AISY

AISY
Kepergian Jhony



Pria itu tersenyum padaku, wajahnya bersinar, menatapku dengan tatapan penuh kasih sayang, dan perlahan ia berjalan ke arahku. Aku membalas senyumnya ketika ia mulai membelai wajahku.


"Aku rindu," bisiknya di telingaku.


"Tapi, rinduku nanti lebih dalam daripada ini," tambahnya yang membuatku tak maksud, bodohnya aku hanya senyum saja.


Ia mulai menggulati tubuhku, ia memelukku dari belakang. "Jangan pernah bersedih lagi, jalani hari-harimu dengan ceria seperti sebelum mengenalku, mungkin ini terakhir aku bisa melihatmu," ucapnya.


"Memangnya kamu mau ke mana?" tanyaku.


Ia menelan ludahnya, mulai melepas pelukannya. Aku menunggunya ia menjawab pertanyaanku, lama aku menunggu, kubalikkan tubuhku menghadap dia, ternyata dia sudah tidak ada lagi di situ. Aku melihat sebuah cahaya bersinar begitu terang, cahaya itu semakin jauh semakin kecil lalu hilang.


Aku mulai menyadari. Aku menangis, menundukkan kepalaku, terduduk, tubuhku terasa lemas. Jhony akan pergi jauh lebih dari ini.


Talia meneteskan air matanya, lalu ia membuka matanya, ia melihat Nila duduk di kursi dekat ranjangnya.


"Elo udah sadar," ujar Nila ketika mendengar Talia bergerak. Talia menghapus air matanya.


"Siapa yang bawa gue ke sini?" tanya Talia.


"Pandu," jawab Nila.


Talia kemudian mengingat kembali kenapa dirinya bisa berada di sini.


Saat Talia menuruni tangga, ada seorang siswi yang juga berjalan di sampingnya sambil membawa es lalu siswi itu di tabrak oleh siswi lain hingga es itu tumpah, dan Talia yang hendak melangkahkan kakinya terpeleset karena air es tersebut. Talia terjatuh dan badannya terguling.


Talia mengubah posisinya duduk, dia hendak turun dari ranjang tapi tiba-tiba kakinya terasa sakit, Talia mengeryit.


Pandu muncul dari gorden yang menutupi ruang Talia, ia membawa dua botol air minum.


"Ada apa?" tanya Pandu.


"Kakinya kayaknya keseleo deh," ucap Nila.


Pandu meletakkan dua botol air minum itu di meja lalu duduk di samping Talia. Pandu melepas sepatu dan kaos kaki Talia lalu mulai memijatinya. Nila keluar dari ruangan itu, membiarkan mereka berdua.


Talia mendesis sakit, Pandu mendengarnya, Pandu memijatnya lebih pelan lagi.


***


Nathan berlari ketika sudah sampai di rumah sakit, ia berlari menuju ruang rawat Jhony. Ia mengingat semua momen mereka, ketika berlomba renang, Nathan yang sedang menonton bokep kepergok oleh Jhony, Nathan ketika mengganggu Jhony yang sedang tidur, ketika mereka sedang bermain game dan masih banyak lagi hal yang mereka lakukan berdua.


Nathan berlari sekencangnya, berharap bisa cepat sampai ke ruangan Jhony, kakinya terasa berat untuk di langkahkan tetapi Nathan tetap memaksakannya.


Nathan telah tiba di pintu ruangan Jhony. Kedua orang tua Jhony sudah menangis pilu di situ. Nathan melihat Jhony yang sudah di tutupi oleh kain putih di tubuhnya. Nathan memaksa kakinya melangkah mendekat Jhony, air matanya menetes melihat sahabatnya pergi dari dunia ini untuk selamanya. Semua yang ada di ruangan ini berduka, Ibu Jhony seakan tak terima dengan meninggalnya putra satu-satunya. Ibu Jhony menangis sejadi-jadinya, ruangan ini di penuhi oleh suara tangisan.


***


Saat berjalan pulang, dari jauh sana Talia melihat orang-orang berpakaian serba hitam, orang-orang itu akan menguburkan jenazah. Awalnya ia tak menghiraukannya, tapi ketika matanya mendapati Nathan yang juga berada di antara orang-orang itu Talia langsung menyuruh Pandu menghentikan mobilnya.


"Berhenti. Berhenti," pinta Talia.


Talia langsung turun dari mobil, ia berlari menghampiri Nathan, ia penasaran siapa yang meninggal di keluarga Nathan. Talia menyelip dari keramaian orang-orang itu. Deg, Talia juga mendapati kedua orang tua Jhony. Talia langsung diam membisu, ia membutuhkan penjelasan setelah melihat poto Jhony di atas kuburan itu. Talia juga melihat Ibu Jhony menangis tiada henti. Lalu Talia kembali melihat Nathan.


