You belong to me

You belong to me
Episode Dua



...PLEACE VOMEN-NYA...


...***...


Kayana melangkah cepat kearah Diana ketika melihat gadis itu sudah tidak sesibuk tadi.


"Diana"


Kayana menghela nafasnya melihat Diana yang hanya meresponnya dengan gumaman malas. Ternyata benar dugaannya, gadis itu tengah menghindarinya. Mungkin Diana masih kesal karena dia telah menyuruhnya pulang semalam dan mengacaukan rencana yang mereka sudah buat.


"Kita duduk disana" Yana menarik lengan Diana dan membawanya kesalah satu meja kosong yang ada di pojok.


"Gue minta maaf" ujarnya begitu mereka sudah duduk.


"Buat apa?"


"Buat semalam. Gue benar-benar minta maaf. Gue ngga ada niat buat nyuruh lo pulang. Tapi... "


"Gue ngerti. Lo tenang aja, gue ngga marah sama lo. Gue cuma kesel aja sama adik lo itu. Coba dia adik gue, udah gue botakin tuh"


Kayana terkekeh dibuatnya "Tapi kenapa dari tadi gue panggil, lo kayak cuek gitu"


"Ya ampun, Yana... Lo ngga liat pelanggan banyak gini. Mana gue sempat respon lo. Emang lo mau kita ditegur karena malah ngobrol sementara banyak pelanggan begini"


Kayana menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Benar apa yang dikatakan Diana. Bodohnya dia karena mengira Diana mengabaikannya karena marah.


***


Diana bersender di pintu loker sambil menatap Yana yang sepertinya tengah melamun, lagi.


"Oh iya Yan, kemarin lo belum cerita apapun. Lo ada masalah apa sih?"


Kayana menarik nafas pelan sebelum mengungkapkan apa yang membuatnya tidak dapat fokus akhir-akhir ini. "Gue lagi butuh biaya buat operasi nyokap gue, dan jumlahnya ngga sedikit"


"Ya ampun Yan, kenapa lo baru cerita sekarang. Gue ada sedikit tabungan, mungkin bisa bantu lo"


"Gue ngga mau ngerepotin lo. Lagi pula biaya operasi nyokap gue ngga sedikit. Gue bingung harus dapat uang sebanyak itu dari mana"


"kita sahabat, iya kan? Dan sahabat harus saling membantu. Emang berapa yang lo butuhin?"


Diana terkesiap begitu mendengar ucapan Yana selanjutnya. Yana benar, itu bukanlah nominal yang sedikit. Meskipun dia menyerahkan seluruh tabungannya, tapi tetap saja tidak akan cukup.


"Gue bisa bantu lo dapat uang sebanyak itu dalam waktu singkat"


Suara itu mengalihkan perhatian mereka berdua.


"Lo ngga perlu dengerin apa yang dia bilang Yan" Diana menatap tidak suka pada orang baru saja datang.


"Lo apaan sih? Lo ngga senang kalau ada yang bantu sahabat lo itu?"


Diana terkekeh dan menatap orang itu dengan pandangan meremehkan. "Lo pikir gue ngga tau apa yang lo pikirin? Mending lo jauh-jauh deh. Gue ngga akan biarin Yana jadi kayak lo"


"Maksud lo apa ngomong kayak gitu, hah?"


"Kita semua juga tau apa pekerjaan lo di malam hari selain ini" ujar Diana sinis.


"Terus masalahnya sama lo apa?!" tukas Rachel yang mulai terpancing emosinya.


"Gue ngga suka lo manfaatin keadaan Yana sekarang, sialan!"


Rachel memutar bola matanya malas dan mengambil sesuatu dalam tasnya mengabaikan Diana yang terus mengumpatinya.


"Hubungin gue kalau lo mau ibu lo segera sembuh" ujarnya menyerahkan kartu nama pada Yana sebelum kemudian berlalu.


"Ngga! Lo ngga boleh ngelakuin itu! Masih banyak cara lain tapi bukan itu. Kita pikirin solusinya sama-sama, ok" sentak Diana mengambil alih kartu nama yang sudah ada di tangan Yana, tapi segera direbut kembali oleh  gadis itu.


