You belong to me

You belong to me
Episode Empat



"Masih kesel gue gara-gara tuh cowok tadi. Bisa-bisanya dia nolak gue" sungut Sandra masih belum bisa menerima penolakan yang di terimanya tadi siang.


Pasalnya itu adalah penolakan pertama yang di terimanya. Selama ini belum ada cowok yang menolak pesonanya. Tubuh sexy-nya yang berisi di bagian tertentu, juga wajahnya yang cantik dengan warna bibir merah darahnya.


"Bukan lo aja San, tapi kita-kita juga. Apa mungkin tuh cowok maho?" timpal Viona.


"Jangan nething, kalian aja yang kecentilan" ujar Nara dengan nada mengejek membuat ketiga temannya berdecak kesal.


"Guys, lihat deh. Itu bukannya cowok tadi... yang nolak kita itu" Ujar Hani tak melepaskan matanya dari obyek yang di tujunya.


Sesaat kemudian dia meringis, Sandra menabok kepala cantiknya. "Ngga usah lo perjelas gitu bisa ngga sih"


"Sakit tau!" ujar Hani mengusap kepalanya.


"Iya benar, itu cowok tadi. Tapi siapa tuh cewek di sampingnya?" kata Viona mengalihkan perhatian mereka berdua.


"Pacarnya kali" tukas Nara ikut menatap lelaki itu.


Harus di akuinya bahwa lelaki itu sangat tampan. Pantas saja ketiga temannya sedari tadi bersungut kesal karena penolakan lelaki tampan itu. Lelaki itu baru saja datang dengan seorang wanita yang menggandeng tangannya dan duduk tidak jauh dari mereka.


Kinara mengernyitkan kening kala suasana di antara mereka tiba-tiba hening. Biasanya ketiga temannya itu tidak akan berhenti bicara jika menyangkut lelaki tampan. Bahkan sedari tadi mereka mempeributkan lelaki itu. Tapi kenapa sekarang tidak ada di antara mereka yang membuka suara. Nara menolehkan wajahnya menatap temannya satu persatu yang menampilkan berbagai ekspresi.


"Kalian kenapa?" tanyanya bingung.


"Jadi itu alasannya dia nolak kita, karena dia udah punya pacar?" ucap Viona.


Sandra menggelengkan kepalanya kecil. "Ngga mungkinlah. Kucing di kasih ikan asin aja ngga bakal nolak"


Kinara tertawa membuat ketiganya menatapnya dengan bingung. "Kucingnya juga bakal nolak kalau ikannya beracun kali. Terima kenyataan aja deh, kalian di tolak karena wanita itu"


"Emang kucingnya tau dari mana kalau ikannya beracun?" tanya Hani dengan tampang bodohnya.


Sandra dan Viona memutar bola matanya malas sedangkan Nara semakin mengeraskan tawanya tanpa memperdulikan beberapa pelanggan yang menatap mereka.


"Hai, babe"


Suara itu mengalihkan perhatian mereka bertiga. Nara langsung berdiri dari duduknya menyambut orang yang baru datang itu.


"Kamu kayak senang banget. Ada apa?" Lanjut lelaki itu.


"Bukan apa-apa kok. Oh iya, kamu kenapa baru datang. Aku udah nungguin dari tadi" ujar Nara setelah mengecup singkat pipi lelaki itu.


"Macet. Aku udah hubungin kamu dari tadi, tapi handphone kamu ngga aktif"


"Iya, handphone aku rusak" Nara mengerucutkan bibirnya, menggandeng lengan lelaki itu untuk duduk di sampingnya.


"Bendi mana Dit?" tanya Viona.


"Ngga tau" jawab Dito sekenanya.


Viona mendengus "ngga tau gimana, lo kan sahabatnya"


"Tapi lo kan pacarnya, masa lo ngga tau" ketus Dito.


"Lo kok jadi sewot sih, gue kan cuma nanya doang"


"Dit, kita pergi nonton aja yuk" ujar Nara melerai mereka berdua.


