
Gadis berambut panjang memakai kemeja putih dan rok hitam selutut. Tangannya yang begitu lihai memainkan alat musik piano tersebut. Raut wajahnya penuh dengan dendam, rasanya ingin mencabik-cabik wajah perempuan itu, ingin memusnahkan perempuan itu, ia sangat membenci Ulya. Semakin kesal jika lama-lama memikirkan perempuan itu, Anita menekan salah satu tombol piano tersebut dan gejolak marah dihatinya semakin menjadi. Anita menghentikan mainan pianonya dan berdiri dari duduknya lalu vas bunga yang terbentuk dari keramik ia angkat kemudian ia jatuhkan setelah itu Anita berjalan masuk ke kamarnya.
***
Pandu berjalan masuk ke kelasnya sambil membenarkan dasinya lalu ia menghentikan langkahnya ketika melihat seorang laki-laki yang menurutnya, saingannya. Pandu menatap Nathan dengan tatapan yang tajam, selang beberapa detik Nathan hanya menanggapinya dengan senyuman simpulnya dan melanjutkan langkahnya untuk masuk ke kelasnya.
Pelajaran pertama telah selesai dan waktunya istirahat. Pandu bersama gengnya berjalan di koridor sekolah menuju kantin. Tepat di depannya itu ada siswa yang berjalan sambil membawa setumpuk buku sehingga wajahnya tertutup oleh buku itu. Tidak sengaja, gadis itu menabrak Pandu sehingga buku-buku tersebut jatuh dan menimpa kepala Pandu. Suara terjatuhnya buku-buku itu memanggil siswa lain sehingga tempat kejadian itu di kerumuni oleh siswa-siswa.
“Aw,” erang Pandu memegangi kepalanya.
Ulya merasa panik, dia menunduk melihat Pandu dan memegang kepalanya yang sakit. “Maaf aku ngga sengaja,” katanya.
Pandu yang terkenal dengan sikapnya yang kasar dan dingin segera mencekeram pergelangan tangan Ulya dan berdiri. Pandu menatap mata Ulya dengan tatapan bengisnya, Ulya merasa ketakutan lalu ia menundukkan kepalanya tidak berani untuk menatap mata Pandu. Pandu mengangkat pergelangan tangan Ulya yang masih di gengamannya kali ini lebih erat sampai Ulya mendesis sakit.
“Sakit?” tanya Pandu. Ulya menganggukan kepalanya ragu. Melihat itu Pandu terkekeh betapa lemahnya gadis ini, Ulya mengangkat wajahnya melihat Pandu tapi tiba-tiba Pandu mengangkat tangan satunya untuk menampar pipi gadis itu yang membuat kepalanya sakit. Waktu yang tepat, Angga menghentikan tangan Pandu.
“Elo?” ucap Pandu. Begitu Angga langsung melepas tangannya yang memegang pergelangan tangan Pandu.
Angga membisikan sesuatu di telinga Pandu, “Jangan pernah ganggu dia.”
Mendengar itu Pandu memperlihatkan smirk-nya. “Elo bermasalah sama gue kali ini,” bisiknya balik setelah itu pergi meninggalkan tempat itu.
Semua murid juga berjalan pergi meninggalkan tempat tersebut, gejolak marah Anita semakin menjadi melihat Angga menolong Ulya. Anita memasang wajah kesalnya dan pergi meninggalkan tempat itu juga.
“Kamu nggak apa-apa 'kan?” tanya Angga memerhatikan seluruh tubuh Ulya.
“Aku nggak apa-apa kok,” jawab Ulya. Kemudian Ulya menyusun buku-buku itu lagi dan Angga membantunya. Mereka berdua berjalan menuju perpustakaan sehingga mereka sampai, Ulya meletakan buku itu di meja begitupun Angga. Ulya melihat Angga yang berdiri di depannya kemudian ia menundukkan kepalanya karena tidak tahan melihat orang tampan berada di dekatnya apalagi Ulya mengagumi Angga dari awal masuk sekolah.
“Makasih ya tadi udah nolongin aku,” ucapnya kaku.
Angga tersenyum, tanpa ragu ia memegang kepala Ulya dan mengacak rambutnya. “Sama-sama,” jawabnya.
