AISY

AISY
Talia bertemu Kirana



"Elo mau gak jadi pacar gue?"


"Elo mau gak jadi pacar gue?"


"Elo mau gak jadi pacar gue?"


Talia terbayang-bayang dengan pertanyaan Pandu semalam.


"Aghhh...!!!" Talia menjatuhkan bukunya ke wajahnya, buku yang sedang ia baca.


"Ya kali gue terima cinta Pandu."


"Tapi gue nggak ada perasaan apapun sama Pandu." Talia berkata dalam hati. Talia berpikir panjang, bagaimana dengan jawaban yang akan ia berikan pada Pandu, Talia benar-benar bingung.


Kemudian Talia membuka bukunya yang menutupi wajahnya, ia terkejut ketika wajah Nathan tiba-tiba berada di depannya.


"Omomomo!" refleks Talia.


Nathan terkekeh lalu ia berjalan mundur dan duduk di ranjang sebelah ranjang Talia. Talia mengubah posisinya menjadi duduk, ia meletakkan bukunya di meja.


"Elo ke sini nggak buat balas dendam kan?" tanya Talia menyelidiki tubuh Nathan.


"Emangnya gue kayak elo," ujar Nathan sambil membaringkan tubuhnya, kedua tangannya ia taruh di belakang kepalanya.


Talia melihat Nathan. "Tapi gue tetap mengirimi elo bunga dan sejenis hal lainnya," ujar Nathan lagi lalu melihat Talia.


Talia langsung mengalihkan pandangannya, lalu melirik ke Nathan sinis, "Elo nggak ada bosan-bosannya ya."


"Sebelum elo maafin gue, gue nggak pernah bosan," ujar Nathan dengan mata terpejam.


"Asal elo tahu, coklat yang gue kirim masih numpuk nggak gue makan palingan gue kasih ke anjing tetangga nanti sepulang sekolah. Dan, kamar gue jadi kayak taman bunga gara-gara elo." celoteh Talia tanpa melihat Nathan. Lama Talia menunggu ucapan Nathan, ia melirik ke Nathan ternyata pria itu sudah tidur.


"Pantas saja diam," celetuk Talia.


Kemudian Talia mendengar Nathan mendengkur. "Iis ngorok," ucap Talia melihat Nathan ilfil. Tapi semakin lama di dengar, dengkuran itu seperti di buat-buat oleh Nathan, Talia penasaran, ia turun dari kasur yang ia duduki lalu berjalan melihat Nathan. Talia mendekatkan kupingnya di mulut Nathan, tapi apa yang Talia dapat? Tangan Nathan malah melingkar di punggung Talia sehingga kepala gadis itu menempel di dada bidang Nathan. Talia membulatkan matanya.


"Maafin gue ya, waktu itu gue nggak bermaksud membuat elo kecewa, ini juga karena kemauan Jhony," ucap Nathan.


Talia bisa merasakan deruan napas Nathan, ia juga bisa merasakan detak jantung Nathan.


Nathan memegang kepala Talia, kemudian Talia beralih menghadap Nathan. Talia menganggukan kepalanya. "Iya gue maafin," gumamnya.


Nathan tersenyum kepadanya dan Talia juga membalas senyumnya.


***


Bima dan Anita berada di perpustakaan, mereka sedang membaca buku. Semakin lama di dekat Anita, Bima semakin suka pada Anita tapi ia juga takut ketika ingatan Anita pulih, apakah Anita akan melupakan momen-momen yang telah mereka lakukan bersama?


Bima memandangi wajah Anita sehingga ia sampai tidak sadar jika Anita juga ikut memandanginya.


Kemudian Bima mengalihkan pandangannya setelah menyadarinya.


"Elo kenapa?" tanya Anita.


Bima kembali melihat Anita, kali ini ia melihat mata begitu dalam dan mempunyai arti di balik matanya itu.


"Gue harap elo selalu ingat apa yang kita lakukan selama ini," ujarnya memegang tangan Anita.


"Gue selalu ingat karena elo yang selalu ada di sisi gue. Thank's ya," ucap Anita sambil tersenyum.


Bima merasa lega setelah mendengarkan ucapan Anita dan berharap Anita tidak akan melupakannya ketika ingatannya pulih. Bima memberi Anita senyuman penuh kasih sayang.


***


"Kita mau ke mana, Ndu?" tanya Talia pada Pandu karena Pandu tidak belok ke arah rumah Talia ia malah terus melaju saja.


"Elo nanti harus bilang sama Mama kalau elo itu pacar gue," ujar Pandu tetap fokus menyetir.


"Ha...???"


Kini mereka telah sampai di rumah Pandu. Talia dan Pandu turun dari mobil lalu berjalan masuk ke rumah Pandu.


