You belong to me

You belong to me
Episode Lima Belas



Satu hari itu hampir mengubah seluruh hidup Nathaniel. Bahkan para karyawannya dikantor tidak menyangka akan perubahan drastis sang Direktur. Niel yang awalnya akan selalu tersenyum ramah pada karyawan yang menyapanya, kini hanya berlalu begitu saja dan menatap dingin mereka semua.


Bukan hanya itu, dia juga kerap kali membentak bahkan marah-marah tak jelas pada mereka. Yang mana selama ini tidak pernah dilakukannya untuk menjaga image didepan karyawannya.


Tapi sekarang dia seakan tidak memperdulikan semua itu. Dia yang biasanya tampil rapi kini terlihat masa bodo dengan penampilannya. Bulu-bulu halus disekitar dagunya juga mulai tumbuh. Bahkan rambutnya juga sudah mulai panjang.


Sudah sebulan sejak kejadian itu, tapi Niel belum juga menemukan keberadaan Yana. Azura juga tidak ingin mengatakan apapun padanya. Radi juga selalu mengalihkan pembicaraan jika dia mulai membahas tentang Yana.


Dia tidak dapat berbuat apa-apa untuk memaksa Radi bicara, sebab lelaki itu ada di bawah perlindungan mamanya. Ada perasaan sesak dalam dirinya jika mengingat apa yang sudah dilakukannya pada Yana. Hari demi hari dilaluinya dengan perasaan hampa.


Nathaniel tidak ingin mengakuinya, tapi itulah kenyataannya. Dia merasa amat rindu dengan wanitanya itu. Perasaan yang belum pernah dirasakannya pada wanita manapun. Tapi dia enggan mengakuinya. Radi akan mengejeknya habis-habisan jika dia mengakui apa yang dirasakannya pada Yana. Meskipun Niel juga tidak mengetahui dengan jelas apa arti dari perasaan tidak jelasnya itu.


Pertemuan mereka yang sangat singkat seolah membawa pengaruh besar dalam hidupnya. Selama ini Niel menganggap cinta itu hanyalah omong kosong belaka. Tapi sekarang dia seakan ragu dengan pemikirannya sendiri tentang cinta itu.


Tapi apa mungkin ada cinta pada pertemuan yang sangat singkat ini? Pertanyaan itu selalu berputar dikepalanya. Dia selalu menekankan pada dirinya sendiri bahwa apa yang dirasakannya pada Yana hanyalah ketertarikan biasa saja. Atau mungkin saja lebih mengarah pada ketertarikan seksual saja. Tapi sekali lagi hatinya seolah menyangkal itu. Entah apa yang sebenarnya di inginkan hatinya.


Tiga hari sejak kejadian itu, papanya kembali dari perjalanan bisnisnya. Pada awalnya semuanya berjalan dengan baik. Tapi saat makan malam, Bram mulai menatap curiga pada Azura yang seolah mengabaikan putra kesayangannya, Niel. Bahkan selama ini anak dan ibu itu selalu lengket. Yang membuat Bram kadang menatap cemburu pada putranya sendiri. Bahkan kerap kali menyogoknya dengan mobil keluaran terbaru agar Niel tinggal di Apartemennya saja.


Azura yang memang tidak dapat menyembunyikan apapun dari suaminya itu terpaksa mengatakan semuanya. Akibatnya Niel mendapat dua bogeman di rahangnya. Dan masih akan berlanjut jika saja Azura tidak melindunginya. Sejak saat itu Niel kembali menetap di Apartementnya dan tidak pernah menginjakkan kakinya di mansion lagi. Itu semua karena larangan dari Bram.


Bram baru akan memaafkannya jika dia sudah minta maaf terlebih dahulu pada Yana. Dengan dalih itu Niel mencoba membujuk sang mama, namun hasilnya tetap saja nihil. Azura akan mempertemukannya dengan Yana, apabila Niel datang padanya dan mengakui penyesalannya.


Tentu saja Niel tidak melakukan itu. Dan mengatakan pada Azura bahwa dia tidak akan pernah menyesali perbuatannya pada Yana, bahkan kalau perlu tidak akan mencari wanita itu lagi. Tapi perkataannya itu malah membuatnya melihat apa yang tidak ingin di lihatnya pada mata sang mama. Mata yang menatapnya dengan penuh luka. Dan Niel membenci tatapan itu.


