
Setelah mendengar cerita dari Radi tentang possesive-nya Niel pada Yana juga kejadian di Restoran, Azura menyimpulkan bahwa sebenarnya putranya itu menyukai atau mungkin saja sudah mencintai Yana. Hanya saja Niel tidak menyadari perasaannya sendiri.
Radi memang tidak menceritakan keseluruhan cerita. Masih banyak yang belum diketahui Azura. Azura hanya mengetahui bahwa Yana adalah kekasih satu malam Niel. Namun lelaki itu tidak ingin melepaskan Yana juga. Radi sengaja mengarang cerita seperti itu agar Azura tak bertanya lebih lanjut.
Karena entah bagaimana nasib Niel jika sampai Azura tau mengenai kontraknya dengan Yana. Azura memang tidak memberikan larangan keras untuk putra-putranya di luar sana. Tapi Azura juga tidak akan suka jika Niel berlaku seperti itu kepada seorang wanita.
"Maaf Ma, aku tidak bermaksud untuk mengatakan ini. Tapi aku tau bahwa Yana adalah wanita yang baik. Dia melakukan semua ini karena suatu keterpaksaan" Ujar Radi ketika mereka tengah berada dalam lift.
"Mama mengerti mengapa kamu melakukan ini. Kita semua juga tau bahwa temperamen Niel itu sangat buruk"
Radi mengangguk tapi kemudian dia menatap Azura dengan serius "Tapi ma, ini pertama kalinya aku melihat Niel terlihat sangat marah. Ya, kita tau bahwa temperamen Niel sangat buruk, tapi dia selalu bisa mengendalikannya. Bayangkan saja bagaimana menyebalkannya saat berhadapan dengan klien yang banyak maunya. Tapi Niel selalu bisa mengatasinya dengan sangat baik"
"Kamu benar. Hanya kita saja yang tau bagaimana temperamen Niel yang sebenarnya. Apa mungkin ada masalah di perusahaan?"
"Tidak ada masalah apapun dan kurasa bukan itu, ma. Niel tidak pernah melampiaskan amarahnya pada siapapun jika menyangkut perusahaan. Apa lagi orang luar seperti Yana""
Percakapan mereka terhenti kala pintu lift terbuka. Mereka keluar dan segera menuju kamar yang di jaga dengan lima orang bodyguard. Untung saja Azura sudah menyiapkan semuanya sebelum berangkat tadi. Dia juga mengetahui bahwa saat ini putranya tidak ada dalam apartement. Jadi untuk membawa Yana keluar tidak akan ada kendala.
"Maaf nyonya, tapi tuan muda sudah memberi perintah untuk tidak membuka pintu kepada siapapun termasuk nyonya" ujar salah satu bodyguard ketika Azura memintanya untuk membuka pintu.
"Jangan membuat saya memaksa kalian membuka pintu itu" Tukas Azura dengan dinginnya. Namun para bodyguard itu tetap pada pendiriannya membuat Azura tidak mempunyai pilihan lain.
Azura menggerakkan tangannya meminta bodyguard yang di bawanya maju. Hingga baku hantam itu terjadi. Tapi tentu saja para bodyguard Niel kalah, karena jumlah bodyguard yang dibawa Azura dua kali dari pada jumlah bodyguard Niel.
Mereka berdua segera melangkahkan kakinya masuk begitu pintu terbuka. Mereka menuju kamar Niel kala mendengar suara isak tangis yang memilukan dari dalam.
Azura terdiam beberapa saat ketika Radi berhasil membuka pintu. Di depannya seorang wanita tengah meringkuk diatas ranjang dengan tubuh terbungkus selimut. Azura sangat yakin bahwa wanita itu tengah telanjang dibalik selimutnya. Perlahan dia menghampiri wanita itu dan duduk disisi ranjang.
Kayana yang merasa kasur yang di tempatinya bergerak mengangkat kepalanya perlahan lalu kemudian berteriak histeris. Radi hendak maju menenangkannya tapi mengingat bahwa Yana tengah telanjang dibalik selimutnya, dia mengurungkan niatnya.
"Aku tidak salah... Kumohon jangan lakukan ini! Kumohon...lepas... Ini sakit!"
Kayana terus saja berteriak membuat Azura menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Dia dengan cepat menarik tubuh Yana dalam pelukannya berusaha menenangkannya tidak memperdulikan rontaannya.
"Tenang sayang, ini tante. Tidak akan ada yang berani melukaimu lagi" ujar Azura penuh kelembutan tapi Yana seolah tidak mendengarnya. Dia terus saja berteriak dengan mata menatap ke arah Radi penuh ketakutan.
"Aku tidak bersalah, kumohon ampuni aku! Ini sangat sakit! Aku benar-benar tidak melakukan kesalahan!"
"Ma, sebaiknya aku keluar" Azura mengangguk mengerti dengan apa yang di maksudkan Radi. Mungkin saja Yana takut karena mengira Radi yang telah melakukan kekerasan padanya.
Dia terus saja melantungkan kata-kata menenangkan untuk Yana. Hingga wanita itu perlahan tenang dalam pelukannya. Entah apa yang dilakukan Niel pada Yana. Karena yang dilihat Azura saat ini adalah keadaan wanita itu yang sangat menyedihkan.
Asura hampir menitikkan air matanya kala melihat garis kemerahan yang memanjang di punggung Yana. Luka memar yang membiru dikedua pipinya juga sudut bibirnya yang berdarah.
