
Nathaniel kembali lebih cepat dari perkiraannya. Namun raut wajahnya yang suram tidak menunjukkan kebahagiaan sama sekali. Sangat berbanding terbalik dengan keinginannya saat pertama kali keberangkatannya. Begitu dia memasuki mobil yang menjemputnya, hal pertama yang di tanyakannya adalah keberadaan Yana. Dia tidak sabar bertemu dengan wanita itu dan memberikan hadiah yang sudah di siapkannya. Hadiah yang tidak akan pernah di lupakannya, batinnya menyeringai.
Entah apa saja yang sudah di lakukan gadis itu di belakangnya. Informasi yang Karen berikan selama dia pergi juga hanya itu-itu saja kecuali di hari pertama dia pergi. Hari dimana Niel merasakan mood-nya yang benar-benar hancur. Wanita itu sudah berani melawannya. Mungkin saja Argus sebenarnya adalah kekasihnya sekaligus bosnya. Namun menyembunyikannya karena tidak ingin ketahuan siapapaun. Kalau tidak kenapa dia harus berada dalam ruangan yang sama dengan lelaki itu dalam waktu kurang dari satu jam.
'Wanita dan lelaki dewasa berada dalam satu ruangan dan tidak melakukan apapun? Cihh... Menjijikkan!' batinnya menyeringai.
Nathaniel turun dari mobil lexus-nya dengan kacamata yang bertengger dihidung mancungnya. Membuatnya terlihat berkali-kali lipat lebih tampan. Dia membawa langkahnya masuk ke Restoran mengabaikan tatapan memuja dari para wanita yang di temuinya.
Tapi langkahnya berhenti kala melihat pemandangan di depannya. Pemandangan yang lagi-lagi merusak mood-nya. Niel berdecih ketika melihat Yana yang tengah tertawa begitu lepasnya dengan seorang lelaki. Bahkan wanita itu tidak pernah menampilkan ekspresi seperti itu saat di depannya. Yang ada wanita itu akan ketakutan saat berhadapan dengannya. Sial! Dia tidak menyukai Yana yang seperti itu di depan lelaki lain.
Dengan langkah lebarnya, Niel menuju dimana Yana berada. Dia semakin mengeraskan rahangnya kala melihat lelaki itu mengulurkan tangannya seakan-akan mengusap wanitanya.
Wanitanya? Tentu saja. Yana adalah wanitanya, miliknya. Dia telah membayar mahal untuk wanita itu. Dan Niel tidak akan membiarkannya berdekatan dengan lelaki lain selain dirinya. Apalagi menyentuhnya!
Nathaniel menarik kerah baju lelaki yang duduk di depan Yana hingga berdiri, sebelum memberikannya bogem mentah. Lelaki itu hampir jatuh jika saja dia tidak dengan cepat menahan dirinya. Yana yang melihat kejadian itu segera berdiri dari duduknya dengan kedua tangan menutup mulutnya.
"Niel?" gumamnya pelan. Dia tidak tau jika lelaki itu akan tiba hari ini. Niel juga tidak pernah menghubunginya hanya untuk segera memberinya kabar. Tapi kemudian Yana sadar jika dirinya bukanlah siapa-siapa bagi lelaki itu. Dia hanya wanita bayaran saja.
"Niel hentikan! kumohon" teriaknya.
Tapi lelaki itu seolah tak mendengarnya. Niel malah menarik kembali lelaki yang bersamanya dan kembali memberikannya bogeman. Kali ini Niel melakukannya dua kali hingga lelaki itu tersungkur dengan bibir sobek dan hidung yang mengeluarkan darah. Niel hendak menariknya kembali tapi di cengah dengan tangan kekar lainnya.
Kayana menatap lega dengan kehadiran Radi. Mereka memang datang bertiga, hanya saja Radi tadi ke kamar kecil meninggalkannya dengan lelaki yang di kenalnya dengan nama Sony. Radi mengenalkan Sony sebagai sahabatnya juga sahabat Niel.
Sony memiliki selera humor yang bagus hingga Yana yang baru pertama kali bertemu dengannya tidak terlalu canggung saat bersamanya.
"Lo apa-apaan sih Niel, baru datang langsung mukul orang aja!" teriak Radi padanya membuat Niel mendengus jengah. Dia menghempaskan tangan Radi kasar lalu kemudian menghadap Yana.
