
"Talia, elo ngapain?" tanya Nila. Talia langsung menurunkan tangannya, ia melihat Nila kemudian melihat pintu itu lagi.
"Ada apa?" tanya Nila juga ikut penasaran, Talia mengangkat pundaknya. Tiba-tiba mereka menjadi mendadak horor, Nila berjalan maju, ia akan membuka pintu itu. Tangan Nila sudah memegang gagang pintu, dan ....
Gubrakk!!!
Nila menjatuhkan tangannya, ia dan Talia langsung menoleh ke sumber suara itu. Kemudian mereka menghampiri suara itu.
Mereka diam melihat, laki-laki yang berdiri sambil membawa buku dan buku lainnya terjatuh. Dari penampilan laki-laki itu seperti seorang guru.
"Anda siapa?" tanya Talia.
Laki-laki itu tidak langsung menjawab pertanyaan Talia, ia menata buku yang di pegangnya ke rak lalu mengambil buku yang jatuh dan menyusunnya. Kemudian laki-laki itu memandang Nila dan Talia sambil tersenyum. Ia mengulurkan tangannya pada Talia dan Nila sembari berucap, "Saya Dika, guru baru di SMS Roma ini."
"Ooohh guru baru," gumam Nila.
"Semoga Bapak betah di sekolah ini," sahut Talia.
Dika tersenyum mendengarnya. Kemudian Talia dan Nila permisi keluar dari ruang perpustakaan ini.
***
"Jadi Nathan gak sekolah hari ini?" tanya Nila. Talia mengangguk mengiyakan.
"Terus hubungan elo sama Pandu gimana?" tanyanya lagi.
Talia menggaruk alisnya. "Hubungan pacar kontrak kami udah berhenti dan di saat itu juga gue tolak cinta dia," jelas Talia.
Nila kaget ketika ia mendengar bahwa Talia menolak cinta Pandu, "Serius elo tolak? Kenapa Ta? Pandu baik sama elo."
"Dia udah di jodohin, dan elo tahu, jodohnya itu buta. Dengan begitu aku juga gak tega harus pacaran sama Pandu."
"Ohh gitu, jadi Pandu di jodohin," ujar Nila. Talia berdehem.
Beberapa menit kemudian. "Terus elo ke Nathan gimana?" tanya Nila.
Talia langsung melihat Nila, ia mengerutkan keningnya. "Gimana maksudnya apa?" tanyanya balik.
"Aduh... Talia, gak usah sok lugu deh," celetuk Nila.
"Gue emang gak maksud ****," ucapnya.
Nila menghela napasnya. "Maksudnya itu, elo ada perasaan apa enggak sama Nathan? Perasaan elo ke Nathan itu gimana?" Nila menjelaskan.
Talia melihat ke arah lain, ia menyembunyikan senyumnya lalu bersikap biasa-biasa saja.
"Jangan ngaco deh, pertanyaannya gitu banget," katanya lalu beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kelasnya.
Nila merasa sesuatu ada yang tidak beres-beres, ia melihat pipi Talia yang ngeblush. Nila terkekeh, ia berjalan mundur dan menghadap ke Talia.
"Elo suka ya sama Nathan? Iya kan?" desaknya.
Talia tidak bisa untuk menyembunyikan senyum malunya, kedua pipinya semakin memerah. "Apaan sih elo, ngawur banget," elaknya.
"Alah bilang aja iya kalau elo suka sama Nathan." Nila tetap mendesaknya.
"Enggak di bilangin." Talia berucap sambil tersenyum.
****
Dika masuk ke kelas Talia, semua murid melihatinya. Cukup tampan guru baru itu.
"Selamat siang semuanya," ucapnya.
"Siang ...."
"Pasti kalian bingung dengan saya. Kenapa saya ada di sini? Kenapa saya berjalan-jalan di sekolahan ini? Baiklah, saya adalah guru baru kalian, saya yang akan menggantikan Bu Sarah. Perkenalkan nama Saya Dika Adrianto, panggil saja saya Dika."
Dika menjelaskan dan memperkenalkan dirinya, ia memandangi wajah murid itu satu persatu. Talia menyadari sepertinya guru baru itu sedang melakukan penelitian pada murid di kelas ini. Saatnya Dika untuk memandang wajah Talia, Dika terpaku pada mata Talia yang juga menatapnya. Mereka saling menatap dengan tatapan yang sama-sama menegangkan, kemudian Dika mengalihkan pandangannya dan duduk di kursi khusus untuk guru. Setelah itu, Dika langsung memulai pelajarannya.
