AISY

AISY
Kasih sayang Ibu



Talia tengkurap, darah di kakinya tetap mengalir, bercak darah hampir memenuhi seprai putih milik Talia.


"Talia ... sayang ...." Talia membuka matanya ketika mendengar suara merdu dari Ibunya. Kepala Talia beralih ke paha Ibunya. "Ma, Jhony Ma," ucapnya dengan suara yang getir.


Wanita itu merasakan apa yang di rasakan putrinya, dengan lembut ia mengelus rambut putrinya, ia tahu jika Talia menangis karena pahanya basah.


"Sayang ... manusia di bumi ini tidak ada yang kekal. Semua orang memang wajib harus merasakan kehilangan orang yang kita sayangi, itu semua memang sudah kodratnya." mendengar kalimat Ibunya, Talia sesenggukan.


"Tapi Mama tau'kan kalau Talia sayang banget sama Jhony. Talia udah kehilangan Papa, Talia juga ngga mau harus kehilangan Jhony juga," kata Talia di sela-sela tangisnya.


"Sayang ... ada Mama di sini."


"Iya Talia tau, sekarang cuma Mama satu-satunya yang Talia punya," kata Talia lagi.


"Mama jangan pergi-pergi lagi, Talia nggak sanggup harus hidup sendiri, cukup Papa sama Jhony aja," tambah Talia sambil sesenggukan.


Spontan wanita itu langsung memeluk Putrinya, ia juga ikut menangis, ia bisa merasakan kerapuhan putrinya, kehancuran hati putrinya.


"Hussttt ... Mama nggak akan pergi-pergi lagi," ucapnya sambil menepuk pelan punggung Talia.


Selang berapa menit Talia sudah tidak menangis lagi kemudian Ibunya melepas pelukannya ketika Bi Inah masuk ke kamar Talia sambil membawa makanan. Wanita itu menyilakan rambut Talia yang menutupi wajahnya.


"Sekarang kamu makan ya, sayangi tubuh kamu. Kalau kamu kayak gini percuma dong Mama kerja, alasan Mama bertahan hidup sampai saat ini ya karena kamu. Sekarang ayo makan." Ibu Talia mengambil makanan di nampan lalu menyuapi Talia.


***


Keesokan harinya, tubuh Talia sudah mulai berenergi. Pagi-pagi ia berangkat sekolah di antar dengan Ibunya sekaligus berangkat ke kantor.


"Hati-hati ya sayang ...." wanita itu mengecup kening Talia lalu Talia turun dari mobil. Talia melambaikan tangan ketika mobil hitam itu melaju.


Talia berjalan di koridor sekolah, matanya tak henti-hentinya melihat sekelilingnya tiba-tiba mata itu bertemu dengan mata Nathan. Mereka saling menatap tanpa berkata sekata pun kemudian Talia melanjutkan langkahnya. Nathan memutar tubuhnya melihat punggung Talia yang semakin menjauh dari pandangannya.


***


Pandu memasuki perpustakaan, ia melihat Talia sedang memilah-milah buku lalu Pandu menghampiri Talia.


"Apa kabar?" tanya Pandu. Pandu bersandar pada rak buku sambil bersedekap.


Talia melirik ke Pandu. "Baik," jawabnya.


Pandu tersenyum simpul. "Sikap elo yang begini bikin gue kangen. Di saat elo cuek, elo kelihatan lebih cantik," gumam Pandu dalam hati.


Talia berjalan ke arah kursi yang sudah di sediakan di situ, ia sambil membaca buku. Tiba-tiba serangga jatuh di buku yang di bacanya, sontak Talia berteriak dan menjatuhkan buku itu, ia langsung berlari ke arah Pandu dan memeluk Pandu.


"Aaa ... astaga naga jijik banget!!!" teriaknya ketakutan.


"Serangga kurang ajar!" tambahnya.


Talia memeluk Pandu begitu erat. Begitu sadar, Talia jadi kikuk, ia perlahan melepas pelukannya. Talia menjadi salah tingkah.


***


Angga dan Ulya bermain piano bersama di ruangan sastra, mereka sambil bernyanyi. Sesekali mereka saling pandang dan melempar senyuman.


Angga ingin sekali mengutarakan perasaannya kepada Ulya tapi ia selalu mengurungkannya, seolah waktunya belum tepat.


Sementara itu di bilik jendela ruang Sastra itu terdapat Agis dan teman-temannya.


