You belong to me

You belong to me
Episode Enam Belas



Satu bulan yang lalu benar-benar mengubah banyak hal. Bukan hanya Sikap Niel yang berubah drastis di depan publik. Atau Yana yang akan histeris jika melihat lelaki. Tapi juga kehidupan Nara. Bukan karena Yana pergi dan tidak meninggalkannya sepeser uangpun. Tapi karena kejadian malam itu. Bersama dengan lelaki brengsek yang sudah merenggut sesuatu yang sangat berharga dan selalu di jaganya selama ini.


Meskipun lelaki itu tidak sepenuhnya salah. Karena mereka berdua melakukannya dalam keadaan tidak sadar. Lelaki itu juga mengatakan akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu. Bahkan meninggalkan kartu namanya, Danu Maheswara. Lelaki yang sudah menolak ketiga sahabatnya.


Tapi bahkan sampai saat ini Nara belum juga memiliki keberanian untuk menghubungi lelaki itu. Danu sangat baik, pagi setelah malam itu dia mengantarkannya kembali kerumah dan beberapa kali mengingatkannya untuk menghubunginya jika memang terjadi sesuatu. Setidaknya lelaki itu mau bertanggung jawab atas apa yang sudah dilakukannya. Tapi Nara takut jika Danu mengatakan itu karena masih dibawah pengaruh alkohol.


Setelah hari itu, Nara juga jarang berkumpul bersama ketiga sahabatnya. Bahkan jika mereka hendak kerumahnya, Nara melarangnya. Tapi tidak kali ini, dia membutuhkan seseorang untuk mendengarkannya. Yana juga tidak pulang selama sebulan ini, entah dimana dia berada. Bukannya dia peduli hanya saja tidak biasanya Yana pergi selama itu.


Atau memang Nara peduli tapi tidak mau mengakuinya. Mereka saja tidak peduli padanya. Nara bahkan tidak pernah menjenguk ibunya selama di rumah sakit. Itu dilakukannya untuk rasa sakit yang mereka berikan padanya. Sejak ayahnya meninggal, yang Widya pedulikan hanyalah Yana. Yana dimana, Yana belum makan, Yana yang baik, Yana yang rajin, semua tentang Yana. Tak sekalipun Widya bertanya jika dia pulang malam. Lain halnya jika Yana, maka Widya tidak akan tidur karena menunggu Yana pulang. Dan yang paling tidak disukainya adalah Widya yang selalu membanding-bandingkannya dengan Yana.


"Lo baik-baik aja Nar, muka lo pucat" ujar Hani khawatir kala Nara membuka pintu.


Kinara tersenyum "Ngga apapa, mari masuk"


Dia menutup pintu, kemudian menatap satu persatu punggung temannya yang menuju ruang tengah dengan sendu. Dia harap ketiga sahabatnya tidak mencelanya karena apa yang sudah terjadi padanya. Dunia sungguh kejam, selama ini ketiga sahabatnya itulah yang kerap kali menggunakan tubuhnya untuk mendapatkan sepeser uang. Sedangkan dia hanya memperhatikan dari jauh dan berusaha menjaga mahkotanya dengan baik. Tapi kini hal yang selalu di ingatkannya pada sahabatnya malah terjadi padanya.


"Sekarang cerita kenapa lo kayak menghindar dari kita" Sandra menatap Nara dengan tegas.


"Iya Nar gue ada salah ya sama lo? Sejak kejadian malam itu lo kayak berubah. Lo ngga mau lagi kumpul bareng kita. Pake larang kita datang kerumah lo segala lagi. Atau lo lagi ada masalah? Kita sahabatkan?" timpal Viona.


"Tunggu-tunggu, apa maksud lo sejak malam itu? Malam apa? Gue kok ngga tau apa-apa!" Hani mengangguk mengiyakan ucapan Sandra. Pasalnya dia juga tidak tau apa yang Viona maksud.


Kinara menatap mereka dengan mata berkaca-kaca mengingat kejadian malam itu. Dia menundukkan kepalanya dalam dengan bibir bergetar.


"Nar, apa malam itu terjadi sesuatu?" tanya Viona setengah berbisik mengabaikan ucapan Sandra sebelumnya.


