
"Kenapa lo lakuin ini, bangsat!" teriak Diana begitu Rachel memasuki ruang ganti. Dia sengaja menunggu karyawan lain keluar agar dapat bebas berbicara dengan Rachel atau mungkin memberinya pelajaran.
"Apa yang udah lo lakuin ke Yana? Dari kemarin gue ngga liat dia dan handphone-nya ngga bisa dihubungi"
"Ya terus kenapa lo nanya ke gue. Urusannya ke gue apa?!"
"Ngga usah pura-pura ngga tau gitu! Lo jadiin Yana sama kayak lo kan?" geram Diana menatap tajam Rachel.
Rachel tertawa, menatap Diana dengan dagu terangkat dan tangan bersedekap "Kalau iya, kenapa? Dia sendiri yang datang ke gue. Jadi bukan salah gue dong"
Rachel meringis begitu dia menyelesaikan ucapannya. Di pegangnya pipinya yang terasa panas dan menatap Diana tidak kalah garangnya. Dia mencoba membalas tamparan itu tapi Diana dengan gesit menahan tangannya dan menghempaskannya kasar membuatnya sedikit terdorong.
Tapi Rachel tidak menyerah, dia melangkah kedepan dan ikut mendorong Diana kemudian mengambil sejumput rambutnya lalu menariknya. Diana meringis, lalu memegang tangan Rachel sebelum ikut beralih ke rambutnya. Hingga terjadilah aksi jambak-jambakan itu. Suara ringisan mereka terdengar, namun sepertinya tak ada di antara mereka yang ingin mengalah. Di tengah ringisan mereka itu, suara umpatan terdengar saling sahut-sahutan.
"Jadi ada masalah apa?" tanya Argus memutar-mutar pena di atas meja. "Kenapa kalian diam saja? Kemana semangat kalian yang berkobar saling berteriak tadi? Saya tidak habis pikir, kalian ini karyawan lama, harusnya memberi contoh yang baik untuk karyawan baru. Bukan malah saling jambak-jambakan diruang ganti. Apa kalian tidak malu?" lanjutnya saat tak ada di antara dua wanita itu yang berniat membuka suara.
"Maaf pak" ujar mereka hampir bersamaan.
"Baiklah, saya tidak akan menanyakan lagi alasan kalian bertengkar. Tapi jika memang ada masalah sebaiknya selesaikan segera dan jangan di tempat ini. Entah apa jadinya jika sampai ada pelanggan yang melihat tingkah kalian ini" Argus menghela nafasnya sebelum melanjutkan ucapannya, menghentikan Diana maupun Rachel yang akan membuka mulut.
"Saya tidak butuh maaf kalian. Tapi jika kalian masih ingin bekerja disini sebaiknya kalian berdamai atau kalian boleh pergi dan jangan kembali lagi" lanjutnya dengan tegas.
Mereka berdua saling melirik sebelum membuang muka masing-masing membuat Argus berdecak dan menunjuk ke arah pintu keluar "Ok, kalau kalian tidak mau. Pintu keluar terbuka lebar untuk kalian, silahkan"
"Maaf" ujar Rachel kemudian meskipun dengan nada dongkolnya. Dia tidak akan kekurangan uang jika harus berhenti dari pekerjaan ini sebab masih ada pekerjaan lainnya di malam hari.
Tapi dia juga tidak ingin mengambil resiko jika sampai keluarganya tau jika dia bekerja di club malam. Karena keluarganya hanya mengetahui bahwa dia bekerja di salah satu restoran yang terkenal di kota. Bahkan sesekali mereka akan datang hanya untuk melihatnya.
"Gue jug minta maaf" sahut Diana merasa puas dengan Rachel yang terlebih dahulu meminta maaf. Senyum miring tercetak jelas dibibirnya.
"Begini lebih baik dan saya tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi, mengerti?! Sekarang kalian boleh keluar" Ujar Argus begitu mendapat anggukan dari keduanya. Tapi kemudian dia kembali memanggil Diana juga Rachel yang sudah akan keluar.
"Saya tidak melihat Yana, apa kalian melihatnya?" tanya Argus membuat keduanya gugup.
"Saya tidak tau pak" sahut keduanya hampir bersamaan.