Kayana yang di tatap Niel tajam memegang erat tas kecil yang terus saja di selempangnya. Dia merasa ketakutan dengan tatapan Niel yang seperti itu. Meskipun selama ini dia takut jika berhadapan dengan Niel, tapi lelaki itu tidak pernah menatapnya dengan seperti ini.
"Ni-Niel... " panggilnya dengan terbata.
Lelaki itu hanya menatapnya dengan senyum mematikannya membuat Yana seakan menggigil di tempatnya.
"Kau... Wanita jalang! Apa kau belum puas denganku hingga kau mencari lelaki lain saat aku tak ada disini. Kau sudah berani menentangku. Sekarang ikut aku!" ujarnya dan menarik tangan Yana kasar membuat wanita itu meringis.
"Niel , sakit...lepaskan...kumohon"
Radi yang melihat itu segera menghampiri mereka dan menghadang langkah Niel. "Apa yang kau lakukan? Kau tidak lihat Yana kesakitan?"
"Kau tidak perlu ikut campur. Ini urusanku dengan wanita jalang ini" desis Niel.
Kayana menatap Niel dengan nanar. Dia pikir Niel tadi tidak sengaja mengatakan kata itu lantaran marah. Tapi sekarang dia yakin bahwa lelaki itu memang sengaja. Mungkin saja Niel ingin menegaskan statusnya yang sebenarnya dihadapan orang-orang.
Lihat saja, kini hampir semua pelanggan berkumpul di dekat mereka dan menatapnya dengan mencemoh secara terang-terangan. Yana menundukkan kepalanya menyembunyikan air matanya. Rasa sakit di pergelangan tanggannya yang di cengkeram Niel dengan keras tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya.
Kayana sudah pernah menduga hal ini akan terjadi, tapi dia tidak menyangka jika Niel akan melakukannya di depan banyak orang seperti ini. Harga dirinya hilang entah kemana saat Niel menegaskan kepada semua orang bahwa dia adalah wanita yang sudah di belinya dengan sangat mahal dan kini sedang bermesraan dengan lelaki lain.
Kayana menutup matanya erat menahan perih di dadanya. Kini orang-orang akan tau siapa dia sebenarnya. Sebab tak banyak dari pelanggan Restoran yang merekam kejadian itu.
***
Sudah beberapa hari ini Nara tinggal seorang diri dirumah. Yana tidak kembali sejak kejadian dimana dia meminta untuk di belikan ponsel baru. Nara berusaha untuk tidak peduli. Tapi disudut hatinya yang paling dalam ada ke khawatiran yang mendera. Hanya saja dia berusaha menekannya.
Kinara membuka lemarinya dan memilah pakaian yang akan di pakainya. Hari ini dia bersama Viona akan ke club tanpa Sandra maupun Hani.
Pilihan Nara kemudian jatuh pada dress yang panjangnya hanya setengah pahanya dengan tali spageti di lehernya. Rambutnya di biarkannya terurai membuatnya semakin terlihat sexy.
Kinara segera mengambil tas tangannya kala mendengar suara klakson. Dengan langkah anggunnya dia berjalan keluar rumah menghampiri mobil Viona yang terparkir di depan rumahnya. Dia membuka pintu di samping kemudi lalu menutupnya kembali begitu dia duduk.
"Wow, you look very hot" ujar Viona di susul siulannya membuat Nara memutar bola matanya.
Mereka menghabiskan tiga puluh menit perjalanan dengan berbincang ringan. Dan kini mereka telah sampai di Club yang cukup terkenal bagi kalangan atas. Tidak semua orang dapat memasuki Club itu dengan bebas. Sebab Club itu hanya diperuntukkan bagi kalangan orang-orang berjuis. Kecuali kalian memberikan imbalan lain bagi para penjaga Club. Seperti yang sedang di lakukan Viona saat ini.
Mereka memang bukan berasal dari kalangan atas. Tapi mereka terkenal dengan kenekatan mereka kecuali Nara, tentu saja. Nara memang ikut dengan mereka, tapi dia tidak akan pernah mengikuti apa yang mereka lakukan untuk mencapai keinginan mereka.
"Jadi, kami boleh masuk?" ujar Viona kemudian.
Kinara bukanlah gadis polos yang tidak tau akan apa yang dilakukan Viona pada salah satu penjaga itu. Suara erangan dari penjaga itu cukup membuat Nara mengerti. Bersyukurah karena para penjaga itu cukup tampan dengan tubuh kekarnya.