"Cara apa yang lo maksud Dee? Gue butuh uang itu secepatnya. Gue ngga mau kehilangan nyokap juga. Maaf, tapi gue harus pergi" Yana mengelengkan kepalanya pelan sebelum berlalu mengabaikan teriakan Diana yang memintanya untuk memikirkan semuanya baik-baik.


***


Kayana berjalan dengan langkah gontai memasuki rumah. Dilihatnya Nara yang tengah duduk di ruang tengah dengan sebatang rokok yang terselip di jarinya.


"Nara, kamu ngerokok?!" tanyanya dengan pandangan tidak percaya.


Tapi Nara hanya menatapnya datar, dia berdiri dari duduknya, menghisap rokoknya sebelum mengeluarkan asapnya tepat di depan muka Yana membuat gadis itu terbatuk.


"Aku bener-bener udah ngga punya uang. Coba sini aku liat handphone kamu. Mana tau masih bisa di perbaiki" Yana mengalihkan tatapannya pada ponsel yang tergeletak diatas meja ketika Nara tak juga meresponnya.


"Rusak apanya? Ini masih bagus" ujarnya menatap Ponsel Nara dengan seksama.


Kinara mendengus dan mengambil alih ponselnya sebelum melemparkannya ke dinding hingga ponsel itu jatuh dengan layar yang menghitam juga retak.


"Nah, udah rusak kan? Gue ngga mau tau, lo harus beliin gue handphone baru. Gue mau, besok handphone itu sudah ada" Setelah mengucapkan itu, Nara memasuki kamarnya dengan pintu yang di banting keras, mengabaikan Yana yang masih menatap ponselnya dengan nanar.


Kayana meraih ponsel itu dengan tangan bergetar. Air matanya jatuh membasahi ponsel yang di pegangnya disertai isakan kecil yang keluar dari bibir mungilnya.


"Gue terima tawaran lo" ujar Yana di pagi harinya.


Kayana tau itu bukanlah keputusan yang tepat. Tapi banyaknya tekanan yang di dapatnya membuat Yana benar-benar putus asa dan berakhir dengan menghubungi Rachel. Dia bahkan mengabaikan ponselnya yang sedari tadi berbunyi yang sangat di yakininya itu adalah Diana. Beberapa pesan dari Diana dibacanya namun tidak di balasnya. Isinya tidak jauh beda yang mengatakan untuk tidak memikirkan apa yang Rachel katakan dan memintanya untuk membuang saja kartu nama yang Rachel berikan.


Tapi apa yang di lakukan Yana justru berbanding terbalik dengan apa yang Diana katakan. Entah apa yang akan gadis itu lakukan padanya jika tau bahwa Yana telah menerima tawaran Rachel.


Dan disinilah dia berada, sebuah Club ternama tempat Rachel mengumpulkan uang di malam hari. Saat ini Yana sedang berada dalam salah satu kamar di temani dua orang wanita dengan pakaian kekurangan bahannya yang sedang merias dirinya.


Setelah selesai Yana mengganti pakaiannya dengan sebuah dress tanpa lengan yang panjangnya hanya setengah pahanya. Yana menatap pantulan dirinya dengan mata yang berkaca-kaca. Ini jelas bukan dirinya. Tapi berulang kali dia mengingatkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja. Lagi pula dia melakukan itu semua untuk Widya dan untuk Nara. Walaupun di lakukannya dengan cara yang salah. Entah bagaimana nasibnya kedepan, hanya Tuhan yang tau.


"Lo udah siap kan?" Yana mengangguk sesekali menarik kain di bagian dadanya. Gaun dengan belahan dada rendah itu sangat membuatnya tidak nyaman.


Sedangkan Rachel menampilkan senyum smirk-nya melihat penampilan Yana. Dia sangat yakin bahwa kali ini bosnya akan menyukai apa yang di bawanya kali ini.


Kayana menundukkan kepalanya begitu mereka keluar dari kamar. Suara musik yang menggema memenuhi indra pendengarannya. Bahkan club juga terlihat ramai di siang hari. Yana meremas bagian depan jaket yang di pakainya. Jaket milik Rachel lebih tepatnya.


Ketika mereka sudah ada di parkiran, Rachel terlihat menelpon seseorang. Selang beberapa menit sebuah mobil berhenti di depan mereka. Yana memasuki mobil mengikuti Rachel. Tidak ada yang bersuara selama perjalanan. Rachel sibuk dengan ponsel di tangannya sedangkan Yana menatap keluar jendela dengan pandangan miris. Meratapi nasibnya yang mungkin mulai saat ini tak akan sama lagi.


