You belong to me

You belong to me
Episode Tujuh



Kayana berjalan kearah Niel setelah sebelumnya membersihkan dapur yang sangat berantakan. Dan pelaku utamanya kini sedang merajuk, maksudnya marah padanya. Hanya karena Yana tidak menghabiskan nasi goreng yang di buatnya. Lagi pula siapa yang akan memakan habis nasi goreng seasin itu. Entah berapa banyak garam yang lelaki itu masukkan. Atau mungkin saja lelaki itu ingin membuatnya mati keasinan.


Saat suapan pertama dan kedua Yana berhasil menelannya, tapi pada suapan ketiga gadis itu tidak sanggup lagi dan mengeluarkannya di wastafel. Niel yang sedari tadi sibuk dengan ponsel menatap Yana dengan dahi mengernyit tapi kemudian mengedikkan bahunya tidak peduli. Lagi pula salah wanita itu sendiri yang mengatakan masakannya enak. Jadi dia tidak bersalah karena meminta wanita itu menghabiskan masakannya kan?


Dan Niel tidak bertanya bahkan membantu Yana saat wanita itu sibuk mengeluarkan makanannya di wastafel. Karena dia sudah tau pasti apa penyebabnya. Tentu saja karena nasi goreng buatannya, apalagi. Dia tidak akan menyangkal jika Yana mengatakan nasi goreng buatannya buruk, tapi karena gadis itu bilang enak, ya sudah biarkan saja.


Dan lagi itu pertama kalinya Niel menyentuh peralatan dapur. Untuk pembuatan nasi gorengnya tentu saja dia melihatnya di youtube. Niel juga tidak marah kepada Yana, entah kenapa pikiran untuk mengisengi gadis itu melintas begitu saja di kepalanya.


"Kemarilah" Panggilnya kala melihat Yana berjalan kearahnya dengan pelan. Selain bodoh dan menyebalkan, gadis itu sangat lelet. Sudah seperti siput saja, pikirnya.


Nathaniel mendengus ketika Yana duduk bersebrangan dengannya. Ini bukan pertama kalinya gadis itu melakukannya. Seakan dirinya adalah kotoran saja. Sial! Seharusnya dia yang melakukan itu kepada Yana.


"Mendekat!" Ujarnya dingin membuat Yana ketakutan. Dia berdiri dari duduknya dan melangkah ke sofa yang lebih dekat dengan Niel. Padahal yang dia inginkan, Yana duduk di sampingnya.


Nathaniel menghela nafasnya pasrah, jelas sekali bahwa itu bukan dirinya. Dia tidak pernah mengalah kepada siapapun dan dalam keadaan apapun. Keluarganya tidak termasuk. Tapi lagi-lagi Yana pengecualian. Niel menekankan pada dirinya sendiri bahwa dia melakukan itu karena kasihan, wanita itu belum sepenuhnya sehat.


Dan lagi, kenapa juga dia harus repot membuat nasi goreng untuk Yana


Sial! Memikirkan semua itu membuat kepalanya pening.


"Apa yang kau lakukan di kamar mandi selama itu? Kau ingin membunuh dirimu sendiri? Kalau kau memang ingin melakukannya sebaiknya jangan" Niel berdehem sejenak sebelum kembali melanjutkan ucapannya. "Maksudku jangan lakukan disini. Aku tidak ingin jadi tersangka pembunuhanmu. Dan lagi apa kau tidak waras, kau ingin bunuh diri sedangkan kontrakmu belum selesai"


"Ti-tidak... Maksudku kamar mandimu sangat nyaman. Jadi... "


"Jadi kau tertidur di dalam, begitu? Baiklah kalau itu keputusanmu. Selama kontrak ini berjalan kau akan tidur di kamar mandiku"


Kayana menggelengkan kepalanya kuat "bukan seperti itu... "


"Aku tidak peduli! Kau sudah mengambil keputusanmu sendiri. Dan ya, lusa aku akan ke Jerman selama beberapa hari. Dan kau harus ingat satu hal, kau milikku dan aku tidak suka jika ada yang menyentuh milikku. Kau pahamkan apa maksudku? Jangan berani menggoda lelaki manapun! Karena aku selalu mengawasimu" ujar Niel menekankan setiap kata di kalimat akhirnya.


