AISY

AISY
Rencana gagal Anita



Agis menerobos masuk ke kantin, ia tidak sengaja menabrak Nathan sehingga Nathan berjalan maju dan berada di pelukan Talia.


Talia mendelik ketika sebuah tangan memeluknya erat. Pandu yang melihat itu segera menarik lengan Nathan agar melepas pelukannya.


Nathan melihat Talia agak malu. "Gua ngga sengaja," katanya.


Nathan menunjuk Agis yang berjalan menghampiri Anita. "Karena dia tiba-tiba dorong gue," imbuhnya.


Talia tidak merespon ucapan Nathan, ia langsung berjalan pergi meninggalkan Nathan dan Pandu yang berdiri di ambang pintu.


Pandu melihati Nathan yang sedang bingung melihat Talia barusan setelah itu Pandu juga ikut pergi meninggalkan Nathan dan menggagalkan rencananya untuk makan siang.


"Anita tenang ya, tenang," ucap Agis sambil mengelus-elus lengan Anita dan membawa Anita di tempat makan bersama gengnya. Anita menatap sengit Ulya yang berani-beraninya makan di meja yang sama bersama Angga dan hanya berdua saja.


***


Talia berada di taman belakang, ia duduk sendirian di salah satu kursi yang sudah tersedia di taman tersebut.


Talia memejamkan matanya sambil menghirup udaranya sebanyak-banyaknya setelah itu ia mengembuskannya pelan-pelan.


Talia menatap lurus ke depan, ia diam begitu lama lalu sesuatu terlintas di pikirannya, mata yang teduh itu, tatapan yang melemahkan tatapan tajam Talia.


"Nathan," lirih Talia.


Talia memukul-mukul dadanya, ia merasa gelisah, ia terlihat begitu bingung.


"Kenapa bisa berdebar seperti ini?" gumamnya.


Talia menggelengkan kepalanya lalu ia beranjak dari duduknya, sesekali ia juga mengembuskan napasnya.


Saat ini Talia merasa tenang, ia berjalan di koridor sekolah lalu tanpa sengaja matanya melihat di sudut sana Anita bersama Antek-anteknya mengurung Ulya di kamar mandi yang paling ujung. Setelah itu Anita dan antek-anteknya pergi meninggalkan tempat itu sambil tertawa penuh kemenangan, dengan cepat Talia menghampiri Ulya yang sedang memukul-mukul pintu kamar mandi meminta tolong agar seseorang membukakannya.


Talia memegang gagang pintu dan menggerak-gerakkannya tapi ternyata pintu itu telah di kunci oleh Anita dan kuncinya di bawa oleh Anita.


"Aduh gimana nih?" Talia kebingungan, ia menggigit ujung kukunya sambil melihat sekeliling.


Tap! Tap!


Suara langkah kaki menghentikan Talia yang sedang mencari cara untuk membuka pintu kamar mandi tersebut, Talia melihat ke samping untuk melihat seseorang yang sedang berjalan ke arahnya.


"Nathan!" Talia terpaksa memanggil Nathan. Nathan langsung menghentikan langkahnya, ia menoleh ke Talia.


"Ulya di kurung sama Anita." Talia menunjuk pintu kamar mandi tersebut. Mendengar itu Nathan segera menghampirinya.


"Kuncinya?" tanya Nathan pada Talia, Talia menggelengkan kepalanya.


Terpaksa Nathan harus mendobraknya, pada dobrakan yang kedua puluh akhirnya pintu itu terbuka juga.


Talia dan Nathan melihat penampilan Ulya begitu berantakan, rambutnya beserta bajunya basah dan mata yang sembab.


Ulya mendongakkan kepalanya untuk melihat seseorang yang berdiri di depannya. Ulya menyilakan rambutnya yang menganggu penglihatannya.


"Makasih ya," ucapnya sambil sesenggukan.


***


"Pa, kapan Kirana mendapatkan donor mata?" tanya Kirana pada Buyung selaku Ayahnya.


Buyung mengelus-elus rambut putrinya yang bersandar di bahunya. "Sabar ya, Papa juga lagi berusaha," katanya.


Kirana dan Buyung sama-sama diam. Buyung merasa kasihan pada Putrinya dan dia juga merasa tidak berguna karena sudah 16 tahun belum juga mendapatkan pendonor mata untuk Putrinya semata wayangnya itu.


