
Tiga hari sudah berlalu Rohaini dan Amelia sudah kembli ke-kota bahkan pagi hari ini sudah bersiap untuk berangkat kerja denga seragam 2R cafe yang mereka kenakan.
" LIA CEPAT SEDIKIT NANTI KITA BISA TELAT." Teriaknya. Rohaini berdiri di depan gerbang kos-kosan menunggu Amelia yang belum selesai bersiap.
Pluk
" Eni kemarin kamu pulang kenapa tidak memberitahu aku." Ali yang baru datang dan langsung merangkul pundak Rohaini wajahnya terlihat sangat gembira.
Menepis pelan tangan Ali yang ada di pundaknya. " Kemarin buru-buru jadi tidak sempat memberi tahu mu." Ucapnya datar. Ali cukup terkejut dengan sikap dingin Rohaini padanya.
" Aku punya salah pada mu." Tanyanya perlahan.
" Tidak, memang kamu punya salah apa pada ku." Sikap dingin Rohaini sangat terlihat jelas. " Mungkin perasaan ku yang salah terhadap mu." Lanjutnya dalam hati.
" Tidak juga sih, sudah lah lupakan. Oh iya aku ingin memberikan kabar baik pada mu. Kamu tau aku sudah punya pacar dan dia adalah Laura. Kakak mu ini sudah besarkan." Ucapnya begitu antusias. Melihat Ali sebahagia itu rasa nyeri di dada Rohaini muncul kembali bagai di tusuk-tusuk jarum.
" Selamat semoga bahagia. Sudah akan telat bilang pada Amelia aku berangkat duluan." Berbalik berjalan pergi meninggalkan Ali yang tengah mematung melihat perubahan sikap Rohaini padanya.
Pluk
" Selamat sekarang sudah punya pacar. Jangan lupa telaktiranya. Ayo berangkat." Tepuk Amelia pada pundak Ali, sedari tadi ternyata saat Ali datang Amelia juga datang namun dia diam melihat keduanya dari kejauhan. Setelah berucap Amelia pun pergi.
" Ada apa sebenarnya, apa sedang datang bulan jadi sifatnya berubah, bukanya biasanya marah-marah ya...bukan dingin. Tapi...ah sudah lah wanita itu kadang bikin pusing." Curhat Ali dalam hati. Lelaki itu pun menyusul Amelia.
Rohaini yang berjalan di depan berusahan untuk menguatkan hatinya pagi ini sangat tidak ada energi semangat untuk-nya.
" Aku butuh waktu untuk bersikap biasa saja. Maaf..!! " Tak terasa air matanya menetes namun langsung diseka olehnya.
Cukup berat memang saat cintanya bertepuk sebelah tangan, jika kita mencintai seseorang berati kita juga harus siap merasakan sakit hati karena penolakan. Itu yang saat ini Rohaini terapkan dalam hatinya ini adalah resiko dimana saat dirinya meyimpan rasa pada seseorang dan tak mampu untuk mengukapkanya jangan salahkan jika orang lain yang akan mendapatkan kesempatan untuk mengungkapkan-nya terlebih dahulu.
Seorang tengah menunggu dengan tidak sabaran jari jemari tangan kanan -nya mengetuk-ngetuk di meja padangan-nya berkali-kali melihat ke arah pintu Romi lelaki itu sungguh sudah rindu pada Rohaini yang sudah di klaim sebagai gadis-nya itu.
Ceklek
Akhirnya yang di tunggu pun masuk dengan nampan yang di atasnya ada secangkir kopi dan sepiring cemilan. Berjalan masuk menaruh nampan di meja depan Romi dan langsung duduk dengan tenang di depan Romi.
Dahi lelaki itu mengereyit menatap tak percaya pada tingkah gadis di depanya yang sangat berbeda itu, cerewet dan tingkahnya yang aktif hilang berganti jadi pendiam dan wajahnya yang murung. Apakah patah hatinya mempengaruhi jiwanya sebesar itu.
" Ada apa kenapa begitu murung, Wajah mu jadi terlihat jelek." Dia berniat untuk menghibur namun dengan cara menghina memang Big Bos ini tidak begitu pandai.
" Jangan dilihat jika jelek." Ucapnya datar.
" Bagaimana aku tidak melihat mu jika kamu ada di depan ku." Nadanya malah menjadi tinggi.
" Jika begitu aku akan keluar." Berdiri
" Duduk di sebelah ku. Bawa kursi itu kesini." Ucapnya menunjuk arah samping kanan miliknya.
" Sebenarnya mau apa lagi Bos cerewet ini, banyak sekali perintahnya itu. Turuti saja lah aku sedang malas berdebat dengan-nya." Grutu Rohaini dalam hati, dia pun berdiri mengakat kursi dan menaruhnya di samping Bos-nya itu lalu dia pun duduk dengan tenang.
