You belong to me

You belong to me
Episode Lima



Nathaniel berjalan memasuki apartment dengan langkah enggan. Mungkin karena ada manusia lain yang yang berada di dalamnya. Tapi kemudian di berpikir, kenapa dia harus merasa enggan sedangkan ini adalah apartment-nya, bahkan semua yang ada di dalamnya adalah miliknya termasuk sosok manusia lain itu. Niel menggelengkan kepala karena pemikirannya itu. Konyol! Ini bahkan belum dua belas jam tapi dia sudah merasa bodoh hanya karena gadis itu.


Entah dimana gadis itu berada, karena yang di lihatnya hanya tas yang ada di atas sofa. Niel mengerutkan kening kala mendengar suara gaduh dari arah dapur. Dia melangkahkan kakinya kearah suara itu dan berhenti tidak jauh dari seorang gadis yang tengah membelakanginya, entah apa yang di lakukannya.


Nathaniel terlihat menikmati pemandangan di depannya. Gadis itu mengenakan piyama yang warnanya terlihat sudah memudar. Namun itu tak mengurangi pesona gadis itu di matanya.


Lelaki itu bahkan menelan salivahnya susah payah kala pandangannya turun pada leher jenjang itu. Brian masih mengingat dengan jelas bagaimana dia membuat tubuh gadis itu menegang hanya karena dia mengecup bagian lehernya.


Entah apa yang terjadi padanya, tapi hanya melihat gadis itu dari belakang saja membuatnya sangat ingin merengkuhnya. Gadis itu seperti magnet yang terus menariknya.


Sial! dia bahkan tidak terlalu mengenal gadis itu. Seharusnya dia sudah menyentuh gadis itu dan urusan mereka selesai. Tapi yang di lakukannya malah diluar pikirannya sendiri. Niel bahkan tidak tau alasannya membuat kontrak itu.


Lelah dengan batinnya yang saling bertentangan, Nathaniel memilih melangkahkan kakinya kearah di mana Yana berada. Dapat di rasakannya tubuh gadis itu menegang kala dia memeluknya dari belakang. Rasa lelahnya seakan hilang begitu menghirup aroma gadis itu, gadisnya. Memikirkan itu membuatnya tersenyum kecil.


"Apa yang kau lakukan?"


"A-aku berpikir akan membuatkan tuan makan malam. Maaf aku menggunakan dapur tuan tanpa meminta ijin terlebih dahulu" Ujar Yana pelan.


Nathaniel melepaskan pelukannya dan menggeram marah. Entah kenapa dia tidak suka saat Yana memangilnya dengan panggilan seperti itu. "Sial! Sudah ku bilang jangan memanggilku seperti itu"


"Maaf" Yana menundukkan kepalanya takut.


"Sudahlah, cepat siapkan makanannya. aku sudah lapar"


Kayana menggigit bibir bawahnya gugup. bagaimana dia akan memasak jika pria itu masih memeluknya. "Tapi tuan.. eh Niel, bisakah kamu melepaskanku dulu. Aku kesulitan bergerak"


"Tidak!"


"Tapi... "


"Jika kau terus bicara, kau akan membuatku kelaparan. Dan itu tidak akan baik untukmu" bisik Niel di samping telinganya membuat Yana meremang.


Dengan tangan sedikit gemetar, Yana tetap melanjutkan acara memasaknya. Pria itu memang tidak melakukan hal lain selain hanya memeluknya. Tapi Yana yang tidak terbiasa dengan sentuhan seperti itu membuatnya sangat tidak nyaman. Untung saja hal itu tidak berlangsung lama.


"Sudahlah, aku ingin mandi dan aku perlu seseorang untuk menggosok punggungku" ujar lelaki itu menarik tangannya.


"Tapi bagaimana dengan ini?"


Nathaniel melepaskan pegangannya "Aku memiliki banyak uang untuk sekedar memesan makanan. Sekarang ikut aku!"


Kayana mematikan kompor yang sudah di nyalakannya lalu mengikuti Niel. Kamar lelaki itu sangat luas dan di nominasi dengan warna gelap. Yana diam berdiri di tengah-tengah kamar memperhatikan Niel yang berjalan di depannya menuju salah satu pintu yang di duganya adalah kamar mandi.


Yana hanya berharap semoga saja lelaki itu tidak berbuat macam-macam padanya. Karena jujur saja dia belum siap untuk itu. Meskipun dia di bayar untuk melakukan pekerjaan itu.


"Apa kau baru saja menginjak lem?"


