
"Fred, siapakan segala kebutuhan yang diperlukan malam ini. Aku tidak ingin ada kekurangan sedikit pun"
"Saya sudah menyiapkan semuanya, Sir"
"Bagus. Kau sudah mengerjakannya sebelum ku minta. Dan Fred aku hanya akan makan disini" Fred mengangguk mengiyakan sebelum berlalu.
Fred salah satu orang kepercayaan Niel yang mengurus segala sesutu yang di butuhkan dalam setiap pertemuan di luar negeri. Berbeda dengan Radi yang khusus dia tugaskan di perusahaan utama sekaligus asisten pribadinya.
Nathaniel memijit keningnya pelan. Entah kenapa sejak tiba tadi pikirannya hanya tertuju pada wanita yang ada di apartment-nya. Dia tiba-tiba merasa... Rindu? Niel menggelengkan kepalanya memikirkan itu.
Sialan! Dia tidak akan membiarkan wanita itu menguasainya. Dia adalah Nathaniel dan tidak akan ada wanita seorang pun yang dapat menguasai hatinya. Tapi rupanya hati dan pikirannya saat ini sedang tidak sejalan.
"Apa yang dilakukannya sekarang?" gumamnya pelan dan menggunakan tangannya sebagai tumpuan di dagunya. Dia menarik sudut bibirnya keatas mengingat malam yang mereka lalui berdua.
Niel tidak sabar untuk segera menyelesaikan urusannya dan kembali secepatnya. Jika biasanya Niel akan bersikap santai bahkan menunda-nunda wantu kepulangannya, maka tidak untuk saat ini. Perasaan untuk segera kembali memenuhinya. Membuat dadanya terasa hangat.
Sial saja, ini baru beberapa jam sejak dia tiba, namun rasanya sudah berminggu-minggu.
Dering ponsel mengalihkan perhatiannya. Niel melirik nama si pemanggil sebelum meraih ponselnya.
"Karen?" ujarnya dengan kening berkerut.
Dia adalah wanita yang di perintahkannya untuk mengawasi Yana tanpa sepengetahuan Radi. Niel bukannya tidak percaya pada asisten sekaligus sahabatnya, tapi dia hanya ingin berjaga-jaga. Tapi benarkah hanya itu alasannya? bisiknya dalam hati. Ini pertama kalinya dia meragukan Radi.
"Maaf Sir, saya hanya ingin memberitahukan bahwa sudah lebih tiga puluh menit namun nona Yana belum juga keluar dari ruangan Argus"
Nathaniel terdiam dengan rahang mengeras. Dia menggenggam ponselnya dengan erat dan mendesis "Dimana Radi?"
"Radi tidak terlihat sedari tadi Sir"
"Kalau begitu kau yang masuk dan seret dia keluar"
"Maaf Sir. Bukankah anda sendiri yang mengatakan bahwa saya tidak boleh ketahuan oleh siapapun, termasuk nona Yana"
Nathaniel mengatupkan bibirnya rapat sebelum melempar ponselnya kedinding dan jatuh dengan layar yang sudah retak. Tidak hanya itu dia juga melempar vas yang ada di atas meja.
"Sialan Yana!" geramnya.
Fred yang baru datang tersentak kaget mendengar suara nyaring itu. Dia tadi sudah berada di basement sebelum menyadari bahwa ternyata ponselnya tertinggal. Untuk itu dia kembali bermaksud ingin mengambilnya, namun apa yang dilihatnya membuatnya tercengang.
Nathaniel yang Fred kenal adalah orang yang dapat mengendalikan emosinya dengan sangat baik. Dia juga tidak pernah melihat Niel dalam keadaan seperti ini. Bahkan semenyebalkan apapun rekan bisnisnya, Niel masih bisa mengatasinya dengan baik. Dan kali ini entah apa pemicunya hingga Niel terlihat sangat marah.
"Apa yang terjadi Sir?" tanya Fred. Dia meringis kala melihat pecahan kaca ada dimana-mana. Juga ponsel Niel dengan layar yang sudah retak.
Nathaniel mengalihkan pandangannya dan menghela nafas panjang beberapa kali berusaha mengendalikan emosinya. Sialan! Dia tidak pernah kehilangan kendali di depan siapapun selama ini. Niel beberapa kali mengumpati Yana karena sudah membuatnya hilang kendali untuk pertama kalinya seperti ini.
"Bukan apa-apa. Urus semua kekacauan ini" ujarnya dingin. Saat hendak melewati pintu, Niel kembali berbalik menatap Fred.
"Dan Fred, terutama itu" tunjuknya pada ponselnya sebelum benar-benar berlalu.
Bahkan selama meeting berlangsung Niel tidak dapat benar-benar fokus. Dia masih memikirkan perkataan Karen. Berbagai pikiran buruk melintas di kepalanya. Dia tidak bisa membayangkan Yana bersama lelaki lain. Yana adalah wanitanya, miliknya! Dan dia tidak suka penghianatan. Namun sepertinya ada yang lupa dengan peringatannya.
Dia kemudian melirik ke arah Fred yang tengah sibuk dengan berkasnya. Meeting baru saja selesai dan hanya ada mereka berdua dalam ruangan.
"Fred handphone-ku" ujarnya pada Fred.
Fred yang mengerti pun segera mengeluarkan ponsel yang baru di belinya beberapa saat lalu. Semua data yang ada di ponsel lama Niel sudah di pindahkannya. Kedua sudut bibir Niel sedikit terangkat kala melihat pesan dari Yana.
"Sepertinya aku terlalu memanjakanmu. Lihat saja apa yang akan ku lakukan. Nikmati harimu Yana. Karena setelah aku kembali, aku akan memberimu pelajaran yang tidak akan pernah kau lupakan. gumamnya.
