
Kayana menghembuskan nafas kesal menatap pakaian yang tergantung rapi di dalam lemari. Pakaian yang di sediakan Niel untuknya. Tapi Yana tidak akan mengakui kebaikan lelaki itu. Sebab disisi lain semua pakaian yang di bawanya lenyap. Entah lelaki itu apakan pakaiannya.
Orang-orang tempatnya kerja akan menatapnya curiga jika dia tiba-tiba datang dengan pakaian elegan seperti ini. Sedangkan sudah dua hari ini dia tidak masuk kerja. Dia juga harus menemui Nara. Pilihannya kemudian jatuh pada dress putih selutut. Karena hanya dress itu yang terlihat paling sederhana. Rencana untuk kembali kerumah mengganti pakaiannya di tundanya kala melihat jam. Dia tidak akan sempat.
Dia juga belum mengatakan apa-apa pada Radi. Mengingat nama itu, Yana tertawa geli kala lelaki itu menceritakan bagaimana dirinya bisa ada di apartement ini.
Setelah mengganti pakaiannya, Yana melangkahkan kakinya keluar pintu menghampiri Radi yang duduk di sofa dengan laptop di depannya.
Radi mendongakkan kepalanya ketika mendengar namanya dipanggil. Sejenak dia tertegun menatap penampilan Yana. Wanita itu tampak cantik dengan dress yang di pakainya. Dia mengerjabkan matanya beberapa kali kala Yana kembali memanggilnya.
"Ya, kenapa? Kau terlihat sangat cantik" Radi menepuk bibirnya setelah menyadari apa yang baru saja di ucapkannya. Dia menatap sekelilingnya takut jika sampai Niel memasang cctv.
"Maksudku kau terlihat rapi, kau mau kesuatu tempat?" ralatnya. Dia menarik sudut bibirnya keatas saat menyadari ada sedikit rona merah di wajah Yana.
Kayana menganggukkan kepala ragu hendak membuka mulut tapi di rapatkannya kembali. Membuat Radi menatapnya dengan mengernyit.
"Kenapa? Katakan saja"
"Sebenarnya aku ingin ke toko bunga"
Ucapan Yana membuat Radi membulatkan mulutnya lalu kemudian tersenyum smirk. Niel tidak akan senang jika mendengar kabar ini. Lelaki itu tidak suka jika Yana berdekatan dengan lelaki manapun. Tapi kini gadis itu hendak ke toko bunga. Dia pasti ingin membelikan bunga untuk kekasihnya, pikirnya. Tapi perkataan Yana selanjutnya membuat Radi hendak menjatuhkan rahangnya. Prediksinya ternyata salah.
"Lebih tepatnya aku kerja disana"
Kalimat itu membuat Radi mendesah kecewa, gagal sudah dia membuat Niel kesal "Baiklah, aku akan mengantarmu. Tapi apa kau sudah menghubungi Niel. Dia tahu kalau kau saat ini kerja kan?" tanyanya memastikan. Tapi melihat gelagat aneh wanita itu membuat Radi tahu jika Niel belum mengetahuinya.
"Its ok. Biar nanti aku yang memberitahunya. Maafkan aku sebelumnya, tapi Niel berpesan jika aku harus melaporkan segala yang kau kerjakan. Maksudku jika kau ingin kesuatu tempat atau mungkin menemui seseorang"
Kayana hanya mengangguk pasrah. Lagi pula dia juga tidak berani membantah jika itu amanat Niel. Dan soal pekerjaannya, Yana akan tetap bekerja karena dalam kontrak hanya tertulis bahwa Yana miliknya sampai batas waktu yang di tentukan lelaki itu.
"Sebaiknya kau pulang saja, karena setelah ini aku masih harus kesuatu tempat" ujar Yana begitu mereka tiba.
Tapi Radi menolaknya dan memaksa akan tetap menunggunya. Yana menghela nafasnya pasrah. Ibu Lila telah memanggilnya dan Radi juga tetap pada pendiriannya untuk menunggunya. Yana tidak tahu entah seberkuasa apa Niel hingga bisa membuat Radi mengikuti segala perintahnya dan harus meninggalkan pekerjaannya yang lain hanya untuk menemaninya.
