AISY

AISY
Memulainya dari awal 2



Talia sudah siap untuk keluar bersama teman-temannya. Talia berjalan menuju gerbang mobilnya, saat ia menyalakan lampu gerbang, Talia terkejut karena ada buket besar di mobilnya.


"Siapa sih ini naruh buket malam-malam gini," ujar Talia mengambil buket itu. Kemudian Talia melihat di plastik buket itu ada kertas kecil berukuran segi empat. Talia mengambil kertas itu, lalu membuka lipatan kertas tersebut. "Maafin gue." itulah tulisan yang Talia dapatkan di dalam lipatan kertas tersebut.


Talia menghembuskan napasnya kesal setelah itu ia menggendong buket tersebut terus membuang buket itu di tong sampah yang ada di situ. Kemudian Talia masuk ke mobil dan melajukannya.


Selang berapa menit Talia telah sampai. Ia turun lalu masuk ke cafe tempat janjiannya. Di sana ia melihat Nila juga yang lain sudah datang.


"Hai ...," sapa Talia sambil melambaikan tangannya.


Nila dan yang lain juga menyapanya balik alu mereka mulai mengobrol. Mereka terlihat bahagia, they have fun, mereka tertawa bersama.


***


Paginya, Talia masih terbaring di kasurnya. Ia meraba-raba kasur itu untuk mengambil HPnya yang berbunyi. Remang-remang Talia melihat nama yang tertera di ponselnya.


"... Han" seperti itu yang Talia lihat.


"Hallo," ucap Talia.


"Udah jam berapa ini? Bangun! Gue udah di luar," jawab orang itu dari seberang telpon sana.


Begitu mendengarnya Talia langsung mematikan teleponnya lalu bergegas untuk mandi. Saat mandi Talia teringat dengan orang yang menelponnya.


"Eh.. Tadi siapa yang nelpon gue?" monolognya.


Talia langsung mengambil handuknya lalu keluar dari kamar mandi itu. Setelah itu Talia mulai memakai seragamnya, Talia memakai sepatunya, lalu ia mencangklong tasnya.


Talia membuka pintu, tapi tidak ada siapapun.


"Udah jam berapa ini? Bangun! Gue udah di luar."


Talia mengingat ucapan penelpon tadi. Talia mencari dari sudut ke sudut siapa tahu orang itu bersembunyi, tapi memang benar tidak ada siapapun di sini. Talia mengacuhkannya lalu ia berjalan menuju mobilnya.


Talia membuka pintu mobil, ia kaget karena setangkai bunga mawar merah berserakan di dalam mobil. Talia menahan amarahnya, mungkin ini bagi perempuan lain akan menjadi kejutan yang sangat di sukanya tapi berbeda dengan Talia, dia malah tidak menyukainya, malah menjadi kesal, apakah itu alasannya karena dia masih kecewa kepada Nathan?


Talia mengambil bunga-bunga tersebut lalu membuangnya. Terakhir, ia mengambil kertas kecil berbentuk segi empat yang menempel di kaca depan mobil. Talia meremas kertas itu tanpa membacanya lalu ia membuangnya. Setelah itu Talia pergi mengendarai mobilnya untuk menuju ke sekolah.


"Gue ngga akan nyerah gitu aja," ujar Nathan membuntuti Talia dari belakang.


***


Talia telah sampai di sekolah, begitu ia turun dari mobilnya Pandu langsung menghampirinya dan menggandeng tangannya.


"Elo masih ada kontrak sama gue," ucapnya lirih.


Talia memutar bola matanya kesal setelah mendengar ucapan Pandu.


***


Nathan berada di perpustakaan, seperti biasa ia melukis Talia, Nathan selalu mengingat apapun yang di lakukan Talia. Nathan tersenyum ketika Nathan selesai menggambar mata Talia.


"Mata yang indah," gumamnya.


***


Talia dan Pandu berada di kantin, dengan lembut Pandu melayani Talia. Sejatinya, Pandu akan bersikap baik dengan orang di sukainya terlebih lagi Talia.


Talia memandangi Pandu yang sedang makan. "Dia baik sama gue tapi kenapa sama yang lain dia jahat," batin Talia.


"Apa dia beneran suka sama gue?" tambahnya.