***


"Gue ngga abis fikir elo bisa suka sama cewek dingin itu," kata Dastan pada Pandu, kini mereka ada di tempat pribadinya bagi geng mereka.


"Entah kenapa pertemuan tadi gue ngerasa ada sesuatu yang aneh."


Dastan tertawa mendengar ucapan Pandu. "Sekarang pemimpin geng kita mulai jadi budaknya cinta." Ega pun ikut tertawa dan Pandu sendiripun hanya tersenyum mendengarnya padahal itu ejekan untuknya.


"Eh, kalau elo suka sama Talia terus cewek buta itu gimana jadinya?" tanya Ega tiba-tiba.


"Gue ngga peduli sih lagi pula gue udah menentang perjodohan ini dari dulu cuman orang tua gue aja tetep maksa," kata Pandu kemudian.


***


"Aku ngga tau gimana jadinya kalau ngga ada kalian berdua," ucap Ulya sambil menyisir rambutnya. Untung saja Nila membawa peralatan dandanannya dan Talia meminjamnya.


"Dia kenapa sih bisa jahat banget sama elo?" tanya Talia tak abis fikir.


"Aku juga ngga tau." Ulya menggelengkan kepalanya.


Talia menatap mata Ulya. "Lain kali kalau dia berulah lagi sama elo panggil kita aja," ucap Talia.


"Kita?" gumam Nathan yang berdiri di dekat mereka.


Talia langsung menoleh ke Nathan, Talia menggerutu lalu Talia melihat Ulya lagi dan membantu Merapikan rambutnya.


Nathan tersenyum tipis melihat raut wajah Talia yang menggerutu tadi.


Kini mereka bertiga keluar dari ruangan UKS tersebut dan sedang berjalan menuju ke kelasnya.


"Sekali lagi makasih ya," ucap Ulya sambil tersenyum.


Talia membalas senyumannya agak lebar sambil mengangguk.


"Kalau gitu aku duluan ya," ucap Ulya lagi lalu berjalan pergi meninggalkan Talia dan Nathan.


Sekarang hanya ada Nathan dan Talia yang sedang berjalan menuju ke kelasnya. Mereka berdua hanya diam, suasana begitu hening. Talia yang lebih pendek dari Nathan terlihat imut bagi Nathan, sesekali Nathan melihati Talia untung saja Talia tidak memergokinya.


"Rasanya pengen gue peluk," ucap Nathan tiba-tiba.


"Apa?" Talia mendongakkan kepalanya melihat Nathan.


***


"Apa?!" kaget Anita.


"Iya Nit, Nathan sama Talia yang bantu Ulya keluar dari kamar mandi," sahut Sisi.


"Iya, kita juga tadi ngga sengaja lihat mereka keluar dari ruangan UKS," tambah Lisa.


"Ekhem! Ekhem!" Agis berdehem ketika Ulya masuk kelas. Anita bersama Sisi dan Lisa langsung melihat Ulya.


Anita berjalan menghampiri Ulya yang akan duduk. Anita berjalan mondar-mandir di samping Ulya. "Kali ini elo boleh lolos," ucap Anita setelah itu berjalan kembali ke tempat duduknya dan Pak Udin masuk ke kelas mereka, siap untuk memberi pelajaran pada semua murid.


***


Bel berbunyi menandakan bahwa semua murid di perbolehkan untuk pulang.


"Elo ngga pulang?!" teriak Bima pada Angga yang sedang bermain basket sendirian.


Angga memasukan bola ke ring setelah itu ia melihat Bima yang duduk di kursi panjang.


"Elo duluan aja kalau mau!" teriaknya balik.


Bima terkekeh mendengarnya, "Sekolahan udah sepi dan elo di sini sendirian, elo ngga takut sama rumor tentang sekolahan ini?!"


Angga membanting bolanya sambil terkekeh juga. "Elo pikir gue masih aja anak SMP?" Angga menghampiri Bima.


"Iyalah, elo 'kan waktu itu penakut banget." Angga tidak terima atas ledekan Bima dan kini mereka bergulat sambil meledek satu sama lain.


Sementara itu, Ulya tersenyum melihat keakraban mereka, Ulya melihat mereka dari lantai atas setelah itu Ulya berjalan untuk turun dan pulang.


____


To be continued ....


Jangan lupa vote dan komen! ;)