AISY

AISY
Tatapannya



Pandu berdiri di dekat jendela, ia berdecak setelah membaca pesan singkat dari Ibunya. Setelah itu ia berjalan ke kelasnya untuk mengambil tasnya lalu berjalan ke arah parkiran mobilnya, Pandu tidak menghiraukan Dastan yang memanggilnya, Pandu masuk ke mobilnya setelah itu ia melajukannya.


Tidak butuh waktu lama Pandu telah tiba di sebuah rumah besar. Pandu berdiri di ambang pintu sambil melihat seorang gadis yang sedang duduk sambil mengelus-elus kucingnya dan sebuah tongkat yang berada di sampingnya.


"Acca andai aja aku bisa melihatmu." Acca adalah nama kucing peliharaan Kirana. Kirana tersenyum manis sambil mengelus tubuh kucing tersebut.


Pandu melangkahkan kakinya menghampiri Kirana, ia meletakkan tasnya di sofa.


Kirana merasakan seseorang ada di sekitarnya.


"Siapa?" tanyanya.


"Aku," jawab Pandu.


Kirana tersenyum mendengar suara tak asing itu, lalu Kirana melepaskan kucingnya dari pangkuannya.


"Memangnya kamu ngga sekolah?" tanya Kirana lagi.


"Sekolah, tapi ini karena Ibuku."


Kirana merasa tidak enak pada Pandu setelah mendengar jawaban dari Pandu.


"Pandu, aku ngga nyuruh kamu untuk menemaniku," ujar Kirana.


"Iya kamu ngga menyuruhku tapi Ibuku yang menyuruhku," tukas Pandu secepatnya.


Pandu melihat wajah gadis di sampingnya itu, ia merasa muak dengan semua ini karena setiap hari setiap saat harus menemani Kirana. Lebih tepatnya lagi ia telah di jodohkan dengan Kirana, wanita yang sama sekali tidak ia sukai, wanita yang jauh dari kata sempurna.


"Sudah makan?" tanya Pandu setelah beberapa menit hening.


"Sudah," jawab Kirana sambil menganggukkan kepalanya.


"Kirana ma'af, aku harus pergi sekarang," ujar Pandu beranjak dari duduknya dan membawa tasnya. Pandu menghentikan langkahnya ketika berada di depan pintu.


"Sampai kapan aku harus menemani gadis buta itu?" tanya Pandu pada Sinta selaku Ibunya.


"Sampai maut memisahkan kalian," jawab Sinta menatap putranya.


Pandu menghembuskan nafasnya ia terlihat frustasi atas semua ini. "Mama tau 'kan Pandu ngga suka sama Kirana, sampai kapanpun Pandu bakal menentang perjodohan ini."


"Ini sudah perjanjian Pandu."


"Hanya karena hutang kalian mengorbankan anak kalian sendiri?" tanya Pandu menatap lekat mata Ibunya.


"Pandu ngga cocok sama dia Ma, dia buta! Sangat jauh dari kata sempurna," imbuhnya.


"Pandu!" seru Sinta. Perkataan anaknya benar-benar tidak bisa di kontrol.


"Fakta Ma," ujarnya setelah itu melangkahkan kakinya pergi dari hadapan Ibunya.


Sementara itu, Kirana meneteskan air matanya karena ia telah mendengar ucapan mereka. Kirana begitu sedih, apa ia tidak layak untuk di cintai? Mengapa seseorang sekarang memilih cintanya melalui kesempurnaan fisik bukan kesempurnaan hati? Kirana benar-benar merasa pilu dengan takdir yang menimpanya.


***


Ulya tersenyum sambil meletakkan secangkir kopi di meja Pak Udin.


"Makasih ya Ulya," ucap Pak Udin.


"Iya Pak." Ulya menjawabnya setelah itu ia berjalan keluar dari ruangan guru tersebut.


Ulya berjalan menyusuri koridor sekolah untuk menuju ke ruangan perpustakaan.


"Angga lovers!"


"Angga lovers!"


"Angga lovers!"


Ulya melihat siswi-siswi menyoraki nama Angga karena saat itu kelas XII IPS 1 dan XII IPS 2 berlomba main basket.


Ulya mendekat ke segerombolan para siswi-siswi yang menyoraki Angga dari atas, Ulya melihat ke bawah untuk melihat sosok Angga. Mata Ulya menangkap sosok itu saat memasukkan bola ke ring lalu berlari ke arah timnya, pelipisnya di penuhi keringat yang mengalir, Angga menerima lemparan sebotol minuman ia langsung membukanya dan meminumnya, kemudian Angga menutup botol minuman itu setelah itu matanya melihat ke atas. Tepat, matanya menatap Ulya, Angga melontarkan sedikit senyumannya sedangkan Ulya malah terbengong. Setelah itu Ulya menepuk pipinya sendiri dan berjalan mundur. "Ngga mungkin. Ngga mungkin," ujarnya sambil berjalan menuju ke perpustakaan.


Ulya mengambil kursi dan meletakkannya di dekat rak buku, ia berdiri di kursi tersebut, tangannya mencoba mengambil buku berwarna merah tapi ia tetap tidak sampai padahal hanya sedikit lagi. Ulya melihat ke arah lain untuk mencari sesuatu, ia menemukan sapu yang berada di sudut ruangan ini, Ulya turun dari kursi tersebut lalu ia berjalan mengambil sapu itu. Ulya kembali lagi ke kursi tadi, ia mendongakkan kepalanya untuk melihat buku tadi, Ulya melihat bukunya sudah tidak ada di situ, tempat bukunya kosong. Ulya berjalan ke rak sebelah untuk mengecek buku tadi siapa tahu buku itu terjatuh ke arah yang berlawanan.


