You Love Me

You Love Me
BAB 13



Semakin hari Rohaini seperti tertahan di ruangan Bos yang dari 30 menit menunggu sekarang menjadi bertambah bahkan terkadang sampai seharian full sampai-sampai dia makan siang bersama dengan Bos-nya itu. Dia seperti bukan seorang pelayan tapi asisten pribadi, Gadis itu sempat berfikir dia seperti makan gajih buta karena tak mengerjakan pekerjaan seorang pelayan.


Ada saja yang bisa membuat Rohaini tertahan lama di ruangan Bos. Dengan mengajaknya nonton filem, atau menyuruhnya membereskan berkas-berkas yang berserakan yang di perbuat oleh Bos-nya, terkadang menyuruhnya memijat dan masih banyak lagi agar dirinya tertahan lebih lama lagi.


Seperti saat ini Rohaini sudah sangat bersabar meladeni Bos-nya ini. Di saat waktu 30 menit untuk menemaninya sudah habis, saat hendak melangkah pergi Romi menahanya dan memintanya untuk memijat pundak miliknya yang terasa pegal katanya.


Pada awalanya Rohaini menolak namun Romi mengiminginya dengan uang 200 ribu tampa ba bi bu lagi Rohaini langsung bergerak cepat kebelakang tubuh Bos-nya itu dan menggerakan jari jemari lentiknya untuk memijat pudak sang Bos. Uang sangat berharga untuk-nya dia adalah penyuka uang tapi dia tidak matre namun uang itu kebutuhan setiap manusia bukan.


"Lumayan buat makan siang sama Lia. Hihihi..." Ucapnya dalam hati.


"Apa hanya segini tenangga mu. Ini tidak ada rasanya sama sekali." protesnya. Tubuh kekarnya itu tak merasakan pijatan dari Rohaini tangan dan tenaga sama-sama kecilnya.


" Ini sudah ku tekan kuat-kuat Bos, memang dasar tubuh mu saja yang terlalu berotot."Belanya tak terima.


"Jika seperti ini ku kasih 100 ribu saja, bahkan dengan tenaga seperti ini tidak cocok untuk di bayar." Hinanya.


" Yakk..!! Kau meremehkan ku Bos dengar ya.... Akan ku tambah tenaga ku untuk memijat tapi jangan teriak kesakitan aku tidak akan menghentikannya." Ancamnya dengan kesal.


Rohaini mengerahkan semua kekuatannya untuk memijat pundak Bos-nya itu. Sedangkan yang di pijat biasa saja tak merasakan kesakitan justru dia tersenyum melihat Rohaini yang sedang kesal terlihat dari caranya memijat namun bukan memijat melainkan memukul dengan mengepalkan kedua tangan-nya.


Selama 20 menit melakukan hal itu kegiatanya pun terhenti, berjalan kearah kursi yang berada di depan Romi. Rohaini menghempaskan bokong miliknya dengan cukup keras sampai berbunyi bruk.


Mengibas-ngibaskan kedua tanganya yang terasa sakit dan pegal karena memijat lebih tepatnya memukul pundak si Bos. Namun dia lebih kesal saat melihat ke arah Bos-nya yang biasa-biasa saja tampa ada ekspresi kesakitan padahal menurutnya dia sudah memukul dengan sangat kuat. Apakah tubuh Bosnya ini terbuat dari besi di pukul bukanya sakit malah yang memukul yang sakit.


"Kenapa pandangan mu seperti itu pada ku, jangan-jangan kamu suka sama aku." Ucapnya di akhiri dengan kepedean tingkat tinggi, Saat melihat gadis di depanya memandang sinis padanya.


" Jangan kepedean Bos mana ada Aku suka sama Bos yang ada sebel tau." Sungutnya.


" Suka juga gak apa-apa ko aku ikhlas, gak akan aku tolak juga. Aku ini tampan jadi kamu pasti bakalan bangga bisa suka sama aku." Bangganya.


" Hadeh bisa ya...ada orang kaya gini, pingin ku pukul lagi tapi masih sakit nih tangan." Grutunya tak percaya jika ada orang senarsis Bos-nya ini.


" Sini aku lihat kedua tangan mu." Mengulurkan kedua tangan ke hadapan Rohaini.


" Buat apa Bos." Tatapan bertanya pada Bosnya.


" Aku hanya ingin melihatnya, cepat lah kenapa harus bertanya lagi setiap aku memerintah mu." Bos ini sungguh tidak sabaran, Rohaini pun langsung menaruh kedua telapak tanganya pada kedua telapak tangan Bos-nya.


Di lihatnya tangan putih mulus yang dapat di genggam olehnya karena ukuranya yang lebih kecil dari miliknya. Terdapat beberapa tanda semu merah pada jari-jari tangan-nya itu akibat sang gadis yang memukul pundaknya dengan cukup keras. Romi pun mengusapnya dengan lembut dengan jemari jempol miliknya berkali-kali.


" Apa masih sakit." Suara lembut itu terucap dari bibir sang Bos, dan membuat Rohaini tertegun sambil menatap Romi lekat ada perasaan hangat yang familiar di hatinya namun entah apa itu.


" Jika masih sakit istirahat saja disini." sambungnya.


