
Melangkah cepat sedikit berlari untuk menyeimbangi langkah besar dari laki-laki yang ada di depan-nya. Kaki pendek Rohaini tak mampu menyeimbangkan langkah besar dari kaki jejang milik Romi.
" Buat apa sih si Bos ngajak ke mall segala ini kan masih jam kerja, mana jalanya cepet banget." Gerutunya dalam hati.
Saat sore hari Rohaini sedang sibuk-sibuknya melayani pelanggan karena lumayan banyak yang datang. Tangan-nya di gegam oleh Romi dan nampan yang di pegang olehnya di ambil lalu di serahkan pada Amelia dan menyuruh-nya untuk menggantikan Rohaini.
Tampa berbicara lagi Romi langsung menarik Rohaini, gadis itu tak sempat bertanya sampai di masukan kedalam mobil. Di dalam mobil pun hanya diam karena melihat Bos-nya yang diam saja dan ekpresi datar di wajahnya membuat Rohaini sedikit enggan untuk bertanya.
Sampai mobil memasuki area parkir di mall, Romi turun terlebih dahulu lalu membukakan pintu mobil depan di mana Rohaini duduk. Tangan gadis itu di gegam agar tidak jatuh saat turun dari mobil, melihat sang gadis sudah keluar Romi lantas menutup pintu mobil dan menguncinya.
Dia pun kembali menarik Rohaini agar jalan mengikutinya memasuki pintu mall, mereka menelusuri gedung mall besar itu.
Srett
Rohaini menarik tangan yang di genggam oleh Bos-nya itu membuat langkah Romi terhenti dan berbalik kebelakang menatap Rohaini.
" Ada apa...? " Tanya Romi dengan santai
"Cape Bos, kalou jalan bisa santai gak sih." Rohaini jongkok sambil mengatur nafas kepalanya mendongak menatap Romi.
"Lemah seperti itu saja sudah kelelahan apa lagi aku suruh kamu naik gunung." Ucap Romi sambil bercacak pinggang.
" Lagian ngapain juga aku harus naik gunung, kaya gak ada kerjaan aja." Sinisnya.
" Haiss... Jawab terus kalou di kasih tau, cepet berdiri sebentar lagi kita nyampe tempatnya." Rohaini mengulurkan kedua tangan-nya meminta Bos-nya untuk membantunya berdiri, Romi yang tidak peka hanya menatapnya dengan bingung.
" Huh...dasar Bos cerewet yang gak peka." Rohaini lantas berdiri dengan kesal dia berjalan melalui Bos-nya. Langkahnya terhenti saat tangan kanan-nya di gegam sang Bos.
" Emang kamu tau tempatnya, main jalan aja. Ikutin Aku kesebelah sini." Romi menarik tangan Rohaini dan memperlambat jalannya untuk menyesuikan dengan langkah gadis yang di gandeng olehnya.
Mereka terhenti di lantai 3 tempatnya di depan sebuah lestoran bergaya jepang mereka pun masuk dan duduk di salah satu meja. Romi mengakat tangan kanan-nya tak lama seorang pelayan pun datang dengan membawa dua buku menu dan satu buku kecil yang tergantung di lehernya itu untuk mencatat pesanan pelanggan.
" Selamat datang bapak dan Ibu, silakan di lihat ini buku menunya jika sudah selesai memilih kami akan mencatat pesanan Bapak dan ibu." Pelayan wanita itu menaruh buku menu di depan Rohaini dan Romi.
" Pilih apa saja yang mau kamu makan." Ucap Romi sambil membuka buku menu.
" Ini gratiskan Bos." Ucapnya berbisik setelah mendapat anggukan dari Romi gadis itu pun dengan semangat melihat buku menu. Dia bingung ingin memesan apa karena semua makanan yang di lihat terasa sangat enak semua. " Ramen pedas dan jus Alpukat." Pilihan terakhirnya, yang langsung di catat oleh pelayan.
" Sushi dan teh hijau." Ucap Romi menyebutkan pesanan-nya. Pelayan itu pun langsung mencatat dan membacakan ulang pesanan mereka setelah memastikan kedua pelanggan tidak ada yang di pesan lagi dia pun pergi.
" Bos " Panggilnya yang hanya mendapat dehemam dari sang Bos. " Bos ngajak Aku ke mall cuma buat makan." Lanjutnya.
" Iya, sekalian kencan biar kita tambah dekat." Ucapnya dengan santai. Rohaini terbelalak kedua bola matanya membulat sempurna mengapa Bos-nya ini mengajak kencan dirinya dengan santainya apa ini serius, dan apa artinya agar lebih dekat . Kedekatan seperti apa yang di maksut oleh bos-nya ini fikiranya penuh dengan pertanyaan.
" Bos aku ini serius loh." ucapnya dengan serius.
" Kamu kira Aku ini bercanda, habis makan nanti kita jalan-jalan, nonton,belanja pokoknya melakukan apa yang biasanya orang kencan lakukan." Ucapnya tegas. Rohaini terdiam tak bisa berkata-kata lagi dengan apa yang di lakukan oleh Bos-nya itu, mengapa tiba-tiba mengajaknya berkencan apa Bos-nya itu baru kerasukan mahluk halus.
