You Love Me

You Love Me
bab20



Tinggi nilai matematikanya. Bapak mengajukan dua orang untuk maju di olimpiade matematika. Sekolah kita, matematikalah yang belum mendapatkan medali emas. Saingan kalian pemenang medali emas olimpiade matematika tahun kemarin."


"Tapi Pak, kenapa harus saya dan evan?"


"Sebenarnya Bapak hanya ingin mengajukan evan, tapi kamu sudah lebih dulu mendaftar. Jadi, Bapak mengajukan dua orang."


bela meremas pulpen yang ia pegang.


"Olimpiade tingkat kabupaten tahun ini akan diadakan di sekolah kita 6 bulan lagi. Bapak harap semua cabang olimpiade dari sekolah kitabisa masuk ke tingkat nasional bahkan internasional."


Semua mendengarkan dengan serius.


"Jika kalian bisa masuk dalam skala internasional, pemenangnya akan mendapatkan beasiswa diamanapun mereka akan melanjutkan kuliahnya. Bahkan di universitas ternama dunia. Bapak harap kalian belajar dengan sungguh-sungguh. Terutama bela dan evan yang saat ini kelas XII. Ini kesempatan terakhir kalian."


Pak Bima melanjutkan. "Tahun kemarin evan mendapatkan medali emas di tingkat nasional dan lolos ke tingkat internasional bersama 4 siswa dari SMA daerah lain. Ke-5 siswa sudah mengikuti olimpiade internasional fisika di jepang dan evan perwakilan sekolah kita mendapatkan medali perak. Bapak harap ini bisa memotivasi kalian."


Semua mengangguk. Kecuali bela. Ia sedari tadi meremas pulpennya.


"Bimbingan akan dilakukan seminggu sekali setiap hari rabu. Bapak harap, kalian bisa selalu hadir


"Baik pak!" Sahut mereka dengan semangat kecuali evan dan bela.


"Baiklah, bimbingan akan dimulai minggu depan. Kalian semua bisa kembali ke kelas masing-masing


Pak Bima keluar dari ruang bimbingan. Semua murid yang ada diruangan juga mulai keluar ruangan.


evan beranjak dari duduknya untuk pergi ke kelas, tetapi bela mencekal lengannya.


"Kenapa lo ikut olimpiade dan kenapa lo pilih olimpiade Matematika?"


evan menepis tangan bela. ' Kenapa? Lo takut?"


"Lo sengaja?"


evan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. " Bisa jadi."


"Brengsek lo!"


evan tersenyum miring. " Selamat belajar mati-matian."


"Kenapa lo lakuin ini ke gue!"Klaim


evan menatap bela. "Balas dendam."


"Balas dendam?"


evan mengangguk. "Lo gak inget apa yang lo lakuin?"


bela mengepalkan kedua tangannya, menahan amarah.


"Gue tau lo yang udah fitnah gue di grup sekolah."


bela terdiam. Bagaimana evan bisa tau? bela memang sempat menyebarkan rumor tahun lalu bahwa evan bisa mendapatkan nilai bagus karena mendapatkan kunci jawaban dari sekolah. bela sampai menjadi gunjingan satu sekolah saat itu. bela juga menyebarkan rumor bahwa Mama evan membantu evan membeli kunci jawaban dari kepala sekolah, karena Mama evan berteman baik dengan kepala sekolahnya. Rumor itu langsung dibantah oleh kepala sekolah. evan juga sampai mengikuti ulangan semester dengan soal yang berbeda untuk membuktikannya. Dan evan terbukti bersih dari rumor itu.


bela melakukan ini atas perintah Mamanya. Tapi bela sudah yakin bahwa dia menyebarkannya dengan akun anonimnya.


"bela, bela. Lo kira gue gak bakalan tau cara kotor lo."


bela masih diam. Keringat sudah bercucuran di wajahnya.


evan menepuk-nepuk bahu bela. "Selamat berjuang!"


evan berjalan keluar dari ruangan, meninggalkan bela sendirian. bela langsung terduduk di lantai. Tangannya gemetar.


