AISY

AISY
Nathan jealous



Talia telah sampai di sekolahannya, ia langsung turun dari mobilnya lalu berjalan menuju kelasnya. Gadis jawa yang berwajah manis itu selalu mencuri perhatian siswa-siswa di SMA Roma ini. Talia tersenyum tipis melihat orang-orang yang menatapnya.


Di situ pula, Pandu rasanya semakin jatuh cinta pada Talia, melihat tubuh dan wajah gadis itu seperti eksotis.


"Elo harus jadi milik gue," gumam Pandu. Kemudian Pandu melanjutkan langkahnya untuk masuk ke kelasnya.


Talia meletakkan tasnya di laci sembari duduk. Tak lama Bu Susan datang untuk mengajar Matematika. Suasana mulai hening karena semua murid sedang memperhatikan penjelasan Matematika dari Bu Susan.


dua jam telah berlalu, sekarang saatnya semua murid beristirahat. Talia keluar dari kelasnya, ia berjalan menelusuri koridor sekolah menuju ruangan Sastra. Ketika Talia hendak membuka pintu ruang Sastra itu terdengar alunan musik piano. Talia mendengarkannya baik-baik, Talia bisa merasakan bahwa musik itu mempunyai banyak makna. Setelah itu Talia perlahan membuka pintunya, ia mendapati seorang laki-laki yang ia temui di ruang UKS minggu lalu. Talia menutup pintu itu lagi dan berdiri membelakangi pintu ketika laki-laki itu juga melihat Talia. Talia memastikan lagi, ia melihat name tag yang ada baju laki-laki itu. Memang benar, Pandu rupanya. Talia merasa salah tingkah ketika Pandu melihatinya. "Khem ... Ekhem ...," dehemnya sambil berjalan melihat-lihat alat musik lainnya.


Talia mengambil gitar. "Gue tadi ngga sengaja denger suara piano yang elo mainkan," ucapnya seraya duduk di kursi yang ada di tempat ini. Mendengar itu Pandu hanya menanggapinya dengan tersenyum. Talia hanya meliriknya, dia juga tidak peduli dengan tanggapannya Pandu meskipun sedikit kesal. Kemudian Talia membuka buku kunci gitar yang ada di meja sampingnya lalu ia menaruh buku itu di depannya, Talia sedang belajar bermain gitar dan menghapal kunci-kunci gitar. Talia sudah hapal untuk kunci-kunci dasarnya, tapi untuk mempelajari kunci selanjutnya Talia merasa kebingungan jarinya masih agak kaku. Talia berdecak, ia memasang wajah kesal. Tiba-tiba Pandu menghampirinya dan mengambil gitar itu. "Elo harus perhatikan ini," ucapnya. Pandu memainkannya pada bagian kunci yang sulit dan Talia tentu memperhatikannya.


"Sekarang elo coba," kata Pandu sambil memberikan gitar itu pada Talia, Talia mengambilnya dan Pandu mengambil gitar lagi yang ada di lemari.


"Ikuti gue," titah Pandu.


Talia mengikuti jari Pandu, perlahan ia mulai memainkan kunci gitar tersebut. Namun, saat itu Pandu terkekeh, refleks, Talia menghentikan mainan gitarnya. Pandu menjadi tersenyum ketika tatapan polos gadis itu melihatnya. "Gak seirama," ujarnya.


Pandu memegang tangan Talia dan mengajarinya. Tangan Pandu melengkung di belakang badan Talia, deruan napasnya terdengar jelas di telinga Talia. Jarinya yang memegang jemari Talia memetik gitar itu sehingga iramanya menjadi tepat. Talia tersenyum mendengar iramanya, juga ternyata di balik sikapnya yang dingin Pandu adalah seseorang yang lembut.


Tiba-tiba di tengah keseruan mereka, seseorang membuka pintu. Nathan tercengang melihat Talia dan Pandu yang sedang belajar bermain gitar. Begitu langsung mereka menghentikan mainannya.


"Sorry, ganggu," katanya langsung menutup pintu dan pergi.