Anggukan Nara membuat Viona menghela nafas dengan gusar dan menatapnya dengan penuh penyesalan. "Gue benar-benar minta maaf, Nar. Gue harusnya ngga ajak lo saat Sandra dan Hani ngga ada. Gue harusnya ngga biarin lo di bawa sama lelaki itu"


Kinaravmengusap sudut matanya dan menatap Viona dengan kening berkerut. Dia benar-benar tidak mengingat apa yang terjadi malam itu. Yang di ingatnya hanyalah saat mereka turun ke Dance Floor. Viona kemudian memberinya minuman, entah berapa gelas yang di minumnya hingga dia tidak mengingat apapun setelah itu.


"Gue tau karena saat itu gue masih belum sepenuhnya mabok. Kalian semua taukan kalau gue ngga mudah mabok. Gue pikir lo harusnya nikmatin hidup lo sekali-kali, jadi gue biarin kalian pergi. Gue ngga tau kalau hasilnya bakal kayal gini. Soalnya lelaki yang bawa lo pergi itu ngga dalam pengaruh alkohol. Jadi setidaknya dia bakal gunain pengaman. Gue benar-benar minta maaf Nar" ujar Viona takut-takut kala Nara akan membuka mulut.


Kinara menghela nafasnya pelan "Gue marah sama lo juga ngga ada gunanya karena itu ngga akan bisa kembaliin keadaan sama seperti semula. Lagian ini bukan kesalahan siapa-siapa. Gue udah gede dan gue harusnya bisa jaga diri gue sendiri"


"Hello, kacang mahal lo! Dari tadi gue ngomong ngga ada yang peduliin. Kalian sebenarnya ngomongin apa. Sumpah gue ngga ngerti!" potong Sandra kesel. Dia memutar kedua bola matanya jengah kala Viona juga Nara malah menundukkan kepalanya. Sedangkan dari tadi mereka hanya mengobrol berdua tanpa ada yang meresponnya.


"Iya, lo ada masalah Nar? Gue dengar tadi lo dibawa sama lelaki, siapa? Dia macam-macamin lo ya?" tanya Hani ikut-ikutan. Dia juga penasaran dengan percakapan kedua sahabatnya.


Kinara mendongakkan kepalanya dengan mata yang berkaca-kaca. "Gue... Sebenarnya gue..."


"Iya lo kenapa?" sahut Sandra tidak sabaran.


"Nara hamil!" Viona menjawab cepat membuat Sandra dan Hani menatapnya dengan melongo.


"Hamil? Maksudnya dalam perut lo ada bayi gitu? Anak?!" pekik Hani membuka suara terlebih dahulu. Nara hanya mengangguk mengiyakan.


"Jadi gue bakal punya ponakan? Aduh jadi aunty muda dong gue! Eh, tapi kenapa lo sedih gitu Nar, Lo harusnya bahagia dong. Inikan calon anak pertama lo...aww" Hani meringis di akhir katanya lalu mengusap kepalanya yang baru saja dijitak oleh Sandra.


"kenapa lo ngga cerita masalah ini sama kita Nar? Lo sebenarnya anggap kita sahabat ngga sih?!"


"Maaf San, gue takut kalian ngejauh dan malah ngejek gue. Kalian semua tau selama ini gue yang selalu bilang sama kalian biar bisa jaga diri. Meskipun pekerjaan kalian ya... Itu. Gue takut kalau kalian ngga percaya sama gue dan anggal gue wanita... " Nara terisak tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.


Sandra menghela nafas sejenak, berpindah duduk disamping Nara dan menariknya kedalam pelukannya. "Udah ngga apapa, gue ngerti. Gue harusnya ngga marah sama lo. Cengeng banget sih, biasanya juga lo yang marah-marah sama kita!"


Kinara tersenyum disela isak tangisnya. Sandra benar, Akhir-akhir ini Nara lebih banyak mengeluarkan air mata. Mungkin karena hormon kehamilannya. Karena sebelum ini Nara bahkan tidak pernah menampilkan raut kesedihannya dihadapan ketiga sahabatnya.


"Jadi siapa lelaki itu? Kita harus nyari dan suruh dia buat tanggung jawab. Lo masih ingat muka dia kan? Nar, jangan bilang dia pergi sebelum lo bangun?" Sandra mengucapkan kalimat terakhirnya dengan menatap Nara dengan raut wajah serius.


