
Kini mereka berada di atas gedung sekolah ini, mereka duduk berdua di kursi panjang yang ada di sini. Sesekali Angga mencuri pandang pada Ulya, kali ini aura Ulya benar-benar menghipnotis Angga. Ulya menoleh ke arah Angga ketika Ulya merasa jika Angga memerhatikannya lalu dengan cepat Angga membuang mukanya. Melihat tingkahnya seperti itu, Ulya tersenyum kecil.
“Makasih ya, aku ngga tau gimana jadinya kalau ngga ada kamu tadi,” ucapnya pada Angga.
“Iya sama-sama.” Angga menjawabnya sambil mengacak-acak rambut Ulya. Ulya menjadi kikuk dengan tindakan Angga tersebut.
***
Talia sedang memilah-milah buku di perpustakaan. Sementara Nathan, duduk dan tangannya memegang kuas, ia melukis seorang gadis tapi ia tak menggambar mata gadis itu. Talia berjalan menghampiri Nathan. "Wah ... ternyata elo juga pandai melukis ya," sanjungnya. Nathan hanya tersenyum.
Kemudian Talia melihat lukisan yang lainnya, Talia mengerutkan dahinya penasaran. "Tapi kenapa di setiap wajahnya, matanya nggak ada?" tanya Talia.
"Kalau gue gambar, nanti elo tahu kalau semua lukisan ini ... itu elo," gumam Nathan dalam hati.
"Hm ... Hanya ingin berbeda saja," jawab Nathan.
"Padahal kalau di kasih mata pasti lebih bagus," gumam Talia sambil membuka kertas lukisan lainnya, di situ terdapat banyak lukisan yang berbeda, Talia yang sedang memberi hukuman pada Siswa yang tidak memakai dasi di hari senin, Talia yang sedang bermain badminton, Talia yang sedang berdiri di depan mobilnya sambil melipat tangannya, Talia yang sedang makan di kantin, Talia yang sedang duduk sendirian di taman belakang, dan Talia yang sedang belajar bermain gitar sendirian di ruang perpustakaan waktu itu.
"Pasti cewek yang elo lukis ini tau, dia pasti seneng banget," ucap Talia setelah melihat semua lukisan yang sudah jadi itu, padahal semua lukisan itu adalah dirinya tapi Talia tak menyadarinya.
"Berharap suatu saat nanti, dia akan senang jika melihat lukisan ini." Nathan menambahinya dan masih fokus dengan yang ia lukis saat ini.
"Kalau gue jadi cewek itu pasti seneng banget," imbuh Talia. Begitu, Nathan langsung menoleh ke arah Talia.
***
"Arrgghh!!!!" Anita menggeram sambil menendang kursi.
"Gue harus musnahin gadis norak itu di sini!" katanya penuh penekanan.
Anita membisikkan sesuatu di telinga Antek-anteknya. Setelah itu Antek-anteknya keluar dari kelas ini, dan Anita tinggal di sini.
Agis bersama yang lain mendekati sepeda Ulya, ia mengempeskan ban sepeda itu dan membuat rem sepeda itu blong, kemudian ia menjatuhkan sepeda Ulya. Setelah itu mereka kembali ke kelas.
***
Bel telah berbunyi, menandakan bahwa jam istirahat telah habis dan semua murid harus masuk ke kelasnya masing-masing. Angga dan Ulya turun untuk menuju kelasnya. Mereka berjalan berdua, Angga ingin sekali menggandeng tangan Ulya tapi saat ia ingin melakukannya lalu ia mengurungkannya, ia melakukan itu sampai tiba di kelas. Saat keduanya memasuki kelas, Anita menatap sinis pada Ulya. Setelah itu, tak lama Pak Udin masuk untuk memulai pelajarannya. Pak Udin menjelaskan materinya lalu memberika soal pada semua murid di kelas ini. Sekitar lima belas menit, Pak Udin menyuruh soalnya untuk di kumpul, murid-murid berebut jalan untuk mengumpul soal itu di meja Pak Udin. Kemudian Pak Udin menyuruh murid pulang karena saat itu juga bel pulang telah berbunyi. Sebelumnya, Pak Udin memanggil Ulya meminta tolong untuk membawakan buku latihan tadi ke ruangan Pak Udin. Ulya mengiyakan, Ulya menyusun buku itu dan Pak Udin sudah keluar duluan. Setelah tersusun Ulya berjalan keluar. Namun, dia ambang pintu kakinya di jegal oleh Anita, alhasil buku-buku itu jatuh dan Ulya nyaris jatuh. Ketika sukses melakukan itu, Anita tertawa sambil berjalan pergi.