"Bagaimana ini?" bela menggigit ujung kukunya. "Kalau tau gue bersaing sama evan, Mama pasti bakalan nyuruh gue ngalahin evan dengan cara kotor lagi."bela takut.


***


dena melihat bangku sebelahnya yang masih kosong. Jam pelajaran sudah dimulai setengah jam yang lalu, tapi orang yang duduk disampingnya belum datang juga. dena bukannya khawatir, dia hanya penasaran saja kemana perginya evan karena Rechan bilang evan tidak ada di UKS. Dan tumben evan terlambat masuk kelas saat jam pelajaran sudah dimulai.


Rechan menoel bahu dena, membuatnya menoleh.


"evan lagi bimbingan olimpiade,"


"Heleh, lo sedari tadi ngeliatin bangku Saka terus. Nyariin ya?"


"Enggak lah!" Teriak dena.


"dena! Kenapa kamu teriak?" Tanya Bu Mira.


"Ini Bu, Rechan mau nyontek saya,"


Rechan menggerakan kedua tangannya. "Enggak bu, kalau saya nyontek dena nilai saya bukan nol lagi bu, tapi minus."


"Sudah-sudah, kalian kerjain soal yang Ibu kasih."


"Iya Bu," sahut dena dan Rechan bersamaan.


Tok tok tok!


"Permisi Bu," ucap evan yang baru datang. Bebell yang sedang menulis langsung mendongak, melihat evan yang baru datang.


"Masuk evan. Ibu dengar kamu ikut olimpiade matematika?"


evan mengangguk dan kembali duduk di bangkunya.


"evan memang kebanggaan sekolah. evan kamu udah punya pacar?" Tanya Bu Mira. Saka spontan menggeleng.


"Coba ibu punya anak seumuran kamu, Ibu jodohin anak Ibu sama kamu. Sayangnya anak ibu masih TK ,evan hanya menanggapi dengan tersenyum.


"Mana betah nanti anak ibu dijodohin sama cowok Batu," irih dena yang masih bisa didengar oleh Saka. evan tidak menanggapi ucapan dena.


"Ibu gak tanya saya punya pacar apa enggak?" Protes Rio.


"Kamu mah pacarnya udah kayak jajan di warung, kamu rentengin."


Semua murid tertawa. Bu Mira adalah guru favorit kelas XII.2. Walaupun Bu Mira guru Matematika, tetapi Bu Mira guru yang humoris dan santai.


"Sudah-sudah kalian kerjain soal yang saya berikan. evan, buka halaman 23 ya, disana ada 10 soal. Mulai kerjakan ya."


"Iya Bu," jawab evan.


evan mulai membuka bukunya dan membuka halaman yang baru saja Bu Mira katakan. dena mengintip buku evan. Terlihat semua soal sudah evan kerjakan.


"Kenapa lo liat-liat?" Tanya evan dan langsung menutup bukunya.


"Nyontek dong," pinta dena.


"Makanya belajar."


"Dih, dasar pelit!" dena cemberut dan kembali mengerjakan soal di bukunya. dena sama sekali tidak mengerti. Soalnya berbeda dengan apa yang dijelaskan Bu Mira.


dena menoleh ke Cia yang sedari tadi memijit keningnya.


"Cia, nyontek nomor 4 dong."


Cia menunjukkan bukunya. Terlihat belum ada satupun yang dikerjakan.


dena menghela nafas dan kembali menatap evan.


"evan," panggil dena dengan suara lembut.


Saka menoleh dan melihat dena yang sudah tersenyum.


"Ajarin dong."


"Ogah," sahut evan.


dena memudarkan senyumannya. dena langsung menginjak kaki evan dengan sekuat tenaga, membuatnya mengaduh kesakitan.


"Kenapa evan?" Tanya Bu Mira.


"Kaki saya diinjek dia," ucap evan sambil menunjuk dena.