"Baiklah, kalau salah seorang diantara kalian melihatnya, katakan padanya bahwa saya menunggunya di ruangan saya" keduanya kembali mengangguk sebelum keluar ruangan.
***
Kayana terjaga keesokan harinya dengan keadaan tubuh yang terasa akan remuk. Dia menatap kasur di sampingnya yang sudah kosong, sebelum mengalihkan tatapannya pada nakas disampingnnya. Jam sudah menunjukkan pukul 09.00, pantas saja lelaki itu sudah tidak terlihat. Entah berapa kali mereka melakukannya. Seingat Yana dia sudah tidak sadarkan diri saat menjelang pagi.
Dengan tertatih, Yana melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Dia meringis setiap kali melangkah karena perih di area kewanitaannya. Dia menjalankan shower sebelum menjatuhkan dirinya ke lantai. Menekuk kakinya lalu memeluknya. Air mata yang sedari tadi di tahannya mengalir disertai isakannya.
Kayana menggosok tubuhnya kasar seakan menghilangkan sebuah jejak hingga kulitnya memerah. Berkali-kali dia merutuki dirinya karena menikmati cumbuan lelaki itu semalam. Dia berteriak dan menangis sejadi-jadinya di bawah guyuran shower.
Memukul dadanya yang terasa sesak memikirkan dirinya yang sudah seperti wanita malam. Yana tidak tau entah sudah berapa lama dia ada di bawah guyuran shower, tapi kini tubuhnya sudah menggigil dengan sedikit keriput di jari-jarinya. Hingga suara ketukan pintu terdengar mengalihkan perhatiannya.
"Yana, buka pintunya!" teriak suara itu tapi Yana mengabaikannya. Dia tidak ingin bertemu lelaki itu untuk sementara ini. Hingga ketukan tadi kini berubah menjadi gendoran keras. Tapi Yana tetap tidak peduli. Lagi pula tubuhnya juga sangat lemah.
"Yana, buka pintu sialan ini! Atau aku benar-benar tidak akan mengampunimu! Yana!" teriak Niel diluar sana untuk yang kesekian kalinya.
Kayana tidak tau bagaimana lelaki itu bisa masuk. Dia hanya merasakan tubuh telanjangnya terangkat lalu kemudian di letakkan di atas sesuatu yang sangat lembut. Samar-samar dia mendengar bisikan orang itu sebelum kesadarannya benar-benar menghilang.
"Dasar bodoh! Apa kau ingin mengakhiri hidupmu?" makian itu membuatnya kembali membuka mata mengabaikan rasa pusingnya, lalu menatap kesampingnya dimana Niel berdiri dengan tangan bersedekap.
Kayana mengerutkan kening ketika merasakan seauatu di atas dahinya. Tangannya hendak menggapainya namun di cegah Niel.
"Jangan coba-coba melepasnya! Lebih baik kau istirahat saja. Ini belum dua puluh empat jam dan kau sudah merepotkanku. Gadis bodoh yang menyusahkan!" ujar lelaki itu dengan ketus sebelum mengambil laptopanya dan mengisi kasur kosong di sampingnya.
Kayana hanya diam saja memperhatikan lelaki disampingnya. Dia terlihat sangat tampan dengan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya. Wajahnya kemudian memerah kala pandangan tidak sengaja turun kebibir merah alami lelaki itu. Masih terlihat dengan jelas di ingatannya tentang apa saja yang sudah di lakukan bibir itu di tubuhnya.
Tapi kemudian Yana kembali merutuki dirinya. Beberapa saat yang lalu dia memaki pria itu di bawah guyuran shower dan menyesali apa yang sudah di perbuatnya. Dan kini jiwa jalangnya tengah menikmati pemandangan indah di sampingnya.
"Jangan menatapku seolah-olah kau akan menerkamku, Yana. Atau aku akan melupakan bahwa saat ini kau sedang deman dan memakanmu habis-habisan" desis Niel tanpa mengalihkan tatapanya dari layar laptop membuat Yana gelagapan karena sudah tertangkap basah.
"Ti-tidak... " Niel mengalihkan tatapannya kala mendengar suara serak Yana. Dia kemudian terkesiap melihat wajah memerah gadis ralat wanita itu.
"Kenapa wajahmu memerah? Sial! Apa demammu belum turun juga?" Niel hendak mengambil kain yang ada di dahi Yana, tapi wanita itu sudah lebih dulu membalikkan badan memunggunginya.
