuk paman Amalia yang akan segera pamit.


"Om..., tolong rahasiakan pernikahan ini dari keluarga kita" Amalia mengutarakan permohonannya pada pamannya yang bernama Toni, saat sang paman berpamitan pulang.


Toni menarik nafas berat, sambil menatap Amalia dengan tatapan dalam. Ia sangat mengenal bagaimana sosok Amalia serta perjuangannya selama ini, dan hanya dirinya satu-satunya orang yang masih berkomunikasi dengan Amalia.


"Baiklah, om akan merahasiakan semua ini, jaga dirimu baik-baik, jangan lupa kabari om jika ada sesuatu" Ia menepuk pundak Amalia untuk memberikan kekuatan.


"Makasih om" Amalia memeluk erat lelaki di depannya, dan akhirnya ia menumpahkan tangis di dalam pelukan orang yang sudah dianggap sebagai ayahnya sendiri.


Pemandangan itu tak luput dari jangkauan Abian dan Via yang sedang duduk di sofa ruang tamu.


"Ku kira ia tak punya hati, ternyata....." suara hati Abian terpotong saat Paman Toni mengucap salam.


"Assalamualaikum...." Paman Toni melempar senyum pamit pada Abian dan Amalia.


"Walaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh...." jawab ketiganya serempak.


Amalia mengunci pintu, ini adalah malam pertama ia bergelar sebagai istri Abian sekaligus ibu sambung Via.


Amalia mengemaskan bekas acara singkat itu, membuang gelas Aqua bekas ke dalam tempat sampah. Via ternyata anak yang rajin, ia tak tinggal diam turut membantu Amalia menyimpan kotak tisu ketempat semula. Abian hanya melihat kegiatan anak dan istrinya yang hilir mudik mengemaskan apa yang patut. Karena hanya itu yang bisa ia lakukan disaat kondisinya yang seperti sekarang ini.


Tak sampai tiga puluh menit, semua sudah rapi seperti semula, Amalia langsung mengajak Via untuk menggosok gigi dan berwudhu sebelum tidur. Selesai menjalankan ritual bersih-bersih, Amalia mengajak Via untuk masuk ke dalam kamar Via yang berada diamping kamar Abian.


Mengelimuti Via setengah badan, setelah itu mengecup puncak kepalanya dengan sayang.


"Makasih mama" ucap Via untuk pertama kali memanggil Amalia dengan sebutan "mama". Tatapan mereka bertemu, ada senyum kecil dibibir Amalia.


"Bobok ya!" pinta Amalia yang setelahnya langsung beranjak pergi dari kamar itu.


Amalia mendekat ke arah Abian yang masih setia duduk di sofa ruang tamu sambil mengacak isi hapenya.


"Bapak belum mau tidur?"


"Boleh kita bicara?" Bukan menjawab pertanyaan Amalia, Abian malah balik mengajukan pertanyaan.


"Ia boleh"


"Duduklah!" Abian mempersilakan Amalia yang masih berdiri di depannya untuk duduk.


Tanpa bicara Amalia mengikuti perintah Abian, ia duduk berhadapan hanya meja sebagai pemisahnya.


"Sekarang kamu sudah bergelar sebagai istriku" Abian menjeda ucapan yang terasa berat, karena ia sendiri rasanya tidak mempercayai bahwa yang menjadi istrinya saat ini, bukan lagi Putri Aura, melainkan Amalia Iskandar.


"Kamu harus tau, dengan kondisi seperti ini, aku tidak mungkin bisa memberikan nafkah yang sempurna untukmu" Ia menyadari ketidak berdayaannya jangankan nafkah batin, nafkah lahir pun tak kan sepenuhnya bisa ia berikan, mengingat Abian yang tak lagi bekerja. Untungnya ia masih mendapatkan gaji pokok ditempat ia bekerja, namun jumlahnya tidaklah seberapa.


"Saya tau itu, dan saya memutuskan untuk menikah dengan bapak tak lain agar mempermudah saya dalam mengurus bapak. Biar tak ada dosa saat kita bersentuhan, terlebih lagi tidak ada fitnah dari tetangga"


Disamping merasa senasib, Amalia memutuskan menikah dengan Abian adalah untuk itu.


"Syukurlah kalau kamu berpikir seperti itu" suara Abian mengecil mengisyaratkan rasa minder yang ia rasakan. Ia menyadari sepenuhnya, mana ada orang yang sanggup mengorbankan hidupnya secara cuma-cuma untuk orang seperti dirinya. Ia memutar pandangan agar matanya tak bertabrakan dengan Amalia. Sungguh ironi.