"Tentu saja manis. Tapi jangan lupa dengan bayarannya"
"Sure, tapi tidak sekarang. Bagaimana kalau besok?" ujar Viona memberi penawaran.
"Tidak masalah"
Viona mengecup bibir penjaga itu singkat sebelum berlalu. Nara hanya menggelengkan kepalanya dan mengikuti Viona. Kadang Nara merasa bahwa sebenarnya Viona tidak benar-benar sakit hati karena baru putus dari Bendi. Lihat saja apa yang barusan wanita itu lakukan.
Bahkan sebelum putus dari Bendi, wanita itu juga sering melakukannya. Entah hubungan macam apa yang mereka jalani. Viona sering membalas kata cinta dari Bendi, tapi kelakuannya tidak menunjukkan bahwa dia mencintai lelaki itu.
"Gila lo Vee, lo baru aja putus dari Bendi kalau lo lupa" teriak Nara di tengah kerasnya musik yang menggema.
"Lo kayak ngga kenal gue aja Nar" balas Viona dengan berteriak berusaha mengalahkan suara musik.
"Lo bilang lo lagi sakit hati. Gimana sih lo!"
"Udahlah, lo ngga perlu pikirin itu. Mending sekarang kita nikmatin malam ini" Nara tersentak kala Viona menarik tangannya secara tiba-tiba dan membawanya ke Dance Floor.
Tapi sesaat kemudian Nara ikut menikmatinya. Mereka menari dengan panasnya membuat para lelaki hidung belang menatap mereka seolah mereka adalah makanan yang sangat lezat. Tak jarang dari mereka yang ikut mendekatkan diri kepada dua wanita cantik itu.
Tak terkecuali dengan seorang lelaki yang duduk di meja bartender. Sejak kedua wanita itu masuk, dia tidak pernah melepaskan pandangannya. Dia menyesap minumannya hingga tandas sebelum berdiri dari duduknya.
Dia kemudian menghampiri kedua wanita ralat salah satu wanita yang sudah di kelilingi para lelaki yang siap menerkam mereka kapan saja. Barak menarik tangan lelaki yang hendak meremas bokong wanita itu dan menatapnya dengan tajam.
"Dia milik gue, men!" ujarnya penuh penekanan membuat beberapa lelaki itu mundur secara teratur. Mereka tidak akan berani berurusan dengan Danu. Sebab mereka tau pasti bagaimana sosok Danu Maheswara yang sebenarnya.
Danu merangkul pinggang Nara, membuat gadis itu mendongak dan mentapnya dengan pandangan sayu. Lelaki itu tau bahwa saat ini Nara tengah berada di bawah pengaruh alkohol. Untuk itu dia membawanya keluar dari Dance Floor, menghindarkannya dari para lelaki yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan lapar.
Lelaki itu memutuskan membawa Nara kehotel terdekat. Selama perjalanan Nara terus saja meracau tidak jelas lalu kemudian mengumpat. Untung saja gadis itu tidak berontak saat Danu membawanya memasuki kamar hotel yang baru dipesannya dengan menggendongnya ala bridal Style.
Danu mengernyit jijik kala Nara muntah di dadanya. Dia baru saja akan meletakkan Nara di tempat tidur, tapi gadis itu meraih kerah bajunya dan mengeluarkan makanannya disitu.
"Shit!" umpatnya lalu melepas kemeja yang dipakainya menyisakan kaos.
Danu kemudian melirik kerah baju Nara yang juga terken muntahan wanita itu sendiri. Dia tidak yakin dapat menahan hasratnya yang sedari tadi ditahannya jika harus melepas pakaian wanita itu juga. Tapi tidak ada cara lain. Barak tidak mungkin membiarkan wanita itu terlelap dengan muntahan ditubuhnya.
Danu menahan nafasnya ketika baju yang dipakai Nara sudah terlepas dari tubuhnya menyisakan bra juga celana dalam yang warnanya senada. Payudara yang masih terbungkus bra itu seolah menggodanya untuk di sentuh.
Danu menelan salivahnya susah payah ketika dia meletakkan tangannya diatas payudara Nara lalu meremasnya pelan membuat gadis itu mendesah. Tidak tahan dengan godaan didepannya, Danu menyentuhkan bibirnya ke payudara atas gadis itu membuat tanda kemerahan disana.