
Malam itu Nathan bersama keluarga sedang makan, Hendra tak henti-hentinya membicarakan tentang pernikahan. Hendra itu Ayahnya Nathan. Hendra berencana untuk menjodohkan Nathan dengan anak temannya dulu.
"Pa, Nathan bisa kok cari istri sendiri. Nanti kalau pilihan Papa salah gimana? Terus nanti rumah tangga kami ngga harmonis," tolak Nathan dengan lembut.
Hendra terkekeh mendengarnya. "Ternyata kamu sudah dewasa juga," ucapnya.
"Nanti kalau cari calon istri harus seperti Mamamu ini, selalu menemani Papa suka maupun duka," imbuhnya.
"Iya Pa. Pasti Nathan akan mencari calon istri seperti Mama," jawab Nathan sambil melihat Mamanya yang senyam-senyum.
****
Pagi telah tiba, akhirnya Ulya memutuskan untuk naik bus ke sekolah. Ulya duduk di halte sambil menunggu bus tiba. Tak lama, busnya datang, Ulya segera beranjak dan naik ke bus itu. Bus ini masih sepi, mungkin karena Ulya datangnya terlalu pagi.
sekitar dua puluh menit akhirnya sampai di sekolah. Ulya turun dari bus itu dan berjalan menuju kelasnya.
Ulya membuka pintu kelas, ia menaruh tasnya di meja, lalu membersihkan ruangan kelas ini. Satu persatu murid mulai datang, untung Ulya sudah selesai membersihkannya. Sekarang Ulya sedang menyemprot bunga hias yang ada di meja guru dengan parfum. Setelah itu Ulya kembali ke tempat duduknya dan mempersiapkan buku untuk belajar di jam pertama.
****
Kirana bermain dengan kucingnya, hanya kucing itulah yang bisa membuat Kirana tertawa. Kirana memancing kucing itu dengan kalung mainannya, ia mengangkat-angkat kalung itu dan kucing itu ikut berdiri untuk meraihnya.
"Senang sekali sepertinya," tegur Ayah Kirana.
"Hehe Ayah ...."
"Beberapa hari ini Ayah tidak melihat Pandu, ke mana dia?" tanyanya sembari duduk di sofa.
Kirana terdiam, berharap jangan sampai Ayahnya menelepon Pandu dan menyuruhnya kemari.
"Mungkin Pandu sedang sekolah, sedang sibuk," ucap Kirana.
"Hm ... Sepertinya Ayah ngga yakin jika Pandu mau menikah denganmu Nak." Kirana terdiam lagi mendengar ucapan Ayahnya.
Kirana memegang tangan Ayahnya, "Bagaimana jika di batalkan saja perjodohan ini, Yah?"
"Kalau di batalkan, yang menemani kamu siapa kalau bukan Pandu?"
"Kirana nggak apa-apa kok tanpa teman, masih ada Bibi juga," ujar Kirana.
"Hm, nanti Ayah pertimbangkan lagi."
Kirana sangat berharap jika perjodohan ini di batalkan karena sudah jelas bahwa Pandu memang tidak menyukainya, bahkan dia mengatakannya secara terus terang.
****
Talia memasukan bajunya di loker, ia mengganti pakaiannya dengan baju olahraga karena hari ini adalah mata pelajaran Penjas di kelas Talia. Talia selalu bermain badminton jika sedang olahraga begini, rambut ia kuncir satu di tambah lagi keringat yang menetes di keningnya.
"Sep, coba lihat deh," ucap Ujang sambil menunjuk Talia dari atas.
"Apaan sih Jang?"
"Itu noh! sumpah cakep banget dah." Asep mengikuti jari telunjuk yang mengarah pada Talia.
"Keren banget sumpah dah Sep. Pingin gue pacari," ujar Ujang.
"Alah muka elo kayak aspal gitu sok-sokan mau macari kak Talia," ejek Asep.
"Loh Sep! Elo ngejek gue?"
"Fakta Jang. Fakta."
"Sialan elo." Ujang menjitak kepala Asep lalu lari.
"Eh anjirr elo! Gue balas elo." Asep mengejar Ujang.
Sementara itu, Nathan yang sedari tadi menguping mereka juga ikut tertawa melihat tingkah mereka yang masih seperti anak-anak.
Nathan melihat Talia mengusap keringatnya dengan lengannya, serasa aura Talia benar-benar bertambah.