Kayana hanya mengangguk pasrah, menatap Niel dengan sorot mata yang terluka. Secara tidak langsung, lelaki itu telah menghinananya dan menyamakannya dengan para wanita malam di luar sana. Niel mengingatkannya akan statusnya yang sebenarnya mengapa dia berada di apart lelaki itu.


"Dimana tasku?" tanya Yana ketika Niel akan berlalu.


"Tasmu? Sudah ku bakar" ujar lelaki itu dengan santainya.


"Apa maksudmu kau membakar tasku? Mengapa kau lakukan itu? Kau sangat jahat!"


Nathaniel mengedikkan bahunya tidak peduli "Jangan pernah meninggikan suaramu didepanku atau kau akan merasakan akibatnya. Tasmu dan semua yang ada di dalamnya tidak kusukai. Lagi pula aku sudah menyiapkan segala keperluanmu termasuk kamar yang akan kau tempati. Dan jangan menangis di hadapanku, atau ingin... "


"Tidak! Maafkan aku" Yana mengusap setetes air mata yang jatuh di pipinya. "Dimana kamarku?" Lanjutnya dengan suara bergetar. Dia tidak akan menangis di hadapan Niel seperti yang lelaki itu katakan. Setidaknya lelaki itu tidak serius dengan ucapannya tentang dia yang akan tidur di kamar mandi lelaki itu.


Dan lagi apa-apaan alasan itu? Dia tidak menyukainya? Ya Tuhan sepertinya lelaki ini tidak waras batinnya berteriak.


Sebenarnya bukan tas ataupun pakaian yang Yana khawatirkan, tapi sebuah foto yang ada dalam tas itu. Foto keluarganya yang lengkap. Foto yang di ambil sesaat sebelum ayahnya kecelakaan. Bibir Yana gemetar menahan tangis. Dia melangkah ke kamar yang ditunjuk Niel.


Kayana membuka pintu dan terkesiap melihat apa yang ada di atas kasur juga yang terpajang di atas nakas. Dia menolehkan kepalanya melihat Niel yang berjalan mendekatinya.


"Kau tidak membakarnya" ujar Yana dengan suara seraknya.


Nathaniel bersedekap dan menatap Yana dengan dagu terangkatnya "tadinya aku berpikir akan membakarnya, tapi tidak jadi karena kau...cengeng"


"Terima kasih" Yana tersenyum manis dengan mata berkaca-kaca. Lagi-lagi alasan yang tidak masuk akal. Sedangkan Niel menguyur rambutnya memaki dirinya karena terpesona dengan senyum Yana.


Sial! Dia tidak akan membuat hal itu terulang lagi. Batinnya sebelum berlalu pergi.


Kayana menutup pintu dengan pelan dan berjalan kearah kasur, meraih tasnya. Dia mengambil ponselnya dan mengaktifkannya. Beberapa panggilan masuk juga pesan.


"Diana pasti khawatir karena dari kemarin aku tidak menghubunginya. Aku juga belum menanyakan kabar Nara, semoga dia baik-baik saja" gumamnya membuka pesannya satu persatu.


Diana : Jangan bertindak bodoh. Pikirin semuanya baik-baik. Gue yakin masih ada jalan keluar lain.


Diana : Yana, lo ngga masuk kerja? Di cariin pak Argus tuh.


Diana : Lo beneran terima tawaran Rachel ya? Asal lo tau gue baru aja berantem sama tuh jalang. Puas gue udah tonjok mukanya.


Diana : Gue harap lo baik-baik aja.


Ibu Lila : Yana, toko saat ini sedang ramai. Kamu tidak masuk, apa kamu baik-baik saja?