" Aku ingin makan cemilan." Ucapnya. Romi mulai membuka laptop miliknya dia mulai bekerja dari laptopnya itu yang Rohaini sama sekali tidak mengerti.
" Di depan mu sudah ada." Ucapnya santai.
" Aku tau kamu kira aku buta, suapi aku. Apa tidak lihat jika tangan ku sedang sibuk." Gerutunya dia kesal dengan tidak pekanya gadis di sampingnya itu padahal dia pun sama orang yang tidak peka.
Kesal ya....Rohaini mulai kesal dengan tingkah Bos-nya itu, dengan cepat dia mengambil cemilan dan menyodorkanya pada Romi yang langsung dilahap oleh lelaki itu.
" Sabar sabar ini ujian kamu harus banyak sabar." Hatinya terus mengingatkanya untuk bersabar.
" Gara-gara patah hati langsung jadi bodoh dan lemot, lupakan lelaki tidak berguna itu. Apa bagusnya coba, lihatlah aku lebih cocok untuk kamu cintai dan sayangi dari pada lemm yammyamm..uhukk..uhukk.." Kesabaran Rohaini habis saat mendengar ocehan panjang Bos-nya itu dan langsung menjejelkan begitu banyak makanan pada mulut Bos-nya itu sampai tersedak.
" Minum." Menyodorkan botol minum yang sudah tersedia dari tadi di atas meja. Romi pun langsung mengambil dan meminumnya.
" Glek...glek..glek ahh... Kamu ingin membunuh suami masa depan mu. Apa tidak takut jadi perawan tua." Jengkelnya.
" Siapa suami masa depan ku huh. Lagi pula aku tidak akan jadi perawan tua di luar sana masih banyak laki-laki yang lebih tampan. Makanya kalou makan jangan banyak mengoceh." Kesalnya. Melihat Rohaini yang marah-marah bukanya kesal tapi Romi malah tersenyum dia senang melihat Rohaini yang seperti ini yang selalu menggerutu dan membantah dirinya dari pada Rohaini yang diam dan cara bicaranya yang dingin.
" Iya iya aku tidak akan berbicara lagi ayo suapi aku lagi. Dan satu lagi jika ada laki-laki di luar sana yang mendekat pada mu apa lagi menyentuh mu aku pastikan dia akan menderita hidup di dunia ini. Karena hanya aku yang bisa memiliki mu." Semiriknya. Melihat itu Rohaini bagai bisu ingin membalas namun berat untuk di ucapkan jadinya hanya diam . Dia pun menyuapi Bos itu kembali dengan hati dongkol miliknya yang hanya bisa di pendam.
Melangkah masuk ke perusahan tempatnya bekerja, Salah satu perusahaan besar yang berhasil dia masuki dan membuat dirinya di terima kerja adalah PT. Hantara salah satu perusahaan yang bergerak di bidang ekspor dan impor.
" Hari ini Eni sungguh aneh, tidak biasanya sikapnya dingin pada ku ." Ucapnya dalam hati. Pikiran pemuda itu kini terus terbayang akan sikap sahabat-nya yaitu Rohaini yang dingin padanya seolah ada sesuatu yang salah pada dirinya. Saat dalam benaknya penuh pertanyan kenapa dan apa untuk sahabatnya dia tidak sadar jika wanita yang kini menjadi atasan sekaligus kekasinya itu sudah di sampin dirinya.
" Apa yang mengganggu pikiran mu.? Sampai tak sadar aku di dekat mu." Ucapnya yang tiba-tiba, itu membuat Ali terkejut.
" Eh...emmm bukan apa-apa. Aku sedang memikirkan kekasih ku yang cantik ini." Elaknya yang malah balik menggoda Laura yang berhasil membuat wanita itu tersipu.
" Ali sebastian ini di kantor, skip dulu jiwa gombal mu itu." Ucapnya yang langsung berjalan cepat dia tidak mau tergoda pagi-pagi oleh keksihnya itu.
" Tapi itu benar sayang." Kejar Ali.
Ali ini cukup pandai berkata manis dengan sifat yang ramah dan perhatian itu yang berhasil membuat Laura luluh dan takluk padanya. Untung saja Ali bukan playboy jadi tidak membuat Laura hawatir dan menyesal telah memilih Ali.
**CINTA itu terkadang rumit datang dan pergi , masuk dan keluar, tumbuh dan tumbang pada waktu dan orang yang terkadang siap dan tidak siap, tepat dan tidak tepat. Namun yakin lah jika itu adalah alur dalam cerita cinta yang kita jalanani. Entah itu akhir yang bahagia atau pun sedih.
~ Mrs. R~
Semangat berpuasa...😁💪👋😊**