AISY

AISY
Senior SMA Roma



"Maksud elo apa sok caper di depan Angga? Ha?" Anita menarik rambut Ulya yang sedang menyapu.


Ulya kesakitan, ia sampai berjalan mundur. Setelah itu Anita melepas rambut Ulya, ia melangkahkan kakinya sedikit menghadap Ulya.


"Jadi cewek ngga usah sok naif deh," katanya sinis.


Ulya menundukkan kepalanya, rasanya ia ingin menangis. Anita tersenyum simpul melihat kelemahan Ulya lalu mereka pergi dari hadapan Ulya.


***


"Mungkin ... Aku sangat senang bisa melihatmu. Terkadang aku berdo'a saat akan tidur, berharap bisa memimpikanmu dengan mata yang bisa melihat ngga buta seperti ini," ujar Kirana sambil memegang tongkatnya.


"Aku tahu kamu menemaniku karena paksaan dari Ibumu, tapi aku berterimakasih sama kamu karena cuma kamu temanku satu-satunya," imbuhnya.


Pandu yang mendengar itu hanya diam, ia merasa bersalah hati karena selalu kasar pada Kirana, selalu tidak ada waktu untuk menemani Kirana.


***


"Elo masih sayang sama dia?" tanya Nathan pada Talia.


Talia menatap intens mata Nathan. "Kenapa elo selalu ingin tahu tentang kehidupan gue?" tanyanya balik.


"Apa elo sungguh ngga sadar ada orang yang lebih mencintai elo?" Nathan mendekatkan dirinya pada Talia, ia memegang kedua bahu Talia.


"Ta ... Lihat gue," katanya menatap mata Talia, Talia juga menatap mata Nathan.


***


"Pandu, gadis itu berhak mendapatkan cinta elo." Talia melihat gadis yang duduk di kursi panjang sambil membawa tongkat. Pandu juga melihat gadis itu.


***


Gedung yang menjulang tinggi terlihat ramai karena adanya siswa-siswi yang datang. SMA Roma adalah sekolahan elite yang terletak di Jakarta Pusat, lebih dari 98% murid-muridnya anak orang kaya.


Sebuah mobil merah mulai memasuki gerbang sekolah. Mobil itu berhenti di parkiran. Pintu mobil terbuka, menampakkan sepatu putihnya dan kaki mulusnya.


"Wah! Mereka senior kita?" tanya Asep pada Danu tapi matanya melihat Anita dan antek-anteknya keluar dari mobil.


"Denger-denger sih mereka suka membully," jawab Danu.


Asep pun langsung menoleh ke Danu, "Serius?"


Anita bersama Antek-anteknya berjalan menuju ke kelasnya, mereka menjadi sorotan para murid karena kecantikannya dan kulitnya yang putih.


Kemudian empat mobil berwarna putih dan hitam mulai masuk ke area sekolahan SMA Roma. Mereka turun secara bersamaan.


Nathan melihat semua murid yang menyorotinya, setelah itu ia menggendong tasnya sebelah lalu melihat Pandu yang berdiri di samping mobilnya, Pandu yang awalnya melihat ke depan lalu ia juga menoleh ke arah Nathan. Kemudian mereka mulai melangkahkan kakinya menuju ke kelasnya.


"Ganteng banget ...," ucap salah satu siswi.


"Gua bakal fans sama dia," ucap yang lainnya.


"Gua pengen tahu nama-nama mereka," sahut yang lain.


Seorang gadis melihat semua murid yang menyoroti geng Pandu dan geng Nathan di dalam mobil. Ia belum keluar sedari tadi, ia menyaksikan murid-murid yang terpesona akan ketampanan dua geng tersebut.


Talia mengambil cermin berukuran kecil di laci mobilnya, ia merapikan rambutnya.


"Gue jadi Senior dan ada murid baru. Gue mesti bersikap apa? Oke, gue tetap bersikap dingin seperti biasanya," ujarnya kemudian mengambil tasnya dan menggendongnya. Setelah itu ia membuka pintu mobil dan turun dari mobil tersebut.


Talia melihat ke kiri, ia melihat Angga juga keluar dari mobilnya. Talia hanya melihatnya begitu saja tanpa tersenyum kemudian ia melihat ke depan.


"Anita! Astaga Angga datang!" seru Agis pada Anita yang sedang bercermin. Sontak Anita menaruh cerminnya dan berjalan ke arah Agis.


"Oh my God! My husband!" teriak Anita lalu turun ke bawah untuk menghampiri Angga.


"Dan! Danu! Itu siapa lagi?" tanya Asep tak sabar pada Danu.


Danu langsung mengikuti jari telunjuk Asep yang mengarah ke seorang gadis yang sedang berjalan.


"Wah ... Cantiknya bukan main," ujarnya.


"Kak Angga datang!"


"Kak Angga datang!"


Seru para siswi dan mulai berlarian menghampiri Angga. Pandu dan Nathan yang sedang berjalan menoleh ke belakang, melihat kehebohan para ciwi-ciwi. Angga mulai di kerumuni siswi-siswi, banyak pertanyaan yang terlontar dari mulut siswi-siswi tersebut tapi Angga mengabaikan pertanyaan mereka.


Mata Nathan melihat ke kanan ke kiri, segerombolan para siswi menyulitkan Nathan untuk mencari seorang gadis yang ada di sana tadi.


Akhirnya Talia berhasil keluar dari kerumunan siswi yang sedang mengerumuni Angga.