Air mata Yana menetes membaca beberapa pesan yang masuk. Dia tidak membuka keseluruhannya dan hanya membalas yang di anggapnya penting. Mereka peduli padanya, tapi apa yang akan mereka pikirkan jika tau apa yang sudah di lakukannya.


***


"Ya ampun Nar, rumah lo panas banget sumpah" gerutu Sandra begitu memasuki rumah Nara.


"Kalau gitu lo pulang aja, gue ngga ada undang lo juga" ketus Nara memutar bola matanya malas.


"Sialan lo! Bercanda juga" Nara hanya tertawa mendengar umpatan Sandra.


"Kakak lo mana?" Tanya Viona basa basi.


"Ngga tau! Udah mati kali"


"Mulut lo ya! Lo ngga ada hubungin dia gitu, tanya dia dimana. Ini udah malam loh, lo ngga khawatir?"


"Yaelah, dia udah bukan anak kecil lagi! Dan gue ngga peduli dia kemana. Mau mati sekalian gue ngga peduli"


Viona menggelengkan kepalanya "Gue pastiin lo bakal nyesel seumur hidup karena pernah ngucapin itu kalau kakak lo ninggalin lo beneran"


"Ngga bakal!" ucap Nara dengan tegas kemudian berdiri dari duduknya. "Gue ke kamar dulu"


"Gue lapar, mau pesan makanan. Lo mau gue pesenin apa?" ujar Hani.


"Ngga perlu, gue bisa bikin sendiri nanti"


"Yaelah masih sungkan aja lo sama kita, santai aja kali. Gue pesenin sekalian"


"Gak perlu Han, serius"


Hani menghela nafasnya, selalu saja seperti ini "Ok, terserah lo"


"Kita jadi kan ke Club?" tanya Sandra begitu Nara kembali dari kamarnya.


"Gue ngga. Gue mau samperin si Bendi" ujar Viona.


"kenapa emangnya? Lo ada masalah lagi sama Bendi?"


"Bukan gitu... Ngga tau...entahlah, bingung gue. Udah beberapa hari ini dia ngga ada hubungin gue. Dia juga ngga pernah angkat kalau gue telpon"


"Selingkuh kali!"


"Menurut gue sih ngga mungkin ya. Secara Bendi kan orangnya baik, perhatian sama lo. Dan dia keliatan cinta banget sama lo" kata Nara.


"Yaelah Nar, bisa jadi dia ngelakuin itu buat nutupin kedoknya. Jaman sekarang laki-laki mana ada yang bisa di percaya. Orang otak mereka ada cuma di ************"


"Dito ngga gitu kok"


"Lo emang tau Dito kayak apa? Ngga kan? Dia sama aja tuh sama si Bendi. Mereka kan temenan dan setiap kali kita tanya Bendi dimana sama Dito, jawabanya itu-itu aja ngga tau. Mungkin aja mereka bersekongkol buat nutupin apa yang mereka lakuin di belakang kalian. Dan lagi, lo ngga pernah lakuin itu sama Dito kan? Yakali dia bisa tahan itu semua. Lagi pula hubungan kalian itu terlalu monoton, ngebosanin. Dan gue yakin Dito sependapat sama gue tentang itu" ucap Sandra menggebu-gebu.


"Lo kok ngomongnya gitu sih, San? Tapi kalau emang bener Bendi selingkuhin gue awas aja, I'll cut the ****"


"Sadis lo, Vi. Lo ngga mau di selingkuhin. Tapi apa kabar sama lo?" timpal Hani.


"Yaelah, itukan buat happy-happy doang. Bendi juga ngga tau kok"


"Yakin lo Bendi ngga tau?"


"Yakinlah!"


Sedangkan Nara hanya diam saja. Dia memikirkan apa yang baru saja Sandra katakan. Dia akui hubungannya selama ini dengan Dito terlalu monoton. Harus di akuinya Dito memang kerap kali meminta itu tapi selalu di tolaknya. Dan lelaki itu juga tidak masalah. Jadi Dito tidak mungkin bermain di belakangnya kan?