
Ulya mengayun sepedanya, cuaca hari ini sangatlah panas. Ulya mengusap pelipisnya yang mulai di aliri oleh keringat. Ulya mendongakkan kepalanya, matanya menyipit karena sinar matahari yang cukup terang. Setelah itu Ulya semakin mengayun sepedanya lebih cepat agar segera tiba di rumah dan beristirahat.
Setiap hari Ulya seperti ini bahkan sejak SMP, pulang pergi sekolah hanya mengendarai sepeda tapi setidaknya Ulya merasa bersyukur karena hidupnya jauh sedikit lebih baik daripada orang-orang yang pernah Ulya temui, karena banyak anak-anak sepantarannya ingin sekolah tapi tidak dapat melakukannya karena hidupnya yang sangat tidak berkecukupan.
Ulya memarkirkan sepedanya di tempat biasanya setelah itu ia berjalan masuk ke rumah. Ulya melihat sekeliling rumah ini yang begitu sepi lalu Ulya berjalan masuk ke kamarnya.
Ulya menutup pintu kamarnya, ia meletakkan tasnya di tempatnya kemudian matanya melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 03.00 PM. Ulya mengembuskan napasnya pelan, ia hanya mempunyai waktu satu jam untuk beristirahat karena tepat jam 04.00 PM ia harus tiba di tempat kerjanya.
Ulya mengganti pakaiannya setelah itu ia beralih ke meja belajarnya, Ulya mulai memencet tombol keyboard komputernya, ia harus menyicil mengerjakan PR yang di kasih Pak Udin tadi.
***
Talia memasuki kamarnya lalu duduk di tepi kasur. Setiap masuk ke kamar tatapan pertamanya adalah sebuah poto yang berukuran sedang yang berada di atas meja dekat kasur tersebut. Talia mengambil poto itu, ia mengelus poto itu, tanpa sadar Talia mulai meneteskan air matanya.
"Jhony! Jhony!" Talia berteriak sambil memandangi pesawat yang semakin melaju jauh.
"Elo kenapa tega ninggalin gue?! Elo kenapa jahat jadi cowok?! Apa elo beneran ngga mikirin perasaan gue? Ha?!!" Di sela-sela tangisnya Talia berucap seperti itu.
Talia begitu rapuh ketika seseorang yang amat ia cintai meninggalkan dirinya secara tiba-tiba.
Talia mengusap air matanya, ia kembali meletakkan Poto itu di meja kemudian Talia mengganti pakaiannya.
***
Hari berganti malam, Nathan membuka pintu samping ia berjalan menuju ayunan yang berada di taman samping rumahnya. Nathan duduk di ayunan tersebut sambil memainkan gitarnya. Jari-jari Nathan begitu lihai memetik senar-senar gitar tersebut sehingga menghasilkan nada yang begitu perfect.
Nathan tiba-tiba tersenyum dan menghentikan hobinya itu. Sosok wajah wanita itu melintas di pikiran Nathan sehingga laki-laki itu terus-menerus malah memikirkannya.
***
Seperti biasa, Talia tiba di sekolah dengan mobil mewahnya. Gadis itu selalu menjadi sorotan para murid. Hingga akhirnya Nathan menghampirinya, Nathan berjalan di samping Talia sambil membenarkan dasinya dan berdehem. Talia yang mendengar deheman Nathan hanya melihatnya sekilas lalu melanjutkan perjalanannya.
"Serius gue di cuekin?" gumam Nathan dalam hati. Kemudian Nathan berjalan lebih cepat membututi Talia.
***
"Elo pasti nungguin gue ya 'kan?" kata Bima sambil duduk di samping Anita.
"Ih kok elo sih yang datang?" cetus Anita.
"Angga mana?" imbuhnya sambil celingukan mencari Angga.
Tadi malam Anita mengirim pesan pada Angga, Anita mengajaknya untuk bermain piano bersama di saat jam istirahat tapi ternyata Angga malah menyuruh Bima yang datang untuk menemani Anita bermain piano.
"Tuh Angga lagi nyiram tanaman sama Ulya," jawab Bima.
"What?!" Anita kaget sekaligus terlihat murka.
"Apa-apaan sih mereka, ini nggak bisa di biarin," lirih Anita tapi masih dapat di dengar oleh Bima.
"Eh, eh, elo mau ke mana?" tanya Bima sambil menarik baju Anita hingga Anita terduduk di kursinya tadi.
"Elo apaan sih," gerutu Anita sambil menepis tangan Bima.
Bima mulai menekan tombol piano tersebut.
"Balonku ada lima ... Rupa-rupa warnanya ... Hijau kuning kelab--"
"Apaan sih elo Bim, ngeselin banget deh. Buang-buang waktu aja!" Anita langsung beranjak dari duduknya dan segera menghampiri Angga dan Ulya yang sedang menyiram tanaman berdua.
"Eh gue udah susah-susah payah nyanyiin buat elo Nit, ngga terimakasih banget," sahut Bima sambil melihat Anita berjalan keluar dari ruangan sastra tersebut.
"Salah gue apa coba?" imbuhnya kemudian.
***
"Elo ngga merasa bersalah sama gue gitu?" ujar Nathan pada Talia yang sedang memilih buku di perpustakaan.
"Soal?" tanya Talia tanpa menoleh pada Nathan.
"Soal tadi pagi elo nyuekin gue," jawab Nathan begitu saja.
Talia yang mendengar itu langsung mengangkat alisnya dan menoleh pada Nathan.
"Karena itu?" tanya Talia tak abis fikir, sampai segitunya karena di cuekin sampai di permasalahin.
"Iyalah, masa cogan kayak gue di cuekin sih," ucapnya percaya diri sambil membenarkan dasi abu-abunya.
Talia berdesis lalu berjalan mencampakkan Nathan begitu saja.
***
"Akhir-akhir ini Non Kirana susah banget buat makan, Bu," ucap Bu Hana pada Sinta ibunya Pandu.
Sinta melihat Kirana yang sedang duduk di taman samping rumahnya. "Kasihan," lirihnya.
Beberapa menit kemudian
"Elo kenapa sih bisanya gangguin gue aja? Gue lagi have fun sama temen-temen gue tapi selalu aja elo memotong waktu kebersamaan gue sama temen-temen gue." Pandu yang baru saja menghampiri Kirana langsung berbicara kasar pada Kirana tanpa berfikir lagi tentang perasaan Kirana.
Kirana tidak bisa berucap lagi, karena di saat tengah-tengahnya melamun Pandu datang dan langsung berbicara seperti itu. Refleks, Kirana kaget juga sakit hati.
"Tinggal makan aja apa susahnya." Pandu meletakkan piring berserta makananya di pangkuan Kirana hingga tongkat yang di pegang Kirana terjatuh. Sedikit kasar karena Kirana merintih kesakitan pada tangannya yang berada di bawah piring tersebut.
Kemudian Pandu duduk di samping Kirana sambil memainkan ponselnya. Kirana juga mulai memakan makanannya tersebut.
______
To be continued ....
Uwuwuwu gimana nih menurut Readers? Pandu makin kasar aja nih sama Kirana jadi tambah kasihan dong Kirana:'(
Jangan lupa Like, Vote dan komennya🥰💃