Pandu melihat di sana ada Kirana yang sedang mengobrol dengan Ibunya.


Sinta langsung menoleh ke arah Pandu dan melihat gadis yang berdiri di samping putranya. Sinta menyadari gadis itu cantiknya luar biasa, seolah begitu sempurna.


"Memangnya dia siapa kamu?" tanya Sinta.


"Calon menantu Mama," jawab Pandu sambil merangkul Talia.


Talia menelan ludahnya, padahal malam itu Talia belum menjawab pernyataan cinta Pandu tapi siapa sangka Pandu malah memperkenalkan Talia dengan Ibunya.


Talia tertegun mendengarnya, kenapa Pandu tidak bisa menghargai perasaannya?


Mendengar ucapan Pandu, Sinta langsung melihat Kirana, begitu jelas gadis itu mengubah ekspresinya lalu Sinta langsung menghampiri Pandu dan membawanya pergi dari tempat itu.


"Kamu apa-apaan sih. Mama 'kan udah jodohin kamu sama Kirana." Pandu mengalihkan pandangannya malas setelah mendengar ucapan Ibunya.


"Ma, Talia lebih jelas sempurna dari Kirana dan lebih jelas cocok sama Pandu," ucap Pandu setelah menatap kembali mata Sinta.


Talia melihat Kirana berjalan ke arahnya sambil membawa tongkat. Talia merasa iba dengan bencana yang menimpa Kirana, gadis cantik yang buta.


Kirana meraba-raba untuk mencari Talia, lalu Talia langsung memegang tangannya.


"Kamu benar pacarnya Pandu?" tanya Kirana.


Talia bingung harus menjawab apa, "Ee .. ee...." lalu Kirana memotong ucapan Talia.


"Memangnya Pandu nggak pernah cerita sama kamu?" tanya Kirana balik.


"Cerita soal apa?"


"Pandu itu udah di jodohin sama aku. Harusnya kamu sebagai wanita mengerti perasaan sesama wanita, gimana kalau kamu jadi posisi aku? Aku udah buta gini tapi malah kamu merebut Pandu dari aku," tutur Kirana salah paham, Kirana tidak mengetahui yang sebenarnya.


"Kamu bilang aku merebut Pandu? Aku nggak merebut Pandu sama sekali. Aku juga nggak tahu kalau Pandu di jodohin karena dia nggak pernah cerita tentang ini sama aku." Talia protes karena dirinya tidak mau di cap sebagai perebut pacar orang.


"Kalau pun aku tahu yang sebenarnya, aku juga nggak bakalan mau," tambah Talia.


"Sekarang kamu udah tahu kan? Jadi aku harap kamu jauhi Pandu," ucap Kirana.


"Aku selalu jauhin Pandu tapi dia yang selalu menghampiri aku."


Sinta dan Pandu muncul, begitu Talia melihat ke arah mereka setelah itu Talia keluar dari rumah ini.


Pandu merasa seperti ada yang tidak beres, Pandu langsung mengejar Talia.


"Talia!" Pandu memanggil Talia tapi Talia tak menghiraukannya.


"Talia!" Pandu memegang tangan Talia.


"Kenapa tiba-tiba?" tanya Pandu tak mengerti.


"Tiba-tiba?" Talia menatap mata Pandu.


"Elo bilang ini tiba-tiba? Harusnya elo beri tahu gue kalau elo udah di jodohin. Gue di sini merasa salah banget karena udah merebut seseorang yang udah di jodohin."


Pandu mengembuskan napasnya gusar, "Astaga ... Gue emang di jodohin tapi gue nggak suka sama cewek itu. Dia nggak pantas buat gue, dia nggak sempurna kayak elo."


Talia memandang wajah Pandu tak menyangka, jadi selama ini Pandu hanya mencintai fisiknya bukan dari hatinya.


"Jadi elo milih gue karena gue cantik? Gitu maksudnya?"


"Eh, bukan gitu. Gue juga tulus suka sama elo."


"Udahlah Pandu. Sekarang gue jawab ungkapan cinta elo malam itu, gue nggak mau jadi pacar elo, sekarang juga kita udahi pacar kontrak ini. Dan elo harus bisa nerima cewek itu dengan ikhlas apapun kondisi fisiknya." setelah mengatakan itu Talia langsung pergi meninggalkan Pandu.


Pandu ingin marah, ia ingin meluapkan emosinya karena Talia telah menolaknya dan semua ini karena Kirana. Begitulah pikiran Pandu.


****


To be continued....


Readers tercintaku jangan lupa buat kasih Vote, Like, Bintang dan berikan komen kalian agar Author semakin semangat atas kehadiran kalian di kolom komentar 🤗🤗


See you💃💃💃