
Satu bulan telah berlalu, Bima masih setia menemani Anita di ruang rawatnya. Tiba-tiba saja Bima melihat jemari Anita bergerak. Bima langsung memanggil dokter, lalu ia menelpon kedua orang tua Anita.
"Halo Tante, Anita sudah sadarkan diri," ucap Bima.
"Alhamdulillah. Terimakasih. Iya, Om sama Tante segera ke sana," ujar Fitri dari seberang telpon sana.
Bima mematikan telponnya lalu memasukkan ke dalam saku celananya setelah itu ia masuk untuk melihat Anita. Dokter sedang memeriksa Anita, tak lama Fitri dan Danang tiba dan masuk ke ruangan.
"Sayang, kamu sudah sembuh Nak," ucap Fitri sambil mengelus ubun-ubun Anita.
Anita mengerutkan dahinya, ia memegang tangan Fitri dan menyingkirkannya dari kepalanya.
"Kalian siapa?" ucap Anita tak mengenali Ayah dan Ibunya, juga Bima.
Mendengar itu mereka bertiga saling menatap. "Dok, ada apa dengan anak saya?" tanya Fitri pada Dokter Bayu.
Dokter Bayu memeriksa Anita lagi, ternyata Anita mengalami hilang ingatan akibat benturan keras antara dahi dan setir mobil.
Fitri langsung melemas dan akan jatuh tapi dengan cepat tubuhnya di topang oleh Danang.
"Pa, kenapa bisa begini Pa," lirih Fitri sambil menangis.
"Sabar Ma, ini cobaan dari Allah," ucap Danang menenangkan istrinya.
***
Kini Anita dan Bima berada di taman rumah sakit.
"Namaku Anita? dan kamu bernama Bima?" Anita sedang menghapalnya.
"Aku bersekolah di SMA Roma?" katanya lagi, Bima mengangguk mengiyakan sambil tersenyum.
"Umurku tujuh belas tahun? Dan aku blasteran Indonesia dan Australia?" lagi, Bima mengangguk mengiyakan.
***
Keesokan paginya, Anita di antar dengan supirnya ketika berangkat sekolah. Saat ia mulai berjalan di koridor sekolah, banyak siswa-siswa yang berbisik-bisik.
"Serius dia kehilangan ingatannya?" tanya siswa lain pada temannya.
"Berarti dia lupa dong sama Angga dan gak ngejar-ngejar lagi," kata yang lain.
"Kira-kira dia tetap jahat atau jadi baik ya?"
Banyak mereka yang membicarakan Anita. Anita melihat mereka bingung tapi Anita tetap acuh dan melanjutkan langkahnya.
"Anita !!!" teriak Agis sambil memeluk Anita yang sedang duduk di tempatnya.
"Kita kangen banget sama elo Nit," tambah Rina.
Anita melepas pelukannya, ia menatap wajah teman-temannya satu persatu.
"Kalian siapa?" ucap Anita yang membuat mereka melongo.
"Nit, ini gue Agis, ini teman-teman elo," ucap Agis mengingatkan Anita.
Anita mengerutkan dahinya, ia memegangi kepalanya setelah melihat Ulya dan Angga masuk kelas bersama.
"Aduh kepalaku," lirih Anita.
Bima langsung menghampiri Anita, ia memegang pundak Anita dari belakang. "Kalian pergi sekarang, jangan buat Anita untuk mengingat semuanya. Kondisinya belum benar-benar pulih," jelas Bima pada Agis dan teman-temannya.
Kemudian Bima menuntun Anita dan membawanya ke ruang UKS. Bima membaringkan Anita, lalu ia memberi minum pada Anita.
"Mereka tadi siapa Bim?" tanya Anita.
"Udah ngga usah di bahas dulu, sekarang elo istirahat aja dulu," jawab Bima lalu beranjak dari duduknya.
"Elo mau ke mana?" Anita memegang tangan Bima.
Pandu melihat tangan Anita yang memegang tangannya, di sisi lain Bima senang akan hal itu.
"Gue mau ke kelas, belajar," ujar Bima.
"Dan gue harus di sini sendirian gitu?"
"Kalau ada apa-apa, elo bisa telpon gue."
"Hm baiklah." Anita melepas tangannya, kemudian Bima keluar dari ruangan ini.
***
Talia memegang tangan Nathan. "Sampai kapan elo diamin gue?" tanya Talia.
Talia langsung berlari memeluk Nathan dari belakang. "Gue ngga tahan elo giniin Than," ujar Talia.
