
Pagi ini, Talia tiba di sekolah pagi-pagi sekali. Ia membuka pintu kelas, hal yang tak terduga di lihatnya ialah kertas origami yang di bentuk burung dan lukisan besar dirinya. Talia berjalan mendekati lukisan itu, lukisannya begitu mirip dengannya, saat ia memegang lukisan itu tiba-tiba lampu warna-warni menyala menghiasi ruangan ini yang tambah indah. Talia dikejutkan oleh menyalanya
lampu itu lalu ia melihat ke atas dan ternyata lukisan dirinya berada di mana-mana yang sudah di susun rapi di dinding. Nathan masuk ke ruangan itu juga, Talia diam mematung sambil melihat Nathan. Nathan tersenyum ketika berada di hadapan Talia.
"Maafin gue ya. Gue tahu elo kecewa sama gue. Tapi ini semua bukan sepenuhnya salah gue, ini juga kemauan Jhony dan gue cuma nurutin aja kemauannya," ujar Nathan menatap mata Talia.
Talia menghela napasnya, ia mengalihkan pandangannya, "Ini semua sudah direncanakan, jadi gue bisa apa? ... Selain kecewa."
Nathan menelan ludahnya. "Jadi elo bisa'kan maafin gue?" tanya Nathan memastikan.
"Gue butuh waktu," jawab Talia kemudian keluar dari ruangan itu. Mendengar itu Nathan hanya bisa memejamkan matanya. Jujur, Nathan merasa bersalah dengan Talia karena dia telah menyembunyikan semuanya sehingga Talia jadi membencinya.
***
Talia!" panggil Nila, seketika Talia langsung menghentikan langkahnya.
Nila memegang tangan Talia. "Gue turut berduka ya," ucapnya. Talia hanya membalasnya dengan senyuman.
"Yang sabar ya, gue tahu elo orang yang kuat," tambahnya sambil mengelus-elus punggung Talia.
"Gue nggak apa-apa kok, cuman hati gue aja yang hancur, ucap Talia sambil melangkahkan kakinya dan di ikuti oleh Nila.
"Elo tahu ngga sih, orang yang selama ini dekat sama gue ternyata dia tahu tentang Jhony, gue merasa kecewa aja sama dia."
"Siapa orang itu?" tanya Nila penasaran.
"Pandu?" tebak Nila, Talia menggelengkan kepalanya.
"Jadi?"
"Murid pindahan itu," jawab Talia lalu menghela napasnya sambil duduk di kursi panjang yang ada di koridor sekolah.
"Nathan? Jadi selama ini dia tahu tentang kondisi Jhony kalau selama ini Jhony itu sakit," ujar Nila. Talia menganggukinya.
"Dan lebih tepatnya lagi, mereka itu sahabatan," tambah Talia.
"Whooo nggak beres tuh orang. Dia nggak tau apa kalau selama ini elo cari-cari informasi tentang Jhony malah dia sembunyiin," celoteh Nila.
"Hmm entahlah," gumam Talia.
Kemudian Talia dan Nila melihat Bima membopong tubuh Anita, Anita sepertinya pingsan. Bima tampak terburu-buru menuju ruang UKS.
"Eh kenapa tuh sama Anita?" tanya Nila.
"Ngga tau, ayo coba ikuti," ujar Talia lalu beranjak dari duduknya dan membututi Bima.
Sesampainya di UKS Bima membaringkan Anita, ia melepas sepatu serta kaos kaki Anita.
"Ada apa sama Anita, Bim?" tanya Talia.
"Agis dan teman-temannya memaksa Anita untuk mengingat mereka alhasil begini jadinya," ujar Bima.
"Memangnya Anita amnesia?" ya, Talia belum tahu jika Anita mengalami amnesia. Bima mengangguk mengiyakan pertanyaan Talia. Talia ikut iba dengan cobaan yang sedang di timpa Anita.
***
"Mama kenapa sih selalu selalu selalu paksain Pandu buat mau di jodohin sama Kirana." Pandu menggeram marah.
"Kalau kamu nggak mau dijodohin sama Kirana kita mau hidup pake apa? Kamu juga ngga akan bisa sekolah setinggi ini, itu semua dari siapa? Ya dari Ayah Kirana," ujar Sinta pada putranya.
"Sampai kapanpun aku nggak mau dijodohin sama Kirana. Dia nggak pantas buat aku, Ma!" Pandu langsung keluar dari rumahnya sambil membawa mobilnya.