Kerutan di kening Niel semakin kentara, hingga kemudian dia tersadar dari apa yang sudah di lakukannya. Sekali lagi dia melakukan apa yang tidak pernah dilakukannya pada wanita yang menemaninya sebelumnya. Niel menghela nafasnya lalu turun dari kasur membawa laptopnya.
Kayana yang merasakan pergerakan di sampingnya memejamkan matanya erat. Dia kembali membuka matanya ketika mendengar suara pintu yang tertutup. Yana menarik nafasnya dalam-dalam karena hampir terlena dengan perlakuan manis lelaki itu. Dipejamkannya matanya, dan untuk kedua kalinya Yana kembali ke alam mimpinya.
Kayana kembali terjaga saat jam menunjukkan pukul 13.00. Dia bangun dari pembaringnya dan menghela nafas lega merasa lebih baik dengan keadaannya dari pada sebelumnuya. Tapi kemudian dia terdiam, lalu menyibak selimut yang menutupi tubuhnya.
Dia tidak ingat pernah memakai piyama yang melekat di tubuhnya dan lagi dia tidak memiliki piyama seperti yang di pakainya saat ini. Piyama itu terasa sangat lembut menyentuh kulitnya. Beberapa saat kemudian Yana kembali terkesiap. Tidak mungkin, batinnya menggeleng.
Dengan perlahan, Yana melangkahkan kakinya keluar kamar. Dia mengerutkan kening ketika tidak melihat tasnya di atas sofa. Masih di ingatnya dengan jelas dia menaruh tasnya di atas sofa itu.
"Dimana tasku?" tanyanya entah kepada siapa sambil mencari kesegala penjuru sofa.
Kayana menghentikan pencariannya kala mencium aroma sedap yang benar-benar memanjakan hidungnya. Perutnya tiba-tiba bergemuruh. Di abaikannya tasnya yang entah di mana, Yana beralih ke dapur mengikuti aroma sedap itu. Yana tau apa yang di lakukannya itu terlihat sangat lancang, tapi pikiran dan perutnya sedang tidak bisa di ajak berkompromi.
Kayana menghentikan langkahnya kala melihat seseorang yang terlihat sangat fokus pada peralatan dapur. Yana membulatkan matanya saat melihat penampilan lelaki itu. Dia, Niel dan lelaki itu hanya memakai boxer hitamnya.
Satu tangan lelaki itu sedang memegang sendok sedangkan tangan yang lain... Yana menutup mulutnya hampir saja memekik.
Dasar mesum, batinnya mencemooh. Demi Tuhan tangan lelaki itu berada di antara pahanya entah apa yang di lakukannya. Yana hanya menggelengkan kepalanya. Bahkan saat menyiapkan makanan, lelaki itu masih saja berbuat tidak senonoh seperti itu.
Kayana terkesiap kala Niel tiba-tiba berbalik. Tidak tau apa yang ada dipikirannya tapi matanya langsung tertuju pada celana depan lelaki itu yang terlihat mengembung. Dia dengan cepat mengalihkan wajahnya yang memerah mengingat apa yang tadi lelaki itu pegang. Jangan sampai lelaki itu menangkap basahnya lagi.
"Bagus, kau sudah bangun. Sekarang duduk dan makan ini" ujar Niel dengan nada memerintah saat meletakkan piring diatas meja.
Kayana menghampiri Niel dan duduk di sebelahnya. Tatapannya tertuju pada apa yang ada di piring. Aroma dan bentuknya benar-benar sangat berbeda.
"Tu... Maksudku kau tidak makan?" tanya Yana ketika melihat hanya ada satu piring diatas meja.
"Aku sudah delivery" ujar Niel sekenanya membuat Yana tanpa sadar mendengus. Yana memasukkan sesuap kedalam mulutnya dan hampir menyemburkannya keluar namun tidak jadi kala mendengar suara Niel.
"Bagaimana?"
"Enak" jawab Yana sambil menelan dengan susah payah.
"Tentu saja, aku ahlinya" ujar Niel dengan sombongnya. Ahli membuat makanan asin, lanjut Yana dalam hatinya. Dia tidak mungkin mengatakan kebenarannya atau lelaki mesum itu akan mengamuk nantinya.