
Talia melangkahkan kakinya mundur. “Elo mau ngomong apaan sih?” tanyanya kesal pada Nathan.
Nathan tersenyum, kemudian ia menarik tangan Talia sembari berkata, "Yuk ikut gue."
Nathan berlari dengan menggenggam erat tangan Talia, di tengah itu, tiba-tiba hujan turun. Talia melihat ke atas, air hujan menetesi wajahnya, ia memejamkan matanya sambil tersenyum ceria.
Kini mereka berada di taman, Talia menari di tengah derasnya hujan, seakan semua masalahnya hilang begitu saja. Nathan tersenyum melihat Talia, ia merasa ikut bahagia. Sesekali mereka saling menatap sambil membalas senyum.
"Akhirnya elo bisa tersenyum lagi. Gue bakal menjaga elo sampai elo bisa lupa sama semuanya," ucap Nathan dalam hati.
***
Siang ini, Pandu terpaksa menemani Kirana pergi ke Mall terbesar yang ada di Jakarta, Pandu mau itu karena paksaan dari Ibunya. Banyak orang-orang yang melihatinya dengan perasaan iba, perasaan iri karena Pandu cowok ganteng yang berjalan dengan gadis buta sambil menggandeng tangan Kirana padahal sebenarnya ia sangat malas. Kini mereka makan, Pandu menyuapi Kirana, dan mereka benar-benar menjadi pusat perhatian orang-orang yang berbelanja di Mall ini. Setelah itu mereka pergi di tempat bagian-bagian sepatu, Kirana duduk di kursi panjang sambil memegang tongkatnya sementara Pandu sedang memilih sepatu yang pas dengan ukuran kaki Kirana, Pandu di bantu oleh penjaga sepatu tersebut. Saat menemukan sepatu yang tampak bagus dan menurutnya pas untuk kaki Kirana, Pandu memasangkan sepatu itu di kaki Kirana. Tepat sekali, sepatu itu memang pas untuk ukuran kaki Kirana.
Sekarang mereka telah selesai berbelanja, saat berjalan keluar dari Mall itu Kirana senyam-senyum sedangkan Pandu melihatnya jengkel. Ketika mereka telah keluar dari Mall itu ternyata hujan deras, alhasil mereka menunggu hujan reda untuk berjalan menuju parkir mobilnya. Pandu melihat wajah Kirana dengan penuh kebencian, tapi terkadang ia juga merasa kasihan dengan kondisi gadis di sampingnya itu.
Setelah reda Pandu menuntun Kirana untuk masuk ke mobil. Pandu mulai menyalakan mesinnya lalu melajukannya.
"Udah puas?" tanya Pandu pada Kirana.
"Maksudnya?"
"Ya puas gue temenin seakan-akan gue itu pembantu elo!" bentak Pandu.
Selain menangis apalagi yang bisa Kirana lakukan apalagi setiap perlakuan Pandu padanya memang menyakiti hatinya.
Pandu mendengar isakan tangis Kirana, ia menoleh ke gadis itu. Pandu berdecak, "Cengeng banget sih." Pandu berucap sambil memberikan tissue pada Kirana dengan kasar. Sebenarnya Pandu paling malas melihat perempuan menangis terlebih lagi Kirana yang menangis karena pastinya nanti Sinta akan memarahi Pandu karena membuat Kirana menangis. Dan Pandu juga paling malas mendengar Ibunya mengocehinya.
***
"Gue merasa sesuatu banget," ucap Talia sambil tersenyum. Posisi mereka sekarang duduk berdua di kursi yang ada di taman tersebut.
"Hm ... Elo kenapa enggak sekolah tadi?" tanya Nathan.
Talia menelan ludahnya sebelum menjawab pertanyaan Nathan. "Ngantar Mama karena mau pergi ke luar negeri," jawabnya.
"Jadi sekarang elo di rumah sendiri?"
"Nggak kok, ada Bi Inah," jawabnya lagi. Nathan menaggapinya dengan anggukan.
"Sekarang elo pilih, setelah hujan reda akan ada pelangi atau senja," ujar Nathan saat berjalan mengantar Talia pulang.