Konyol! Kalau lelaki itu berpikir Yana akan kabur setelah mengambil uangnya. Lagipula kemana dia akan pergi. Dan lagi dia tidak akan meninggalkan Widya juga Nara dikota ini. Bisa-bisa Niel menggunakan mereka untuk mengancamnya.
Hari sudah semakin siang dan kini Yana sudah berada di restoran. Dia sengaja mengambil pekerjaan dengan waktu hanya setengah hari.
"Yana! lo kemana aja, di cariin pak Argus tuh. Gue juga dari kemarin hubungin lo tapi ponsel lo ngga aktif"
"Gue ngga enak badan Dee, handphone gue juga mati" sahut Yana tanpa menatap kearah Diana.
"Bukannya lo sibuk sama om-om yang beli lo" sindir Diana membuat Yana membulatkan matanya tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
Mungkin jika orang lain yang mengatakannya, Yana tidak akan peduli. Tapi ini, sahabatnya yang selama ini selalu mendukungnya. Yana tahu apa yang dilakukannya itu salah dan mungkin itu yang membuat Diana kecewa padanya.
Tapi apakah harus mengatakannya dengan sangat jelas di depannya. Seolah dia memang menginginkannya. Yana mengerjabkan matanya beberapa kali menahan desakan air matanya. Dia masih bisa menahan itu, tapi tidak dengan rasa nyeri di sudut hatinya.
"Yana, maaf. Gue ngga maksud mengatakan itu" lanjut Diana menyadari apa yang baru saja di katakannya.
Kayana hanya menanggapi dengan senyum paksanya. Mencoba memaklumi sikap Diana yang memang kadang suka ceplas ceplos. "Kemarin gue beneran sakit kok"
"Iya, gue percaya. Gue bener-bener minta maaf. Gue ngga bermaksud buat ngomong kayak gitu"
"Tidak apa-apa"
"By the way, lo tadi datang sama siapa? Apa mungkin itu...?" ujar Diana setelah beberapa menit hening. Dia sengaja membuka percakapan itu untuk menghilangkan kecanggungan yang baru saja terjadi di antara mereka.
"Bukan. Dia teman Niel" jawab Yana mengerti siapa yang Diana maksud.
"Niel?"
"Om-om yang lo maksud" Yana mengedikkan bahunya tidak berniat untuk menjelaskan siapa Niel sebenarnya.
"Ya ampun, ganteng banget sumpah. Kenalin ke gue ya?"
"Niel maksud lo?"
"Bukanlah! Gue ngga doyan ya sama om-om" Diana menepuk mulut lancangnya dan menatap Yana dengan tidak enak.
Kayana hanya tersenyum kikuk. Diana tidak tahu saja jika Niel bukanlah om-om seperti yang wanita itu pikirkan.
"Ngapain lo disini?" tanya Diana sewot pada Rachel yang baru saja datang.
"Suka-suka gue dong mau dimana aja" sahut Rachel langsung duduk di samping Radi dan merangkulnya membuat lelaki itu risih.
"Yana, meja nomor sebelas belum dilayani. Tolong kamu kesana" ujar salah satu pegawai yang datang menghampiri mereka. Yana mengangguk kemudian berlalu meninggalkan Radi bersama dua wanita yang sedari tadi menatapnya seolah dia adalah makanan lezat.
Radi memijit pangkal hidungnya, merasa jengah dengan perdebatan dua wanita itu. Dia kemudian berdiri dari duduknya dan menatap kedunya tajam. Tapi dia seperti hanya menatap angin saja sebab keduanya masih saja berdebat memperebutkannya.
"Stop!!!" teriaknya berhasil mendiamkan kedua wanita itu dan menunjuknya bergantian "Gue ngga suka kalian!" tekannya membuat kedua wanita itu melongo.
"Gue ngga suka wanita, jelas?" tekannya kembali.