Kebiasaan mereka saat bertemu, selalu saja memperbesarkan hal-hal kecil. Dan tidak ada yang mau mengalah. Apa lagi saat ini tidak ada Bendi, pacar Viona. Hanya lelaki itu yang dapat meredakan emosi Viona yang mudah meledak jika berhadapan dengan Dito.


Kinara tidak habis pikir dengan sahabatnya itu. Bendi adalah lelaki yang baik, tapi di belakangnya Viona selalu saja mengikuti Sandra menggoda pria tajir lainnya. Entah Viona benar-benar mencintai Ben seperti yang wanita itu sering katakan di hadapannya. Atau kata cinta itu dia gunakan hanya karena tidak ingin Ben meninggalkannya. Seperti moto mereka bertiga, kita yang meninggalkan tapi tidak boleh di tinggalkan.


"Gue ikut" ucap Hani dengan girangnya.


"Ngga! Lo ngga boleh ikut" timbal Dito cepat.


"Ngga boleh aja"


"Ngga apapa kali Dit dia ikut" tambah Narabmembuat secercah harapan dimata Hani.


"Yaelah Nar, lo kayak ngga tau Dito aja. Dia cuma mau berduaan sama lo. Mau modus dia. Hati-hati entar lo di grep-grep lagi" timpal Sandra.


"Sembarangan lo, cium bibir aja gue belum pernah"


Dito meringis kala merasakan perih disekitar pinggangnya, Nara baru saja memberinya cubitan panas.


"Belum halal"


***


"Kayana"


Entah sudah berapa kali nama itu diucapkan Niel, entah dia sadar atau tidak. Sejak pertemuan pertamanya dengan gadis itu, pikirannya hanya di penuhi bayang-bayang wanita itu. Dan untuk pertama kalinya Niel tidak bisa fokus dalam rapat yang sudah di batalkannya begitu saja beberapa menit yang lalu hanya karena seorang wanita. Ini bukan dirinya. Karena seorang Nathaniel Gilbert Abraham sangat perfecsionis dalam pekerjaan. Radi bahkan beberapa kali menegurnya karena melamun dalam rapat yang tengah berlangsung.


Ada sesuatu dalam diri gadis itu yang membuatnya seakan ingin selalu melindunginya. Bahkan saat Rachel memberikan beberapa foto wanita, Niel seakan tidak tertarik. Dan lebih memilih gadis yang di bawa Rachel kedalam sebuah Club dengan daster rumahannya. Mungkin wanita itu tidak menyadarinya, tapi pertemuan pertama mereka bukanlah di hotel itu tapi di sebuah Club.


Nathaniel seakan tidak bisa mengalihkan tatapannya pada wanita yang terlihat ketakutan saat memasuki Club atau mungkin itu hanya perasaannya saja. Sebab sekarang wanita itu telah menjual tubuhnya padanya. Jelas wanita itu bukanlah wanita baik-baik, pikirnya.


Nathaniel bahkan tidak tau mengapa dia harus menggunakan kontrak tidak terbatas dengan Yana. Saat dia menghubungi Rachel dan menanyakan tentang wanita itu, Niel seakan tertarik dengan apa yang di dengarnya. Tapi Rachel tidak pernah memberitahunya alasan wanita ralat gadis itu ingin menyerahkan tubuhnya padanya.


"Sialan!" umpatnya saat bayangan dia mengecup bibir gadis itu melintas di pikirannya.


Dia seakan masih bisa merasakan bagaimana tekstur bibir gadis itu atau lebih tepatnya gadisnya. Tapi ada satu hal yang tidak di sukai Niel darinya. Tatapan Yana seakan menyorotkan kesedihan, dan Niel tidak suka melihatnya.


Nathaniel mengacak rambutnya frustasi, dia tidak pernah seperti ini hanya karena seorang wanita. Dia tidak seharuanya merasa iba saat melihat air mata Yana. Gadis itu miliknya. Dan dia berhak atas tubuh yana sejak gadis itu menandatangani kontrak dengannya. Lagi pula gadis itu sama saja dengan wanita malam yang rela menjual tubuhnya hanya untuk segepok uang.