Saat fikiranya melayang memikirkan kelakuan Bos-nya itu para pelayan datang dengan pesanan mereka dan menatanya di meja, setelah pelayan pergi mereka mulai makan beberapa kali Rohaini melirik sang Bos memastikan jika tidak ada sesuatu yang aneh namun di lihatnya biasa saja. Beberapa menit mereka pun makan dalam diam sampai selesai.
Setelah selesai Romi membayar mereka pun keluar dari restoran. Dan kegiatan selanjutnya seperti apa yang Romi katakan melakukan kegiatan kencan seperti orang-orang yang sedang pacaran menonton, jalan-jalan, berbelanja, membeli cemilan, masuk ke area permainan hingga tak terasa di luar hari sudah gelap.Gadis itu pun sampai lelah mengikuti semua kemauan Bos-nya itu .
Brukk
" Kamu ternyata lemah sekali hanya berputar beberapa kali saja sudah KO.!! " Ejek Romi yang ikut duduk di sebelah Kanan Rohaini.
" Iya beberapa kali tapi dari lantai satu sampai lantai atas Bos puterin semua ya...gempor lah Bos kaki aku yang pendek ini, jangan sama ini sama kaki Bos yang panjang kaya tiang listrik." Sinis-nya tak terima.
"Apa kamu bilang kaki ku kaya tiang listrik, Hei..... Apa mata mu buta kaki berotot gini kaya atlit kamu samain tiang listrik yang lurus lempeng gitu aja mana hitam lagi warnanya." Protesnya tak terima denga ucapan Rohaini. "Kenapa diam aja, tumbem gak bales omongan aku." Romi menengok ke sebelah kirinya ternyata gadis itu sudah tidak di tempatnya, Romi pun melihat ke arah depan gadis itu sudah ada di kerumunan orang-orang. Saat hendak menyusul gadis itu sudah berbalik dan berjalan kearah Romi.
" Ayo kita pulang." Suaranya serak seperti menahan sesuatu, Romi menatap wajah Rohaini matanya merah pipinya basah dia gadis itu menangis. Rohaini berlari tampa menunggu jawaban Romi.
Deg
Hatinya ikut merasakan kesedihan yang dirasakan gadis itu, Romi mengambil paper bag lalu berjalan ke arah kerumunan, senyum semirik terpatri pada bibirnya.
" Tak perlu banyak tenaga tenyata untuk membuatnya menjauh dari diri mu, sekarang aku yang akan menjaganya." Hatinya begitu senang melihat adegan itu padahal gadis yang dia cintai menangis.
Romi berjalan cepat menyusul Rohaini padahal mereka ada di lantai 4 dan gadis itu berkata kaki-nya terasa pegal tapi mengapa larinya cepat sekali.
Sampai tiba di parkiran melihat kanan dan kiri tidak ada tanda-tanda gadis itu Romi jadi panik bagaimana jika gadis itu menghilang atau melakukan hal yang nekat. Saat sudah menemukan mobil miliknya Romi memasukan paper bag kedalam mobil.
" Rohaini...!! Kamu di mana." Teriak Romi menyusuri parkiran. Langkahnya terhenti saat mendengar samar-samar isak tangis seseorang dari arah ujung, dia pun berlari mendekati ujung parkiran suara tangisan itu semakin jelas.
Saat sudah sampai matanya mengedar mencari asal suara pandangan-nya terhenti pada seorang dengan rambut tergerai dengan baju seragam 2R Cafe yang masih di kenakan berjongkok dengan wajahnya yang di benamkan pada dua lututnya dengan kedua tangan yang memeluk kaki.
" Hikss...." Suara tangisnya cukup keras.
" Hei... Cengeng sedang apa kamu menangis disini. Seperti anak kecil." Romi berdiri tegak di depan gadis yang mana itu adalah Rohaini.
Rohaini mengakat kepalanya menatap pada Romi lalu berdiri dan langsung memeluk lelaki tersebut dengan tangis yang semakin menjadi-jadi.
" Sudah jangan menangis kau seperti anak kecil jadinya. Apa tidak malu di lihat banyak orang." Romi memeluk balik gadis itu sambil berusaha untuk menenangkan.
"Hikss...sakit..sakit..sakit. hikss..." Rohaini hanya berkata sakit itu saja yang keluar dari bibirnya sambil terus menangis.
"Baiklah baiklah kita pulang." Romi menggendong Rohaini ala koala gadis itu melingkarkan kedua tangannya pada leher-nya dan membenamkan wajahnya di cerucuk leher Romi sambil terus terisak.
Romi mendudukan Rohaini di kursi penumpang memasangkan sabuk pengaman pada tubuh-nya setelah menutup pintu Romi berputar dan masuk pada kursi pengemudi. Romi mulai melajukan mobil meninggalkan tempat parkiran dia mengantarkan Rohaini sampai kos-kosan-nya.
Rohaini dan Romi
(Google)
Pelukan akan mengurangi kesedihan dalam diri kita, karena perasaan menenangkan yang di salurkan oleh seorang yang kita peluk.
Itu menurut author kalou kalian bagaimana.
Semangat berpuasa.........