"Gak apa-apa, gue tetap suka" ujar keduanya hampir bersamaan. Mereka menatap satu sama lain sebelum membuang muka. Lalu kembali saling menyerang dengan kata-kata.
Sedangkan Radi menatap mereka dengan pandangan tidak percaya sambil menggelengkan kepalanya pelan. Kedua wanita ini sepertinya tidak waras, batinnya sebelum berlalu dengan mengendap-endap.
"Ya ampun! My baby Radi kemana?!" teriak Rachel yang pertama kali menyadari bahwa lelaki yang mereka perebutkan sudah tidak berada di dekat mereka.
"Ini semua gara-gara lo! Radi jadi pergikan?!" tuding Diana.
"Kalian kenapa?" tanya Yana menghampiri keduanya dengan nampan di tangan.
"Gara-gara dia nih, my baby Radi jadi pergi!"
"Enak aja, lo tuh!"
"Lo!"
Yana mendengus menatap keduanya yang saling menyalahkan. Beberapa pelanggan bahkan menatap kearah mereka. Namun mereka tetap tidak mengindahkannya. Yana mengatupkan kedua tangannya di depan dada meminta maaf kepada para pelanggan.
***
"Yana, gue kayaknya beneren naksir sama Radi. Kira-kira gimana caranya biar gue bisa lebih dekat sama dia ya? Seenggaknya jalan berdua gitu"
"Kalau itu, gue juga ngga tau Dee" Tukas Yana sambil mengelap meja.
"Lo ada nomornya ngga? Kasih gue gih"
"Yah, maaf Dee tapi gue ngga punya" Diana mendengus mendengar ucapan Yana.
"Terus gimana dong" ujarnya dengan wajah memberenggut.
"Lo nemuin Radi aja"
"Hm, lo bener juga. Tapi gimana caranya? Gue ngga tau dimana Radi tinggal. Pokoknya lo harus bantu gue!"
"Lo beneren suka sama Radi?" tanya Yana menatap sahabatnya dengan serius. Pasalnya dia hanya bercanda tentang menemui Radi secara langsung. Yana tidak tahu jika Diana akan menanggapinya dengan sangat serius dan penuh semangat seperti ini.
"Sebenarnya Radi tinggal di apartement Niel" tambah Yana pelan setelah melihat anggukan antusias Diana.
"Maksudnya dia tinggal sama lo gitu? Kalian bertiga? Satu apartement? Lo sama Radi ngga mungkin kan... Aduh!" Diana meringis tidak melanjutkan ucapan frontalnya. Yana baru saja menjitak kepalanya.
"Nggalah. Pikiran lo kotor banget sih"
"Ok. Kalau gitu fix ya, gue ikut lo"
Kayana hendak mengangguk tapi di urungkannya kala mengingat Niel. Lelaki itu pasti tidak akan suka jika dia mengajak orang ke apartment-nya tanpa seisinnya.
"Gue tanya Niel dulu"
Kayana membuka ponselnya dan mulai mencari nomor Niel. Sesaat kemudian dia ingat bahwa ternyata dia tidak pernah memasukkan nomor lelaki itu kedalam ponselnya. Yana menatap ponselnya lebih dekat kala melihat nomor dengan nama yang tidak asing baginya. Tapi kemudian dia mengedikkan bahunya. Mungkin saja lelaki itu yang memasukkannya, pikirnya.
"Wah, seneng banget lo berdua, kenapa?" tanya Rachel yang tiba-tiba menghadang jalan mereka yang hendak memasuki ruang ganti.
"Kepo lo! Lagian ngapain lo disini? Belum puas juga lo sama kejadian tadi!" tukas Diana menatap Rachel tidak suka. Sudah cukup SP satu yang diberikan pak Argus padanya akibat dari pertengkaran mereka tadi.
"Ok. Lo ngga perlu jelasin karena gue udah denger semuanya" Ujar Rachel dengan senyum puasnya lalu kemudian menatap Yana. "Yana, gue teman lo juga kan? Jadi gue boleh ikut dong?"
"Boleh kok" ujar Yana dengan polosnya membuat Diana berdecak. Sedangkan Rachel berteriak kegirangan.