Kayana tergagap tidak tau harus berkata apa. Seakan mengerti akan apa yang lelaki itu katakan, dia melangkahkan kakinya menuju Niel. Begitu sampai, lelaki itu langsung menariknya memasuki kamar mandi dan menutup pintu dengan suara berdebum.


Nathaniel mulai melepas jas yang di pakainya di susul pakaian lainnya sedangkan Yana menundukkan kepala dengan mata terpejam erat membuat Niel tersenyum smirk melihatnya.


"Kemarilah!" ujar Niel dengan nada memerintah membuat Yana tersentak kaget mendengarnya.


Kayana memekik kala melihat Niel hanya memakai boxer saja. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan menghindari godaan yang terpampang jelas di depannya.


Tapi Nathaniel dengan segala pemikirannya itu malah berpikir jika gadis itu terlalu tidak menyukainya hingga hanya memandangnya saja tidak sudi. Entah kenapa dia merasa sangat marah akan itu.


"Kayana, jangan membuatku menyeretmu. Dan berhenti berpura-pura polos di depanku"


Kayana yang tidak juga bergerak di tempatnya membuat Niel menggeram marah. Di hampirinya gadis itu. Dia melepas kedua tangan Yana yang menutupi wajahnya lalu di cengkeramnya rahangnya membuat gadis itu mendongak. Yana membuka matanya pelan menatap Niel yang wajahnya memerah, mungkin karena marah.


"Lepas... Sakit... " ujarnya dengan suara bergetar, tapi lelaki itu tak memperdulikannya.


"Sakit? Bagus, kau pantas mendapatkannya! Kau pikir kau siapa? Aku tuanmu dan mulai sekarang kau harus menuruti apa yang ku katakan dan kau tidak berhak untuk membantahnya. Kau harus mengingat statusmu dengan jelas. Atau mau aku yang mengingatkan?"


Kayana menggelengkan kepalanya kuat-kuat mendengarnya "maaf"


"Aku tidak butuh maafmu! Aku hanya ingin kau melayaniku, sekarang!" ujar Niel penuh penekanan dan melepaskan cengkeramannya dengan sedikit hempasan membuat tubuh Yana jatuh karena tidak siap.


"Berdiri dan lepaskan pakaianmu!" titah Niel.


Kayana memundurkan langkahnya begitu dia berdiri. Menggunakan kedua tangannya memeluk tubuhnya seakan melindungi dirinya sendiri.


Ya Tuhan jangan sekarang, batinnya.


***


"Ya ma, kenapa?"


"Malam ini ada makan malam keluarga, mama ingin kau datang"


"Makan malam keluarga? Tidak biasanya"


"Kau lupa? Kakakmu kan pulang hari ini. Dia baru saja datang beberapa menit yang lalu"


Nathaniel mengernyitkan keningnya bingung. "Benarkah? Kupikir dia sudah tiba dari kemarin"


"Masih sih, orang kakakmu sendiri yang bilang kalau dia baru tiba di jakarta"


"Mungkin aku yang salah. Kalau gitu udah dulu ya ma, aku masih ada urusan"


"Ok see you dear. Jangan lupa nanti malam"


Nathaniel meletakkan ponselnya di atas meja begitu panggilannya berakhir bertepatan dengan ketukan di pintu.


"Tumben lo ketok pintu. Biasanya juga langsung nyelonong aja" sindirnya.


"Gue liat lo tadi telponan. Oh iya, ini berkas yang harus lo tanda tangani" Niel mengangguk mengerti dan mengambil map yang di sodorkan Radi padanya.


"Bay the way, lo ninggalin Yana sendirian di apart?"


"Kenapa lo nanya tentang Yana?" tanya Niel dengan mata memicing menatap curiga pada Radi.


"Basa basi doang" Radi baru aja akan beranjak dari duduknya kala Niel kembali memanggilnya.


"Yang kita liat kemarin beneran Danu ngga sih?" Tanya Niel memastikan.


"Iyalah, ngga mungkin kan gue salah lihat. Kenapa emang?"


"Danu Maheswara?"


"Iya! Lo kenapa sih nanya-nanya?"


Nathaniel menggeleng lalu tertawa pelan "Ngga, nyokap baru aja hubungin gue. Minta gue pulang untuk makan malam penyambutan Danu yang katanya baru aja tiba. Coba lo bayangin gimana reaksi nyokap kalau tau Danu ternyata bohongin dia?"


"Nyokap lo ngga bakal tau kalau lo ngga ngasih tau" ujar Radi, tapi sesaat kemudian dia terdiam. "Jangan bilang lo mau ngasih tau nyokap lo?"


Nathaniel tersenyum smirk membuat Radi berdecak.