Talia menggelengkan kepalanya yang semakin mikir tidak-tidak lalu ia melanjutkan makannya lagi.


***


Talia menggeram, ia mengepalkan tangannya.


"Bi Inah!" panggil Talia.


"Iya Non." Bi Inah langsung berjalan cepat menuju kamar Talia.


"Bi, Bibi ngebolehin orang masuk ke kamar Talia, ya?" tanya Talia.


Bi Inah melihat ke jendela yang terbuka dan Talia juga ikut melihatnya. Talia berjalan ke arah jendela itu, ia melihat ke bawah ada sebuah poster yang bertulisan "KALAU ELO NGGAK MAAFIN GUE, GUE NGGAK AKAN BERHENTI BUAT MELAKUKAN ITU."


***


Malam ini Talia berbaring di kasur, ia melihat langit-langit kamarnya, ia memikirkan kenapa Nathan mau melakukan ini hanya karena sebuah permintaan maaf. Talia memainkan kedua jari telunjuknya, setelah itu ia melihat toples berbentuk segi empat yang isinya di penuhi oleh coklat lalu melihat keranjang hias yang di penuhi mawar di atas meja belajarnya. Tak lama Talia memejamkan matanya lalu tertidur.


***


Pagi ini Ulya telah tiba di sekolah, ia memarkirkan sepedanya lalu berjalan menuju kelasnya. Saat di koridor Ulya bertemu dengan Angga, Angga tersenyum manis kepadanya.


Ulya masuk kelas, ia duduk dan ia meletakkan kepalanya di meja. Tanpa sadar Ulya tertidur, saat istirahat Angga membangunkannya, Angga menepuk pelan pipi Ulya tapi Ulya tak kunjung bangun juga. Di kelas hanya ada mereka berdua, Angga memandangi wajah Ulya dan ikut tidur di meja Ulya. Mereka tidur saling berhadapan.


Perlahan Ulya membuka matanya, tatapan pertamanya adalah wajah Angga, tak lama Angga juga membuka matanya dan mereka saling menatap.


***


Sekarang adalah jam olahraga murid kelas XII mengganti bajunya dengan baju olahraga.


Talia yang sedang mengelap raketnya berhenti ketika melihat Nathan berjalan di sampingnya. Talia menarik baju Nathan dan berdiri di hadapannya. Talia memukul Nathan dengan raketnya.


"Aw," erang Nathan.


"Kalau elo ngelakuin hal kayak kemarin lagi, tabur-tabur bunga, coklat atau buket gue semakin ngga bisa buat maafin elo," ujar Talia memperingatkan Nathan.


"Gue udah bilang'kan, kalau elo nggak maafin gue, gue tetap melakukannya." Nathan menatap dalam mata Talia.


Talia berdecak, ingin sekali ia menonjok wajah Nathan sampai babak belur.


"Sampai kapanpun gue nggak mau maafin elo," ucap Talia dingin.


Nathan mengangkat alisnya sembari berucap, "Dan sampai kapanpun gue tetap mengirimi elo bunga, coklat dan segala hal."


Talia semakin kesal, ia hendak memukul kepala Nathan dengan raket yang di pegangnya tapi Nathan malah memeluk dirinya sampai mereka terjatuh dengan posisi Talia di bawah dan Nathan di atas, wajah mereka begitu dekat.


Bola basket menggelinding di sudut lapangan ini. Hampir saja bola tadi mengenai kepala Talia, untungnya Nathan langsung mengambil Talia ke pelukannya.


Talia dan Nathan saling menatap, deruan napas masing-masing begitu terasa. Kemudian Talia langsung mendorong Nathan lalu ia berdiri dan membersihkan bajunya serta membenarkan rambutnya. Talia jadi canggung banyak siswa-siswa yang melihatinya. Setelah itu Nathan juga ikut berdiri, ia melihat wajah Talia yang memerah. Tiba-tiba Pandu menarik raket Talia dan mengajaknya bermain bulu tangkis bersama. Ternyata Pandu juga menyaksikan hal tadi.


****


To be continued ....


Cuap-cuap Author:³:³


Buat readers yang setia baca novel tanpa berani komen, makasih banget Author sayang kalian😚😚


Tapi setelah selesai membaca budayakan Like, Komen, Vote dan juga kasih Bintang ya🤗


See you💃💃