
Talia menghampiri Nathan yang sedang duduk di bangku panjang yang ada di depan kelas masing-masing. Talia dapat mengenali raut wajah Nathan seperti memikirkan sesuatu lalu Talia duduk di sebelah Nathan.
"Elo baik-baik aja 'kan?" tanya Talia.
"Gue baik," jawabnya tetap menundukkan kepalanya dan jari tangannya saling bertautan.
Mereka hanya diam, Talia menjadi segan untuk bertanya-tanya pada Nathan karena Nathan kali ini tampak berbeda.
"Bapak kenapa perhatiin mereka?" tanya Nila yang membuat Dika kaget. Dika sedang memerhatikan Nathan dan Talia di balik pintu kelas sebelah.
Dika membalikkan badannya menghadap Nila. "Mereka berpacaran?" tanya Dika.
Nila melirik ke Nathan dan Talia. "Setahuku tidak," jawabnya menatap Dika.
Nila melihat Nathan beranjak dari duduknya dan berjalan pergi, dia mencampakkan Talia yang duduk di sampingnya sedari tadi. Nila langsung menghampiri Talia dan duduk di samping Talia.
"Dia kenapa?" tanya Nila penasaran.
"Gak tahu."
"Kalian lagi berantem?" tanyanya lagi. Talia menggelengkan kepalanya.
"Kayaknya dia lagi ada masalah," ujar Talia kemudian.
****
Dika selalu memantau Nathan, ia selalu memerhatikan kegiatan Nathan sehari-hari ketika di sekolah.
Nathan berhenti ketika ia hendak masuk ke perpustakaan. "Elo gak capek ngikutin gue terus," ujarnya tanpa membalikkan badannya ke belakang.
Dika berjalan maju sedikit, ia memegang pundak Nathan. "Ayolah kita pulang," kata Dika mengajak.
"Saat ini Pak Satrio benar-benar membutuhkanmu," imbuhnya.
"Karena cuma kamu harapan satu-satunya," imbuhnya lagi.
Nathan membalikkan badannya menghadap Dika lalu ia meninju dinding di sebelahnya itu. "Kak Putra ada kenapa harus gue?!" terkanya.
"Rencana apalagi yang sedang di rancang Ayah?" Nathan menatap tajam mata Dika.
Tiba-tiba HP Dika berdering, Dika mengambilnya lalu mengangkat teleponnya. "Halo," ucapnya.
"Kamu sedang berada di sekolah, sudah bertemu dengan Nathan?"
"Dia sekarang lagi bersama--" Nathan merampas HP Dika. "Sampai kapanpun aku tidak pernah mau untuk kembali ke sana, dan aku tidak pernah mau untuk meneruskan ahli waris perusahaan Ayah. Jangan pernah menyuruh orang lain untuk membujukku pulang," ucap Nathan ketus. Lalu ia mematikan teleponnya dan memberikan HP itu pada Dika.
"Benar-benar orang yang keras," gumam Dika sambil melihat Nathan berjalan pergi dari sini.
****
Angga tersenyum ketika mendapati Ulya berdiri sendiri di atap gedung sambil melihat jalan kota Jakarta.
Ulya terkejut ketika sebuah tangan melingkar di lehernya, ia memiringkan kepalanya untuk melihat orang yang sedang memeluknya dari belakang dan ternyata dia adalah Angga.
"Nanti malam aku akan memperkenalkanmu dengan Ibuku," ucap Angga.
Ulya terdiam, ia takut jika Ibu Angga tidak menyukainya. "Kamu mau 'kan?" tanya Angga memastikan.
"Hm ...." Ulya menganggukinya padahal hatinya merasa ragu.
Angga tersenyum mendengarnya, ia semakin erat memeluk Ulya dan menyandarkan kepalanya di pundak Ulya dengan manja.
****
"Anita elo harus ingat sama kita," ujar Agis dan teman yang lain menganggukinya.
"Aku ingat, kamu Agis dan ini teman-temanmu 'kan?"
"Bukan begitu maksudnya, elo ingat mereka siapa?" Agis menunjuk ke arah Ulya dan Angga sedang berjalan hendak memasuki kelas.
Anita melihatnya, sepintas ia teringat dengan bayang-bayangan Ulya yang sedang tertawa bersama Angga, ketika ia menyiram Ulya di taman belakang, ketika Ulya tidak sengaja menumpahkan kopi di sepatunya dan ketika Angga memeluk Ulya.
Anita memejamkan matanya, ia tidak kuat untuk mengingat semuanya. Sementara Agis dengan antusias berharap ingatan Anita kembali pulih.
"Gue nggak kenal sama mereka, semuanya terlihat hitam putih," tukas Anita yang membuat Agis mengembuskan napasnya kecewa.