Kayana tidak tau kemana tujuan mereka dan dia juga tidak berniat untuk bertanya. Hingga mobil yang membawa mereka berhenti di depan hotel berbintang lima. Entah orang macam apa yang akan di temuinya di dalam sana. Dia hanya berharap apa yang di katakan Rachel tentang orang itu benar. Tapi apakah seorang lelaki yang rela mengeluarkan uang banyak hanya untuk memenuhi nafsunya termasuk orang baik? Yana mengelengkan kepalanya mengusir pemikirannya tentang lelaki itu. Baik atau buruknya lelaki itu hanya Tuhan yang tau.


"Ini dia wanita yang kubawa untukmu bos, namanya Kayana."


Gadis yang disebut namanya itu sedikit berjingkat kala Rachel memegang pundaknya secara tiba-tiba dan melepaskan jaket yang sedari tadi di pakainya.


Mungkin karena terlalu banyak berpikir hingga Yana sendiri tidak sadar jika ternyata mereka telah tiba di hadapan lelaki yang akan membayarnya mahal. Dia memejamkan matanya sejenak, kala pemikiran tentang dirinya yang tidak jauh beda dengan wanita malam menyentaknya. Yana bahkan belum melihat sosok lelaki yang ada di hadapannya karena sedari tadi dia hanya menundukkan kepalanya.


"Baiklah, kalau begitu saya pergi. Nikmati malam kalian" Yana hendak memanggil Rachel, tapi tidak jadi kala mendengar suara langkah kaki yang mendekat kearahnya.


Kayana memejamkan matanya erat saat merasakan sapuan lembut di kulit bahu putihnya yang terekspos.


"Yana. Nama yang sangat cantik sama seperti orangnya. Aku suka"


Kayana menghembuskan nafas yang tidak disadarinya telah di tahannya begitu lelaki itu menjauhinya. Dia tidak sempat melihat wajah lelaki itu, hanya punggung tegapnya saja. Tapi ketika lelaki itu membalikkan badan, Yana tidak tau harus mengungkapkannya dengan kata apa. Yang pasti lelaki itu sangatlah tampan.


"Duduklah!"


Suara tegas itu menyentak Hanna dari keterpukauannya. Dia melangkah dengan gugup dan duduk di seberang lelaki itu.


"Kau pasti sudah tau siapa aku, jadi kita langsung ke intinya saja" Yana mengelengkan kepalanya membuat lelaki itu mengernyitkan keningnya bingung.


"Apa maksud gelengan kepalamu itu? Jangan bilang kau tidak mengenalku? Kenapa kau hanya diam saja, apa kau bisu? Sialan! Aku tidak akan mengampuni Rachel yang telah membawakanku wanita bisu"


"Ti-tidak, saya... "


"Bagus. Akhirnya kau membuka mulutmu juga. Sekarang tanda tangani surat ini"


"Surat?" tanya Yana bingung menatap sebuah map yang lelaki itu sodorkan di hadapannya.


"Lebih tepatnya kontrak perjanjian yang isinya bahwa mulai sekarang kau adalah milikku" Ujar lelaki itu dengan nada sombongnya.


"Tapi tuan... "


"Tuan? Jangan panggil aku seperti itu, tapi panggil dengan namaku"


Kayana lagi-lagi menundukkan kepalanya tidak tau harus berbuat apa. Dia bahkan tidak tau nama lelaki itu. Dia merutuki dirinya sendiri karena tidak bertanya pada Rachel terlebih dahulu.


"Mengapa kau diam saja? Jadi kau benar tidak mengenalku?"


Gelengan kepala Yana membuat lelaki itu menghembuskan nafasnya kasar. Yang benar saja gadis itu tidak mengenalnya. Atau mungkin itu hanya akal-akalannya saja untuk menarik perhatiannya. Tapi baiklah, dia akan meladeninya dan melihat entah sampai kapan gadis itu berpura-pura tidak mengenalnya. Lelaki itu berdecih dengan pemikirannya sendiri.


"Panggil aku Niel. Nathaniel Gilbert Abraham"