Seolah semuanya belum cukup, apa yang dikatakannya sebelumnya seolah menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Nyatanya tanpa sepengetahuan siapapun, Niel mengerahkan beberapa anak buahnya untuk mencari keberadaan Yana. Tapi seperti yang sudah di katakan Azura, dia tidak akan pernah menemukan Yana tanpa seizin darinya. Dan semua itu benar adanya.


Beberapa hari yang lalu Radi mengambil cuti. Niel curiga jika sebenarnya Radi ingin menemui Yana. Oleh sebab itu dia mengawasi segala gerak geriknya. Tapi dalam perjalanannya membuntuti Radi, dia lagi-lagi kehilangan jejak.


Radi menghilang begitu saja ditengah padatnya jalan raya. Lelaki itu seolah sengaja membawanya kejalan yang ramai kendaraan. Karena saat dia menjegat mobil yang semula di naiki Radi, orang yang mengemudi bukan lelaki itu lagi melainkan orang lain.


Dan Niel sangat yakin semua itu ada sangkut pautnya dengan Azura atau mungkin Bram. Karena hanya orang tuanya sajalah yang selalu berhasil mengelabuinya dalam hal apapun itu.


Nathaniel menatap penampilannya di cermin. Hari ini dia akan menghadiri pesta pernikahan salah satu sahabatnya, Carlos yang juga sahabat Radi. Bukan tanpa alasan Niel menghadirinya. Karena jika boleh memilih, dia akan tetap di kantornya dengan setumpuk kertas dari pada menghadiri acara membosankan seperti itu. Toh itu bukan pesta pernikahannya. Terdengar jahat, tapi itulah tabiat asli dari seorang Niel.


Dan hari ini dia berharap dapat bertemu Radi disana. Dia sudah tidak dapat menahannya lagi. Sudah cukup selama sebulan ini dia tidak bertemu Yana, bahkan mendengar kabarnya pun tidak. Niel akan mengungkapkan segalanya, apa yang dirasakannya akhir-akhir ini. Meskipun dia sendiri juga tidak yakin dengan perasaannya sendiri.


Bukankah ini terlalu cepat? Batinnya.


Walaupun Radi selalu menyangkalnya, tapi Niel juga bukanlah orang bodoh. Dia tau jika sebenarnya Radi mengetahui keberadaan Yana. Niel tidak peduli jika lelaki itu akan mengejeknya karena apa yang dikatakannya dulu kini menjadi kenyataan.


Azura menepati janjinya untuk membuatnya menyesal. Bahkan Radi juga pernah mengingatkannya tentang itu. Tapi egonya yang setinggi langit membuatnya enggan untuk mengakuinya.


Nathaniel memasuki Ballroom Hotel dengan langkah elegannya. Para wanita yang ikut hadir menatapnya secara terang-terangan. Jika biasanya Niel akan membalasnya dengan senyum memikatnya, maka kali ini dia hanya memasang poker face-nya. Niel menghentikan langkahnya setiap kali ada rekan bisnisnya yang ikut hadir menyapanya. Dia melakukan itu sebagai tanda sopannya meskipun dengan wajah datarnya.


Setelah memberikan selamat kepada pengantin dan berbincang-bincang dengan Carlos, Niel kembali melangkahkan kakinya menyelusuri Ballroom Hotel tempat pesta berlangsung hanya untuk mencari keberadan asisten biadab-nya. Carlos mengatakan padanya tadi bahwa Radi sudah datang lebih awal dari pada dirinya.


Setelah beberap menit, Niel akhirnya menemukan apa yang dicarinya. Radi tengah berbincang dengan seseorang. Orang yang berbincang dengan Radi itu pamit pergi setelah Niel datang. Dapat dilihatnya kekagetan dimata Radi saat menatapnya. Dan itu membuat Niel samakin menyeringai.


"Niel, Lo datang?"


"Ngga biasanya. Gue yakin lo pasti ada maksud tertentu kan?" Radi menatapnya dengan sinis. Tapi sayangnya Niel sudah biasa dengan tatapan macam itu.


"Lo mengenal gue dengan baik" Niel terdiam sejenak sebelum menatap Radi dengan serius. "Kita perlu bicara!"


***


Azura tengah berada di ruang tengah, dia tengah berbincang dengan suami tercinta lewat telepon kala Radi masuk. Azura kemudian menutup teleponnya setelah berbagi kata cinta dengan sang suami.


