
Hari ini pelanggan cukup banyak namun pegawai yang jumblah-nya setengah dari hari-hari biasanya. Saat ini hanya ada 10 pegawai lima di bagian belakang dan lima lagi di bagian depan termasuk gadis tembem yang cantik dan imut siapa kalo bukan Amelia.
" Eni tolong aku. Huh...mengapa aku tidak satu sip dengan mu. Pasti saat ini dia sedang jalan-jalan dengan Ali " Protesnya dalam hati.
Pelanggan cafe tak henti-hentinya berdatangan bahkan seluruh tempat penuh walau tak sampai antri namun terus datang dan pergi silih berganti para pegawai sangat sibuk seperti tak memiliki waktu untuk beristirahat apa lagi di bagian para pelayan mereka terus bolak balik dari meja pelanggan ke pentri.
Hap
Jantung-nya berdetak kecang saat seseorang memegang kedua lengan-nya bukan karena jatuh cinta pada pandangan pertama namun piring dan beberapa gelas kotor yang berada dalam nampan yang sedang di bawanya hampir terjatuh, itu karena dirinya yang terlalu tergesah-gesah hingga tak sadar di depan-nya ada seseorang. Untung tak sampai menabrak seseorang itu namun Amelia terkejut dan hampir jatuh kebelakang namun dengan sigap orang di depannya menarik dirinya dengan menggegam kedua lengan nya.
"HUH...! Hampir saja." Pekik Amelia.
" Kau baik-baik saja." Suara bas seorang lelaki.
" Woh... Pak Deri, maaf maaf saya jalanya tidak lihat lihat." Ucapnya Amelia yang ternyata mengenal sosok di depan-nya ini.
" Iya tidak apa-apa lain kali lebih fokus dan hati-hati, bagaimana jika piring dan gelas sampai jatuh dan pecah jika hanya itu tidak masalah namun jadi masalah jika membuat mu terluka. Nanti kulit putih mulus ini tergores itu sangat menyakitkan." Ucapnya penuh perhatian denga senyum yang mengembang. Kata-kata manis itu mampu membuat pipi Amelia memerah ternyata.
" Bapak bisa aja. Sekali lagi minta maaf ya pak, kedepanya saat akan lebih hati-hati lagi." Amelia terus menunduk karena wajahnya terasa panas dan pasti pipi-nya saat ini sangat merah.
" Kau sangat imut dengan pipi tomat mu itu." Mencubit pelan dengan sedikit gemas pada pipi Amelia lalu berjalan pergi keruangan Bos.
Deg
Seperti sengatan listrik namun tidak mematikan aliranya tidak terlihat namun bisa menggucang seluruh tubuh jantung seketika berdebar dengan kecang rasa bahagia sungguh terasa ingin rasanya menjerit dan melompat namun dia tau tempat senyumnya mengembang lebih besar lagi.
"Aaaaaaa..... Dia dia membuat ku gila. Mengapa kata-katanya selalu manis untuk di dengar." Jeritnya dalam hati.
Bagai terhipnotis wajah murung dan lelahnya hilang seketika teman-teman kerjanya pun heran denga perubahan yang begitu cepat yang mereka tau teman mereka yang berpipi cabi ini jika sudah bad mood sungguh susah untuk mengembalikan mood-nya lagi.
Tapi hari ini mereka seperti melihat ke ajaiban wajah bad mood dengan dumelan pelan dan halus hilang seketika di gantikan dengan senyum yang mengembang bahkan sekarang hatinya selalu memuji ketampanan seorang sekertaris Bos-nya itu.
Malam pun tiba semua kariawan sudah bersiap untuk pulang satu persatu meninggalkan cafe, begitu pula dengan Amelia pegawai yang paling akhir keluar di lihatnya sosok Bos cafe melewati dirinya langsung keluar tampa mengunci pintu.
"Eh...Bos ini belum di kunci" Romi berbalik.
" Deri masih di dalam, dia tidur." Nada datar dan ekspresi yang datar pula yang keluar dari Bos-nya.