Talia terkekeh kecil. "Gue yakin banget nanti bakalan ada senja," ucapnya penuh keyakinan.
"Jadi elo lebih milih senja?" Talia menganggukinya.
"Kalau nggak percaya lihat aja nanti bakalan ada pelangi," katanya lagi lalu mengambil skateboardnya yang ia letakkan di samping gerbang rumah Talia.
"Setelah ini jangan lupa keramas karena air hujan ngga bagus," imbuhnya lagi mengingatkan Talia, kemudian ia meluncur pergi menggunakan skateboardnya.
Talia masih menatap Nathan meskipun sudah dari jauh, tiba-tiba ia senyum sendiri.
***
"*Gue minta tolong sama elo, jagain dia, hibur dia dan jangan buat dia sedih. Dia sebenarnya gadis yang periang, dia menyukai hujan dan pelangi, dia juga menyukai awan yang indah. Gue percaya sama elo Than, jagain Talia demi gue," mohon Jhony pada Nathan, waktu itu kondisi Jhony benar-benar kritis, banyak alat-alat medis yang menempel pada tubuhnya, bahkan usianya tidak lama lagi kecuali mendapat keajaiban dari Maha Kuasa.
"Elo ngomong apa sih Jhon. Elo pasti sembuh kok," protes Nathan.
"Perkiraan untuk sembuh itu udah ngga ada, dan sekarang kondisi gue benar-benar buruk."
Nathan mengembuskan napasnya, "Gue yakin elo pasti sembuh, iya gue janji, gue janji buat jagain Talia meskipun sikap dia bakalan berubah dan bukan menjadi gadis periang lagi."
Jhony tersenyum, "Makasih ya Than*."
"Gue bakal tepati janji itu," ucap Nathan.
***
Talia menyilakan gorden kamarnya lalu ia membuka jendelanya, setelah itu ia berdiri di balkon kamarnya sambil memegang secangkir teh hijau kesukaannya sambil bernostalgia di balik teh hijau itu. Tiba-tiba dia menyadari jika ada pelangi yang melengkung di langit sana, warnanya yang terlihat terang seperti yang dikatakan oleh Nathan. Talia benar-benar terhipnotis oleh indahnya pelangi itu dan tak percaya jika ucapan Nathan ternyata benar, pelangi datang setelah hujan.
Sementara itu Nathan yang juga berdiri di balkon kamarnya, juga menikmati pelangi tersebut. Indahnya pelangi yang ia katakan seperti bola matanya Talia.
"Sesuatu yang berharga itu pasti kembali lagi walaupun harus menunggu lama. Kebahagiaan yang telah sirna kini telah kembali, mewarnai seluruh dunia. Aku berharap semoga rasa sakit ini segera hilang dan terganti dengan sesuatu yang lebih berharga," ucap Talia dalam hati, ia sambil tersenyum dan angin mendatanginya menerbangkan anak-anak rambutnya.
"Rasa yang dulu pernah ada akan segera hilang, dan semua itu perlu proses. Proses untuk membuktikan bahwa aku bisa membuatmu seperti dulu lagi." Nathan juga berucap dalam hati.
***
Ulya mengembungkan pipinya setelah itu mengeluarkan napasnya, ia mengusap dahinya yang di penuhi keringat. Kemudian Ulya mengangkat kardus yang tampak berat lalu membuangnya ke tong sampah. setelah itu ia duduk di kursi panjang dekat tong sampah tersebut, ia meminum air botol yang ia bawa sendiri dari rumahnya.
"Harus sampai kapan seperti ini?" gumam Ulya.
Ulya memakai tasnya dan berpamitan untuk pulang kepada pemilik cafe tersebut karena hari sudah malam, apalagi besok dirinya harus sekolah. Ulya menaiki sepedanya untuk pulang ke rumahnya. Malam ini cuacanya begitu cerah, sepertinya hari ini adalah hari yang indah. Hujan datang setelah ada pelangi lalu malam yang di hiasi oleh banyak bintang. Ulya mengayun sepedanya sambil menikmati angin malam. Menyegarkan, rasanya.
______________
To be continued ....