AISY

AISY
Weekend



Angin malam memasuki kamar Talia sehingga gorden jendelanya beterbangan. Hembusan anginnya menusuk pada kulit gadis yang duduk di meja belajarnya. Talia memandangi lilin dan memainkan apinya dengan jari telunjuknya.


"Dan kamu malah merebut Pandu dari aku."


Kalimat itu terngiang-ngiang di kepala Talia. Karena baru kali ini ia di bilang sebagai perebut pacar orang.


Tiba-tiba hujan turun, sangat deras, angin juga semakin kencang dan gorden juga semakin kencang beterbangan. Talia melihat ke depan memerhatikan malam yang di datangi oleh hujan dan angin, malam yang buruk baginya tapi dapat menyejukkan hatinya. Lilin itu mati karena terkena angin setelah itu Talia beranjak dari duduknya lalu membaringkan tubuhnya.


***


Pagi telah menyapa kembali, dan pagi itu juga Nathan sudah berada di rumah Talia. Talia yang sedang turun dari tangga dan penglihatan yang masih remang-remang sudah di beri senyuman manis oleh Nathan.


Talia mengucek matanya untuk melihat lebih jelas laki-laki yang duduk di sofa bawah sana. Setelah mengetahui bahwa itu Nathan, Talia hanya memandangi Nathan sebentar dengan wajah datar, setelah itu ia melanjutkan langkahnya untuk menuju dapur, untuk minum.


Seusai minum Talia membawakan minum untuk Nathan tapi Talia menyeruputnya lalu memberikan pada Nathan, Nathan melihat Talia heran. Kurang ajar, batinnya.


"Ada apa?" tanya Talia sembari duduk.


"Mau ngajak elo piknik," jawab Nathan. Talia melirik tas di samping Nathan.


***


Kini mereka sudah berada di tempat yang di maksud oleh Nathan. Mereka duduk di atas tikar, semua barang-barang sudah di siapkan oleh Nathan. Talia menikmati pemandangan air terjun ini.


"Gue pengen mandi rasanya," gumam Talia.


"Elo gak malu? Rame kayak gini."


Talia melirik ke Nathan, "Kira-kira urat malu gue ke mana ya?"


"Dih," celetuk Nathan yang membuat Talia terkekeh.


"Ya ngotak dong, mana mungkin gue mandi di tempat ramai kayak gini," ujar Talia.


"Kan urat malu elo udah putus."


Talia menatap kesal mata Nathan. "Urat malu gue masih ada!" serunya.


Kemudian Talia berjalan-jalan di sekitar air terjun itu, melewati batu-batu besar lalu duduk dan memainkan kakinya di dalam air.


Dari sana Nathan dapat melihatnya, Nathan tersenyum melihat raut wajah Talia yang sedang senang.


***


Weekend ini, Bima dan Anita berkeliling di Mall. Bima menemani Anita shopping, banyak sekali yang Anita beli terutama untuk kebutuhannya sendiri. Setelah itu, Anita memilih gelang couple, ketika mendapatkan yang cocok bagi dirinya, Anita memberikan satu gelangnya kepada Bima.


"Apa ini?" tanya Bima.


"Sebagai tanda bukti kalau kita pernah dekat, biar aku tetap ingat ketika amnesiaku udah sembuh," tutur Anita.


Kemudian Bima memakai gelangnya dan mengangkat tangannya menunjukkan ke Anita, Anita pun juga melakukan hal yang sama.


***


Nathan berjalan menghampiri Talia sambil membawa bekal. Nathan duduk di samping Talia.


"Saatnya makan siang," ujar Nathan.


"Gue nggak mau makan."


"Yakin ngga mau makan?" tanya Nathan memastikan.


Talia mengangguk mengiyakan tiba-tiba. "Maksudnya, gue nggak mau makan kalau ngga di suapin," ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya.


"Malas, udah gede minta di suapin," kata Nathan seraya memasukkan makanannya di mulutnya.


"Iih Nathan nggak so sweet deh...." Talia cemberut.


Nathan mengerutkan keningnya, ia tertawa kecil.


"Aaaaaa pesawat sebentar lagi akan mendarat ... Sedang mencari tempat yang tepat ...." kemudian Talia membuka mulutnya lalu Nathan memasukkan makanannya. Talia mengunyah sambil tersenyum pada Nathan.


***


Jam sudah menunjukkan pukul, 05.00 PM. Nathan mengantar Talia pulang karena hari sudah sore.


"Selepas ini jangan lupa untuk mandi dan istirahat yang nyenyak," ujar Nathan ketika Talia berdiri di samping mobilnya.


"Gue pulang ya," tambah Nathan lalu melajukan mobilnya.


Talia melambaikan tangannya sembari berucap, "Hati-hati ...!!!"


Saat mobil Nathan sudah tak terlihat lagi, Talia berjalan masuk ke rumahnya. Di situ Talia melihat Ibunya sudah pulang dan sedang duduk sambil menonton TV.