"Mencari ini?" tanya seorang laki-laki sambil memperlihatkan buku merah tadi, Ulya langsung menghentikan langkahnya.


"Iya. Tapi kalau kamu mau pake ya ngga apa-apa pake aja," ujarnya.


"Jangan lupa buat beli susu peninggi badan, ya," ujarnya lalu berlalu pergi.


Ulya membalikkan badannya melihat Nathan berjalan keluar dari perpustakaan. "Apa-apaan aku 'kan udah tinggi," lirihnya.


***


"Heboh banget ngga sih mereka," ujar Nila.


"Gue mulai bosan," sahut Talia.


Geng Talia sedang menonton pertandingan bola basket, karena tim Angga membuat semua para siswi berlomba-lomba menyemangati Angga.


Talia mulai jengah dengan pertandingan ini dan suara berisik para siswi akhirnya ia memutuskan untuk pergi dari situ. Talia berjalan masuk ke ruangan UKS, ia membaringkan tubuhnya di salah satu ranjang di situ. Talia mengeluarkan HPnya di saku bajunya, ia membuka aplikasi musik. Talia hendak menyentuh musik yang ingin di putarnya, ia diam sejenak sambil memandangi HPnya lalu ia mengurungkan niatnya untuk mendengarkan musik tersebut, ia kembali memasukkan HPnya di saku bajunya setelah itu ia beranjak dari tidurnya berjalan keluar dari ruangan yang penuh obat-obatan ini.


Tanpa susah payah membuka pintu UKS, pintu itu sudah di buka oleh seseorang. Talia melihat pria yang berdiri di hadapannya dengan tas yang menyangklong di pundaknya. Tatapan datar Talia menguasai mata pria itu. Sekitar 3 menit saling bertatap akhirnya pria yang berhadapan dengan Talia itu membuka suara.


"Boleh minta tolong?" tanyanya sambil menunjukkan luka di jari telunjuknya.


Talia melihat luka tersebut lalu ia kembali melihat laki-laki di hadapannya itu.


Tanpa menjawab iya ataupun mengangguk Talia berjalan menuju ranjang UKS tersebut dan laki-laki itu membututinya.


Talia mengambil kotak P3K. Ia mulai membalut luka jari pria itu, sebelumnya Talia melirik Uname tag di almamater pria di hadapannya itu, Pandu Dewanata namanya.


Pandu dan Talia sudah keluar dari ruangan UKS tersebut, mereka sedang berjalan di koridor sekolah.


"Makasih ya," ujar Pandu pada Talia.


"Sama-sama," jawabnya.


Kebetulan Nathan berjalan di arah yang berlawanan, Nathan melihat wajah Talia sedalam-dalamnya, Talia pun juga melihatnya. Baru kali ini tatapan teduh seperti itu menguasai mata Talia. Nathan hanya melewati mereka begitu saja tanpa berhenti sebentar. Talia menoleh ke belakang untuk melihat Nathan tadi setelah itu ia kembali melihat ke depan.


***


Wajah Ulya memerah ketika membayangkan senyuman simpul Angga tadi.


"Ah udah dong!" Ulya menepuk-nepuk pipinya lalu ia membuka kotak bekalnya dan memakannya.


***


Angga baru keluar dari kamar mandi, ia mengganti pakaiannya. Setelah itu ia dan Bima berjalan menuju ke kantin untuk makan siang.


"Angga! Angga!" seru Anita sambil berlari menghampiri Angga dan membawa makanan.


"Buat kamu, aku sendiri lho yang masak," ujarnya menyodorkan makanan tersebut dan tak lupa sambil tersenyum.


Angga melihatnya lalu ia menerima makanan itu setelah itu ia memberikannya pada Bima.


"Eh?!" Bima bingung.


Angga kembali melanjutkan langkahnya kemudian di susul oleh Bima.


"Lho?! Makanannya buat elo Angga!" Anita memasang wajah sedih karena dirinya di campakkan oleh Angga.


"Makasih ya Anita makanannya!" Sedangkan Bima malah kegirangan menerima makanan gratis.


***


Angga mencari kursi yang kosong lalu matanya tanpa sengaja melihat sosok gadis yang sedang makan di meja besar hanya sendirian. Tanpa basa-basi Angga menghampirinya.


"Bolehkan duduk di sini?" tanyanya setelah tiba di tempat meja makan tersebut.


Ulya langsung mendongakkan kepalanya untuk melihat orang yang bertanya padanya. Ulya melihatinya tanpa berkedip, sedikit lama lalu ia mengangguk memperbolehkannya untuk duduk di situ dan makan bersama.


Anita yang baru saja masuk ke kantin tersebut langsung memanas seakan kepalanya ingin meledak, melihat Ulya dan Angga makan di meja yang sama. Anita tidak sabar ingin menjambak-jambak rambut Ulya karena telah berani makan semeja bersama Angga.


"Wah ... Kayaknya peperangan akan di mulai hari ini juga," lirih Talia yang berdiri di depan pintu kantin melihat insiden Ulya dan Angga makan di meja bersama, juga melihat raut wajah Anita marah.


Talia memutuskan untuk pergi saja ketimbang harus melihat pembulyan Ulya yang di lakukan oleh Anita.


Talia membalikan badannya untuk keluar dari ruangan kantin ini tapi ia mendadak berhenti karena ada Nathan dan Pandu yang sudah berdiri di belakangnya sedari tadi. Talia kaget, ia melihat Nathan dan Pandu bergantian.


______


To be continued ....