Ulya hanya bisa sabar dan terus sabar, ia menyusun buku itu lagi lalu membawanya ke ruangan Pak Udin.
***
Tak kunjung bangun juga, Nathan mencobanya sekali lagi, "Bangun Ta, hey."
Talia mengeryipkan matanya lalu ia membuka matanya perlahan, tatapan pertamanya adalah wajah Nathan yang terlalu dekat dengan wajahnya. Kini mereka saling menatap, setelah itu keduanya langsung membuang muka salah tingkah. Talia mengusap wajahnya takutnya nanti ada iler yang nempel dan Nathan berjalan keluar.
"Gue ketiduran ya?"
"Gue cuma bangunin elo tadi."
Mereka berucap bersamaan.
Kemudian Talia membututi Nathan, ia berjalan terburu-buru hingga dia tersandung oleh kakinya sendiri dan menabrak punggung Nathan. "Aduh!" ucapnya refleks
"Hati-hati makanya," gumam Nathan, lalu melanjutkan langkahnya.
***
Pandu memasuki mobilnya, saat dia sudah menutup pintu mobil, Pandu melihat Ulya kebingungan karena ban sepedanya kempes, tapi Pandu acuh saja. Namun, saat dia hendak memasang sabuk pengaman mobil ia melihat Talia membantu Ulya, Pandu jadi fokus pada mereka. Terlihat ada perdebatan di sana, karena Talia ingin menolong Ulya tapi Ulya tidak mau, kemudian Talia memaksa Ulya, menarik paksa Ulya untuk masuk ke mobilnya. Pandu tersenyum melihat kebaikan hati Talia.
Kemudian Pandu melajukan mobilnya. Di tengah perjalanan Pandu melihat mobil Nathan yang juga melaju di depannya. Pandu mulai usil, ia mengklakson, dan mengajak Nathan untuk balapan. Juga sama, Nathan meladeninya. Sekarang mereka berdua balapan di tengah jalan yang ramai di kota Jakarta ini. Keduanya sama-sama lincah, banyak pengendara lain yang membunyikan klakson karena melihat kelakuan mereka yang sangat mengerikan. Kini berada di ujung dan ada dua belokan, Nathan berbelok kiri sementara Pandu berbelok kanan karena itu arah rumah mereka. Tidak ada yang menang di antara keduanya karena sama-sama berbelok.
***
"Pasti perbuatan Anita dan teman-temannya kan?" tanya Talia pada Ulya.
"Gak tau juga," jawab Ulya.
"Ya jelas mereka, siapa lagi kalau bukan mereka," sahut Talia.
Ulya menundukkan kepalanya, ia berpikir, bagaimana nanti ia akan bekerja kalau sepedanya rusak begini, di tambah lagi ia belum gajian. Ulya benar-benar bingung.
Talia mengantarkan Ulya di depan rumahnya. Ulya turun dari mobil Talia. "Makasih ya," ucap Ulya. Talia mengangguk kemudian memberi nomor teleponnya pada Ulya. "Kalau perlu apa-apa hubungi gue aja," katanya.
Ulya mengambil kertas yang tertulis nomor telepon itu, ia melihatinya kemudian melihat Talia yang mulai melajukan mobilnya untuk pulang.
Setelah itu Ulya masuk ke rumahnya, ia langsung memasukkan nomor telepon Talia di HPnya. Kemudian Ulya masuk ke kamarnya, mengganti pakaiannya lalu membuka laptopnya untuk menyicil mengerjakan tugas sekolahnya sambil menunggu waktu jam kerja.
___________
To be continued ....