Deg, Ulya merasa hatinya ingin meledak. Ia memejamkan kepalanya erat untuk menahan gejolak yang ada di hatinya. Setelah itu Ulya membuka matanya untuk melihat Angga dan tersenyum padanya tapi ternyata Angga sudah tidak ada di situ. Mata Ulya mencari Angga dari sudut ke sudut ruangan ini ternyata Angga memang sudah tidak ada di sini. Kemudian Ulya memegang dadanya, degupan itu masih ada, Ulya mencoba untuk merilekskannya mengambil napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya, sudah merasa baik Ulya menyusun buku-buku itu di rak sambil bersenandung kecil, dia sedang bahagia.
setelah itu di tengah keasikan Ulya, tiba-tiba Anita bersama antek-anteknya masuk ke perpustakaan dan menghampiri Ulya. Ulya tidak menduga jika Anita akan merundung dirinya. sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Ulya. Refleks, Ulya memegangi pipinya yang panas karena tamparan tersebut. Lalu Anita menarik rambut Ulya dari belakang dan berbisik, "Gue peringatin sekali lagi, jangan sok caper di depan Angga. Ngerti?!"
Jika sudah seperti ini Ulya tidak bisa berkutik selain menangis. Sebenarnya ia ingin melawannya tapi seperti ada kelemahan tersembunyi.
"Cengeng banget jadi cewek," tambah Agis dan mereka yang lain tertawa mendengar ucapan Agis setelah itu mereka pergi meninggalkan ruangan perpustakaan tersebut.
***
"Iya. Kenapa?" tanya Nila balik.
"Talia kenapa gak sekolah?"
"Oh, itu ... kayaknya dia lagi malas sekolah aja karena gak ada keterangan hari ini," tutur Nila.
"Hm, gitu ya ...." Nathan kembali duduk. Sempat berfikir, cewek kayak dia bisa malas? Nathan agak ragu sama jawaban Nila tapi Nathan coba untuk positif thinking bisa jadi jika Talia memang lagi malas bersekolah hari ini.
***
"Mama mau pergi lagi ke luar negeri?" tanya Talia pada Sandra selaku Ibunya.
Sandra yang sedang memasukan bajunya di koper melihat putri semata wayangnya berdiri di ambang pintu sambil bersandar. Talia tersenyum lalu berjalan mendekati Ibunya dan duduk di sebelahnya.
"Talia tau kok, Mama pergi ke luar negeri juga demi Talia, buat sekolahin Talia juga kebutuhan sehari-hari Talia, kalau bukan dari Mama dari siapa lagi?" katanya sambil tersenyum cerah di depan Ibunya.
Sandra membalas senyumannya. "Maafin Mama ya, waktu Mama untuk kamu cuman sedikit," ucapnya sambil mengelus rambut Talia.
"Gak apa-apa Ma, yang penting Mama di sana harus jaga kesehatan ya? Jangan sampai sakit," ucapan perhatian Talia untuk Ibunya.
"Iya sayang."
Talia mengantar Ibunya sampai depan pintu. Talia melambaikan tangannya ketika Sandra memasuki mobil hitamnya. Kemudian Talia menutup pintu dan berjalan menuju kamarnya. Hendak membuka pintu kamar seseorang membunyikan bel rumah, tentu saja Talia turun lagi untuk melihat siapa tamu tersebut.
seorang laki-laki memakai seragam sekolah SMA Roma, tempat sekolah Talia juga. Postur tubuh dari belakang Talia mengenalinya.
"Ada apa ke sini?" tanya Talia.
Nathan segera membalikkan tubuhnya menghadap Talia, hal pertama yang ia dapat adalah muka jutek Talia, tapi saat seperti itu Nathan malah menyukainya.
"Gue ke sini karena ada yang mau gue omongin," jawab Nathan.
"Yaudah tinggal ngomong aja," Talia segera menyahutnya.
Nathan melangkahkan kakinya sedikit lebih dekat pada tubuh Talia. Talia terkejut, ia membulatkan matanya ketika sepasang mata hitam itu menatap hangat mata Talia.
________________
To be continued ....