You belong to me

You belong to me
Episode Delapan Belas



Esok harinya Azura mendapat telepon dari suaminya yang memintanya agar segera kembali. Apa yang dikatakan Bram benar-benar membuatnya geram. Satu masalah baru saja selesai dan putranya yang lain membuat masalah yang baru.


"Apa masalahnya sangat serius hingga mama harus kembali hari ini? Bagaimana kalau aku kembali bersama mama?" tanya Radi kala Azura akan menaiki mobilnya.


"Radi benar ma, biarkan dia kembali bersama mama. Masalah Yana, mama tidak perlu khawatir aku yang akan menjaganya disini" tambah Niel. Ini akan sangat bangus jika Radi juga kembali. Jadi dia bisa menghabiskan waktunya bersama Yana lebih banyak lagi tanpa ada gangguan.


"Tidak! Radi akan tetap disini. Biarpun kamu sudah minta maaf, tapi mama masih belum sepenuhnya percaya sama kamu" ucap Azura dengan sinis.


"Baiklah, aku hanya khawatir jika terjadi sesuatu di jalan nanti. Setidaknya Radi bersama mama"


"Kamu mendoakan agar mama mendapat musibah?" pekik Azura membuat kedua lelaki yang ada dihadapannya tersentak kaget.


"Mama salah paham. Sudahlah, aku kan hanya ingin berbuat baik"


Azura menggelengkan kepalanya pelan "Kau ini... "


"Mama hati-hati dijalan" Azura mengangguk singkat dan menyuruh sopir menjalankan mobilnya segera.


Selama dalam perjalanan, Azura beberapa kali menghela nafas gusar lalu memijit keningnya pelan. Tidak habis pikir dengan kedua putranya yang akhir-akhir ini membuat masalah, dan semuanya karena seorang wanita.


Dan untuk informasi, saat ini Azura tengah berada di atas Jet pribadi dan bukannya di mobil. Tadi saat baru akan berangkat Bram menghubunginya dan mengatakan bahwa dia sudah menyuruh asistennya untuk menjemputnya dengan Jet. Itu agar Azura bisa tiba lebih cepat.


Seperti perkiraannya, Azura tiba lebih cepat dan langsung mencak-mancak mencari Danu. Dengan diliputi rasa kesal Azura menghampiri Bram yang tengah turun tangga, menyambutnya dengan senyum hangatnya. Jika biasanya Azura akan luluh maka tidak kali ini. Dia sangat kesal, bukan, tapi marah. Dia marah karena kelakuan kedua putranya.


Kadang Azura berpikir jika mungkin saja Danu juga Niel sebenarnya bukan Putra mereka. Bisa saja saat di Rumah Sakit mereka tertukar dengan anak orang lain. Azura menggelengkan kepalanya pelan mengeyahkan pikirannya itu. Dia mungkin sudah gila karena berpikiran seperti itu.


"Dimana Danu? Kau sudah memberinya pelajaran?" tanya Azura galak.


"Tanpa kamu suruh aku sudah melakukannya terlebih dahulu"


"Bagus. Dan kamu tidak akan kemana-mana sampai urusan Danu ini selesai. Dan aku mau hari ini juga!" ujar Azura menekankan setiap katanya melihat penampilan suaminya yang sudah rapi. Sudah jelas suaminya itu akan berangkat ke kantor.


Azura memiliki kebiasaan buruk yang mana jika salah satu dari putranya membuat masalah maka justru akan berimbas padanya. Seperti masalah Niel satu bulan yang lalu. Setelah marah-marah pada Niel, Azura juga marah padanya. Padahal dia baru saja kembali dari perjalanan bisnisnya. Bukannya di manja-manja justru omelan yang di dapatkannya. Bahkan saat dimalam harinya Azura tidak membiarkannya tidur di kamar mereka. Dan itu berlanjut sampai tiga malam berturut-turut.


Dan hari ini rencananya dia akan di kantor selama seharian penuh untuk menghindari omelan panas dari istri tercintanya. Tapi sepertinya rencananya itu gagal karena saat ini Azura tengah melotot tajam kearahnya.


"Ada banyak pekerjaan di kantor. Jadi... "


"Apa gunanya karyawanmu yang banyak jika kau terus saja sibuk" potong Azura dengan nada dinginnya.