"Gadis kampung itu sementara ini emang aman karena Anita sedang Amnesia. Coba aja kalau Anita nggak Amnesia mungkin sudah habis di buatnya," ucap Agis sambil melihat Ulya dan Angga sedang bernyanyi sambil bermain piano bersama.


***


"Mau nambah Ayamnya Nak?" tanya Ibu Talia. Talia mengangguk. Talia begitu lahap menyantap makanan itu, jelas saja dia seperti rakus karena satu minggu lebih ia hanya mematung di kamar dan tidak mau mengisi perutnya sedikit pun.


"Ma mau juga jamur tiram nya," ucap Talia.


"Terus sama rendang-- uhuk uhuk ...." Talia terbatuk karena mulutnya penuh dengan makanan ia memaksakannya untuk ngomong.


"Telan dulu yang di mulut baru ngomong," ucap Ibu Talia sambil meletakkan tumis jamur di piring Talia.


"Grrgghhkkk ...." Talia bersendawa, ia memegangi perutnya yang buncit.


"Kenyang," ucapnya.


Ibu Talia tersenyum melihat putrinya yang sedang kekenyangan itu. Lalu ia melihat makanan di meja ludes, di habiskan oleh Talia.


"Kalau kayak gini'kan enak ya Bi, nggak sia-sia juga saya bekerja," ucap Ibu Talia bermaksud menyindir putrinya.


"Dari pada nangis selama seminggu nggak ada hasilnya malah memperburuk kondisi," tambahnya lagi.


"Ah Mama apa sih ...," gerutu Talia.


Bi Inah dan wanita itu tertawa ketika Talia menyadari jika dirinya sedang tersindir.


***


Nathan masih berduka atas meninggalnya sahabatnya itu. Ia memutar video yang ia buat bersama Jhony waktu itu. Saat di pertengahan durasi video tersebut, Nathan melihat Jhony membukakan pintu dan masuklah Talia, kemudian Jhony menyuruh Talia untuk duduk setelah itu Jhony memberi kejutan boneka beruang besar pada Talia.


Nathan menyadari, cinta Talia pada Jhony memang besar begitu sebaliknya, mereka cinta sejati tetapi tidak di takdirkan untuk bersama. Hal seperti ini sangatlah menyakitkan, takdir tidak menginginkannya untuk bersama.


Kemudian Nathan mengambil kotak kecil di lacinya, ia membuka kotak itu dan mengambil sebuah memori lalu memasangkan memori itu di laptopnya. Nathan meng-klik berkas yang bertulisan "Tany" itu adalah singkatan nama Talia dan Jhony. Setelah meng-klik berkas tersebut Nathan melihat poto-poto mereka, saat mereka liburan di pantai bersama, saat mereka sedang bermain game bersama, sedang berada di pesawat, dan masih banyak hal lainnya. Kemudian Nathan memutar video mereka.


"Selamat ulang tahun! Tetap menjadi Jhony yang apa adanya dan makin sayang sama aku, semoga panjang umur dan sehat selalu."


Begitulah kata Talia dalam video tersebut. Talia berucap seperti itu sambil memasangkan topi kerucut di kepala Jhony.


Nathan mematikan laptop tersebut setelah menonton video itu. Ia memejamkan matanya, ia memijat pelipisnya.


Nathan berpikir, mana mungkin dirinya bisa mengambil hati Talia, Talia saja sangat menyayangi Jhony, hatinya seperti hanya untuk Jhony.


"Haruskah aku melakukannya seperti dirimu atau dengan caraku sendiri? Agar Talia tertarik padaku dan agar aku bisa menepati janji itu," batin Nathan.


***


Rasa sayang di hati perlahan akan hilang jika sudah waktunya. Memang benar, sekarang ini masih terbelenggu dengan kesedihan yang di rasakannya. Jika kamu berusaha membuatnya untuk mencintaimu, percayalah semua itu pasti ada jawabannya yang membuat usahamu tak sia-sia.


***


To be continued ....


**Cuap-cuap Author:³:³


Btw guys Nathan sedang memikirkan cara agar Talia bisa menyukainya, bisa jatuh cinta padanya, hm kasihan banget ya Natha harus ada janji sama Jhony:'


Untuk readersku tercinta jangan lupa vote dan komen serta like ya 😚😚


Nantikan part selanjutnya 🤗💃**