"Sebaiknya kita tidak membahas masalah ini lagi!" pinta Amalia, yang sebenarnya merasa tak enak hati, walau bagaimana pun Abian adalah suaminya, dan ia tau betul sebagai seorang istri harus taat dan patuh pada suami. Serta mencintainya dengan sepenuh jiwa dan raga dalam keadaan suka maupun duka.


"Ini kartu ATM, saya mempercayakan kamu untuk mengurus keperluan rumah tangga kita" ucap Abian tanpa sadar, sambil mendorong kartu ATM yang ada di meja ke arah Amalia.


"PIN nya ******" , ucapnya lagi.


Amalia masih tak bergeming, ia hanya memandang kartu sakti itu.


"Setiap bulan gaji akan di transfer ke rekening itu, jumlahnya tidak banyak hanya lima jutaan saja, jadi tolong pergunakan sebaik mungkin" Abian menatap Amalia penuh harap.


"Lima juta?" Tanya Amalia yang terlihat sedikit kaget, karena baginya jumlah itu lumayan besar, sama dengan dua bulan gajinya sewaktu ia masih menjadi guru kontrak.


"Kenapa, kecil?" tanya Abian lagi yang mengira Amalia merasa kekecilan dengan gaji Abian.


"Kalau udah satu telapak tangan bukan kecil, tapi udah lumayan besar pak?"


"Syukurlah, kalau kamu beranggapan seperti itu. Oya...untuk gajimu potong saja dari situ!"


"Itu mah gampang, udah malam saatnya bapak istirahat!" Amalia bangkit dan mengambil kursi roda untuk Abian. Tanpa banyak bicara lagi, Abian mencoba untuk berdiri agar bisa mendudukkan diri dikursi roda.


Amalia mendorong Abian menuju kamar utama, sesampainya di kamar ia membantu Abian membuka baju dan celana yang masih melekat di tubuh Abian.


"Maaf, jangan salah paham, saya hanya ingin mempermudah urusan bapak" Ucap Amalia sambil melepas kancing baju Koko Abian. Selanjutnya dilanjutkan dengan melepas baju dan terahir celana panjang Abian. Bagian inilah yang sedikit penuh perjuangan, karena bagaimana pun Amalia wanita normal yang pernah mereguk nikmatnya bagian yang ada dibalik celana itu.


Abian terlihat datar saja, tanpa ada suara, syukurlah setidaknya Amalia tak mendapatkan protes dari pemilik celana.


Selesai acara melepas pakaian, Amalia mendorong Abian menuju kamar mandi yang ada dikamar itu untuk buang air kecil serta kegiatan bersih-bersih lainnya.


Saat Abian membuang air kecil, Amalia sengaja menyiapkan ember kecil untuk tempat pembuangan Abian, dan menyiapkan air untuk dia bersih-bersih.


Sungguh baru malam ini Abian merasa sangat terbantu dengan kehadiran Amalia, biasanya saat akan ke kamar mandi, ia butuh perjuangan besar, karena Putri Aura yang tak berkenan untuk menolongnya.


Selesai dengan acara bersih-bersih, Amalia kembali mendorong kursi Abian ke arah pembaringan, mendorong kursi roda hingga mencapai sisi kasur, dan setelahnya Abian menjatuhkan diri di kasur yang berukuran king size. Amalia membantu merapikan kaki Abian dengan cara mengangkatnya, setelah itu menyelimutinya seperti yang ia lakukan untuk Via, bedanya tak ada kecupan sayang untuk pengantar tidur.


"Makasih" Abian berucap pelan, tapi masih bisa di dengar Amalia.


"Tidurlah!" ucap Amalia sambil tersenyum memandang ke arah Abian yang juga sedang menatap dirinya.


"Kamu juga istirahat!" Abian


"Ia, saya akan tidur dikamar Via" Ucap Amalia lagi, karena ia memang tak berniat untuk tidur sekamar bersama Abian.


Amalia mematikan lampu kamar, dan menggantinya dengan lampu tidur. Setelah itu ia beranjak keluar kamar Abian.


Abian memiringkan badan, selama tiga bulan, baru malam ini ia merasakan kedamaian di hati, tak lama terdengar dengkuran halus, yang menandakan ia sudah berlayar ke alam mimpi.


Bersambung....