"Hah sial," umpatnya.


Nathan tersenyum melihat gadis itu, di tambah lagi ada angin yang menerbangkan rambut panjang gadis itu. Talia melihat ke sana ke sini dengan sedikit senyuman lalu ia melangkahkan kakinya untuk menuju ke kelasnya.


Seorang gadis yang berdiri dekat gerbang sambil memegangi sepedanya melihat kehebohan mereka yang mengerumuni Angga. Ulya hanya diam melihat insiden itu lalu ia memarkirkan sepedanya.


***


Pandu menghentikan langkahnya ketika melihat gadis yang berdiri di depan mading. Pandu melihati gadis itu lama. Talia sadar jika ada orang yang melihatinya kemudian ia menoleh ke arah orang itu. Kini mereka saling memandang.


***


"Ulya di panggil Pak Udin ke ruang guru!" teriak Jojo pada Ulya yang sedang menyiram tanaman.


"Iya bentar Jo," sahut Ulya. Ulya mematikan airnya lalu ia berjalan menuju ke ruang guru.


Saat berjalan Ulya melihat Angga berjalan dari arah yang berlawanan, Ulya menatap Angga dan Angga yang sedang berjalan bersama Bima juga menatap Ulya. Jarak mereka mulai dekat, Ulya langsung menundukkan kepalanya. Mereka bersalipan, sedangkan Angga masih melihat Ulya, Bima pun juga ikut melihatnya kemudian ia melihat Angga kembali karena tak biasanya Angga melihat seseorang sampai seperti itu, Bima hanya heran.


***


"Non Kirana mari sarapan, biar Bibi suap," ucap Bi Hana pada Kirana yang sedang melamun.


Kemudian Bi Hana memegang tangan Kirana dan menuntunnya berjalan turun ke bawah untuk sarapan.


Kirana duduk dan meletakkan tongkatnya tak jauh dari tempatnya. Setelah itu Bi Hana mulai menyuapi Kirana.


Bi Hana merasa kasihan pada Kirana karena tidak ada yang mengurusnya selain Bi Hana. Sejak lahir, Bi Hana lah yang mengurus Kirana karena Ibu Kirana meninggal saat melahirkan Kirana sedangkan Ayah Kirana sibuk kerja.


***


Nathan yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung melihat insiden Anita yang sedang memarahi Ulya.


"Punya mata ngga sih? Sepatu gue jadi kotor kan!" bentak Anita pada Ulya. Ulya tidak sengaja menumpahkan kopi yang di suruh Pak Udin tadi.


"Maaf," katanya lirih.


Anita bersedekap. "Gue gak mau tahu elo harus ganti," ucapnya acuh.


Ulya mendongak melihat Anita, "Tapi aku ngga punya uang."


Anita menatap mata Ulya, "Terus? Gue peduli gitu? Pokoknya elo harus ganti!"


"Gimana kalau aku cuci saja?" tanya Ulya rada takut.


Anita yang mendengar itu terkekeh. "Bisa-bisa gue rabies karena sepatu gue di cuci sama anak miskin kayak gini," cacinya. Antek-antek Anita tertawa.


Ulya yang mendengar itu hanya diam, hatinya terasa sakit mendengar perkataan Anita.


Nathan mulai memanas karena perlakuan Anita pada Ulya, ia melangkahkan kakinya untuk menjadi penengah insiden tersebut tapi langkahnya terhenti saat seorang gadis menyerahkan uang pada Anita.


"Masih kurang?" tanya Talia pada Anita.


Anita melihat uang di tangan Talia yang mengarah ke dirinya.


"Gue ngga berurusan sama elo," ujar Anita.


Talia menurunkan tangannya. Ia melihat Ulya yang menunduk kemudian ia melihat Anita lagi.


"Kalau begitu ayo berurusan," tantang Talia.


"Mending elo minggir sekarang juga," titah Anita pada Talia.


"Gue ngga akan minggir sebelum elo melepas dia," kata Talia dengan nada yang di tekan.


Kemudian Talia menyuruh Ulya berdiri. "Terima ini dan beliin dia sepatu pulang sekolah nanti," kata Talia pada Ulya sambil memasukkan uang di saku baju Ulya.


Ulya menatap wajah Anita takut-takut karena Anita menatapnya tajam.


"Elo takut? Perlu gue antar ke toko sepatu biar gak di hadang sama mereka," kata Talia lagi. Ulya hanya diam sambil melihat Talia sebentar.


Anita berdecak kesal melihat perlakuan Talia yang menghalangi rencananya untuk membully Ulya lalu ia memutuskan untuk pergi meninggalkan Talia dan Ulya.


"Ta, Kita cari ke mana-mana elo ngga ada ternyata di sini," ucap Nila menghampiri Talia, teman yang lainnya ikut menghampiri Talia.


"Talia, makasih ya," ucap Ulya sambil menyodorkan uang.


"Aku bisa kok beliin sepatunya pake uangku sendiri," imbuhnya.


Talia menggelengkan kepalanya dan menolak uang yang di berinya tadi.


"Ngga usah di balikin, buat elo aja," katanya sambil tersenyum.


"Ta ...." Nila,Via dan Nara bingung melihat Talia dan Ulya.


"It's okay," sahut Talia pada mereka sambil tersenyum melihat kebingungan mereka lalu tanpa sengaja Talia melihat seorang laki-laki yang berdiri tak jauh dari toilet yang juga melihatinya.


___


To be continued ....