****
"Non, ada Den Nathan," ucap Bi Inah. Talia menghentikan kegiatan membacanya lalu ia turun untuk menemui Nathan.
"Mau ajak elo keluar, mau?"
"Masih jam tujuh." Nathan menunjukkan jam tangannya pada Talia.
"Emm ... Oke, gue ganti baju dulu. Gak lama kok palingan cuma ganti celana doang," ujar Talia kemudian naik lagi ke atas.
Talia memakai celana levis dan hoodie berwarna biru, rambutnya ia kuncir satu lalu ia memakai sepatu. Talia telah sampai di bawah lagi lalu mereka segera meluncur pergi.
"Karena tadi gue cuekin elo makanya gue ajak elo jalan malam ini, elo mau minta apa aja gue turutin," ujar Nathan sembari menyetir mobil.
"Beneran nih elo bakal turutin apapun yang gue mau?" tanya Talia memastikan. Nathan berdehem sambil mengangguk mantap.
Mereka sekarang berada di taman, Nathan memberi Talia es krim lalu ikut duduk di ayunan sebelah Talia. Talia menikmati udara segar malam ini sambil memakan es krimnya. Tiba-tiba ada badut datang menghampiri mereka, badut itu berjoget di depan mereka, Talia tertawa melihatnya dan Nathan memerhatikannya. Setelah itu mereka berdua berfoto dengan badut tersebut. Kemudian Talia mengajak Nathan untuk beli sate padang, belum sempat sate itu di ambil Talia sudah mengajak Nathan untuk melihat pernak-pernik yang terbuat dari cangkang umang-umang.
****
Hati Ulya berdebar tak karuan, ia takut jika Ibu Angga tidak menyukainya. Angga menggenggam erat tangan Ulya supaya Ulya tidak grogi.
"Mama," ucap Angga.
Wanita paruh baya yang sedang menonton TV itu melihat ke arah putranya. Wanita itu tersenyum. "Dia siapa?" tanyanya.
"Ini Ulya yang sering aku ceritain ke Mama."
"Oohh ... Angga banyak cerita tentang kamu ke Tante. Katanya, kamu gadis baik, rajin dan pintar." Ulya tersenyum mendengarnya, ia berharap Ibunya akan menyukainya dengan keadaan apa adanya.
"Ngomong-ngomong, orang tua kamu kerja apa?" tanya Ibu Angga pada Ulya.
Ulya melirik ke arah Angga, begitupun Angga juga.
"Ayah saya supir angkot," jawab Ulya kemudian.
Wanita itu tercengang mendengarnya, bagaimana bisa putranya keturunan konglomerat berpacaran dengan anak supir angkot. Ibu Angga tetap mencoba untuk ramah.
"Hebat ya, seorang supir angkot bisa menyekolahkan anaknya di sekolah terelite yang ada di Jakarta ini, kamu mendapat beasiswa atau memaksa Ayahmu?"
"Mama." Angga menegur Ibunya.
"Lho kenapa? Mama 'kan cuma tanya."
"Saya mendapat beasiswa makanya bisa masuk ke SMA Roma," ujar Ulya.
"Tuh kan, Ulya aja gak keberatan Mama tanyain kayak gitu," ucap wanita itu pada putranya. Angga memutar bola matanya kesal.
****
"Banyak banget." Talia membawa begitu banyak boneka dari yang terkecil hingga terbesar.
"Besok gue mau buka toko boneka," ujar Talia menatap Nathan datar.
Nathan terkekeh kecil, "Kan gue udah bilang, gue ahli dalam permainan itu makanya menang terus dan bonekanya habis gue borong."
Nathan menancap gas mobilnya. Selama di perjalanan mereka hanya diam dan Talia sibuk dengan ponselnya lalu Talia merekam Nathan, ia memasukkan di story instagramnya.
"Elo ngapain?" tanya Nathan.
Talia memperlihatkan videonya lalu mengeklik send.
Kini mereka telah sampai di rumah Talia, Talia kembali menggendong boneka-bonekanya.
"Yaudah gue masuk duluan ya," ujar Talia. Nathan melihati Talia, ia menggenggam sesuatu di tangannya.
Talia dapat menebak wajah Nathan seperti ada yang ingin di katakan. "Apa ada sesuatu?" tanya Talia.
Nathan berjalan mendekati Talia lalu ia memasangkan kalung di leher Talia. "Hadiah buat elo," ujarnya.
Talia memegang kalung itu, "Makasih ya."
Nathan tersenyum kemudian ia mengendarai mobilnya untuk pulang. Talia senyum-senyum sendiri ketika berjalan menuju kamarnya.
****
To be continued ....
Sesudah membaca budayakan Like, Komen, Vote serta beri penilaian ya🤗🤗
See you💃💃💃