AISY

AISY
Kepedulian Talia terhadap Nathan



Nila berlari menghampiri Nathan, ia melihati Talia bergelantung dengan pagar atap gedung itu.


"Talia!" seru Nila khawatir.


Talia tak berhenti mengeluarkan air matanya, ia berusaha untuk menggenggam erat besi pagar itu. Setelah itu Pandu datang sambil membawa Tali. Pandu menyuruh Nathan untuk mengikat pinggangnya dengan Tali, lalu Pandu dan Nila yang akan menarik mereka dari atas.


Nathan turun, begitu Talia langsung beralih ke tubuh Nathan. Nathan menyuruh Pandu dan Nila untuk menariknya lagi, mereka berusaha menariknya tapi kadang mereka juga ikut berjalan maju karena beratnya tak seimbang.


Pandu dan Nila terpeleset sehingga mereka jatuh, tali yang di pegang Pandu dan Nila hanya tersisa dua centimeter, sementara Nathan dan Talia semakin merosot jauh dari besi pagar gedung atap tersebut.


Talia memeluk erat tubuh Nathan, dia begitu ketakutan. Namun, Pandu tidak bisa menahannya lagi, tangan dia juga semakin menjadi licin, alhasil tali itu terlepas dan Nila juga ikut melepasnya.


Melayang dalam dekapan, Talia dan Nathan seakan pasrah jika harus mati detik ini juga. Tapi siapa sangka, geng Pandu juga geng Nathan menyiapkan kasur, mereka sama-sama mengatur titik fokus ketika Talia dan Nathan akan jatuh.


Brukk!!!


Talia langsung membuka matanya, melihat dirinya yang masih hidup, ia langsung memeluk Nathan karena rasa takutnya masih ada. Talia masih gemetaran, ia masih menangis.


Pandu dan Nila tersenyum melihat mereka dari atas. Akhirnya geng Pandu dan geng Nathan tidak telat menyiapkan kasur itu dan tepat pada sasaran.


***


Nathan memberi Talia minum, begitu Talia langsung meminumnya. Setelah itu Talia menatap kesal pada Nathan dan memukul dada Nathan.


"Aw," erang Nathan.


"Elo kenapa mau di ajak tarung sama Pandu?!" tanya Talia membentak.


"Harusnya elo itu nggak usah mau. Ngeselin banget."


"Elo gak tau kan tadi kalau Pandu mau dorong elo terus elo jatuh dari situ dan memungkin elo mati saat itu juga." Talia mengocehinya, ia bersedekap sambil memasang wajah kesal.


Melihat kepedulian Talia, Nathan langsung memeluk Talia. "Gue yang takut kehilangan elo," ujarnya.


"Kalau gak ada mereka, mungkin detik itu juga kita akan pergi bersama," imbuhnya.


"Lain kali jangan ceroboh," ucapnya kemudian.


"Elo yang ceroboh." Talia tak terima dirinya di bilang ceroboh padahal Nathan yang ceroboh.


"Iya ... Iya ... Kita sama-sama ceroboh."


"Gue nggak ceroboh," jawab Talia cepat.


"Iya gue yang ceroboh." Nathan mengalah hanya untuk melihat Talia bahagia. Kemudian Talia membalas pelukan Nathan, ia memeluknya erat.


***


Mereka keluar dari ruang UKS ini, mereka bertemu dengan Pandu. Pandu melihat Talia, ingin sekali rasanya ia bertanya kepada Talia


"Apa yang sakit?"


Ingin juga ia berkata meminta maaf pada gadis itu, tapi lidahnya terasa kelu untuk mengucapkannya hingga akhirnya ia hanya melewati Talia dan Nathan. Setelah itu Nathan menuntun Talia untuk berjalan lagi.


Nathan mengantar Talia pulang, Talia masuk ke rumahnya lalu Nathan pergi untuk pulang ke rumahnya juga.


Talia duduk di kasurnya, ia melepas sepatu dan tasnya lalu membaringkan tubuhnya di kasur, Talia menyelimuti tubuhnya, memeluk gulingnya dan terlelap.


***


Hari telah berganti malam, sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan rumah Ulya. Pemilik mobil itu keluar, ia berjalan masuk ke emperan rumah Ulya lalu mengetuk pintu.


Mendengar ketukan pintu, Ulya langsung berjalan menuju pintu depan lalu membukanya.


"Angga," ucapnya.


Angga tersenyum pada Ulya. Ulya melihat keluar.


"Sama siapa kesini?" tanyanya.