"Mama!" Talia langsung menghampiri Ibunya dan memeluknya manja.


"Kamu dari mana aja? Mama udah nungguin dari tadi."


"Emangnya Mama tiba jam berapa?" tanya Talia.


"Kamu habis dari mana? Terus siapa yang antar kamu barusan?" tambahnya.


Talia tersenyum sambil membenarkan posisi duduknya.


"Itu Nathan Ma," ucap Talia.


"Nathan siapa?" wanita itu menghadap ke Talia.


Talia menghadap ke Ibunya juga. "Mama ingat Jhony kan? Ternyata Nathan sama Jhony itu sahabatan," jelas Talia.


"Ohh gitu ... Terus sekarang kamu dekat sama Nathan?"


Talia mengangguk malu-malu untuk mengiyakan.


***


Hari berganti pagi, Talia bersiap untuk berangkat sekolah. Tak lama, Talia sudah tiba di sekolah, Talia turun dari mobil setelah berpamitan dengan Ibunya. Saat masuk ke gerbang sekolah, Talia dan Pandu saling melihat, mata mereka bertatapan agak lama setelah itu Talia melanjutkan langkahnya.


***


"Bersamanya seperti sepasang sendal jepit


Aku ingin memilikimu seutuhnya, oh Ujangku ...."


Semua murid tertawa mendengar puisi yang di bawakan oleh Asep. Sedangkan Ujang bergidik ngeri ketika namanya di sebutkan oleh puisi ciptaan Asep.


Talia terbahak-bahak mendengarnya, dan Pandu memerhatikannya. Dia belum rela jika gadis itu lepas dari tangannya.


****


Seperti biasa di ruang perpustakaan, Nathan melukis dirinya juga Talia waktu piknik kemarin, lukisan itu benar-benar mirip. Kemudian, Pandu masuk ke perpustakaan itu juga, Pandu berjalan memasuki lorong ujung rak buku, ia tak sengaja melihat Nathan melukis, Pandu menggeram ketika ia melihat lukisan itu.


Pandu langsung menarik kerah baju Nathan sehingga Nathan sampai berdiri.


"Gue udah peringati sama Elo, jangan dekati Talia. Elo melukis ini supaya Talia tertarik 'kan?"


"Sebaiknya elo untuk berhenti ngejar-ngejar Talia, paham?"


"Sialan!" Pandu memukul wajah Nathan.


Nathan merenges sambil memegang pipinya. "Gue sebenernya nggak mau melakukan ini tapi elo yang memulainya," ujar Nathan.


Pandu tersenyum kecut, "Gue tantang elo pulang sekolah nanti untuk ke atas, siapa yang kalah dia yang harus jauhi Talia."


Nathan menatap Pandu sambil tertawa mengejek.


***


"Ta, Elo harus tau ini," ucap Nila.


"Ada apa sih Nil?" tanya Talia.


"Pandu dan Nathan lagi berkelahi di atas. Gue nggak sengaja tadi dengar percakapan mereka di perpustakaan," jelas Nila.


"Elo serius?"


"Iya. Gue nggak bohong." begitu Talia langsung kembali masuk ke sekolahnya, ia berlari menaiki tangga menuju atap gedung. Padahal Talia sudah berlari dengan cepat tapi masih sampai di lantai dua dan masih ada empat lantai lagi.


Talia ngos-ngosan, ia berhenti sebentar lalu ia melanjutkan larinya lagi.


"Elo udah di tolak sama Talia, sebaiknya elo nyerah." Nathan menendang perut Pandu sampai Pandu tersungkur.


"Bedebah!" Pandu berdiri, ia kembali menyerang Nathan.


Satu tangga lagi Talia akan sampai, Talia masih terus berlari. Hingga akhirnya ia tiba di atap gedung.


Posisinya Nathan berdiri di samping pagar dan Pandu berdiri di bagian hadapan tembok gedung ini. Seperti yang Talia lihat Pandu akan mendorong Nathan tanpa sepengetahuan Nathan karena pria itu sedang memegang bibirnya yang berdarah. Dengan cepat Talia berlari untuk melindungi Nathan, tapi apa yang terjadi? Malahan Talia yang terdorong dan hendak jatuh dari atap gedung ini, namun tangan Talia masih memegang pagar atap ini.


Talia melihat ke bawah, ia memejamkan matanya takut. Tak terbayangkan jika dirinya jatuh dari ketinggian atap gedung ini.


"Tolong! Tolongin gue!" seru Talia.


"Talia tetap bertahan." Nathan berusaha untuk menggenggam tangan Talia erat.


Sementara Pandu sedang mencari tali untuk menarik Talia.


"Tangan gue udah licin Than, gue udah ngga tahan lagi," ucap Talia dengan bibir bergetar. Nathan semakin menggenggam erat tangan Talia.


***


To be continued ....


Selesai membaca budayakan Like, Komen dan Vote serta beri penilaian ya, agar Author lebih bersemangat lagi🤗


See you💃💃💃