***
Bel telah berbunyi menandakan jam sekolah telah habis dan semua di perbolehkan untuk pulang, mereka berhamburan keluar dari kelas. Talia menyengaja keluar terakhir. Ia melihat Dika hendak keluar dari ruangan ini tapi Dika menghentikan langkahnya, ia melihat Talia yang masih duduk di bangkunya.
"Tidak ingin pulang?" tanyanya.
***
Talia terkejut ketika ia membuka pintu perpustakaan, guru baru itu berdiri membelakangi pintu perpustakaan lalu ia membalikkan badannya menghadap Talia.
Dika tersenyum pada Talia. "Membuat penasaran," gumamnya.
Mendengar itu Talia melangkahkan kakinya, "Bapak menjadi guru di sini pasti ada maksud tertentu bukan?"
Dika yang awalnya menunduk jadi mengangkat wajahnya melihat Talia. "Nathan," ucapnya.
Talia melihat Dika ketika nama Nathan di sebutnya. Mereka saling memandang, Talia tidak mengerti kenapa nama Nathan di sebutnya.
***
"Anak itu tidak sekolah hari ini," ucap Dika.
"Kamu harus bisa membawa dia ke Australia untuk melanjutkan saham perusahaan ini," ujar seseorang dari seberang telepon sana.
"Secepatnya aku akan membawa dia." Dika menjawabnya lalu telepon itu di matikan.
****
Talia duduk di kursi belajarnya, ia menopang dagunya dan tangan satunya memegang pena, Talia melamun. Ia memikirkan kenapa nama Nathan di sebut oleh guru baru itu, ada apa? Itulah yang ada di benak Talia.
***
"Ayah mengacaukan semuanya. Sampai kapanpun aku tidak akan mau," batin Nathan sambil menyeret kopernya.
"Den, Den Nathan mau ke mana?" tanya Bi Ijah ketika melihat Nathan akan pergi dari rumah ini.
"Bi, nanti kalau Dika ke sini dan menanyakan aku. Bilang saja Nathan tidak ada," ucap Nathan.
"Dan ini ada uang untuk Bibi. Bibi hemat-hemat ya untuk satu bulan ini. Aku nggak pergi jauh dari rumah ini kok," tambahnya.
Nathan melihat jam tangannya, "Sebentar lagi Dika akan ke sini. Aku pamit ya Bi." Nathan bersalaman pada Bi Ijah lalu ia keluar dari rumah besar miliknya ini.
****
Nathan telah tiba di apartemen yang di pesannya. By the way, Nathan memesan apartemen ini dengan nama Arya bukan nama dia sendiri. Nathan masuk ke apartemen ini dengan menggunakan topi serta masker karena banyak sekali orang yang memata-matai dirinya yang di perintah oleh Ayahnya.
Nathan masuk ke apartemennya, ia mengunci pintu lalu ia membuka topi dan maskernya. Nathan duduk di kasur, ia berpikir keras bagaimana caranya agar Dika tidak membawa dirinya ke Australia untuk meneruskan alih perusahaan Ayahnya.
****
Hari telah berganti pagi, Nathan bersiap untuk berangkat sekolah, ia harus berhati-hati untuk keluar dari apartemen ini. Nathan mengendarai mobilnya, tak butuh waktu lama ia telah sampai ke sekolahan. Nathan turun dari mobilnya, ia langsung berjalan begitu saja.
"Nathan! Nathan!" Talia memanggilnya tapi Nathan tidak mendengarnya.
Nathan berjalan dengan langkah yang cepat, tiba-tiba seseorang menggenggam pergelangan tangannya. Nathan berhenti, ia melihat orang yang memegang tangannya itu.
Dari jauh, Talia memerhatikan Nathan dan Dika saling menatap tajam.
***
"Mau apa?" tanya Nathan pada Dika, mereka sekarang berada di ruang perpustakaan.
"Ayahmu menyuruhku untuk membawamu pulang."
Nathan mendekatkan wajahnya di telinga Dika. "Sampai kapanpun aku tidak akan mau kembali ke sana," ucapnya ketus.
****
To be continued....
Yuhuu part kali ini jangan di anggurin dong..
Lempar pendapat kalian di kolom komentar ya😍
Sesudah membaca budayakan Like, Komen, Vote dan beri penilaian biar Author tambah semangat 🤗
See you 💃💃💃