Azura membaringkan Yana ketika wanita itu sudah benar-benar tenang. Dia mengusap pipinya yang membiru membut Yana meringis. Azura kemudian merapikan selimut yang membungkus tubuh Yana. Hingga pandangannya jatuh pada betis Yana yang juga terdapat garis kemerahan memanjang sama persis yang dihatnya dipunggung gadis itu.
"Aku tidak melakukan kesalahan apapun. Aku tidak bersalah"
Azura mengusap air yang hampir menetes disudut matanya kala mendengar suara lirih gadis itu. Dia baru saja akan melangkahkan kakinya ketika Yana bersuara.
Ya Tuhan, putraku sudah membuat kesalahan yang sangat besar, ujarnya membatin.
"Dokter Sifa sudah dalam perjalanan, ma" Azura menganggukkan kepalanya mengerti.
Hingga beberapa menit kemudian pintu apartement terbuka menampilkan seorang wanita dengan pakaian kasualnya berjalan kearahnya. Dokter Sifa, sahabat Azura sekaligus dokter pribadi keluarganya.
"Ada apa Azura, siapa yang sakit? Radi tidak mengatakan dengan jelas tadi"
"Sebaiknya kau ikut denganku" ujar Azura menuntun Sifa masuk kekamar Niel. Sedangkan Radi tetap di tempatnya karena takut jika dia ikut masuk, Yana akan kembali histeris.
***
Nathaniel menutup pintu kamar Hotel dengan keras kemudian menarik wanita yang dibawanya dan menyenderkannya di pintu. Wanita itu menatapnya dengan pandangan memuja lalu mengangkat tangannya menyentuh pipi Niel sebelum menyatukan bibir mereka.
Wanita itu mengerang kala lidah keduanya bertemu. Dia adalah wanita kedua yang Niel cium dengan begitu panasnya dengan saling mengaitkan lidah. Baru beberapa detik, Niel menarik wajahnya menjauh membuat wanita itu mengernyit bingung.
"What's up babe?" tanya wanita itu dengan nada menggoda disertai desahanya. Niel hanya menggelengkan kepalanya sebelum kembali mencumbu wanita di depannya. Tapi kali ini dia menempatkan bibirnya di leher wanita itu.
Nathaniel tidak tau apa yang terjadi padanya. Entah apa yang dicarinya ketika mencumbu wanita itu. Mungkin saja rasa yang sama ketika dia mencumbu Yana? Niel menggelengkan kepalanya akan pemikirannya itu. Wajah Yana selalu saja memenuhi pikirnnya, suara desahannya, suara tangisannya, rintihan kesakitannya... Sial!
"Aw, itu sakit babe" ringis wanita itu kala Niel meremas payudaranya kasar.
Tapi lelaki itu hanya tersenyum lalu kembali menyatukan bibirnya. Saling ******* satu sama lain, namun kali ini Niel tidak menggunakan lidahnya. Hingga wanita itu kembali terhanyut dalam permainannya. Nafas keduanya kini sama-sama tak beraturan.
Entah sejak kapan, tapi kini mereka tengah berada di atas ranjang dengan Niel yang menindih tubuh setengah telanjang wanita itu. Tangan-tangan jahil wanita itu tengah melepas kancing terakhir kemeja yang dipakai Niel, kala pintu terbuka dengan suara berdebumnya.
"Sial! Siapa yang berani... Mama?" Niel melebarkan matanya dan bangkit dari tubuh wanita yang ditindihnya.
"Keluar!" Ujarnya pada wanita itu sambil mengancingkan kembali pakaiannya. Sedangkan wanita itu hanya mendengus tidak suka karena gangguan itu. Dia hendak protes tapi melihat tatapan tajam wanita paruh baya yang berdiri di pintu masuk dengan tangan bersedekap, membuat nyalinya menciut. Dia segera memberbaiki letak pakaiannya dan berlari keluar.
"Ini yang kamu lakukan sedangkan seorang wanita tengah sekarat di apartemenmu?" ujar Azura dengan mata memicing setelah pintu tertutup.
"Dari mana mama tau... "
"Jadi maksudmu mama tidak harus mengetahui hal keji yang baru kamu lakukan? Niel, mama membiarkan kalian hidup bebas bukan berarti kalian harus memperlalukan wanita seperti itu. Apa kamu lupa jika mama juga adalah seorang wanita. Bagaimana jika seandainya mama yang berada diposisi wanita itu?" potong Azura mengusap pipinya yang basah.
"Mama bukan wanita seperti itu! Kumohon jangan menangis. Aku tidak suka mama menangis" Niel hendak maju tapi terhenti kala Azura mengangkat tangannya, menghentikannya.
Nathaniel yang melihat itu menatap tidak percaya akan apa yang dilakukan Azura. Karena ini pertama kalinya Azura menghentikannnya saat dia ingin menghapus air mata wanita paruh baya itu.
"Kamu tidak ingin jika mama menangis, tapi sekarang kamu yang membuat mama menangis. Apa kamu sudah puas dengan apa yang sudah kamu lakukan? Kelakuanmu yang seperti ini membuat mama merasa telah gagal menjadi ibu yang baik"
"Tidak! Mama, jangan katakan itu. Mama adalah ibu terbaik di dunia..."
"Kamu benar-benar membuat mama kecewa Niel"
Natahaniel menggelengkan kepalanya kuat dan berteriak memanggil Azura kala wanita paruh baya itu keluar. Niel mengacak rambutnya kasar ketika mengingat nada kecewa dari setiap ucapan Azura.
"Sialan!"