Cup


" Eh.... Tidak usah. Ini sudah sembuh." Sebuah kecupan pada kedua tanganya menyadarkan dari lamunan-nya dia langsung menarik kedua tangan-nya agar terlepas dari genggaman sang Bos.


" Kalou begitu aku pergi dulu Bos." Rohaini langsung berdiri dan pergi dengan cepat dari ruangan itu.


" Secepat itu sembuhnya apa karena di kecup oleh ku, wah kecupan cinta dari ku adalah obat paling manjur." Bangganya sambil tersenyum puas.



Di sebuah rumah makan Amelia dan Rohaini sedang menikmati hidangan makan siang mereka. Setelah mendapat uang 200 ribu dari si Bos Rohaini mengajak Amelia untuk makan di rumah makan yang sudah lama mereka incar, rencananya saat nanti sudah dapat gajih pertama Rohaini. Namun karena sekarang sudah dapat uang jadi mereka langsung datang.


" Kenapa kejadian tadi seperti pernah terjadi dalam hidup ku, dan perasaan hangat yang sangat familiar mengapa aku bisa merasakannya apa aku pernah bertemu dengan Bos sebelumnya. Dan caranya berbicara sangat lembut apa dia memang seperti itu sifat aslinya." Hatinya terus di penuhi dengan semua pertanyaan, dia larut dalam pemikiranya sendiri hingga nasi dan lauk yang ada di dalam piringnya pun hanya di aduk-aduk olehnya.


Plak


Amelia menepuk pundak Rohaini karena melihat sahabatnya yang melamun sampai tak menghiraukanya saat berbicara padanya.


" APA BOS.!!? " Teriaknya yang terkejut.


" Bukan..!! Kenapa aku ngelamunin Bos gak penting. Emang kenapa sih." Tanyanya balik.


" Aku tuh nanya kamu ko bisa dapet uang 200 ribu dari Bos. Tapi malah kamu diem aja eh taunya ngelamun." Ucap Amelia.


" Oh...itu aku di suruh mijitin pundak dia yang keras kaya batu." Jawab Rohaini.


"Oooo gitu." Amelia mengaguk-agukan kepalanya beberapa kali.


" Rohaini kan." Suara lembut wanita terdengar memanggilnya membuat gadis itu mendongak untuk melihat siapa yang baru saja menyebut namanya itu, begitu juga dengan Amelia yang hanya penasaran.


" Ibu Laura." Ucapnya sambil tersenyum.


" Iya ini aku. Jangan pake Ibu pangil aja Laura saya belum tua loh."Protesnya " Emm...boleh gabung gak." Lanjutnya.


" Iya boleh ko bu eh Laura." Saat sudah mendapatkan izin Laura langsung duduk di hadapan Rohaini.


" Kamu kenal sama dia Eni." Tanya Amelia.


" Kenal. Laura ini manejer di tempat Ali kerja. Jadi Laura ini atasanya Ali. Kemarin mereka datang ke cafe terus kita kenalan deh." Ucapnya antusias.


"Oooo gitu." Amelia mengulurkan tangan kanan-nya pada Laura. " Nama saya Amelia sahabatnya gadis yang ada di samping saya ini, salam kenal." Ucapnya memperkenalkan diri. Yang di sambut hangat oleh Laura dengan menjabat tangan Amelia.


" Salam kenal juga. Nama saya Laura." Tersenyum ramah.


" Wah...tangan Mu mulus sekali wangi lagi." Kagum Amelia saat menghirup tangan-nya sendiri yang bekas berjabat tangan dengan Laura.


" Terimakasih tangan kamu juga halus ko." Pujinya balik.


" Hahaha.... Bisa saja muji balik. Padahal buat formalitas saja atau basa basi iya kan." Ucapnya gamblang.


Plak


Rohaini memukul pelan pundak Amelia yang terlalu gambalang dengan ucapanya itu.


" Maaf ya... si Lia ini kalo ngomong terlalu blak blakan." Ucap Rohaini.


" Iya gak apa-apa ko. Itu malah bagus jadi diri sendiri walaupun sama orang baru gak jaim-jaim." Ucap Laura.


" Iya tuh denger itu bagus." Ucap Amelia bangga.


" Iya terserah kamu saja, yang penting kamu bahagia iyakan." Ucapnya sambil tersenyum.


" Betul itu."Setujunya.


" Kalian sangat dekat ternyata." Ucap Laura


" Iya karena kita sahabat dari kecil." Ucap Rohaini.


" Wah kalian sangat hebat, bisakah aku tau kisah persahabatan kalian." Tanya antusias Laura.


Mereka pun mengobrol panjang lebar, bercerita tentang kisah mereka masing-masing seperti saling bertukar kisah hidup, sampai jam makan siang habis mereka bahkan sempat terlambat kembali ketempat kerja. Saking asiknya bercerita.


Dari pertemun itu lah awal dari kedekatan antara Laura dan dua sahabat sedari kecil, mereka akan bertemu saat jam makan siang hanya untuk mengobrol dan bertukat cerita.



Jangan malas-malas kasih dukungan.


TUNGGU UNTUK BAB SELANJUTNYA DADAHH.....👋👋😊