"Radi, kau sudah pulang?" tanya Azura dengan kening berkerut heran. Pasalnya Ini masih pukul delapan malam. Tapi kemudian ekspresinya berubah menjadi kekagetan kala melihat Niel ikut masuk.


"Niel?" tanyanya memastikan.


"Mama disini?" tanya Niel balik, basa basi. Dia sudah tidak heran lagi jika akan menemukan Azura dirumah ini. Dan untuk kesekian kalinya Niel merutuki dirinya karena sempat melupakan rumah almarhum neneknya ini. Dia tidak menyangka jika Azura ternyata membawa Yana kerumah ini.


"Apa yang kamu lakukan disini?" Niel menatap Azura dengan pandangan memohon kala mendengar nada dingin dari sang mama.


"Ma, aku minta maaf. Tapi aku benar-benar merindukan mama yang sayang sama Niel. Bukan mama yang natap Niel kayak gini" Azura mengalihkan tatapannya. Dia juga rindu untuk memeluk putranya itu. Tapi dia akan menahannya sampai Niel benar-benar mengakui kesalahannya.


"Please ma, jangan kayak gini lagi. Ok, aku akui aku salah, aku menyesal sudah melakukan semuanya. Aku minta maaf" ujarnya dengan fruatasi membuat Azura menatapnya lekat.


"Kamu janji tidak akan melakukan itu lagi? Tidak akan main dengan wanita malam diluar sana lagi?"


Sejenak Niel terdiam "Aku janji"


Azura tersenyum dan membawa Niel kedalam pelukannya. Dia amat merindukan putranya. "Kamu sungguh sudah menyesali semuanya Niel?"


Nathaniel melepas pelukannya dan menghela nafas sejenak "Benar ma, aku benar-benar menyesali semuanya. Aku juga... Entahlah. Aku tidak tau apa yang terjadi sama diri aku sendiri. Seolah ada sesuatu yang hilang saat mama membawa Yana pergi. Aku tidak tau harus menjelaskannya seperti apa. Aku tidak suka melihatnya tertawa dengan lelaki lain, sedangkan saat bersamaku, dia hanya menatapku dengan ketakutan. Aku tidak suka melihatnya berdekatan dengan lelaki lain. Aku sudah memperingatinya sebelumnya, tapi dia tidak mengindahkannya. Aku marah! Aku... Dan aku merasa sesak setiap kali ingat perbuatanku pada Yana"


Azura tersenyum mendengarnya, ternyata dugaannya selama ini benar. Dan sekarang putranya jatuh cinta untuk pertama kalinya namun dia sendiri tidak menyadarinya. "mama ngerti"


"Apa aku boleh menemui Yana?" tanya Niel pelan.


Azura menatapnya dengan ragu "Mama tidak yakin. Tapi... "


"Please ma?" Azura mengangguk tidak tahan melihat pandangan memohon putranya membuat Niel mendesah lega. Ini pertama kalinya Niel memohon seperti ini kepadanya.


Nathaniel melangkahkan kakinya ke taman belakang rumah seperti yang Azura katakan. Ya Tuhan, dia sangat merindukan wanitanya yang saat ini sedang duduk di bawah ayunan dengan menatap langit yang dipenuhi bintang berkelip. Niel menarik nafasnya sejenak. Jantungnya tiba-tiba berdetak dengan sangat cepat. Dia sudah siap menerima segala cacian atau mungkin pukulan dari Yana.


"Kayana" panggilnya pelan.


Diluar prediksinya Yana tidak memukulnya atau mencacinya. Tapi wanita itu malah menjerit histeris membuat Niel langsung mematung ditempatnya. Bahkan saat Yana terjatuh dan melemparinya dengan sandal yang dipakainya, dia tidak juga bergerak dari tempatnya membuat sandal itu mengenai kepala juga dadanya.


Derap langkah yang saling bersahutan tidak dihiraukannya. Pandangannya tidak lepas dari wanita yang masih histeris itu. Hingga Azura datang dan menenangkan wanita itu dengan memeluknya erat. Wanita itu menutup matanya erat dan terus bergumam, namun Niel tidak dapat mendengar gumaman wanita itu dengan jelas. Dia masih terpaku ditempatnya dengan pandangan nanar menatap kedepan. Niel bahkan seolah tidak merasakan nafasnya sendiri.


Apa yang sudah di lakukannya pada wanitanya yang manis?