Jika sudah seperti Ini, Bram tidak akan bisa melakukan apa-apa selain mengalah. Mungkin saja dengan itu Azura tidak akan membiarkannya tidur sendiri nanti malam. Sudah cukup karena masalah Niel dia harus tidur sendiri. Kali ini dia akan mengupayakan segala cara agar Azura tidak melakukan itu lagi.


"Baiklah terserah mama. Papa bisa apa jika mama sudah berkata seperti itu" ujar Bram dengan manisnya.


Tapi mungkin kata-katanya itu kelewat manis hingga bukannya melembut Azura malah tambah berang padanya. Dan kalimat Azura selanjutnya membuat Bram menelan salivahnya susah payah.


"Jangan bersikap sok manis seperti itu. Pokoknya malam ini kamu tidur di kamar tamu!" ucap Azura tidak ingin di bantah sebelum menaiki tangga menuju kamar Danu. Meninggapkan Bram yang mengumpat.


"Ini kesalahan anakmu, kenapa harus berimbas padamu juga little Bram?" ujarnya setengah mendesah pasrah. Berbalik mengikuti Azura.


Azura mencoba membuka pintu ketika sudah tiba didepan kamar Danu. Tapi pintunya di kunci. Azura berpikir mungkin saja putra nakalnya itu tengah menghindarinya. Untuk itu bukannya mengetuk, Azura malah menggedor-gedor pintu dan berteriak dengan keras.


"Danu, buka pintunya! Awas kamu ya, kamu tidak akan bisa lolos dari mama! Danu!" Bram yang ada di belakang meringis mendengar teriakan istrinya yang keras.


Di usapnya telinganya lalu diturunkannya kembali tangannya kala Azura berbalik dan menatapnya tajam. Jangan sampai rencana untuk membuat Azura mengurungkan niatnya untuk menyuruhnya tidur di kamar tamu gagal.


"Udah ma, biar papa yang ketuk. Nanti tangan mama yang halus ini bisa lecet. Lihat, sudah mulai memerahkan?" diraihnya tangan Azura lalu di genggamnya.


"Kamu nyindir?"


Lihat, salah lagi kan? Bram menghela nafasnya sejenak lalu tersenyum. Dia harus bisa membuat Azura agar tidak marah kepadanya juga.


Bram mengangkat tangannya tanpa mengalihkan tatapannya dari Azura. Setidaknya dia harus bisa membuat istrinya luluh. Bertepatan dengan itu, pintu terbuka. Hingga yang diketuk Bram bukannya pintu malah kening Danu.


"Aww, pa! apa-apaan sih. Belum cukup ya tamparan semalam!" ringis Danu.


"Danu, sini kamu!" panggil Azura mengabaikan ringisannya.


Begitu tiba dihadapan Azura, bukannya dielus mamanya malah menambah luka di pipinya. Untuk kesekian kalinya dia meringis. Tamparan papanya semalam bahkan masih memerah. Dan sekarang Azura malah menambahnya.


"Mau jadi apa kamu? Udah sering kali Mama peringatkan untuk hati-hati kalau berhubungan dengan wanita! Masalah Niel baru saja selesai. Dan kamu, apa yang kamu lakukan. Menghamili seorang wanita?!"


"Mama sendiri yang mengatakan agar aku segera menikah. Nah, sekarang bukan hanya menantu tapi aku juga akan memberikan mama bonus" taggap Danu ditengah ringisannya.


Tapi kata-katanya itu malah disambut jeweran ditelinganya. "Tapi bukan seperti ini caranya! Keluarga kita ini keluarga terpandang. Apa tanggapan publik nanti kalau tahu kau memiliki anak di luar nikah"


Danu mengusap telinganya yang terasa panas setelah Azura melepaskannya. "Media ataupun publik tidak akan tahu. Aku tidak seperti Niel yang selalu tampil di media-media. Lagi pula usia kandungan Nara baru berjalan tiga minggu. Lebih cepat aku menikah dengannya akan lebih baik. Iya kan pa?"


Bram yang merasa terpanggil gelagapan. Pasalnya sedari tadi dia tidak memperhatikan percakapan ibu dan anak itu. Justru dia tengah sibuk memikirkan cara untuk membatalkan niat Azura yang setiap kali dipikirkannya akan membuatnya bergindik.