"Kok bisa tahu rumahku?" tanyanya lagi.


"Nggak di suruh masuk nih," ujar Angga.


"Eh, iya. Ayo masuk." Ulya mempersilahkan Angga untuk masuk setelah itu Ulya membuatkan Angga teh manis.


"Memangnya setiap hari sepi begini ya?" tanya Angga melihat di sekelilingnya.


"Iya. Ayah juga pulangnya tengah malam terus," jawab Ulya.


"Gak takut?" tanya Angga sambil bergidik ngeri.


Ulya langsung melotot. "Takut apa?" tanyanya balik.


"Kalau misal ada yang ketuk-ketuk pintu dan itu bukan Ayah kamu, gimana?"


Suasana menjadi hening, Ulya menjadi berpikiran yang tidak-tidak. Tiba-tiba ....


Gukk ... Gukkk....


Ada suara anjing menggonggong, tentu saja Ulya terkejut ia langsung pindah duduk di samping Angga dan memegang erat tangan Angga. Jantung Ulya berdebar karena takut, sementara Angga malah tertawa melihat tingkah Ulya. Ulya sadar bahwa itu adalah suara anjing milik tetangga samping rumahnya, ia juga sadar telah duduk di dekat Angga dan memegang erat tangan Angga. Refleks Ulya langsung melepas genggaman tangannya, ia menggeser posisi duduknya agak jauh dari Angga.


"Kenapa tiba-tiba?" tanya Angga di sela-sela tawanya.


Ulya memerhatikan Angga ketika sedang tertawa, lalu ia juga ikut tertawa, membayangkan dirinya ketakutan tadi padahal hanya suara anjing menggonggong.


Wkwk


****


"Sayang bangun, udah pagi," ucap wanita paruh baya sambil membuka gorden jendela kamar Talia.


Talia menutupi matanya dengan lengannya karena cahaya matahari yang masuk ke celah jendela sehingga menusuk pada mata Talia.


Wanita itu membuka selimut Talia. "Lho, kamu gak ganti baju kemarin? Kamu juga gak mandi? Langsung tidur aja?" tanyanya berderet. Sedangkan Talia hanya menganggukkan kepalanya. Wanita itu menggelengkan kepalanya melihat kemalasan putri semata wayangnya, lalu ia menyuruh putrinya untuk mandi dan bersiap ke sekolah.


***


Sekarang, Talia sudah tiba di sekolah. Lagi dan lagi ia berpapasan dengan Pandu. Pandu memegang tangan Talia saat Talia akan melanjutkan langkahnya.


"Elo ... Nggak ada yang luka 'kan sama diri elo?" tanya Pandu.


Talia melepas tangan Pandu yang memegang tangannya karena ia merasa risih. "Gue baik-baik aja kok," jawabnya sembari tersenyum lalu berjalan pergi meninggalkan Pandu.


"Sekarang semakin berbeda," batin Pandu.


****


Talia sedari tadi mondar-mandir, ia ke ruangan perpustakaan lalu pindah lagi ke ruang UKS, pindah lagi ke ruang Sastra, pindah lagi ke ruang kantin dan pindah lagi ke kelas Nathan.


Talia juga bertanya pada Arya kenapa Nathan tidak bersekolah hari ini, tapi Arya menjawab tidak tahu.


Talia duduk di kursi yang ada di setiap depan kelas, kepalanya hanya memikirkan Nathan, mengapa Nathan tidak sekolah hari ini. Talia juga sudah mencoba menghubungi Nathan, tapi nomornya tidak aktif dan pesan yang di kirimnya tidak di baca. Talia mengetuk kursi yang di dudukinya dengan jarinya, ia mencoba untuk berpikir positif, mungkin Nathan sedang sibuk.


Talia menoleh ke kiri, ia melihat Anita dan Bima yang tambah dekat saja. Lalu Talia memasang wajah jutek, ia teringat kembali dengan Nathan.


"Elo ke mana sih? Kenapa nggak sekolah?" batin Talia.


Talia beranjak dari duduknya, ia berjalan menuju ruang perpustakaan lagi. Ia masuk di lorong paling ujung rak buku. Talia melihat ruangan kecil, ia penasaran dengan ruangan itu, dirinya hendak membuka pintu ruangan kecil itu tapi Nila memanggilnya.


***


To be continued ....


Sesudah membaca budayakan Like, Komen, Vote dan beri penilaian ya🤗 Agar Author tambah bersemangat, Author sayang kalian 😚😚😚


See you 💃💃💃