Talia segera berdiri dan mengejar Nathan. Entah kenapa, Talia merasa bersalah pada Nathan, padahal Nathan belum menjadi siapa-siapanya.


***


"Eh, elo gadis norak!" panggilnya memanggil Ulya.


Ulya menoleh pada sumber suara itu, karena kiranya Anita tidak memanggil dirinya, Ulya menoleh karena penasaran siapa yang di panggil oleh Anita. Orang-orang yang di situ tidak ada yang menyahut. lalu Ulya bertanya pada Anita, "Aku?"


"Iyalah, siapa lagi kalau bukan elo," jawabnya dan tak lupa dengan mata sengitnya.


Sabar dan penuh sabar, Ulya langsung menghampiri Anita, ia berdiri tepat di depan Anita.


"Gue mau pinjam ini," ucap Anita seraya mengambil selang yang di pegang oleh Ulya. Anita tersenyum kecut, lalu ia menyiram Ulya dengan air yang di selang tersebut. Kemudian Anita tertawa, dan antek-anteknya juga ikut tertawa. Sedangkan Ulya, hatinya merasa sakit melihat dirinya di perlakukan semena-mena oleh Anita apalagi masih di jam sekolah, dan baju seragamnya basah kuyup di tambah Ulya tidak memiliki baju seragam lagi, tidak mungkin jika Ulya membolos sekolah tapi jika tetap sekolah bajunya basah.


Dari jauh sana, Angga melihatnya, dengan segera Angga menghampirinya. Angga langsung merangkul pinggang Ulya dan membawanya pergi dari perangkap air itu. Ulya yang sedari tadi menunduk dan menangis, kini ia mendongakkan kepalanya dan matanya tepat menatap Angga. Refleks, Ulya pun langsung memeluk Angga, dirinya saat ini benar-benar membutuhkan sandaran dari seseorang. Anita yang melihatnya semakin kesal, ia menjatuhkan selangnya lalu pergi meninggalkan tempat itu dan antek-anteknya juga mengikutinya.


Saat ini, Angga dan Ulya berada di kamar mandi sembari menunggu baju seragam yang sedang Angga pesan. Sekitar lima belas menit menunggu, akhirnya baju itu datang dan di bawa oleh Bima. Kemudian Bima juga membawa Mba-mba perias untuk merias Ulya, apalagi rambut panjang milik Ulya basah dan terlihat ruwet. Memang sih ini terlihat berlebihan, tapi apalah daya orang kaya itu bebas.


Bima dan Angga keluar dari kamar mandi itu, sekarang hanya ada Mba perias dan Ulya. Ulya langsung mengganti bajunya, ia membuka pintu toilet dan melihat dirinya dari kaca besar yang ada di kamar mandi itu. Baju yang ia pakai saat ini berbeda dengan baju yang miliknya sendiri. Baju ini nge-pres banget di badan Ulya, dan batas androknya juga di atas lutut. Kemudian Mba perias itu mulai mendadani Ulya dan mengeringkan rambut Ulya. Setelah semua selesai dengan polesan di wajahnya, Ulya melihat dirinya lewat cermin. Ulya sendiri pangling dengan dirinya. Lalu Ulya keluar dari kamar mandi itu, Bima dan Angga yang menunggunya, tercengang melihat paras cantik Ulya yang sebenarnya. Ulya tersenyum manis di depan Angga, setelah itu mereka berjalan berdua menuju kelasnya.


Saat berjalan di koridor sekolah, banyak orang yang memerhatikan Ulya, mereka semua pangling pada Ulya, gadis yang culun itu menjadi feminim. Di tengah langkahnya, di arah yang berlawanan, Anita melihat Ulya yang berubah menjadi cantik seperti itu bahkan melebihi dirinya, Anita menganga dan menggeram kesal.


***


Terlihat jelas dari belakang bahwa itu punggung Nathan. Talia menghampiri Nathan dan berdiri di sebelahnya. Mereka sama-sama diam, tidak ada yang mau memulai bicara. Mereka menikmati sepoian angin sambil melihat siswa-siswa dari jendela yang berlalu lalang di bawah.


_____


To be continued