"Apa anda mengatakan sesuatu Sir?" tanya Fred dengan kening mengernyit.
Nathaniel menggelengkan kepalanya "tidak, bukan apa-apa"
***
Radi mebelalakkan matanya kala pintu terbuka dan menampilkan dua sosok wanita yang sangat dihindarinya.
"Yana! Kenapa kau bawa mereka kesini?" pekiknya.
"My baby Radi!" teriak Rachel yang langsung menerobos masuk.
"Sialan lo Niel!" umpatnya sebelum kembali berlari menghindari Rachel yang akan memeluknya. Memasuki sebuah pintu yang baru di ingatnya adalah ruang kerja sekaligus ruang baca Niel. Setidaknya dia menemukan tempat yang aman.
"My baby Radi, buka pintunya dong" ujar Rachel dengan nada manjanya disertai ketukan pelannya.
"Udah gue bilang, gue ngga suka sama kalian! Dan gue ngga mau liat lo!"
"Apa maksud kamu? Aku udah dandan cantik gini itu buat kamu loh" Radi mendengus mendengar nada merajuk Rachel yang sangat jelas hanya di buat-buat.
Rachel membalikkan badan menghadap Diana juga Yana dengan wajah memberenggut ketika beberapa kali memanggil Radi namun tak ada yang merespon. Dia menanyakan dimana letak kamar mandi sebelum berlalu mengabaikan Diana yang tertawa mengejeknya.
Di tatapnya wajahnya lekat-lekat begitu sampai. Radi bilang dia tidak mau melihatnya. Jadi Rachel berpikir mungkin saja ada sesuatu di wajahnya. Tapi dia mengerutkan keningnya kala tidak menemukan apapun.
Sesaat kemudian Rachel mengangguk-ngangguk mengerti. Mungkin saja Radi tidak suka karena karena make up-nya yang ketebalan. Pikirnya tersenyum. Oleh karenanya, Rachel membasuh wajahnya untuk menghapus make up-nya. Setelahnya dia keluar kamar mandi dan melangkahkan kakinya menuju Diana juga Yana yang tengah berbincang.
Ponsel Yana tiba-tiba berdering. Dia menautkan kedua alisnya ketika melihat nomor panggilan yang tak di kenalnya. Panggilan terputus lalu disusul satu pesan. Kemudian dia berlalu meninggalkan kedua wanita yang tidak pernah akur itu kembali saling menyerang dengan kata-kata.
"Radi" panggilnya pelan sebelum pintu terbuka.
"Yana, kenapa kau bawa mereka kesini?"
"Mereka ingin menemuimu jadi aku ajak mereka kesini"
Ujaran polos Yana membuat Radi menggeram dan sangat ingin menjitak kepala cantik wanita itu jika saja tidak mengingat Niel.
"Maaf, aku benar-benar ngga tahan sama kedua temanmu itu. Mereka ngga waras! Sebaiknya kau usir saja mereka" sahut Radi kala Yana menanyakan tentang kepulangannya tadi.
"Maafkan aku Rad, tapi bukankah itu terdengar tidak sopan?"
"Lalu sekarang bagaimana?"
"Sekali lagi maafkan aku"
"Sudahlah, tidak apa-apa. Tapi Yana apa temanmu masih ada di luar?" tanya Radi dengan suara tertahan membuat Yana khawatir karena wajah lelaki itu yang ikut memerah.
"Radi, kamu kenapa? Kamu sakit? Maafkan aku. Aku ngga tau kalau kejadiannya akan serunyam ini"
Radi mengangkat tangannya menghentikan celotehan Yana.
"Aku kebelet" ujarnya terbata.
Kayana membulatkan mulutnya kala mengerti apa yang Radi maksudkan. "Kalau gitu kamu ke kamar kecil saja"
"Teman gilamu..."
"Biar nanti aku yang urus" ujar Yana memegang knop pintu.
Tapi pintu sudah lebih dulu terbuka menampilkan dua wanita yang sedari tadi Radi hindari. Radi mengibaskan tangannya kasar ketika kedua wanita itu menghampirinya.
"Minggir kalian!" tegasnya.
"Ngga, sebelum kamu setuju makan malam sama aku nanti" ujar Diana.
"Ngga! Kamu harus pergi sama aku" timpal Rachel.
Kayana menatap kasihan pada lelaki di sampingnya. Wajahnya sudah terlihat sangat merah, tapi kedua wanita yang kebetulan adalah temannya itu tidak ingin melepaskannya. Dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Sebab kata-katanya tidak ada yang mengindahkan.
Hingga beberapa orang berpakaian hitam masuk membuat Yana tersentak kaget. Dia mencoba menormalkan kembali ekspresi keterkejutannya kala mengingat apa yang pernah Niel katakan.
"Maaf nona. Tapi kedua teman nona sudah harus pergi" Yana hanya menganggukkan kepalanya mengerti.
Sedangkan Radi tersenyum penuh kemenangan karena akan segera terbebas dari kedua wanita tidak waras yang terus saja mengejarnya.
"Bagus! Kalian dengar itu, keluar sekarang juga! Kalau perlu seret mereka keluar" sarkasnya.
Kedua wanita itu membelalakkan matanya. Mereka terus saja berteriak membuat telinga Radi sakit. Bodyguard Niel yang hendak maju mendamaikan suasana di cegat Yana. Wanita itu melangkah maju dan membisikkan sesuatu ketelinga Diana membuat wanita itu kegirangan dan berlalu begitu saja.
Rachel yang melihatnya mengerutkan kening menatap penasaran pada Yana. Tapi wanita itu mengedikkan bahunya membuat Rachel mendengus dan menyusul Diana.
"Diana, tungguin gue!" teriaknya.