"Gue ngerasa hampa," tambahnya.
Nathan memegang tangan Talia yang melingkar di perutnya, ia menyingkirkan tangan itu lalu melanjutkan langkahnya.
Talia menangis melihat Nathan yang sudah tidak mempedulikan dirinya. Ia menangis tersedu.
***
Nathan masuk ke perpustakaan, ia membuka lembaran-lembaran kertas lukisannya. Kemudian Nathan mengambil kuas dan melanjutkan lukisannya yang belum selesai. Ternyata selama ini Nathan masih melukis Talia, rasa untuk Talia masih sama dan tidak akan berubah walau setitik kecil itu pun.
"Maafin gue harus bersikap begini," ucap Nathan dalam hati.
***
"Anita hilang ingatan?" tanya Angga pada Bima, Bima mengangguk mengiyakan. Mereka berdua berada di taman belakang sekolah.
"Semangat buat elo, ini kesempatan buat ambil hati Talia," ucap Angga menepuk bahu Bima.
***
Ulya hendak masuk ke ruang UKS, ia berpapasan dengan Anita yang hendak keluar. Ulya langsung menundukkan kepalanya, ia berjalan mundur sedikit untuk memberikan jalan pada Anita.
Ulya pikir Anita akan merundungnya tapi ternyata Anita malah mencampakkan dirinya. Ulya mengangkat wajahnya setelah Anita tidak ada di situ.
"Ada apa sama Anita," gumam Ulya.
***
Hari telah berganti malam. Talia duduk di pinggir kolam yang ada di samping rumahnya, ia memainkan kakinya di air. Pikiran Talia tiba-tiba tertuju pada Nathan, hal-hal yang ia lakukan berdua dengan Nathan. Talia kemudian memejamkan matanya, ia kesal pada Nathan yang berani mencampakkan dirinya.
"Jahat," ujar Talia.
***
Nathan masuk ke ruang rawat Jhony, sudah satu tahun lebih Jhony belum sadarkan diri dari komanya, alat-alat medis masih setia berada di sekitar tubuhnya.
"Cepat bangun Jhon. Gue yakin elo pasti sembuh," ucap Nathan, sambil melihat sekujur tubuh Jhony.
***
Pagi menyapa kembali, cahaya matahari menyinari wajah manis Talia. Talia membuka matanya perlahan lalu ia menutupi matanya dengan telapak tangannya.
Setelah itu Talia turun dari kasurnya dan menuju ke kamar mandi. Beberapa menit Talia keluar, ia langsung memakai seragam sekolahnya lalu memoles wajahnya.
Talia mengambil tas yang ada di lemari kecilnya lalu ia keluar dari kamarnya. Bi Inah sudah menyiapkan sarapan untuk Talia, tapi Talia malah menyeruput susunya lalu berjalan keluar. Di luar dugaan ternyata Pandu sudah menunggunya.
Pandu tersenyum pada Talia. "Sama gue," ucap Pandu.
Mau tak mau Talia harus dengannya. Talia masuk ke mobil setelah itu Pandu melajukan mobilnya.
***
Sesampainya di sekolah, mereka turun dari mobil bersamaan, saat berjalan menuju ke kelas Pandu langsung menggenggam tangan Talia.
"Ih apaan sih gak usah kayak gini juga lah." Talia berusaha untuk melepas genggaman Pandu, tapi Pandu semakin erat menggenggam tangan Talia. Talia berdecak.
***
Anita berjalan berdua dengan Bima, mereka terlihat sedang bercerita, Anita tertawa mendengar cerita Bima. Sementara itu, Angga memerhatikannya dari bilik pintu, lalu Ulya menghampiri Angga dan berdiri di sebelahnya.
"Jadi Anita kehilangan ingatannya?" tanya Ulya pada Angga.
"Iya. Setidaknya elo lega kan? Nggak ada yang ganggu elo lagi," ujar Angga.
"Iya sih ... Tapi aku merasa kasihan pada Anita, dia harus mengalami amnesia sampai berapa lama," tutur Ulya.
Angga menatap Ulya lalu berkata, "Jadi orang jangan terlalu baik. Elo aman untuk sementara ini, ketika ingatan Anita pulih gue selalu ada di sisi elo."
_______
To be continued ....
**Cuap-cuap Author:³:³
Jangan di anggurin dong part kali ini, Anita kehilangan ingatan kasihan banget guyss:(((
Jangan lupa vote dan komen serta like🤗🤗💃**