Azura memutarkan kedua bola matanya jengah. "Kalian sebenarnya anak mama atau bukan. Ngga Niel ngga kamu, sama saja brengseknya. Papa kalian bahkan tidak seperti itu saat muda dulu"


"Mama tidak perlu banyak berpikir. Harusnya Mama bahagia karena aku akan segera menikah. Ditambah Mama akan segera memiliki cucu. Jadi Mama tidak perlu seperti ibu-ibu lain yang akan mendesak putra dan menantunya agar segera memiliki anak setelah menikah nanti" ujar Danu mempertahankan senyumnya.


Tidak mengapa jika dia harus menerima tamparan dari kedua orang tuanya. Yang penting dia dapat mengikat janji dangan wanita pujaannya. Entah bagaimana reaksi Nara saat melihatnya datang dan langsung membawa lamaran. Dia melakukan semua ini karena Nara sepertinya tidak berniat meminta pertanggung jawabannya.


***


Nathaniel kembali ke kamar Yana setelah beberapa saat Azura pergi. Dia duduk di sisi ranjang memandangi Yana yang masih terlelap. Hingga sinar matahari yang cerah memasuki celah jendela membuat wanita itu mengernyitkan matanya seolah terganggu. Niel tak kuasa untuk menahan senyumnya.


Diangkatnya tangannya untuk menghalangi sinar yang mengenai wajah wanitanya. Hingga mata itu mengerjab perlahan lalu kemudian terbuka. Niel segera menurunkan tangannya dan berdiri. Dia mengusap tengkuknya salah tingkah. Sial! Dia terlihat seperti remaja yang baru saja jatuh cinta.


Kayana yang baru tersadar segera duduk dan semakin merapatkan tubuhnya di kepala ranjang dengan menggenggam selimut yang menutupi tubuhnya dengan erat. Dia sudah berusaha untuk menahannya tapi tidak bisa. Rasa takut itu kembali menyerangnya. Meskipun saat ini Niel menatapnya dengan lembut.


"Aku... Aku... "


"Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu. Aku janji, ok?" ujar Niel pelan berusaha menenangkan Yana.


Nathaniel hendak mendekati Yana, tapi diurungkannya kala wanita itu memejamkan matanya erat dengan bibir yang mengatup rapat. Dia menghela nafasnya pelan dan kembali menegakkan badannya.


"Baiklah, aku akan keluar" putusnya lalu berjalan keluar kamar. Niel menutup pintu perlahan dan menghampiri Radi yang duduk di sofa ruang tengah.


"Kenapa lo? Masam banget tuh muka" tanya Radi meletakkan Handpone-nya diatas meja. Tapi Niel hanya mengacak rambutnya frustasi.


"Lo ngga perlu khawatir. Seenggaknya Yana udah ngga histeris saat liat lo. By the way, lo semalam tidur di kamar Yana? Gue liat tadi lo keluar dari sana. Sepertinya ada peningkatan, iya kan?" lanjut Radi setengah menggoda yang hanya dibalas gumaman malas oleh Niel.


"Jadi lo tidur bareng Yana ngga? Soalnya tadi lo kayak bahagia gitu. Terus sekarang lo kenapa lagi?" tanya Radi lagi.


"Tidur bareng apaan! Dia aja takut sama gue" ketus Niel membuat tawa Radi pecah.


"Terus lo tidur dimana?" tanyanya di sela-sela tawanya.


"Senang banget lo ketawain gue. Mending lo nyusul nyokap deh. Cari tau masalah yang di buat Danu"


"Dan biarin lo berdua sama Yana? Ngga bakal. Lagian ini amanat dari mama Azura. Yang harusnya kembali itu lo. Lo kan adeknya. Pekerjaan lo juga pasti banyak"


Nathaniel mendengus dan menatap tajam Radi. "Gue bosnya. Dan asal lo tau Yana milik gue. Ngga ada yang bisa larang gue buat berduaan sama Yana, termasuk lo!"


"Terserah. Yana juga takut di dekat lo" timpal Radi dengan senyum smirk-nya.


"Sialan! Liat aja nanti, gue bakal buat lo iri sama kedekatan gue dengan Yana" Radi hanya menanggapinya dengan tawa membuat Niel berdecak. Dia berjanji akan membuktikan ucapannya.