Sinta melihat mobil itu melaju dengan perasaan kesal karena Pandu tidak mau nurut dengannya. Pandu selalu membantah dan membantah, padahal Sinta selalu menuruti permintaannya tapi Pandu tidak menuruti permintaannya balik.
***
Anita membuka matanya, ia memegangi kepalanya lalu ia mengubah posisinya menjadi duduk. Bima langsung bangun dari tidurnya dan menghampiri Anita.
"Udah jangan banyak gerak dulu, badan elo masih lemas." Bima kembali membaringkan Anita lalu Bima memberi obat Anita dan air minum.
"So sweet banget ngga sih," ucap Nila pada Talia tapi pandangannya melihat Bima dan Anita.
"Bima sayang banget sama Anita tapi Anita sayangnya sama Angga," gumam Talia.
"Eh. Iya ... iya ... cinta segitiga dong," celetuk Nila.
"Bakalan rumit sepertinya. Tapi untung aja ya Anita kehilangan ingatannya, jadi dia ngga ngejar-ngejar Angga dan nggak merundung Ulya lagi."
"Dan ini juga kesempatan buat Bima," tambah Talia lagi.
"Wahhh ... kayak acara drama korea dong...." Nila berucap sambil tersenyum girang dan membayangkan seolah-olah dirinya menjadi Anita yang di perjuangkan oleh Bima.
Talia melirik ke Nila, "Mulai deh halunya."
***
Saat Nila dan Talia berjalan di area taman belakang sekolah, mereka melihat Ulya dan Angga duduk berdua sambil tertawa bahagia.
"Tuh kan lihat, mereka itu sama-sama suka," ujar Talia. Nila memerhatikan mereka.
"Mungkin karena sikap sederhananya Ulya yang membuat Angga menyukainya," gumam Nila.
"Bisa jadi," jawab Talia.
"Gue jadi iri." Talia melihat Nila sambil tersenyum geli.
"Iri ya? Tuh ada Dastan lagi duduk sendirian sana samperin," ucap Talia.
"Iih apaan sih elo, males banget." Nila berucap lalu memiringkan bibirnya.
"Hahaha...." Talia tertawa melihat sikap sahabatnya itu yang malu-malu kucing.
***
Nathan menunggu Talia di parkiran, tak lama Talia tiba di parkiran. Talia hendak masuk ke mobilnya tapi di hadang oleh Nathan.
"Minggir nggak," ucap Talia dingin.
"Gue nggak mau minggir sebelum elo maafin gue." Nathan berucap sambil memainkan kunci mobilnya.
Talia memutar bola matanya. "Sekali lagi gue bilang, minggir nggak." kali ini lebih dingin.
"Sekali lagi gue bilang, gue ngga mau minggir sebelum elo maafin gue." Nathan mengikuti ucapannya.
Talia mulai kesal, "Kalau gue bilang minggir ya minggir!!!" Talia menarik dasi Nathan lalu mendorongnya ke samping sampai Nathan terjatuh. Kemudian Talia masuk ke mobil dan melajukannya.
"Gila! Ngeri banget," gumam Nathan sambil membenarkan dasinya.
"Tapi kalau sama Jhony lembut," imbuhnya sambil berjalan menuju parkiran mobilnya.
***
Di perjalanan Talia kembali memikirkan kejadian tadi.
"Kasar banget ngga sih gue tadi?" pikir Talia.
Kemudian Talia menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan bayangannya tadi ketika ia menarik dasi Nathan dan mendorongnya sampai terjatuh.
"Udah lah bodo amat. Kenapa di pikirin sih, nggak guna banget," ujarnya setelah itu me-gas mobilnya.
***
Nathan pergi ke toko bunga, ia membeli buket mawar merah dengan ukuran jumbo. Nathan berencana untuk memberi kejutan pada Talia, agar Talia luluh lalu memaafkannya.
Tepat pukul tujuh malam Nathan tiba di rumah Talia, ia meletakkan buket itu di mobil Talia, karena Nathan tau jika Talia akan pergi bersama teman-temannya. Dan tak lupa di buket itu ada tulisan "Maafin gue"
****
To be continued ....
**Cuap-cuap Author :³
Terimakasih untuk kalian semua yang udah mampir :³
Tetap jaga kesehatan dan kebersihan kalian semua ya, juga tetap jaga stamina tubuh kalian :³
Author minta tolong banget sama kalian, untuk Vote, Like dan Komen. Dengan adanya itu Author jadi lebih bersemangat lagi :)
See you😚😚🤗💃**