"Kenapa gak di bangunin Bos." Tanya Amelia.
"Merepotkan." Langsung berbalik dan pergi, sikap cuek-nya pun keluar.
"Wah sikap-nya itu masih sama, Apa yang Eni katakan itu bohong jika dia sangat cerewet, pandai menggoda dengan kata-kata manis,dan seperti anak kecil yang manja. Tapi tidak mungkin-kan Eni bohong pada ku." Gerutunya pada sikap Bos-nya itu. Dari yang dia tau dan yang Eni tau itu sangat berbeda jauh.
Yang dia tau adalah Bos yang cuek, datar dalam kata dan sikap, disiplin,tegas, dan sulit untuk di dekati. Namun berbeda denga apa yang Rohaini ceritakan yaitu Bos yang Cerewet, banyak minta, selalu pandai membuat kata-kata manis, manja dan suka ngancem. Mungkin itu lah yang namanya mensepesialkan seseorang.
"Jangan ngedumel malam hari nanti di culik." Seseorang berbisik tepat di telinganya.
" Culik sama siapa pak.? " Berbalik dan menatap serius, itu terlihat sangat lucu.
"Sama saya, nanti saya bawa pulang loh.... Ke rumah." Sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Emang boleh bawa anak perawan kerumah pak." Deri terlihat gemas melihat pentanyaan polos keluar dari gadis di depan-nya ini.
"Iya pak" Sambil mengangguk.
"Ayo saya anter kamu pulang, masa perempuan pulang sendirian nanti di gangguin preman kan sayang mending di gangguin saya." Amelia makin tersipu. Membuka pintu mobil Amelia pun masuk kedalam lalu Deri berjalan memutar kedepan dan membuka pintu kemudi dia masuk dan menutup pintu.
"Sudah pasang sabuk pengaman." Sambil memasang sabuk pengaman pada dirinya.
"Sudah pak."
"Yah...telat padahal mau saya pasangin loh..." kalimat simpel namun jika itu keluar dari mulut Deri mampu membuat hati wanita berbunga begitu juga Amelia.
"Pak Deri stop hatiku udah gak muat buat nampung ribuan bunga yang bermekaran ini" Pekiknya dalam hati.
Deri menyalakan mesin mobil lalu mengijak pedal gas mobil pun melaju meninggalkan halaman cafe.
Rohaini berbaring di atas ranjang sambil memainkan handphon milik-nya.
"Mengapa Lia belum pulang, padahal jam pulang sudah lewat dari satu jam yang lalu." Yang di panggil Lia olehnya adalah Amelia itu adalah panggilan sayang dari orang-orang terdekat.
Clekk
Suara pintu mengalihkan pandangan-nya seseorang yang baru saja dia hawatirkan muncul dari balik pintu.
"Mengapa hari ini pulang terlambat dari jam biasanya." Tanya Rohaini.
"Pelanggan cafe sangat banyak karena ini hari minggu." Jelasnya.
"Kau pulang sendiri, kenapa tidak mengakat telefon dari ku." Amelia memperlihatkan layar hendphone miliknya yang mati.
"Habis batrai, tenang saja aku di atar oleh seorang pangeran." Senyum merekah di bibirnya saat bayangan sekertaris tampan Bos-nya melintas di benaknya. Rohaini yang melihat pun terheran dan jadi penasaran.
"Pangeran..!?, Siapa..? " Bukan-nya menjawab malah Amelia berjalan terus sampai memasuki kamar mandi. "Hei....Kamu harus ceritakan semua padaku Lia." Teriaknya yang meminta penjelasan.
"Iya sabar."Balas-nya. Rasa penasaran kini menghantui Rohaini, Dia harus bersabar menunggu Amelia keluar kamar mandi.
Up up up.....
Semoga semua sehat selalu.....
Jangan lupa suka suka suka
vaforit vaforit
Hadiah hadiah....
Vote vote hehehe....bay bay....😁😁👋👋
Banyak banyak ya.....