"Ngga kok, ia ngga seperti yang kalian kira. Bahkan dia nyuruh gue buat hubungin dia kalau terjadi sesuatu"


"Jadi dia udah tau?" Sandra mengerutkan keningnya kala Nara menggeleng.


"Ganteng ngga Nar?" timpal Viona menaik turunkan keduan alisnya.


"Diam lo, ini semua terjadi juga gara-gara lo!" ketus Sandra. Viona hanya mendengus sudah biasa dengan sifat ketus salah satu sahabatnya itu.


"Dia kasih gue kartu namanya. Tapi gue takut hubungin dia" cicit Nara meletakkan kartu nama yang ternyata sedari tadi di genggnyan. Dia memang berniat untuk menghubungi Danu tadi, tapi dia takut. Dan kebetulan ketiga sahabatnya datang hingga dia melupakan niatnya.


"Ya udah, biar gue yang hubungin" putus Viona hendak mengambil kartu nama itu tapi Nara lebih dulu merebutnya kembali.


"Jangan!!!" teriaknya membuat ketiga sahabatnya tersentak .


"Kenapa?" tanya Sandra kemudian.


"Gue... Gue lapar" ujar Nara dengan cengiran khasnya.


***


Sama seperti sebelumnya, malam ini Danu kembali memarkirkan mobilnya diseberang jalan rumah Nara. Dia sudah seperti penguntit saja. Untung saja tak ada yang mecurigainya karena tidak jauh dari mobilnya terparkir, terdapat sebuah warung makan yang setiap malamnya terlihat ramai.


Meskipun hanya dengan melihatnya dari jauh, tapi itu sudah cukup baginya. Walaupun rasa untuk menghampiri itu sangatlah dalam. Perasaan aneh yang dialaminya saat pertama kali melihat Nara di Club. Danu tidak dapat mengalihkan tatapannya dari wanita itu seolah dia tengah terhipnotis.


Awalnya dia mengira Nara sama dengan ketiga sahabatnya yang tengah menggodanya kala itu. Danu merasa tertantang karena wanita itu malah mengalihkan tatapaannya kala dia menatapnya. Wanita itu bahkan tidak menghampirinya sama seperti ketiga sahabatnya.


Hingga dia melihat wanita itu untuk yang kedua kalinya. Perasaan kesal menghampirinya kala seorang lelaki datang dan memeluk wanita itu mesra. Dia seakan ingin melayangkan tinjunya kepada lelaki itu. Dan untuk pertama kalinya Danu mengklaim seorang wanita yang tidak dikenalnya sebagai wanitanya.


Danu pikir apa yang dirasakannya itu hanyalah karena rasa penasarannya pada wanita itu. Tapi itu semua terbantahkan sejak kejadian malam itu. Malam dimana dia memanfaatkan wanita yang tengah dibawah pengaruh alkohol itu untuk memenuhi hasratnya.


Menyesal? Tidak. Dia sama sekali tidak menyesal telah melakukan itu. Dia bahkan berharap apa yang dilakukannya itu membuahkan hasil. Sehingga dia memiliki alasan yang kuat untuk mengikat wanita itu dalam sebuah hubungan yang sakral. Perasaan ingin memiliki itu terasa sangat kuat. Dan ini pertama kalinya Danu merasakan itu.


Bahkan hampir selama sebulan ini Danu tidak ke Club dan malah menjadi seorang penguntit. Dia sangat bahagia kala mengetahui bahwa apa yang dilakuknnya malam itu ternyata membuahkan hasil. Setiap hari bahkan setiap detik dia menunggu wanita itu untuk menghubunginya dan meminta pertanggung jawabannya. Tapi ternyata tidak, wanita itu tidak melakuknnya. Pertanyaan kenapa berputar-putar dikepalanya, membuat Danu gusar hingga tidak fokus dengan pekerjaan kantornya.


Dan malam ini Danu berniat untuk menemui Nara secara langsung. Tapi tidak jadi kala melihat ketiga sahabat wanita itu ada didepan rumahnya. Dan jika wanita itu tidak menghubunginya karena tidak ingin pertanggung jawabannya maka Danu akan menyelesaikannya sendiri. Dia tidak akan melepaskan Nara begitu saja, tekadnya.