AISY

AISY
Pacar kontrak



Kini skor mereka sama, empat belas sama. Waktu permainan tinggal tiga menit lagi.


"Sial! Gue harus bisa ngalahin dia," gumam Talia.


Tapi saat itu Pandu melakukan pukulan yang tak bisa Talia bendung. Akhirnya kok itu jatuh dan jelas Pandu yang memenangkan permainan ini. Pandu tersenyum simpul, setelah itu ia berjalan mendekati Talia. "Gue yang menang dan tepati perjanjian tadi," katanya lirih. Kemudian Pandu berjalan pergi.


Nathan merasa menyesal telah menyaksikan permainan ini lalu Nathan juga berjalan pergi dari tempat ini. Talia menelan ludahnya, ia berjalan menuju kursi panjang yang ada di situ.


***


Talia mengambil baju di lokernya lalu ia pergi ke toilet untuk mengganti pakaiannya. Seusai mengganti pakaiannya, ia mencuci mukanya lalu menatap dirinya di kaca.


***


Pandu tertawa bahagia, akhirnya hal yang ia inginkan dari dulu telah tercapai, gadis itu telah menjadi miliknya.


"Seneng banget elo kayaknya," ujar Dastan.


Pandu tertawa kecil, "Gimana gue nggak seneng, akhirnya dia jadi milik gue juga." Pandu meletakkan raketnya di lemari kecil miliknya.


"Talia maksud elo?"


"Ya jelas, siapa lagi kalau bukan dia," ujar Pandu.


***


Talia keluar dari kamar mandi, ia melihat Nathan berjalan di depannya. Talia ingin memanggil tapi Nathan seperti tidak menghiraukan Talia, atau bahkan Nathan tidak melihat Talia. Talia tidak berpikir panjang bahwa sebenarnya Nathan kecewa padanya.


Talia melanjutkan langkahnya yang akan menuju kelas. Padahal ia berjalan di belakang Nathan, Talia menundukkan kepalanya. Nathan menyadari jika Talia berjalan di belakangnya, Nathan juga tak abis pikir jika Talia akan menjadi pacar Pandu. Nathan menghentikan langkahnya, Talia yang masih saja berjalan ia menabrak punggung Nathan. Talia langsung mengangkat wajahnya, begitu Nathan juga langsung membalikkan badannya. Talia menatap mata Nathan. Nathan memegang tangan Talia dan membawanya ke gedung atas.


Sesampainya di gedung atas, Nathan menatap dalam-dalam mata Talia. Lalu ia membuang napasnya gusar.


"Kenapa Elo mesti terima tantangan Pandu?!" Nathan memegang kedua pundak Talia. Talia bingung harus menjawab apa, ia hanya diam.


"Jangan pura-pura nggak tau, gue yakin elo pasti tau," tambah Nathan. Talia masih membisu.


"Ta, tatap gue. Gue yang beneran tulus sayang sama elo," ungkapnya dengan bibir yang bergetar. Mendengar itu Talia menelan ludahnya.


"Gue nggak ikhlas--" Nathan menghentikan ucapannya dan membalikan badannya membelakangi Talia.


"Gue nggak ikhlas elo jadi milik siapapun meskipun hanya pacar pura-pura!" serunya sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.


Nathan membalikkan badannya menghadap Talia, "Elo pasti tau ini kan? Tapi seolah elo nggak tau."


Di luar dugaan, Talia malah berjalan pergi dari sini. Setelah Talia benar-benar tidak ada di sini, Nathan menendang drum yang ada di situ.


***


Talia menuruni tangga, di setiap langkahnya air matanya menetes. Ketika berada di lantai bawah, Talia langsung mendapat pelukan dari Pandu. Ia menepuk-nepuk pelan punggung Talia, di situ Talia semakin terisak. Nathan yang berada di tengah-tengah tangga melihatnya.


***


Ulya berada di UKS, ia mengobati luka di tangannya akibat silet yang hendak ia gunakan untuk meruncing pensil miliknya.


Ulya menaruh kotak P3K di tempatnya, lalu ia berjalan keluar dari ruangan ini. Tak lama Ulya keluar, kini Nathan yang masuk ke ruangan ini. Nathan membaringkan tubuhnya, meletakkan kedua tangannya di belakang kepalanya lalu memejamkan matanya.