Jangan mengira bahwa Niel telah jatuh hati pada wanita itu. Niel hanya tertarik padanya, lebih tepatnya tertarik pada tubuhnya yang bahkan hanya dengan membayangkannya saja sudah membuatnya menegang. Sial! Dia butuh pelepasan dan dia akan melakukannya malam ini juga. Tapi hanya dengan gadisnya bukan yang lain.


Kata cinta dalam kamus seorang Nathaniel hanya omong kosong belaka. Baginya wanita seperti Yana hanya menginginkan uangnya saja. Sama seperti wanita yang di tidurinya malam-malam sebelumnya.


Nathaniel tidak akan membiarkan kejadian yang menimpa kakeknya, Samantaro juga menimpanya. Dimana saat itu Sam yang sudah berusia matang dan dituntut untuk menikah oleh orang tuanya. Pada saat yang bersamaan dia bertemu dengan seorang wanita yang sudah memiliki seorang putra.


Wanita itu sangat baik dengan segala kepolosannya hingga membuat Sam mencintainya dengan sangat dalam. Setelah beberapa bulan menjalin hubungan, Sam meminang wanita itu untuk menjadi istrinya. Orang tuanya bahkan tidak keberatan dengan pilihanya.


Awal-awal pernikahan mereka terlihat sangat bahagia. Sam juga sangat menyayangi anak tirinya. Hingga entah karena apa istrinya mulai berubah. Dia mulai meminta untuk di belikan sesuatu yang sangat mahal. Pakaian, tas, sepatu, perhiasan, dan aksesoris-aksesoris lainnya yang bahkan sebelumnya jika Sam menawarkan, istrinya akan menolak dan mengatakan untuk menyumbangkan uangnya saja dari pada memakainya untuk membeli semua itu yang mana akan jarang di pakainya. Sam tidak mempermasalahkan itu karena mengira istrinya hanya ingin tampil modis di depan teman-temannya.


Hingga saat istrinya memberinya pilihan yang sulit. Sam harus memilih anaknya atau semua aset miliknya yang susah payah di rintisnya dari awal. Sam memang sangat mencintai istrinya, tapi itu tidak sebanding dengan rasa cintanya pada sang anak. Meskipun itu hanya anak tirinya saja. Karena itu Sam merelakan segala asetnya. Sam tidak membenci istrinya karena telah melakukan itu. Dia hanya menyayangkan karena istrinya ternyata tidak sebaik dengan apa yang selama ini di tampilkannya.


Nathaniel mengetahui semua itu dari kakeknya sendiri. Sam menceritakan kisahnya itu dimalam sebelum kakeknya pergi meninggalkan mereka untuk selamanya. Kakeknya bahkan memberinya pesan untuk memilih wanita yang benar-benar baik untuk masa depannya kelak. Dan tidak perlu terlalu terlena dengan kepolosan wanita. Karena kadang wanita akan menggunakan kepolosannya untuk menjerat mereka kaum adam agar lebih mudah menguasai hartanya.


"Gue ngga ngerti satu hal, kenapa lo harus pake kontrak segala. Mana kontraknya ngga pake batas waktu lagi. Bukankah itu terdengar tidak adil bagi Yana" Celutukan Radi kembali mengalihkan pikiran Niel.


"Itu urusan gue, lo ngga perlu tau"


"Dia gadis yang baik bro, dia berbeda dengan wanita-wanita lo sebelumnya"


Nathaniel menatap Radi tajam "lo jangan tertipu dengan tampang polosnya. Dan apa maksud lo dengan kata gadis itu?"


"Gue denger lo bicara dengan Rachel" ucap Radi menampilkan senyum smirknya membuat Niel mendengus.


"Asisten yang suka menguping, heh?"


"Kalau lo lupa, gue juga sahabat lo"


Nathaniel hanya menanggapinya dengan gelengan kepala dan berdiri dari duduknya "Gue balik"


"Yaelah, belum juga sepuluh menit lo disini. Oh gue tau, ini pasti karena gadis itu kan? Ngga sabaran banget lo. Ingat pengaman kalau lo ngga mau repot nantinya" ujar Radi dengan frontalnya membuat Niel lagi-lagi mendengus tidak suka dan mengumpatinya.