"Elo ...." dadanya terasa sesak ingin berkata.


Talia menangis, ia memukuli dada Nathan. Ia merasa kesal pada Nathan, ia ingin marah semarah-marahnya pada Nathan. Ia sedih, ia telah kehilangan orang yang di cintainya selama ini, ia merasa pilu, hatinya tersayat-sayat oleh seribu pisau, ia tak sanggup menerima kenyataannya. Talia masih saja memukuli dada Nathan sambil menangis tersedu-sedu.


"Nggak mungkin," ucapnya di tengah-tengah ia menangis.


"Tante ...," lirih Talia melihat Ibu Jhony.


"Talia ...." Ibu Jhony memeluk Talia, dua wanita itu sama-sama menangis.


"Tante kenapa nggak pernah bilang kalau Jhony itu sakit, kalau Jhony itu nggak ke luar negeri," ucap Talia sambil terisak.


"Ini semua maunya Jhony, maafin Tante ya."


Talia memejamkan matanya untuk mengeluarkan air matanya ketika mendengar jika semua itu kemauan Jhony.


Mereka melepas pelukannya. Talia berjongkok di samping kuburan Jhony. Ia mengelus-elus batu nisan Jhony. Air matanya tak henti-hentinya menetes.


"Ini ada surat dari Jhony untuk kamu," ucap Ibu Jhony sambil menyerahkan amplop biru pada Talia. Talia menerimanya. Kemudian kedua orang tua Jhony berjalan pulang.


Sementara itu Talia masih tersedu di sini, ia benar-benar merasa sedih. Pandu mendekatinya, mencoba untuk menenangkan Talia. Sedangkan Nathan hanya menatapnya dalam diam.


***


Talia terbaring di kasur, tatapan matanya kosong, ia melamun, dua hari ini Talia tidak sekolah dan tidak mau makan, ia hanya mematung di kasurnya.


Selama dua hari ini banyangan Jhony masih di mana-mana. Kenangan dirinya dan Jhony masih berseliweran di pikirannya. Ia juga merasa kecewa pada Nathan, selama ini ia menyembunyikannya, ia menutupinya dengan begitu sempurna, dan juga Talia baru tahu jika Nathan dan Jhony bersahabat. Jhony tidak pernah memberitahu pada Talia jika dirinya mempunyai sahabat, begitu juga sebaliknya pada Nathan tidak memberitahu Talia jika dirinya sahabat Jhony.


***


Satu minggu telah berlalu, Nathan merasa khawatir dengan keadaan Talia. Satu minggu ini Talia tidak sekolah. Nathan nekat untuk pergi ke rumah Talia, melihat kondisi gadis itu.


"Dari kemarin begitu terus Den, tidak mau makan. Makanan yang Bibi taruh di meja selalu utuh, Non Talia hanya mandi lalu berbaring lagi," jelas Bi Inah pada Nathan ketika Nathan sudah sampai di rumah Talia.


"Tante sudah di kasih tahu kalau kondisi Talia seperti ini?" tanya Nathan.


"Katanya, Nyonya besok sampai ke Indonesia," jawab Bi Inah.


"Biasanya Den Pandu juga ke sini untuk membujuknya tapi tetap gagal, malahan di usir sama Non Talia," tambah Bi Inah.


Nathan membuka pintu kamar Talia, ia berjalan menghampiri Talia. "Ngga usah bujuk gue untuk makan. Gue ngga lapar," katanya dingin.


Nathan berdehem. "Gue cuma mau bilang, jangan jadi orang bodoh, love yourself," katanya lalu keluar dari kamar itu.


Talia membalikkan badannya ketika pintu kamarnya itu sudah tertutup.


"Elo jahat sama gue, elo bohongin gue, gue baru paham elo selalu buat gue bahagia biar gue lupa sama Jhony! Elo tega ngelakuin ini ke gue! Elo tega sembunyiin ini semua dari gue, gue benci sama elo! Gue benci sama elo!!!" Nathan mendengar semua itu, ia juga mendengar Talia seperti membanting barang-barangnya ke pintu.


Talia mengacak-acak rambutnya frustasi, ia menangis tersedu, ia tak peduli kakinya terpijak oleh beling vas bunga yang ia hancurkan sendiri. Darah yang keluar dari kakinya membentuk telapak kakinya.


***


To be continued ....


Cuap-cuap Author:³:³


Sedih ngga sih kalau orang yang kita cintai itu pergi untuk selama-lamanya:'


Kasihan banget Talia ya guys di tinggal sama Jhony huhu:(:(


Buat readersku tercinta jangan lupa vote dan komen serta like ya😚😚


Tetap jaga kesehatan ya kalian, sosial distancing okay tetap jaga kebersihan juga🤗🤗💃