Bayangan Talia di mana-mana, semakin ia ingin menghilangkan, bayangan itu semakin menjadi, menguasai mata Nathan.


***


Hari telah berganti malam, Anita yang sedang menyetir mobil mendapat notifikasi dari HPnya. Ia membuka pesan dari Agis. Ternyata isi pesan itu, foto Ulya dan Angga sedang bermain piano bersama. Anita memanas melihat kedekatan mereka berdua, ia membanting HPnya lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Darah berlumuran di pelipis Anita, polisi dan orang-orang mengerumuni mobil Anita. Polisi segera mengeluarkan Anita dari mobilnya lalu memasukkan Anita ke ambulance. Ambulance itu segera melaju menuju rumah sakit.


"Dok, gimana keadaan anak saya?" tanya Fitri selaku Ibu Anita.


"Anak Ibu mengalami koma, perkiraan untuk sadar sekitar satu atau dua bulan." Begitulah penjelasan dari Dokter Bayu.


" Ya Allah ...." gumam Fitri sambil melihat suaminya, air matanya menetes.


"Kalau begitu saya tinggal," ucap Dokter Bayu lalu pergi. Setelah itu Fitri beserta suaminya masuk ke dalam, melihat kondisi putrinya.


Fitri memegang tangan putrinya. "Kok bisa sih Nak ...," ucapnya melihat sekujur tubuh putrinya.


"Ma, Anita pasti sembuh kok," ujar Danang, suaminya Fitri, Danang menenangkan istrinya.


***


"Apa?!" kaget Bima setelah mendengar jika Anita kecelakaan dan mengalami koma.


"Iya Bim, elo bilang juga ya ke Angga, biar Anita seneng kalau sudah sembuh kalau Angga menjenguknya selama koma," tutur Agis.


Ia mengangguk mengiyakan, ia langsung melemas mendengar kabar itu. Baru saja tiba di sekolah langsung di sambut oleh kabar buruk itu.


***


"Elo mau ke mana Bim?" tanya Angga ketika mendapati Bima mencangklong tasnya dan terburu-buru.


"Bima!" Angga membuntutinya.


Bima sudah berada di mobil tapi ia tetap tak menghiraukan Angga yang memanggilnya. Kemudian Angga menyusulnya dengan mobilnya sendiri.


"Rumah sakit?" monolog Angga ketika Bima berhenti di rumah sakit. Di situ Angga melihat Bima turun dari mobilnya. Segera Angga juga turun dan mengikuti Bima dari belakang.


"Pasien yang bernama Anita." Angga mendengar Bima berucap begitu.


"Di ruangan Anggrek nomor lima," ucap Suster. Langsung Bima menuju ruangan itu, Angga masih mengikutinya.


Bima masuk ke ruangan tersebut, ia melihat Anita terbaring lemah di kasur, wajahnya pucat dan tak sadarkan diri. Bima duduk di kursi sambil menatap wajah Anita. Sementara itu Angga melihatnya dari balik kaca pintu ruangan tersebut.


***


Saat di kantin Nathan tidak sengaja melihat Talia dan Pandu makan berdua, mereka memang terlihat seperti orang pacaran, Pandu begitu perhatian dengan Talia padahal Talia cuek-cuek saja.


Nathan mampir hanya membeli minuman saja lalu ia pergi dari ruangan kantin ini, Talia melihat Nathan yang berjalan keluar. Entah kenapa Talia merasa hatinya sakit ketika Nathan mendiaminya. Talia sadar dia telah menyakiti hati Nathan.


****


Saat Nathan berjalan di koridor sekolah, ia bersalipan dengan Talia dan Pandu yang juga jalan berdua. Talia melihat Nathan lagi yang mendiaminya. Lalu Pandu memegang tangan Talia dan Talia kembali memerhatikan ke depan.


***


Ketika pulang juga, saat Nathan menuju mobilnya, ia melihat Pandu membukakan pintu mobil untuk Talia dan Talia masuk ke mobil itu. Talia melihat Nathan masuk ke mobilnya, hari ini Nathan benar-benar tak menghiraukan Talia, Talia merasa hampa di hatinya. Kemudian Pandu melajukan mobilnya untuk mengantarkan Talia pulang.


____________


To be continued ....


cuap cuap Author:³:³


Jangan lupa vote dan komen serta like🤗🤗


Jangan di anggurin dong ceritanya, sayang banget tauuu