****
"Nit... Anita ... Bawain bekal buat siapa tuh??" tanya Bima sambil mengikuti jalan Anita. Anita diam saja tidak menjawabnya.
"Buat Angga ya? Angga hari ini nggak sekolah lho," ucap Bima. Anita langsung menghentikan langkahnya.
"Serius ngga sekolah?" tanya Anita memastikan.
"Iya. Kalaupun sekolah pasti lagi berjalan berdua sama gue," ujar Bima.
"Ih enak aja." Talia mengambil bekalnya lagi.
"Pasti elo bohongin gue kan?" tambah Anita.
"Terserah kalau ngga percaya, siapa juga yang bohongin elo," gumam Bima.
Tiba-tiba dari jauh sana ada seorang siswa yang sedang kejar-kejaran. Dengan cepat Bima menarik Anita agar tidak tertabrak oleh siswa itu. Anita sekarang berada di pelukan Bima. Asep dan Ujang memang berbahaya.
Anita sadar jika ia berada di pelukan Bima, lalu ia langsung melepaskannya.
"Heh kalian berdua! Nggak punya mata, ya?!" teriak Bima, padahal ia sedang salah tingkah tadi tapi ia mencoba untuk bersikap biasa saja.
Anita merapikan rambutnya setelah itu ia memberikan bekalnya pada Bima. "Udahlah buat elo aja, mood gue lagi nggak bagus," ucapnya meletakkan bekalnya di perut Bima, Bima langsung mengambilnya takutnya nanti jatuh.
"Rezeki nomplok. Kalau lagi kesel kayak gitu tambah cantik aja elo Nit," gumam Bima melihat punggung Anita yang hampir menghilang.
****
"Apa?!" kaget Anita mendengar ucapan dari Agis.
"Iya Nit, gue lihat sendiri kok, kalau gadis norak itu sekarang temenan sama Talia," jelas Agis lagi.
"Kayaknya ngga bisa dibiarin kalau si kampungan itu bersembunyi di balik Talia cuman untuk menghindari gue," ucap Anita sambil memainkan rambut panjangnya.
"Elo pasti ada rencana, ya kan?" tanya Agis.
Anita tersenyum simpul, "Pastinya."
****
"Gue mau tantang elo main badminton sama gue," ucap Pandu pada Talia.
Talia tersenyum lebar. "Kayaknya elo emang ahli di semua bidang deh," ucapnya sambil mengelus-elus raketnya.
Permainan di mulai, dari awal sampai sekarang belum mati dan masih berlanjut.
"Kalau elo menang gue traktir elo sepuasnya apapun yang elo mau," ucap Pandu.
"Kalau gue kalah?" tanya Talia.
Talia berbicara di tengah-tengah permainan.
Pandu tersenyum lebar lalu memperlihatkan wajah seriusnya. "Elo harus jadi pacar pura-pura gue," jawab Pandu.
Talia langsung terdiam lalu ia tertawa, "Gue pasti bisa kalahin elo."
"Jadi elo setuju dengan tantangan ini?" tanya Pandu.
Dari atas sana, Nathan masih memerhatikan mereka, tentu Nathan juga mendengar percakapan mereka. Nathan berharap Talia tidak menyetujuinya.
Talia terlihat berfikir. "Pacar pura-pura sampai berapa bulan?" tanya Talia balik.
"Sampai gue sendiri yang menyudahinya," jawab Pandu.
Nathan sangat memerhatikan mereka, semoga Talia tidak menyetujuinya.
Talia mensmash bola itu dengan raket. "Oke gue setuju," ujarnya.
"Gue pasti bisa kalahin elo, dan menjadi pacar pura-pura elo itu nggak mungkin terjadi," imbuhnya.
Nathan melemas setelah mendengarnya. "Kenapa Talia mesti menyetujuinya?" gumam Nathan.
"Gadis bodoh," tambahnya lagi.
Permainan berlanjut dan semakin memanas, skor Pandu empat dan Talia tiga.
"Tantangan sudah deal, kalau elo kalah, elo harus tepati tantangan ini," ucap Pandu.
Talia tersenyum simpul. "Gue nggak mungkin kalah dari elo," jawab Talia.
"Ketika elo sudah masuk ke perangkap gue, elo nggak akan bisa ke mana-mana lagi, elo akan menjadi milik gue," gumam Pandu dalam hati.
________
To be continued ....